
Sebulan sudah kejadian dimana berita-berita itu muncul ke permukaan dan mengguncang keluarga Wiguna. Juga sebulan terlewati setelah Nirmala datang ke rumah Wiguna dengan amarah di dadanya.
Kini setelah media akhirnya dibungkam paksa oleh Chandra dan juga dengan sedikit bantuan Adhitama secara tak terlihat dari belakang. Berita pemukulan serta rasa penasaran orang-orang tentang siapa wanita di sisi Bagas tak lagi terdengar.
Meski begitu, beberapa orang masih gemas menyisipkan obrolan tentang keluarga Wiguna yang terkenal. Dimana kekayaan serta ketampanan dan kecantikan anggota keluarga tersebut sudah diatas rata-rata.
Seperti halnya sekarang. Tiyas sudah kembali mengajar sejak dua minggu yang lalu. Dan perbincangan antara guru tentang Bagas selalu saja mengusik dirinya.
"Kalo saya ngerasa cewek yang di dalam mobil itu si Stefanny. Kan kabarnya Bagas sama Stefanny dekat," ungkap sang guru matematika dengan berbagai macam spekulasi.
Kedekatan Stefanny dan Bagas memang sudah menjadi rahasia umum. Itu semua karena karir wanita itu yang bukan hanya menjadi model, tetapi juga terjun ke dunia akting dan menjadi kesukaan banyak orang.
"Apa iya? Tapi kenapa harus ditutupi mukanya? Kan semua orang udah tau siapa dia," celetuk guru yang lain disana sembari memakan cemilan pedasnya.
"Gak tau juga sih. Tapi buat kasus yang lain, rumornya si Bagas mukul Jovan itu karena cemburu. Kan Stefanny sama Jovan pernah punya job bareng, photoshoot berdua. Mana mesra!" timpal sang ibu guru matematika dengan suaranya yang semakin meninggi.
Tiyas yang berada di sana hanya bisa menghela napas kasar. Merasa bahwa obrolan keduanya membuat wanita itu terganggu konsentrasinya, maka Tiyas memutuskan untuk pulang saja.
"Bu Jessica, Bu Cheryl. Saya duluan ya!" pamit Tiyas seraya membungkuk dan memberikan senyum hangat meski hatinya dongkol.
Jessica, guru matematika itu mengangguk pelan.
"Hati-hati ya, Yas. Besok jangan lupa tetap dateng buat rapat."
Tiyas mengangguk paham. Tangannya diangkat seperti posisi hormat.
"Siap, Bu Jess," ucapnya sembari terkekeh geli.
Setelah keluar dari ruang guru, Tiyas menghela napas lega. Ya setidaknya walaupun dongkol, orang-orang tidak menyadari perawakan wanita yang dipeluk Bagas itu adalah dirinya.
Langkah kaki Tiyas berjalan melewati para anak murid yang menyapanya dengan ramah. Bahkan ada beberapa yang mengajaknya mengobrol tentang tugas dan hal lainnya.
"Bu, pulang naik apa?" tanya seorang siswa yang sedikit lebih tinggi sari Tiyas. Pemuda itu tersenyum senang sembari berjalan bersisian dengan guru kesayangannya.
"Naik bus, kenapa Aldo? Mau antar?" tantang Tiyas dengan candaan, wanita itu hanya bisa menggeleng pelan sembari terkekeh geli.
Aldo juga ikut terkekeh. Ia mengambil kunci motor besarnya dan menggoyang-goyangkannya di depan Tiyas.
"Mau nih? Ayo, gas!"
Tiyas berdecak. Ia menjauhkan tangan Aldo yang masih saja mengguncang kunci motornya.
__ADS_1
"Bercanda," sahutnya dengan santai.
Aldo menghela napasnya pelan. Sudah biasa ditolak mentah-mentah oleh Tiyas. Padahal pemuda itu benar-benar menyukai guru ini karena selain cantik dan menyenangkan, umur mereka juga tidak beda jauh. Beda tujuh tahun bukan masalah besar.
"Ayolah, Bu," bujuk Aldo sembari menggoyang-goyangkan tangan sang guru.
Tiyas menggeleng tegas. Tentunya ucapannya tadi hanya bercanda. Walau sering guru-guru disini meminta tumpangan pada anak muridnya. Tetapi Tiyas bukanlah orang yang seperti itu.
Karena perannya di mata keluarga Wiguna sebagai seorang yang biasa, membuat Tiyas harus merelakan mobil kesayangannya di dalam garasi untuk sementara waktu. Dan mungkin ia harus mengambil satu unit motor untuk memudahkannya pulang pergi.
Tiyas menatap anak muridnya dengan pandangan datar.
"Awas, kalau jatuh Ibu gak tanggung jawab."
Aldo hanya mengedikkan bahunya gak peduli.
"Saya bakal jalan mundur begini sampai Ibu mau pulang bareng."
Wanita itu tak menjawab, membiarkan anak muridnya melakukan apa yang diinginkannya. Tetapi ketika Aldo tiba-tiba saja memekik, membuat Tiyas ikut terperanjat.
"Kalo jalan itu matanya ke depan! Ngapain lo jalan mundur begitu, bikin bahaya orang aja!" keluh Jonathan yang ternyata korban dari kecerobohan Aldo.
