
"Tiyas!"
Wanita yang dipanggil namanya itu menoleh, kemudian wajahnya langsung sumringah mendapati keberadaan sahabatnya. Tiyas yang sekarang berada di usia yang dewasa, 30 tahun. Tetapi wanita itu malah semakin cantik dan awet muda. Memang ya, uang Adhitama menjawab segalanya.
"Beby!" teriaknya yang langsung berlari kecil menghampiri wanita tersebut.
"Duh, kangen banget gue!" seru Beby sembari memanyunkan bibirnya. Ia kemudian melirik sosok anak laki-laki di belakang tubuh temannya. "Hi, Ken. Long time no see."
Ken, anak yang lima tahun lalu dikandung Tiyas. Kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas, tanggap dan mempunyai public speaking yang bagus.
"Hello, aunty," sapa Ken balik dengan senyum lima jarinya. Anak itu melambaikan tangan kecilnya sembari terkekeh senang.
"Oh God, you are so cute!" pekik Beby sembari meloncat kecil dengan gemas. Wanita itu segera menghampiri Ken dan memeluk bocah itu.
Tiyas yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggeleng pelan. Padahal Beby lebih sering mengunjunginya daripada orang tuanya sendiri, tetapi wanita itu selalu mengeluh rindu dengan Ken.
Ya, Tiyas akhirnya memilih untuk hidup mandiri di salah satu kota di negara Swiss. Dengan bekerja serabutan, Tiyas menikmati hidupnya berdua dengan sang anak. Setelah akhirnya lima tahun hidup di negara orang, wanita itu memberanikan diri untuk kembali ke tanah air. Meski banyak ketakutan yang dia simpan sendiri.
"Jangan diajarin ngomong Inggris. Ken udah lancar kok bahasa, gue biasakan dirumah untuk pake bahasa Ibu," tegur Tiyas yang tidak ingin sang anak kesusahan.
Ini semua karena permintaan Nirmala yang sering sakit-sakitan. Ibunya itu sering sekali memintanya untuk kembali ke Indonesia, sayangnya baru kali ini Tiyas memberanikan diri dengan hati yang teguh.
Beby mendelik sinis pada Tiyas. Wanita itu menggerakkan bibirnya, seolah tengah mengejek cara bicara Tiyas. Ia kemudian menggandeng tangan Ken untuk diajaknya berjalan berdampingan.
"Ken, habis ini mau kemana? Mau ke Dufan?"
"Anak gue lagi jetlag loh, Beb. Udah diajak jalan-jalan aja, ketemu dulu sama nyokap gue. Kangen berat nih nenek sama cucunya," protes Tiyas yang berjalan mengikuti keduanya dari belakang.
Beby berdecak kesal. Ia menoleh sesaat pada sang sahabat.
"Pelit banget sih lo! Gak asik!"
Tiyas menghela napasnya panjang, tatapannya kemudian menjadi sendu.
"Gue harus lihat situasi, Beb. Gue mau keamanan Ken terjaga disini, apalagi dia bakal mulai sekolahnya sebentar lagi. Anak gue udah enam ini."
Mendengar nada bicara Tiyas, Beby akhirnya mengerti. Wanita itu hanya terdiam sembari menggiring Ibu dan anak itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Tiyas tidak ingin terlalu terang-terangan berbicara jika ada Ken. Anak itu begitu cerdas dan akan menanyakan apa saja yang keluar dari mulut sang Ibu.
"Eung!" seru Ken sembari menggoyangkan kakinya saat sudah duduk di kursi belakang. "Sebentar lagi Ken umur enam loh, aunty! Sudah besar dan masuk sekolah!"
Benar kan? Ken bahkan mengerti ucapan Tiyas barusan. Makanya Tiyas selalu mewanti-wanti orang yang dikenal anaknya untuk tidak berbicara apapun tentang ayah atau Bagas. Meski Ken selalu penasaran dan bertanya, Tiyas memutuskan untuk tidak menjawab dan mengalihkan perhatiannya.
"Oh, iya! Ken, ulang tahunnya mau kado apa dari aunty sama uncle Arya?" tanya Beby yang fokus pada jalan di depannya.
Hubungan Arya dan Beby tentunya sudah masuk ke tahap yang lebih serius. Beberapa kali sang kekasih menawarkan untuk segera menikah, tetapi Beby belum siap. Terutama karena perusahaan yang dipegangnya belum turun ke tangan sang pemilik.
Ken bergumam sembari jarinya mengetuk-ngetuk dagunya.
"Gak tau, bagusnya apa ya Mami?" tanyanya kepada Tiyas.
Tiyas hanya bisa menjawab dengan senyum lembutnya.
"Ken pikir aja dari sekarang. Hadiah yang bermanfaat dan selalu kamu perlukan. Buku misalnya."
