
"Stefanny," bisik Bagas dengan penekanan.
Pria tampan itu tampak murka. Terlihat dari rahangnya yang mengeras juga urat-urat di pelipisnya. Ia melirik Tiyas yang kini tertunduk sembari memegangi pipinya.
Sial, pernikahan yang seharusnya berjalan khidmat kini berubah kacau. Hanya karena seorang wanita dengan pakaian ketatnya berdiri dengan dagu yang diangkat angkuh.
"Coba saya lihat," ucap Bagas sepelan mungkin namun tak bisa untuk tidak memperlihatkan rasa khawatirnya. Ia berusaha untuk menyingkirkan tangan Tiyas, namun wanita itu menolak.
"Tiyas," panggil Bagas berusaha menenangkan wanita itu.
Tiyas tidak mendengarkan panggilan Bagas. Wanita itu melirik Stefanny yang berada di depannya dengan tatapan murka.
"Saya tunggu di ruang ganti, Mas. Sebaiknya kamu selesaikan dulu urusanmu."
Stefanny yang melihat kepergian Tiyas lantas tak tinggal diam. Ia segera berjalan cepat dan mengerahkan tenaganya untuk mendorong wanita itu hingga jatuh terjerembab.
"Dasar cewek murahan! Bisa-bisanya lo terima pernikahan ini hanya karena duit!" teriak Stefanny keras dan juga telunjuknya mengacung pada Tiyas. "Lo cuma mau hartanya Wiguna doang kan? Gue kasih, lo mau berapa?! Asal lo tinggalin Bagas sekarang juga!"
Bagas, sebagai suami Tiyas yang melihat istrinya diperlakukan kasar tentu saja murka. Pria itu berjalan cepat menghampiri Stefanny, kemudian mendorong wanita itu menjauh dari istrinya.
"Apa-apaan kamu?!" Bagas ikut teriak marah, menatap tajam pada wanita yang dari dulu selalu berusaha mengejar cintanya. "Berani-beraninya kamu memperlakukan istri saya dengan cara tidak hormat! Rendahan sekali sikapmu! Gak punya adab!"
Stefanny tidak menjawab apa-apa. Ia terdiam dengan tusukan anak panah tak kasat mata di dadanya. Sakit hati karena ucapan penghinaan Bagas padanya.
Sang pengantin pria kini berjongkok, membantu serta memeriksa keadaan istrinya. Semakin murkalah ia karena Tiyas hanya diam dan menolak kebaikan darinya. Bagas melirik sang ibu dan adiknya yang hanya diam menonton di sana.
"Gas! Kamu itu sadar! Dia cuma cewek miskin yang pengen hartamu doang! Kamu pasti sudah diguna-guna sama dia kan?! Harusnya kamu cari yang sederajat sama kamu, bukan orang rendahan kayak dia!" teriak Stefanny frustasi. Seperti kebakaran jenggot melihat bagaimana interaksi manis antara Bagas dan Tiyas.
Arya yang sejak tadi diam menonton, lantas tak bisa menahan amarahnya. Wanita itu benar-benar sudah menginjak harga diri Tiyas, juga memberikan perlakuan kasar. Andai saja dia tahu siapa Tiyas, mungkin wanita itu sekarang tengah bersujud meminta pengampunan.
Beby yang melihat pergerakan Arya lantas menghentikan pria itu.
__ADS_1
"Aku aja, Bang."
Tak butuh waktu lama, Beby segera membantu Tiyas untuk bangun dan membawa sahabatnya itu keluar dari ruangan. Begitu juga dengan Nirmala, Arya dan juga pak Agus yang tampak syok di sana.
Bagas menatap punggung istrinya yang berjalan meninggalkan ruangan. Pria itu menggeram kesal, kemudian menatap tajam Stefanny yang kini menunduk dengan isak tangis.
"Keterlaluan kamu!" bisik Bagas dengan penuh penekanan. Pria itu tak tahu harus bereaksi bagaimana lagi dengan sikap semena-mena Stefanny.
"Apa yang kamu lakukan disini, anak muda? Saya gak pernah memberitakan atau mengumumkan hari pernikahan Bagas, lantas dari mana kamu tahu? Dan apa yang sudah otak bodohmu itu perintahkan hingga membuat kekacauan seperti ini?"
Chandra datang dari balik tubuh Stefanny. Suara pria tua itu terdengar berat dan tegas, juga tak ketinggalan kata-kata sarkas yang keluar dari mulutnya. Sebenarnya tanpa dikasih tahu, Chandra juga sudah tahu siapa dalang dibalik kekacauan ini terjadi.
Baik anggota keluarga Wiguna maupun Stefanny, mereka sama-sama takut berhadapan dengan Chandra. Pria tua yang dari luar tampak seperti malaikat nyatanya bisa berubah menjadi iblis dalam sekejap.
