
Beby yang tengah santai menyeruput secangkir kopi hitam yang mulai dingin itu dibuat keheranan. Pasalnya Tiyas datang dengan keadaan napas terengah-engah, sampai wanita itu membungkukkan tubuhnya.
"Lo segitunya takut gue marah ya karena tadi lo mematikan panggilan gue?" tanya Beby yang kini berdiri dari duduknya. Mengambil satu botol air mineral, membukanya dan memberikannya pada sang sahabat.
"Minum dulu," titah Beby dengan dagunya yang mengedik. "Udah kayak dikejar hantu aja lo."
Tiyas tak menjawab, ia segera menenggak habis air mineral pemberian Beby tanpa sisa. Wanita itu menghela napas lega ketika merasa degupan jantungnya mulai stabil. Masih dengan mengabaikan sahabatnya, Tiyas berjalan tertatih dan merebahkan dirinya pada sofa panjang di sana.
Menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apapun tentang Tiyas membuat Beby semakin bertanya-tanya. Wanita itu kembali duduk pada kursi kerjanya sembari tatapannya yang terpaku pada Tiyas.
"Gue baru sadar kalo dandanan lo beda banget dari yang tadi siang," celetuk Beby dengan kekehan samar. "Dibandarin calon suami lo semua ini?"
Mata Tiyas yang terpejam, kini terbuka sedikit. Mengintip ia bagaimana ekspresi sahabatnya itu, sebelum kemudian kembali tertutup.
"Lo kenapa tadi telepon? Kalo sampe tadi Bagas yang angkat telepon lo, mampus gue!" keluh Tiyas dengan dengusan kesal. "Untung gue cepat-cepat turun dari mobilnya, bisa-bisa gue di introgasi."
"Kok jadi gue sih?!" Beby memekik tidak terima, bibirnya menekuk dalam seakan kecewa. "Kan lo sendiri yang ngajak gue buat makan malam, masih mending gak gue ingkari janji lo."
Tiyas berdecak pelan. Ia kemudian membuka matanya dan memposisikan tubuhnya untuk duduk.
"Sorry, gue lagi kesel sama sikap tuh cowok seharian ini. Bikin kepala gue mumet mau pecah."
"Emangnya kenapa? Perasaan gue bos dari PT. W Group itu orangnya pendiam dan berwibawa gitu," sahut Beby dengan mata berbinar. Tak bisa dipungkiri, beberapa kali ia tak sengaja berpapasan dengan Bagas. Dan jujur, sulung Wiguna itu menang nyata tampannya.
Tiyas tak menjawab. Cukup memalukan rasanya jika harus menceritakan kesehariannya bersama dengan Bagas hari ini.
"Beb, kalo gak salah ada sneakers gue deh disini. Lo liat atau simpan gak?" tanya Tiyas yang menyapukan pandangan pada seluruh sudut ruang kerja tersebut.
"Ada, gue yang simpan. Untung aja mahal, kalau gak udah gue buang. Menuhin ruang kerja gue dan jadi sarang nyamuk," sungut Bella yang melemparkan sepasang sneakers harga puluhan juta itu dengan asal.
"Gak sopan!" cibir Tiyas dengan delikan tajamnya. Kemudian tanpa banyak kata, wanita itu melepas sepatu yang dibelikan Bagas dan menggantinya dengan sneakers putih miliknya. "Ah, akhirnya!" serunya kemudian seakan merasa lega.
Beby menggelengkan kepalanya. Sifat tomboy Tiyas memang tidak bisa diubah dalam sekejap.
"Udah nih? Langsung gas?"
Tiyas mengangguk. Wanita itu melakukan peregangan pada otot-ototnya yang kaku, terutama pada bagian kakinya.
"Giliran lo yang traktir hari ini."
"Kok gitu?!" teriak Beby tidak terima. "Kan makannya di restoran bokap lo, harusnya gak usah bayar dong!"
__ADS_1
"Gak ah! Rugi dong kalau gratis, lo makannya banyak," ledek Tiyas yang langsung segera keluar dari ruangan tersebut sebelum Beby mengamuk padanya.
***
"Selamat malam, Nona Tiyas dan Nona Beby," sapa sang pelayan restoran dengan senyum ramahnya. "Mau makan di lantai berapa? Atau mau di ruang pribadi?"
Tiyas menggeleng, menolak dengan keras.
"Di sini aja, lantai dasar. Tolong buat pesanan kita kayak biasa ya."
"Baik Nona, mohon ditunggu sebentar," jawab sang pegawai yang langsung menyampaikan pesanan anak dari pemilik restoran ini kepada koki di dapur.
Sembari menunggu, Tiyas dan Beby memilih tempat duduk di sudut ruangan. Tepat di samping jendela besar hingga bisa leluasa melihat pemandangan dari luar.
"Lo inget gak aktor cowok naungan agensi kita?" tanya Beby yang mulai pembicaraan.
Kening Tiyas mengerut, mengingat-ingat siapa aktor yang sahabatnya maksud.
"Yang mana? Aktor kita kan banyak, Beb."
