Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 44


__ADS_3

Tiyas terdiam bahkan untuk membuka mulutnya. Entah kenapa adegan di depannya ini membuat dadanya sedikit sesak dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. 


Wanita itu merasakan bagaimana genggaman pada tangannya mengerat. Tetapi dia memilih untuk tidak balas menggenggam. Pikirannya kacau, rasanya begitu berbeda dengan saat kejadian di pantai. 


"Selamat ulang tahun, Bagas!" pekik Stefanny dengan riang, wanita itu bahkan melompat-lompat kecil. Mengabaikan sang istri sah disana, malah model itu mengambil kue dari Bella dan menyerahkannya pada Bagas. "Ayo, tiup-tiup!" 


Bagas menatap datar kue yang begitu mewah dan bagus dengan angka 31 di sana. Tetapi perasaannya tentu tidak bahagia, Bagas malah merasa cemas. 


Alih-alih segera meniup, Bagas malah menatap sang istri dengan tersenyum kecil. 


"Tiup bareng yuk!" ajaknya dengan sedikit berbisik. 


Tiyas menatap sang suami juga Stefanny serta para anggota keluarga Wiguna di sana. Tidak ada yang menatapnya dengan bersahabat, membuat wanita itu menggeleng sungkan. 


"Saya lagi gak ulang tahun, Mas. Yang tiup lilin Mas Bagas aja." 


Bagas juga balas menggeleng. Ia mengelus punggung tangan sang istri, sembari tersenyum getir. 


"Ayo dong. Kalau kamu gak mau, saya juga gak mau. Mending kita ke kamar aja, rayain berdua." 


Tentu tidak. Tiyas akan menolaknya mentah-mentah ide Bagas tersebut. Bisa-bisa Indah kembali mengamuk dan menghinanya di depan banyak orang. Stefanny akan merasa senang dan Tiyas semakin terpojokkan. 


Jadi mau tak mau Tiyas mengangguk pelan. Walau sudah bisa terlihat dari ekor matanya, bagaimana wajah masam Stefanny yang merasa tidak dianggap. 


Genggaman tangan mereka kini terlepas. Digantikan oleh tangan Bagas yang merangkul mesra pinggang sang istri. Dalam aba-aba akhirnya Bagas dan Tiyas meniup kue ulang tahun itu bersama-sama. 


Hanya terdengar tepuk tangan meriah dari Jonathan yang baru saja tiba di dalam rumah. Sedangkan sisanya hanya bertepuk tangan tidak ikhlas. Stefanny dan Indah malah terang-terangan menatapnya dengan penuh kebencian. 


"Selamat satu bulan pernikahan kita," ucap Bagas sembari memberikan kecupan hangat pada pelipis sang istri. "Udah lewat sih, tapi gak apa-apa." 


Tiyas mendengus geli. Lengannya menyikut pinggang Bagas dengan pelan. Mengisyaratkan bahwa pria itu lebih baik diam. 


"Udah, Mas. Malu." 

__ADS_1


Stefanny yang melihat adegan mesra di depannya hanya bisa mendelik sinis. Kue yang sudah disiapkannya dengan harga mahal bahkan tidak dilirik oleh Bagas. Wanita itu mengirim kode pada Indah sembari menyimpan kuenya. 


Indah yang mendapatkan kode tersebut langsung berdiri di antara anak dan menantunya. Memeluk anak sulungnya dengan erat. 


"Selamat ulang tahun ya, sayang. Doa terbaik untuk anaknya Mama dan segera dibuka pintu hatinya. Bercanda." 


Bagas tersenyum tipis. Perang dingin antara dia dan ibunya perlahan mulai mencair. Selagi sang Ibu memperlakukan Tiyas dengan baik, tentu Bagas akan baik-baik saja. 


"Terima kasih, Ma." 


"Sama-sama sayang," balas Indah dengan senyum lebarnya. Kemudian ia segera mengapit lengan sang anak dan menariknya masuk ke dalam kerumunan di sana. "Ayo, sapa sepupu-sepupu kamu. Kasihan dia sudah jauh-jauh dari London ke sini." 


Bagas melirik istrinya yang hanya mengangguk dengan senyum kecilnya. Mungkin berbincang sebentar dengan orang seusianya tidak akan membuat Tiyas menunggu. Pria itu tidak bisa menolak ketika para sepupu menariknya dan masuk ke dalam obrolan seru. 


Tiyas yang berniat akan masuk ke dalam kamarnya, karena bisa dipastikan tidak ada kepentingannya di acara ini. Harus terhenti tatkala sang Ibu mertua kini berdiri di depannya. 


"Mau kemana kamu?" tanya Indah dengan alisnya terangkat satu, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan dagunya terangkat angkuh. 


Tiyas bermaksud ingin salim kepada Ibu mertuanya, mengingat dirinya baru pulang kerja. Tetapi niat baiknya itu tidak dianggap, tangannya malah ditepis kasar oleh wanita paruh baya itu. 


"Kamar, Ma," jawab Tiyas dengan begitu lembut dan sopan santun. Senyumnya sedikit ia paksa karena badannya sudah terasa remuk. "Mau istirahat dulu, Ma. Abis itu nanti saya gabung lagi." 


Indah menggeleng tegas dengan matanya yang melotot tajam.


"Siapa yang buat kamu semena-mena disini?! Gak, mendingan kamu ke dapur. Bantu tuh Maria yang kewalahan di belakang, cuci piring kek. Biar kamu dirumah ini berguna bukannya jadi beban doang!" 


Mata Tiyas sontak terpejam sejenak. Berusaha untuk mengontrol emosinya yang mungkin akan meledak. Wanita itu tersenyum kecut saat keberadaannya sebagai istri Bagas saat ini malah menjadi tidak terlihat. 


"Nanti kalau Mas Bagas cari saya gimana, Ma?" tanya Tiyas yang sebenarnya hanya sebuah alasan saja agar setidaknya bisa meluruskan pinggangnya. 


Indah mendengus geli. Ia kemudian mengedikkan bahunya, mengisyaratkan sang menantu untuk melihat ke arah yang sama dengannya. 


"Gak mungkin Bagas cari kamu, gak usah pede. Ada Stefanny di sana, dia keliatan lebih pantes buat gabung sama mereka. Memangnya kamu paham apa yang mereka obrolin? Gak kan? Yang ada kamu bisa bikin malu anak saya!" 

__ADS_1


Dalam hati Tiyas sudah mengeluarkan sumpah serapahnya kepada sang mertua. Biarlah jika dikata kurang ajar, kesabaran Tiyas tidak setebal kamus bahasa Indonesia. 


"Udah deh, mendingan kamu cepat ke dapur. Gak usah ganti baju, pake itu aja. Gak mahal juga kan? Paling belinya cuma 200-300 ribu!" sambung Indah dengan memutar bola matanya jengkel dan segera berlalu dari sana. 


Meninggalkan Tiyas yang hanya bisa menghela napasnya kasar sambil matanya terpejam erat. Tangannya terangkat guna mengurut pelan pangkal hidungnya, pening kepalanya. Suatu saat nanti, Tiyas akan menghancurkan orang-orang yang menghinanya dengan kebenaran. 


"Nyebelin ya!" celetuk Jonathan yang kini sudah berada disamping Tiyas. 


"Kenapa disini? Gak ikut gabung?" tanya Tiyas sembari melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia tidak ingin menjadi amukan sang mertua. 


Jonathan tersenyum kecut. Ia memilih untuk mengekori Tiyas daripada berdiri dengan wajahnya yang penuh kebingungan. Persis seperti orang tolol. 


"Bukan sirkel gue. Gak asik, tiap ketemu dikit bahas masalah saham. Coba kan kalau bahas masalah cewek, maju gue paling depan." 


Tiyas menggelengkan kepalanya pelan sembari mendengus geli.


"Bagus deh kalau begitu. Ada tambahan satu personil di dapur."


"Dih, ogah!" tolak Jonathan mentah-mentah dengan keningnya yang mengernyit tajam. Tidak bisa membayangkan jika harus membantu di dapur dengan banyaknya pegawai dan ruangan yang terbatas. 


Tunggal Adhitama itu hanya mengedikkan bahunya tidak peduli. Kalau memang Jonathan tidak mau, ya tidak masalah. Biarkan Tiyas yang akan membantu Maria dan para bawahannya untuk melancarkan acara ulang tahun suaminya. 


"Masalah yang tadi gak usah terlalu dipikirin," celetuk Jonathan secara tiba-tiba. 


Kening Tiyas berkerut tidak mengerti. 


"Masalah yang mana?" 


Jonathan menatap istri temannya dengan cukup lama, kemudian menghela napasnya pelan. 


"Peluk dan ciuman Stefanny tadi. Lo gak usah ambil pusing." 


Oh, Tiyas akhirnya mengerti arah pembicaraan Jonathan. Dan ada hal mengganjal yang ingin wanita itu kulik dari asisten suaminya. 

__ADS_1


"Tapi memang begitu ya hubungan Stefanny sama Mas Bagas?" tanya Tiyas dengan nadanya yang sedikit mendayu, mulai tampak tak bersemangat. "Mas Bagas juga diem aja tadi, gak membela diri, gak dorong juga pas dipeluk. Kayak biasa aja, gak ada permintaan maaf ke saya. Apa benar di antara mereka gak ada cinta, Jo?" 


__ADS_2