
Bagas kini tengah mematutkan dirinya di depan cermin. Menatap lingkaran hitam dibawah matanya, juga air wajahnya yang terlihat lesu. Pria tampan itu menghela napasnya cukup panjang. Sekali lagi ia menilai penampilannya dari atas sampai bawah. Pagi ini Bagas tengah memakai baju kaos berwarna hitam dengan celana pendek putih, tidak terlihat formal seperti biasanya.
Sejak semalam pria itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Entah apa yang membuatnya begitu gelisah. Apa mungkin karena pernyataan sang kakek yang mengatakan bahwa dirinya cemburu? Tapi tidak mungkin!
Pria tampan itu yakin bahwa dirinya tidak cemburu. Ia hanya marah karena Tiyas dengan beraninya menerima perjodohan ini ketika sudah memounyai pasangan. Bagas merasa dibodohi dan juga dimanfaatkan.
"Gas?"
Suara ketukan terdengar, Bagas segera menghentikan kegiatannya. Dengan langkah pelan, ia membuka pintu kamarnya dan mendapati ada sang ibu di sana.
"Lagi apa?" tanya Indah yang langsung masuk dan duduk di tepi ranjang anak sulungnya.
Bagas melirik sebentar, kemudian mengikuti langkah sang ibu. Membiarkan pintu kamarnya terbuka begitu saja. Langkahnya ia hentikan tepat di depan ranjangnya, kemudian ia sandarkan tubuhnya pada lemari pakaian di belakangnya.
"Gak lagi apa-apa," jawab Bagas dengan cuek. "Kenapa Ma?"
Indah tersenyum tipis.
"Maafin Mama yang gak sempat bela kamu semalam. Pasti kamu merasa terpojokan dan rugi karena menerima perjodohan ini. Harusnya sejak awal Mama berani untuk menentang tradisi ini dengan keras."
Terdiam Bagas disana, belum ingin menyela atau menginterupsi perkataan sang Mama. Walau pria itu sudah merasakan gelagat aneh dari Indah.
"Tapi ini permulaan yang bagus kok," sambung Indah dengan senyumnya yang semakin melebar. "Karena cewek yang miskin dan gak tau diuntung itu, kamu punya alasan kuat buat menolak perjodohan ini. Kakek tentunya gak akan bisa menyelenggarakan pernikahan kamu kalau dari dua belah pihak gak ada kecocokan."
"Jadi?" tanya Bagas dengan cepat. Ia seperti bisa menebak isi otak ibunya sekarang.
__ADS_1
Wanita paruh baya ity tersenyum lembut. Ia kemudian berdiri, berjalan pelan menghampiri sang anak. Menarik kedua tangan Bagas dan menggenggamnya.
"Jadi sebelum Tiyas berusaha merayu kakek Chandra untuk melanjutkan pernikahan ini. Lebih baik kamu jemput Stefanny dan jadikan pasangan kamu sesegera mungkin."
Bagas berdecak pelan. Ia segera melepaskan genggaman tangan Indah, kemudian berjalan cepat dan berhenti pada daun pintu yang terbuka.
"Gak," tolak Bagas dengan keras, rahangnya mengeras seketika. "Aku gak akan mau menikah dengan Stefanny. Kenapa Mama gak bisa pernah ngerti?! Aku gak punya rasa apa-apa sama dia."
Wanita paruh baya itu melebarkan matanya. Seketika amarahnya juga ikut meledak.
"Terus kenapa kamu mau dijodohkan sama Tiyas? Bukannya kalian juga gak ada rasa satu sama lain? Cinta itu tumbuh seiringnya waktu, sama kok kayak Mama dan papamu dulu. Menerima Stefanny jadi menantu Wiguna lebih baim dan terhormat daripada kamu nikah sama cewek gak jelas asal-usulnya!"
Urat-urat di pelipis Bagas terlihat dengan jelas. Giginya saling beradu dan berbunyi pelan. Lelah rasanya jika hidup selalu dituntut dan diatur seperti ini. Ditambah harus menjalani sisa hidupnya dengan orang seperti Stefanny justru membuat harapan hidupnya berkurang 20 tahun.
"Mama salah," balas Bagas dengan nada yang ditekan. "Memang benar awalnya aku gak ada rasa suka atau tertarik sama Tiyas. Tapi setelah aku dibikin gak bisa tidur karena dia membatalkan perjodohan begitu saja dan membuat aku uring-uringan sepanjang malam, aku yakin kalau aku ada rasa sama dia. Aku cemburu, Ma."