"Kenapa disini?" tanya Tiyas dengan aslinya terangkat keheranan.
Jonathan menghela napas pelan. Ia melirik mobil pribadi Bagas yang terparkir tepat di depan gerbang sekolah.
"Gue disuruh suami lo buat jemput, soalnya ada hama pengganggu disini!"
"Pengganggu apaan sih, Om?! Lagian sok kenal banget!" balas Aldo dengan kesal. Ia kemudian menatap Tiyas dengan pandangan menyelidik. "Ibu udah nikah ya?"
"Hah?" Mata Tiyas mengerjap cepat, sebelum akhirnya paham apa yang ditanyakan anak muridnya dan terkekeh hambar. "Gak kok! Saya belum nikah! Emang ada-ada aja dia, kalo gitu Ibu duluan ya!"
Jonathan pasrah saja saat tangannya ditarik kencang oleh Tiyas.
"Lewat dong! Mobilnya yang disana!" serunya sembari tangannya menunjuk salah satu mobil sedan berwarna hitam disana.
Tiyas mendengus kesal. Wanita itu segera melepaskan cengkramannya pada tangan Jonathan dan segera berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil.
Baru saja Tiyas membuka pintu dan sebagian tubuhnya sudah masuk. Tiba-tiba suara di sampingnya tempat duduknya membuat wanita itu terperanjat sembari memekik kuat.
"Mas Bagas!" panggilnya dengan nada tinggi.
__ADS_1
Bagas yang memang berniat menjemput sang istri di tempatnya mengajar. Malah harus mendapatkan pemandangan tidak sedap yang membuat hatinya terbakar.
"Kenapa? Gak suka saya disini?"
Tiyas menghela napasnya sembari memegangi dadanya. Jantungnya berdetak cepat, hampir lepas hanya karena melihat tampang datar suaminya yang terlihat menyeramkan.
"Saya kaget, Mas. Kenapa sih marah-marah? Baru juga ketemu!"
Pria tampan itu berdecak kesal. Ia membuang wajahnya ke arah berlawanan tempat sang istri duduk.
"Masih harus dikasih tau ya?!"
Wanita itu berdecak kesal, mengurut pangkal hidungnya dengan pelan. Melirik Jonathan yang ada di kursi kemudi tanpa sedikitpun menoleh padanya.
"Jangan kayak anak kecil deh, Mas. Kalo lagi marah tuh kasih tau aja apa penyebabnya, jangan bikin aku nebak!".
Bagas berdecak kesal. Entah kenapa rasa cemburunya benar-benar tidak bisa dikontrol. Membuatnya bak uring-uringan dan marah tak jelas seperti anak kecil. Sifat yang baru keluar setelah menikah dengan Tiyas.
"Ngapain tuh murid dekat-dekat sama kamu?!" tanya Bagas dengan nada tidak santai, matanya bahkan ikut melotot. Mendelik sinis pada Aldo yang baru saja keluar dengan kotor besarnya.
"Dia kan muridku, Mas," kilah Tiyas yang tak ingin memperpanjang masalah. "Sebagai guru kan memang saya harus dekat dengan murid."
Bagas mendelikkan matanya dengan curiga. Kedua tangannya didekap didepan dada, tubuhnya sedikit lebih condong ke arah sang istri.
"Jangan bohong! Yang saya tangkap dari pergerakan bocah itu, sepertinya dia suka sama kamu."
"Walaupun dia suka sama saya, tapi kan saya gak. Lagian kita udah nikah sama, Mas. Gak mungkin saya selingkuh, apalagi sama murid sendiri," bantah Tiyas dengan keningnya yang berkerut dalam.
"Tapi kamu tadi gak ngakuin kalau sudah nikah," celetuk Jonathan menyela pembicaraan sepasang suami istri itu. "Gak kok, saya belum nikah. Emang ada-ada aja dia," sambungnya seraya mengikuti nada bicara Tiyas tadi.
Wanita sesaat memejamkan matanya seraya tersenyum masam. Tiyas menatap sang suami yang mengangkat alisnya dengan wajah datar. Seakan-akan meminta klarifikasi apakah benar yang dikatakan oleh asistennya.
Karena merasa terpojokkan, emosi Tiyas jadi tersulut.
"Ya terus, saya harus gimana? Ngaku kalo jadi istri kamu gitu? Yang ada mama malah makin gak setuju!" serunya dengan bibirnya yang cemberut. "Apalagi guru-guru disini pada ngiranya kamu lagi meluk Stefanny, pacar dan istrinya kamu itu Stefanny bukannya saya! Terus saya harus marah-marah begitu?! Bilang ke mereka kalau saya istri Bagas, gitu?!"
Mata Bagas mengerjap cepat. Tubuhnya yang tadi ia condongkan, kini perlahan menarik kebelakang. Melirik Jonathan yang juga sama terkejutnya karena kalimat panjang Tiyas yang diucapkan hanya dengan satu tarikan napas.
"Itu, kamu marah-marah!" tuduh Bagas dengan senyum gemasnya. "Cemburu ya?"
"Gak tuh! Saya cemburu? Heh, gak!"
__ADS_1