Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 62


__ADS_3

Sudah tiga bulan berlalu. Sejak malam perpisahan mereka, Tiyas yang dulunya ceria kini lebih senang di dalam kamar, mengurung dirinya sembari merenung di pinggir jendela. Menatap sendu pada halaman belakang rumahnya. 


Selama rentang waktu tersebut, tidak ada satupun kabar dari Bagas. Pria itu tidak mencarinya, tidak juga mengabarinya. Tiyas sengaja tidak menghapus kontak sang suami, siapa tahu amarah Bagas telah mereda dan sudi untuk mendengar penjelasannya. Alasan kenapa Tiyas tidak menghubungi lebih dulu, karena wanita itu takut akan penolakan Bagas. Melihat wajah kecewa sang suami membuat Tiyas selalu menangis kala mengingatnya. 


Diluar kamar, baik Nirmala dan Rudi sama-sama mengkhawatirkan kondisi Tiyas. 


"Pi, gimana ini? Udah jam satu siang, tapi Tiyas belum mau keluar. Dari pagi belum makan, loh," ucap Nirmala dengan cemas, wanita itu terus saja menggenggam tangannya. Menatap ke lantai atas, dimana kamar sang anak berada. 


Rudi menghela napasnya, pria paruh baya itu tidak menyangka bahwa pengaruh Bagas terhadap anaknya amat begitu besar. Rudi pernah sekali mendatangi kantor Bagas, karena menghadiri rapat penting sekaligus meminta sang menantu untuk setidaknya menemui Tiyas barang sebentar. Tetapi dengan sopan, Bagas menolak. 


"Coba dibujuk lagi, Mi. Kalau kita paksa buat buka, Tiyas malah makin marah dan gak mau ketemu kita," saran Rudi yang sudah kehabisan akal. 


Anak semata wayangnya itu bak hidup segan mati tak mau. Yang Tiyas lakukan hanyalah melamun sembari menatap ponselnya hingga kehabisan daya atau sekedar melihat potret kemesraan ia dan sang suami yang diabadikan dalam galeri ponselnya. 


Nirmala menghela napas sedih. Sedikit banyak wanita itu merasa kesal dengan sikap Bagas yang tidak bisa dewasa. Terlebih Chandra sempat meminta maaf kepada mereka dan membeberkan masalah yang dihadapi Tiyas oleh mertuanya. 


"Apa kita pergi sekali lagi ke kantornya Bagas?" tanya Rudi yang sudah pasrah. "Kita bisa kasih liat, gimana kondisi Tiyas sekarang. Pasti Bagas bakal luluh. Dia cuma kecewa sama Tiyas, tapi bukan berarti benci." 


"Gak!" Nirmala menolak mentah-mentah ide tersebut. "Kalau dia emang benar cinta, harusnya Bagas bisa kasih waktu sedikit untuk Tiyas menjelaskan. Tapi kenyataannya gak begitu, malah nolak ketemu sama Tiyas," sambungnya dengan nada yang menggebu-gebu. 


Rudi menghela napasnya. Pria paruh baya itu tahu bagaimana kecewanya Bagas kepada Tiyas. Menantunya itu layak untuk kecewa dan marah, tapi menggantung hubungan pernikahan mereka juga tidak dibenarkan. 


"Pi, kita ajukan surat cerai buat Tiyas," celetuk Nirmala yang merasa keputusannya ini sudah bulat. "Terserah kalau Tiyas gak setuju, kita harus paksa." 


"Mi, kita juga harus ketemu sama keluarga Wiguna. Kita bicarakan ini baik-baik," sahut Rudi yang berusaha untuk mempertahankan rumah tangga anaknya. Melihat Tiyas yang seperti ini, jelas bahwa sang anak sangat mencintai suaminya. 


Nirmala menolak, wanita itu menggeleng dengan tegas. Dan perkataannya ini tak ingin dibantah oleh sang suami. 

__ADS_1


"Saya rasa keputusan Nyonya Besar sudah benar, Tuan," sahut Arya yang baru saja datang bersama dengan Beby disampingnya. 


Tepat sudah dua bulan, keduanya secara resmi menjadi sepasang kekasih. Perjuangan Beby untuk mendapatkan cinta Arya akhirnya membuahkan hasil. 


Nirmala dan Rudi menoleh bersamaan, ekspresi yang tergambar di wajah keduanya sama. Yaitu ekspresi kebingungan. 


"Apa maksudmu, Ar?" tanya Rudi yang tentunya tidak setuju dengan pernyataan asisten pribadinya. 


Arya memberikan ponselnya pada Rudi yang diterima dengan kebingungan. 