"Yang lagi naik daun dan jadi sumber cuan terbesar kita, masa lo gak tau sih? Perasaan lo selalu mantau deh," sahut Beby dengan menggebu-gebu.
Cukup lama Tiyas berpikir hingga ada satu nama hinggap dibenaknya.
Beby menatap Tiyas dengan penuh keseriusan. Ia seakan menimbang-nimbang sejenak.
"Ini cuma asumsi gue aja ya, tapi kayaknya tuh anak naksir deh sama lo."
"Emang iya?" tanya Tiyas dengan nada yang terlampau santai. Sebagai pemilik perusahaan, jelas wanita itu sering memantau artisnya dari balik layar. Tidak semua, hanya beberapa yang memang terkenal dan tentunya butuh perlakuan lebih.
Bukan bermaksud sombong atau sok cantik. Tiyas sudah kepalang bosan mendengar para aktornya atau rekan bisnisnya suka padanya. Karena terlampau sering, membuat wanita itu akhirnya menanggapinya dengan lebih santai. Hingga sekarang, tidak ada pria yang mampu menarik hatinya.
"Iya!" seru Beby dengan meyakinkan. "Udah seminggu ini dia selalu nanya kabar lo. Biasanya kan kalau tuh cowok lagi pemotretan dan kegiatan lainnya lo selalu ada."
"Yaudah sih. Terus gue harus gimana?"
"Ya gak gimana-gimana."
Tiyas mengangguk dengan senyum kecilnya.
"Nah selesai, masalah sudah clear kan."
__ADS_1
Beby berdecak, tanggapan santai Tiyas membuatnya frustasi. Terlebih teror sang aktor yang mengganggu ketentraman dan kedamaian hidupnya. Wanita itu kemudian mengedarkan pandangannya, bermaksud mencari pegawai guna menanyakan pesanan mereka yang tak kunjung datang.
Tetapi Beby menangkap seseorang yang tidak asing di matanya.
"Oh, bukannya itu bokap lo ya?" bisiknya dengan berusaha untuk mempertajam penglihatannya. Sedetik kemudian matanya membelalak lebar. Kedua tangannya bergerak cepat, menahan kepala Tiyas yang akan menoleh. "Anjir! Jangan nengok kebelakang!"
Alis Tiyas terangkat, penasaran dengan apa yang dilihat Beby. Namun kepalanya sulit digerakkan karena kedua tangan sahabatnya itu.
"Apa sih? Kenapa? Katanya ada bokap gue, kok gak boleh gue liatnya."
"Lo emang mau ketahuan disini, ha?"
"Maksudnya?"
Beby berdecak.
"Tangan gue pegel. Kalau gue lepas, lo jangan nengok deh. Kalau lo langgar, lo sendiri yang bakal nyesel."
Tiyas menghela napas kasar. Ia kemudian mengangguk dengan malas. Melatih gerakan wajah setelah kedua tangan Beby terlepas.
"Bokap lo lagi rapat di sana. Dan yang lagi rapat sama om Rudi adalah calon suami lo sendiri!" pekik Beby tertahan, sedikit gemas dan juga gemetar. Terlebih beberapa kali Bagas melirik meja mereka, mungkin karena Beby yang terus menatap ke arah sana.
Di tempat duduknya, Tiyas juga ikut menegang. Bola matanya melebar. Ternyata orang yang mengadakan rapat bersama Bagas adalah ayahnya sendiri dan membahasnya di tempat restoran milik keluarganya.
"Sekarang dia ada di mana?" tanya Tiyas dengan sedikit terbata. Takut ia ketahuan apalagi bajunya tidak sempat diganti.
"Arah jam 11 dari posisi gue. Kayaknya kita pergi aja deh dari sini, daripada lo ketangkap basah dan jadi runyam semuanya," usul Beby yang langsung disetujui dengan Tiyas.
Dengan cepat dan terkesan terburu-buru, baik Tiyas dan Beby segera berdiri dari duduknya. Berbeda dengan Beby yang berjalan biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan, terlebih ketika sang papa dari sahabatnya kini mengetahui keberadaannya. Dan Beby mengisyaratkan untuk Rudi tutup mulut.
Sedangkan Tiyas kini berjalan dengan menunduk. Memanfaatkan rambut panjangnya untuk menutupi sebagian wajahnya agar tidak kenali.
Lagi-lagi, sepertinya dewi fortuna tidak berpihak padanya kali ini. Tiyas yang fokus dengan menunduk kebawah dan berjalan sedikit cepat tidak mengetahui bahwa ada seorang pelayan di depannya tengah membawa nampan berisi pesanan mereka.
PRAANGGG
Suara piring dan gelas yang pecah karena terjatuh itu berbunyi nyaring. Tiyas yang tersenggol juga ikut jatuh terjerembab dengan sebagian masakan itu memenuhi rambut panjangnya.
"Tiyas!"
Wanita yang dipanggil namanya itu meringis. Selain tubuhnya yang sakit juga rasa malu yang ia dapatkan.
__ADS_1
Tamatlah riwayatnya.