Wajah Bagas terlempar ke samping. Pria tampan itu merasakan pipinya memanas dan perih. Mengingat bahwa Indah gemar memakai perhiasan di tangannya, pasti kini pipi dan rahangnya lecet.
Bagas terkekeh getir, ia menatap Ibunya yang terdiam dengan tangan bergetar. Namun amarah di wajahnya seakan tidak redup sedikitpun.
"Mama mau tampar aku berulang kali gak masalah, aku terima. Dan aku meminta bayaran mahal untuk rasa perih dan panas di pipiku. Jadi Mama gak bisa paksa aku untuk menikah sama Stefanny, karena aku akan tetap memilih Tiyas menjadi istriku."
"Kurang ajar!" teriak Indah dengan keras. Wanita paruh baya itu bahkan tak segan melayangkan kembali tamparan itu pada putra tampan dan gagahnya yang sering ia puji. "Anak gak tau berterima kasih! Bisa-bisanya kamu jadi durhaka karena gadis kampung, miskin, murahan dan gak berbobot itu!"
Bagas masih terdiam dengan posisi wajahnya yang masih terlempar ke kanan. Membiarkan Indah terisak pelan dengan tatapan tajam yang tetap mengarah padanya. Ingin rasanya Bagas membalas ucapan Ibunya yang memandang Tiyas begitu rendah. Tapi pria itu memilih untuk diam dan menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Sepertinya suara pertengkaran mereka menggema hingga ke lantai bawah. Terbukti dari Restu yang datang dan bertanya dengan panik, kemudian disusul oleh Chandra yang mengerut bingung di sana.
"Kamu usir dia sekarang, Mas! Aku gak mau punya anak kurang ajar kayak dia! Mending suruh dia ikut adiknya jadi gelandangan di kota orang! Dasar kalian berdua anak durhaka!" Indah kembali berteriak dengan semakin tidak terkontrol. Mengingat Bagas yang selalu menurut padanya, membuat hati wanita itu sakit seperti dicabik-cabik. Terutama alasannya karena wanita bernama Tiyas.
"Mah! Gak usah bawa-bawa adikku!" Bagas kemudian balas menyentak. Semua hal tentang adiknya adalah hal sensitif baginya. Adik laki-lakinya lah yang paling ia sayangi. "Dia kabur dari rumah ini juga karena Mama yang gak pernah mau dengar dan mengerti posisi dia."
Indah kembali murka, kemudian melayangkan tamparan untuk ketiga kalinya di tempat yang sama.
"Masih berani bantah kamu!" teriaknya yang ingin kembali melayangkan pukulan kepada anaknya namun tubuh Indah langsung ditarik oleh sang suami.
Bagas menatap ibunya dengan mata yang bergetar. Baru kali ini sepanjang hidupnya, setelah Ibunya memberikan segudang pujian padanya karena keberhasilan dan kepintarannya. Lantas karena keputusan Bagas yang ingin memilih pasangan hidupnya sendiri, Ibunya berani dan tega melakukan hal yang menyakitkan hatinya seperti ini.
Setidaknya untuk yang satu ini Bagas ingin memilih sesuai hati dan keinginannya sendiri. Bukan lagi karena tuntutan dan perintah dari orang tuanya. Setidaknya untuk memilih pasangan yang menemaninya di hari tua, Bagas ingin memilihnya sendiri. Meski di awal ia ragu pada Tiyas, namun setelah semua hal yang mereka lalui bersama. Bagas merasa untuk saat ini Tiyas pantas untuk menjadi istrinya.
"Aku gak akan tarik ucapanku. Karena Mama sudah menamparku lebih dari dua kali, kayaknya aku gak perlu persetujuan Mama atas pilihan untuk melanjutkan perjodohan ini," kata Bagas setengah berbisik. Ia kemudian berbalik pergi dari kamarnya tanpa menoleh sedikitpun, termasuk Chandra.
Indah menatap kepergian anaknya dengan tatapan marah dan kecewa.
"Mas, aku harus meminta Stefanny untuk pulang ke Indonesia secepatnya."
Disamping itu, Bagas mempercepat langkahnya, ia segera menaiki kuda besinya yang berwarna merah. Suara deruman mobil itu terdengar begitu kencang, diiringi dengan Bagas yang sudah meninggalkan mansion utamanya. Tujuannya sekarang adalah pergi ke rumah Tiyas dan meminta wanita itu untuk menarik ucapannya semalam.
Dengan sedikit terburu-buru Bagas mengambil ponselnya dan mendial nomor Tiyas untuk dihubungi. Tetapi hingga panggilan ketiga, wanita itu tak kunjung mengangkat telepon.
__ADS_1
"Kayaknya gue langsung ke rumahnya aja."