"Duh, buku terus. Ntar anaknya jadi kutu buku, mau lo?!" Potong Beby dengan cepat. Wanita itu sepertinya selalu protes dengan apa yang Tuyas berikan untuk anaknya.
Tiyas berdecak kesal menatap sahabatnya.
Beby mendecih kesal dengan bibirnya yang melengkung ke bawah.
"Iya ini gue mau nikah. Gak mau lagi gue ngurusin perusahaan lo, urus aja sendiri ya mulai sekarang!"
Perdebatan keduanya tentu membuat raut wajah Ken kebingungan. Anak laki-laki itu menatap kedua wanita dewasa yang disayanginya itu dengan kening yang berkerut.
"Mami! Aunty! Berisik, kalau mau berantem di luar aja."
"Eh, nyuruh-nyuruh, anak kecil!" seru Tiyas yang memasang wajah kesal, meski hanya bercanda. Tentunya Ken juga membalasnya dengan ledekan.
Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah suara tawa ketiganya yang saling bertaut. Sudah lama tidak merasakan suasana yang seperti ini jelas membuat suasana hati Tiyas bahagia. Dengan kehadiran Ken disisinya tentu adalah anugerah.
Meski disaat mengandung Ken selama tujuh bulan, ya anaknya prematur. Selama hari panjang itu Tiyas melewatinya dengan cukup kesusahan, bertahan seorang diri di negeri orang. Tidak ada sanak saudara disana, untungnya ada seorang teman baik yang juga berasal dari Indonesia. Dia yang menemani keterpurukan Tiyas, bahkan sampai memenuhi rasa mengidam wanita itu.
"Eh, Beb. Kita berhenti di toko kue dulu yuk. Beli buat nyokap gue, kita kasih surprise!" seru Tiyas yang tampaknya sangat excited dibandingkan sang anak.
__ADS_1
Beby pun tidak ada hak untuk menolak permintaan Tiyas. Mobil mereka terparkir di depan sebuah toko kue dan langsung segera masuk ke dalam sana.
"Mami! Yang ini cantik, kayaknya bagus untuk Grandma!" seru Ken sembari meloncat-loncat gemas. Tubuhnya yang tidak terlalu gemuk, juga tidak kurus, membuatnya menjadi anak yang begitu tampan dan modis.
Tiyaa yang melihat kue pilihan Ken ikut tersenyum senang. Wanita itu mengangguk setuju dengan pilihan sang anak, ia langsung menatap sang pegawai.
"Saya mau yang ini, tolong dibungkus ya Mbak."
"Baik, Bu."
Setelah selesai, mereka segera keluar dari sana. Tapi belum sampai ke mobil, Beby malah menarik tangan Tiyas untuk mengikutinya.
"Kita ke minimarket dulu. Gue mau beli jajanan, buat nonton bareng sama bang Arya dikamar," jelas Beby dengan alisnya yang bergerak naik turun.
Tiyas mendengus geli. Ia kemudian segera menarik Ken untuk berjalan disisinya dan mampir ke minimarket yang ada di ujung jalan.
Karena banyak perdebatan dan juga terlalu asyik mengobrol. Tiyas dan Beby tidak sadar, bahwa Ken sudah berlari keluar. Mata anak laki-laki itu berbinar saat melihat sebuah toko mainan yang berada di seberang jalan.
Karena Tiyas sangat membatasi pembelian mainan yang bisa beresiko terbengkalai, tentu hanya melihat-lihat saja pun Ken akan sangat bahagia. Karena terlalu senang, Ken tidak sadar bahwa ada mobil yang awalnya terparkir namun tiba-tiba saja bergerak maju dan akhirnya menabrak dirinya.
Sedangkan di dalam minimarket, saat akan memilih jenis minuman. Beby tidak menemukan Ken.
"Yas, si Ken gak ada!" seru Beby dengan panik.
Tiyas yang awalnya sibuk memilih minuman lantas ikut memperhatikan sekitarnya.
"Biasanya Ken paling senang keliling minimarket dan berhenti di tempat banyak mainan."
Karena mendengar informasi itu, keduanya langsung berpencar guna mencari Ken. Mereka yang awalnya santai, kini panik saat menyadari bahwa Ken tidak ada disana.
"Gak ada?" tanya Beby dengan wajah paniknya.
Tiyas menggeleng cepat. Wanita itu segera melesat keluar dari sana dan hanya mendapati kerumunan yang mulai menghilang.
"Permisi," ucap Tiyas sembari menghentikan seorang wanita paruh baya. "Maaf Bu, lihat anak kecil cowok di sekitar sini gak ya? Tingginya segini, kulitnya putih dan rambutnya hitam lurus."
Wanita paruh baya itu awalnya ingin pergi, tetapi ia teringat dengan ciri-ciri yang disebut oleh Tiyas.
__ADS_1
"Oh, itu kayaknya yang ketabrak tadi deh. Tadi ada anak kecil yang ditabrak mobil, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit."