
Sudah lima tahun berlalu sejak perceraian mereka disetujui oleh pengadilan agama. Sejak saat itu hingga sekarang, Bagas tidak pernah mendengar kabar tentang mantan istrinya. Beberapa tahun terakhir ini adalah tahun terberatnya. Ditinggal sang istri tanpa kabar sedikitpun, bahkan sang ayah mengurungnya hingga sebulan. Takut jika Bagas kabur dan nekat menemui Tiyas.
"Udah mau pulang? Tumben," celetuk Jonathan yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja atasannya.
Bagas berdecak kesal, ia menanggapinya dengan putaran bola mata malas.
"Heran kan lo?" katanya dengan senyum miring tanda meledek. "Gue mau pulang. Mau rayain anniversary pernikahan gue."
Jonathan menatap sepupunya cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas pelan. Cukup prihatin dengan kondisi pria itu.
Bagas semakin gila kerja, jika awal-awal ia akan menginap semalam dikantor. Maka beberapa tahun terakhir ini, Bagas pernah 24 jam tidak tertidur. Pria gila, sebutan dari Jonathan terhadap atasannya.
"Mau gue kenalin sama sepupu gue dari pihak nyokap gak? Cantik-cantik cuy," saran Jonathan dengan senyum menggoda.
"Gak, masih cantikan Tiyas," balas Bagas dengan entengnya. "Gak usah tawarkan gue, gak bakalan berminat."
"Stefanny yang depan mata diabaikan, mantan istri diinget-inget terus," keluh Jonathan sembari mendelik sinis.
Bagas hanya membalas dengan kedikan di bahunya.
"Beda lah, mantan-mantan begitu gue masih cinta."
Omong-omong tentang Stefanny. Awalnya pertunangan mereka akhirnya dilaksanakan secara besar-besaran dan mengundang awak media. Hari itu adalah hari bahagia bagi Stefanny, namun terburuk untuk Bagas. Di hari pertunangannya, Bagas dipaksa untuk pura-pura bahagia.
Dan benar saja, Bagas dapat banyak relasi dalam proses acara pertunangan itu. PT. W Group hanya butuh waktu dua tahun untuk kembali berjaya di tangan Bagas.
Tetapi pertunangan mereka hanya bertahan selama enam bulan. Bagas tidak tahan untuk terus memainkan peran menjadi kekasih yang baik dan romantis, di tengah sibuknya melakukan pencarian keberadaan sang mantan istri. Selama menjadi tunangan Bagas, Stefanny cukup merasa tersiksa. Selain diabaikan, Bagas juga akan main tangan jika sedang kesal. Dan hubungan itu disudahi oleh Stefanny yang mendapatkan respon sangat baik dari Bagas.
"Emang udah ketemu sama Tiyas? Udah dapet kabarnya?" tanya Jonathan yang kini mulai menyamankan duduk di sofa empuk. Pria itu bahkan mengambil toples cemilan asal dan kemudian memakannya.
Bagas menatap ponsel yang menampilkan foto Tiyas menjadi wallpapernya. Pria itu tersenyum getir sebelum akhirnya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Belum, susah ternyata. Gue sampe beberapa kali berdiri seharian di depan gerbang. Tapi gak ada satupun orang yang keluar, mansion Adhitama kayak gak berpenghuni."
Saat dikurung sebulan oleh Restu, tentunya Bagas tidak diam begitu saja. Pria itu beberapa kali menyelinap keluar dan selalu saja tertangkap. Pastinya tujuannya selalu kediaman Adhitama. Berdiri didepan gerbang sembari berteriak memanggil nama Tiyas dan selalu berakhir sia-sia.
"Kalaupun nanti lo ketemu sama Tiyas, apa mungkin statusnya masih single? Lagian gak mungkin Tiyas gak tau tentang pertunangan lo sama Stefanny," terang Jonathan dengan lugas.
Benar, kenapa Bagas tidak kepikiran selama ini? Membayangkan Tiyas dengan pria lain merajut kasih dan membangun rumah tangga yang harmonis membuat hatinya panas.
"Seenggaknya gue harus ketemu dulu. Gue akan jelaskan semuanya tentang sandiwara pertunangan itu," sahut Bagas dengan perasaan menggebu-gebu. Jika memang ia harus merebut Tiyas dari pelukan pria lain, tentu akan Bagas lakukan.
Jonathan menggelengkan kepalanya. Ia sudah angkat tangan dengan sifat keras kepala Bagas. Pria itu hanya berharap bahwa Bagas akan menemukan kebahagiaannya di umur yang sudah 35 tahun ini.
"Good luck, deh!" seru Jonathan sembari mengangkat tangannya.
Bagas memberikan acungan jempol tanda terima kasih kepada sepupunya dan bergegas untuk segera pergi.
"Gue duluan," katanya sembari melambaikan tangan.
Semenjak kepergian mantan istrinya. Bagas menjadi pribadi yang dingin, selalu saja marah-marah, tempramennya semakin parah. Bahkan pria itu tidak jarang kesulitan untuk mengendalikan emosinya.
Di depan lobi, sudah ada mobilnya yang terparkir. Pria itu segera masuk setelah pintu mobil terbuka.
"Langsung pulang, Tuan Muda?" tanya sang supir yang perawakannya jauh lebih muda dari Bagas.
Karena temperamen Bagas yang buruk. Tentu sudah menjadi agendanya berganti-ganti supir. Ari, nama supir muda itu yang cukup lama bertahan dengan sifat Bagas. Sudah lebih dari dua bulan menjadi supir pribadi Bagas.
"Gak, kita ke toko kue dulu," kata Bagas sembari fokus pada ponselnya.
Beberapa kali panggilan masuk dari sang ibu diabaikannya. Untungnya Indah sudah tidak macam-macam untuk menjodohkannya dengan orang lain setelah hubungannya selesai dengan Stefanny. Mungkin wanita paruh baya itu sadar, bahwa cinta Bagas untuk Tiyas memang bukan hal yang biasa.
"Baik, Tuan Muda," jawab Ari yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Ditengah perjalanan, tentu Bagas kini lebih memperhatikan jalanan. Selalu saja seperti itu. Alasannya karena siapa tahu entah kebetulan atau takdir Bagas bisa bertemu dengan Tiyas. Meski tidak yakin bahwa wanita itu berada dikota yang sama dengannya.
Sesampainya di toko kue. Bagas cukup lama untuk memilih desain kue yang bagaimana, karena memang banyak yang bagus-bagus. Setelah akhirnya memilih kue dengan warna soft dan desain yang cantik, Bagas segera berlalu pergi dari sana.
Dan keningnya berkerut kala di depan mobilnya kini penuh dengan orang-orang.
"Ada apa ini?" tanya Bagas yang ikut mengintip dari sela kerumunan. Tapi tak dapat melihat apa-apa.
"Tuan Muda!" Ari berteriak dengan wajah panik. Pria itu menghampiri majikannya dengan berkeringat. "Saya gak sengaja nabrak anak-anak!"
Sontak mata Bagas langsung melebar saat mendengarnya. Pria itu segera melesak masuk ke dalam kerumunan dan menemukan seorang anak laki-laki terduduk sembari menangis dengan keras. Meski lukanya tergolong ringan dan bukan ditempat yang fatal, jelas rasa khawatirnya tidak surut.
Tanpa kata, Bagas langsung saja membopong anak itu masuk kedalam mobilnya.
"Tunggu apa lagi lo?! Jalan cepat! Kalau sampai anak orang kehabisan darah, gue pecat lo!"
Ari yang sedari tadi gemetar, pria itu sekuat tenaga untuk melajukan mobilnya. Membelah jalanan dengan kecepatan sedang.
"Lebih cepat, Ri. Lo bawa mobil cepetan orang yang pake sepeda!" omel Bagas yang ikut panik karena sang anak tidak berhenti menangis. "Oh, sorry boy. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit ya."
Mendengar perkataan Bagas tangis anak laki-laki itu malah semakin kencang. Kedua alis Bagas terangkat, karena merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya.
"Kenapa?" tanya Bagas yang menurunkan nada suaranya. Barangkali sang anak takut dengan bentakannya tadi kepada sang supir.
Anak itu menatap Bagas dengan masih terisak pelan, ia menarik-narik kemeja dengan kuat.
"No, gak mau rumah sakit. Takut."
Oh, akhirnya Bagas tahu kenapa anak ini ditolong bukan merasa nyaman malah menjadi ketakutan dan semakin berteriak menangis.
"My bad, saya gak tau kalau kamu takut ke tempat kayak gitu. Tapi saya janji kalau dokter disana baik, kok. Ada adik saya juga disana, jadi kamu gak perlu takut ya."
__ADS_1
Sebuah rekor baru Bagas bisa berbicara begitu lembut selain kepada Tiyas. Pria itu jarang bersimpati dengan anak kecil sekalipun, tapi entah kenapa rasanya anak ini berbeda.
Dan jika diperhatikan baik-baik, Bagas seperti tengah bercermin. Mata dan hidung anak ini begitu mirip dengannya.