"Kabar tentang pertunangan antara Bagas dan Stefanny menjadi topik hangat di kalangan pebisnis. Dan berita tentang kebenaran Bagas yang meneriakkan kata 'istriku' dikantor saat itu kembali menyeruak." 


Nirmala terkekeh getir. Wanita itu langsung menyambar ponsel di tangan suaminya dan membacanya dengan cepat. 


"Liat kan, Pi? Semua penolakan Bagas berdasarkan rasa kecewanya cuma akal-akalan aja! Sebenarnya dia emang gak cinta sama Tiyas, ini semua dia lakukan biar bisa bersatu sama Stefanny. Udah jelas rumor sebelum anak kita menikah, Stefanny sama Bagas itu memang punya hubungan khusus." 


Rudi menghela napasnya panjang. Tak percaya dengan berita yang ia dapatkan. Pria paruh baya itu mencari tempat duduk dengan linglung dan memegangi kepalanya yang terasa pening. 


"Baik, Tuan," sahut Arya sembari menunduk hormat. 


Pria tampan itu segera berbalik badan dan berniat untuk membawa sang kekasih keluar dari kediaman Adhitama. Tetapi Beby hanya terdiam bak patung, tatapannya mengarah ke lantai atas. 


"Tiyas," gumam Beby dengan begitu pelan. 


Sontak mata Arya melebar, pria itu menoleh ke atas dimana Tiyas kini terdiam dengan air mata yang terus saja mengalir dengan ekspresi datarnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya lunglai. Baik Beby dan Arya, keduanya ikut merasakan kesedihan yang Tiyas alami. Beby bahkan juga ikut menangis. 


Nirmala dan Rudi juga ikut menoleh. Terkejut karena kehadiran sang anak yang tidak mereka ketahui. Dan tidak lama setelahnya, tubuh Tiyas limbung. 

__ADS_1


Wanita itu pingsan seketika. 


***


Di kediaman Wiguna, kini Stefanny tengah bersenda gurau bersama Bella dan Indah. 


Setelah kejadian malam itu, Stefanny langsung mengabari keluarga Bagas. Dan tentunya ketiganya langsung pulang dengan rasa khawatir, terlebih melihat betapa kacaunya Bagas setelah ditinggal Tiyas. 


Pria itu setiap harinya terus-terusan bekerja, tidak kenal waktu. Bahkan sekarang Bagas lebih sering menginap di kantor. Kelakuannya lebih parah dari sebelum mengenal Tiyas. Sama seperti sang istri, Bagas juga mengalami gangguan kesehatan. Beberapa kali pria itu jatuh sakit karena telat makan dan sedikitnya asupan pada tubuhnya. 


Sedangkan Chandra sudah angkat tangan. Dan tidak ikut campur lagi dalam kehidupan anak dan cucunya. 


Seperti sekarang, ketika keluarga Wiguna tengah berkumpul. Bagas tiba-tiba saja masuk ke rumah dengan langkah yang cepat, kemudian menuju dapur. Pria itu langsung saja memuntahkan semua isi perutnya yang hanya keluar cairan saja. 


"Gas, kamu gak apa-apa?" tanya Stefanny yang langsung buru-buru menghampiri pria itu. 


Bagas menggoyangkan bahunya, membuat sentuhan Stefanny terlepas. 


"Gak usah pegang-pegang." 


Stefanny menghela napas kasar. Sudah tiga bulan lamanya wanita itu gencar untuk memberikan perhatian dan segala hal agar bisa mendapatkan hati Bagas. Namun sepertinya pria itu enggan untuk membuka hati. 


"Bisa gak sih kamu lembut dikit sama aku? Ini aku khawatir loh! Udah sebulan kondisi kamu makin gak fit!" 


"Terus apa urusan lo?!" sentak Bagas dengan menatap tajam Stefanny. Pria itu benar-benar sulit mengontrol emosinya sekarang. "Mau gue sehat, mau gue sekarat. Gue gak butuh peduli lo!" 


"Duh, Gas. Kok ngomongnya gitu sih!" Indah yang mendengar pertengkaran keduanya langsung saja berlari kecil mendekati dapur. "Stefanny itu perhatian sama kamu. Harusnya kamu bersyukur dong dan harus membiasakan diri. Sebentar lagi kan kalian bakal nikah." 

__ADS_1


Kepala Bagas menoleh. Mendelik tajam pada sang Ibu, kemudian bergantian melirik Stefanny yang tersenyum manis ke arahnya. 


"Kapan aku setuju nikah sama dia?" 


__ADS_2