"Kakek," panggil Stefanny seraya menundukkan kepalanya. Menyapa pria tua itu dengan sesopan mungkin.
"Siapa kakek?!" bentak Chandra sedikit tersinggung. "Siapa kamu berani-beraninya panggil saya dengan sebutan Kakek?! Mulut kotormu itu gak pantas memanggil saya seperti itu."
Stefanny memejamkan matanya takut. Ini semua karena emosi sesaatnya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan ia terima setelahnya. Ia bahkan rela membatalkan jadwalnya hanya karena mendengar bahwa Bagas akan menikahi wanita lain.
Baik Restu, Indah dan Bella tidak bisa membantah. Ketiganya langsung mengekori Chandra keluar dari ruangan. Hingga tak memiliki kesempatan untuk membawa Stefanny dari sini.
Kini di dalam ruangan hanya menyisakan Bagas, Stefanny dan juga Jonathan.
"Mending kamu pergi sekarang, kakek juga sudah kasih peringatan," timpal Bagas dengan nada yang terdengar lelah.
Stefanny menggeleng, ia segera menabrakkan tubuhnya dan memeluk Bagas dengan erat.
"Gak! Aku gak mau kamu pergi buat ketemu sama cewek itu. Kamu itu punyaku, Gas! Gak ada yang bisa gantiin posisiku!"
"Gila ya?!" hardik Bagas sembari melepaskan pelukan erat itu dengan sekuat tenaga. Tatapan matanya sangat tajam hingga menusuk ke dalam mata wanita itu. "Berhenti sekarang, sebelum saya makin murka dan gak pandang kamu cewek atau bukan."
__ADS_1
Stefanny menatap Bagas dengan sendu. Ia memalingkan wajahnya sembari menahan tangis.
"Kamu kenapa sih, Gas? Dari dulu aku itu udah suka sama kamu, cinta sama kamu. Tapi gak ada sedikitpun kamu balas perasaan aku."
Bagas berdecak kesal. Ia mengacak rambutnya dengan kasat, meringis marah menatap Stefanny yang sibuk mengelap air matanya.
"Karena saya dari dulu gak menaruh rasa apapun sama kamu. Harusnya kalau cewek tau diri, dia gak akan mau kejar-kejar cowok yang gak suka sama dia. Apalagi sekarang sudah jadi suami orang."
"Tapi kenapa kamu terima perjodohan ini?" tanya Stefanny dengan sedikit menuntut. "Kalian juga orang asing, gak pernah ketemu. Mustahil ada rasa diantara kalian."
Jonathan yang melihat sahabatnya sudah mulai kebingungan menanggapi Stefanny lantas maju kedepan.
"Mending lo pulang deh, Stef. Gak ada gunanya lo bujuk atau paksa Bagas, dia udah punya istri. Dan sekarang istrinya lagi nunggu dia buat pulang bareng. Mereka sama-sama lagi capek dan lo jangan buat semuanya tambah runyam."
Stefanny melirik sinis pada Jonathan. Selalu saja pria ini ada untuk menjadi tameng Bagas.
"Gak usah ikut campur!"
Bagas mengusap wajahnya kasar, ia kemudian menghela napasnya.
"Saya mau cek Tiyas. Kalau ada masalah sama istri saya, gak akan segan-segan saya buat laporan ke kepolisian."
Stefanny mendengus pelan. Baru kali ini ia melihat Bagas perhatian dengan orang lain. Bahkan dengan keluarganya pun pria itu acuh tak acuh.
"Aku gak akan nyerah! Pernikahan terpaksa kayak kalian pasti gak akan berlangsung lama!"
"Terserah kamu mau bilang apa," sahut Bagas dengan santai. Ia menatap Stefanny untuk yang terakhir. "Saya tunggu permintaan maaf kamu kepada istri saya."
Wanita itu berdecih sinis. Air matanya menggenang, namun wajahnya seakan masih marah. Tak terima dengan semua skenario dalam hidupnya. Sudah banyak ia berkorban agar mendapatkan secuil perhatian dari Bagas. Berharap seiring berjalannya waktu hubungan mereka makin dekat dan semakin hangat. Tapi kenyataannya sekarang sungguh berbeda.
"Segitunya kamu perhatian sama istrimu. Sudah mulai suka?"
__ADS_1
Bagas yang tadinya sudah mulai melangkah pergi, kini berhenti tanpa berbalik. Tak menoleh sedikitpun pada Stefanny yang selalu setia menatap punggungnya.
"Saya gak tau bagaimana mendeskripsikannya. Tapi untuk sekarang hanya Tiyas wanita yang benar-benar saya inginkan."