Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 24


__ADS_3

"Lo gak dikasih makan apa gimana?" 


Beby mengernyitkan keningnya, menatap sang sahabat yang baru saja sampai di kantornya dan sudah menghabiskan dua porsi sarapan pagi. Dan ini yang ketiga. 


Tiyas mengangguk cepat. Mengambil sebotol air dan meneguknya hingga tandas. 


"Gue kayaknya benar-benar masuk lobang neraka, Beb. Gila, gue gak disisain makanan sedikitpun. Ya kali gue masuk ke dapur, mana tuh ART pada natap gue sinis." 


"Malangnya nasibmu," ledek Beby dengan tertawa geli. "Lagian lo mau-mau aja dirayu Bagas buat gak jadi batalin perjodohan."


Wanita itu mengedikkan bahunya. Lanjut makan ia, kini dengan perlahan karena takut tersedak. 


"Daripada nanti ada apa-apa sama keluarga gue. Walaupun keluarga gue punya power, bukan berarti menganggap Wiguna gak ada apa-apanya. Gue mending cari aman aja."


Beby menghela napasnya. Ikut prihatin dengan nasib sahabatnya. Padahal sejak lahir Tiyas sudah hidup enak, bisa-bisanya dapat keluarga mertua yang seperti ini. 


"Kata gue lo mending suruh Bagas buat pindah deh. Ke apartemen kek, biar lo bisa leluasa," saran Beby yang kini ikut mengambil beberapa butir nasi dengan jarinya. Lapar juga lama-lama melihat sahabatnya makan dengan lahap. 


"Malah makin bahaya," sahut Tiyas yang kini sudah selesai dengan acara makan paginya. Perutnya sudah penuh, tangannya kemudian menggeser sekotak nasi itu kepada Beby. "Makan aja, gue kenyang." 


Beby tanpa basa-basi langsung saja melahap seporsi nasi itu. Padahal dirinya sudah terbiasa untuk tidak makan-makanan berat. Tetapi melihat Tiyas yang makan dengan lahap, entah kenapa membuatnya lapar dan berselera makan. 


"Makin bahaya kenapa?" tanya Beby dengan mulutnya yang penuh hingga menggembung pipinya. 


Tiyas terdiam sejenak. Ia kemudian menghela napasnya panjang. 


"Mas Bagas gak ada sedikitpun menyinggung masalah Stefanny. Gue takut tuh cewek masih gak terima dan bisa aja dia ganggu kehidupan gue mulai sekarang. Ditambah kalau gue ikut saran lo, bisa-bisa setiap saat tuh cewek ke apartemen." 


Beby mengangguk mengerti. Ia kemudian melirik sahabatnya sebelum lanjut untuk makan. 


"Jadi? Apa yang mau lo lakukan sekarang? Bukannya lo anti ditindas ya?" 


"Kalau mau adu otot juga mertua gue udah pasti kalah, tapi jadi durhaka namanya. Gak bisa bayangin gue kalau dia ngadu ke Mas Bagas karena gue tendang. Gak lucu," jelas Tiyas sembari mendengus kesal. Dagunya ia sanggah dengan tangan sembari merenung. 


Beby meletakkan sendok makannya. Ia kemudian menghela napas sembari memperhatikan sahabat dekatnya. 

__ADS_1


"Terus? Lo mau diam aja gitu?" 


"Ya gak dong!" sentak Tiyas tak terima. "Kayaknya gue harus melakukan gencatan senjata. Pertama-tama gue mulai dari serangan fajar." 


Kening Beby mengkerut. Ia tak bisa mencerna dengan baik perkataan Tiyas. 


"Serangan fajar?" 


Tiyas mengangguk pasti, senyumnya begitu lebar namun terkesan licik. Wanita itu akan melakukan apapun agar keluarga Wiguna bergantung padanya. 


***


"Terima kasih atas kesediaan Bapak untuk bekerja sama dengan kami. Saya sungguh merasa terhormat." 


Bagas menjabat tangan pria paruh baya yang sudah menjadi koleganya itu. Tersenyum senang karena tentunya membuat perusahaan semakin berada dipuncak kejayaan. 


"Sekali lagi terima kasih, Pak Rudi," tutur Bagas dengan binar bahagianya. 


Rudi Putra Adhitama, pria paruh baya yang baru saja bekerja sama dengan PT. W Group, sekaligus ayah mertua dari Bagas itu tersenyum tipis. Inilah keuntungan yang mereka dapatkan satu sama lain kala Tiyas akhirnya menjalani pernikahan dengan cucu Wiguna. 


Pria paruh baya itu menepuk bahu Bagas dengan tatapan bangga. Sepertinya anak semata wayangnya berada ditangan yang tepat. Melihat bagaimana perkembangan perusahaan  Wiguan yang berkembang pesat membuat Rudi tidak khawatir dengan kebutuhan anaknya. 


"Ya sudah, kalau begitu. Saya harus pergi dulu, ada rapat lagi uang harus saya hadiri," pamit Rudi dengan senyum hangatnya.


Bagas mengangguk, ia kemudian memberikan pria paruh baya yang masih begitu gagah dan tampan itu jalan. Setelah kepergian Rudi, akhirnya pengantin baru itu baru bisa bernapas lega. Beberapa saat yang lalu ia takut kalau-kalau perusahaan Adhitama tidak ingin menjalin kerjasama karena kejadian tempo hari. 


"Selamat, bro." 


Bagas menoleh kebelakang saat mendapat tepukan di bahunya. Ia tersenyum senang sebelum memeluk asistennya dengan singkat. 


"Thanks, bro. Lo mau makan apa? Gue traktir hari ini," tawar Bagas dengan masih mempertahankan senyum lebarnya. 


Jonathan yang melihat perubahan sikap sahabatnya lantas tertawa geli.


"Seneng banget ya lo bisa kerjasama dengan perusahaan Adhitama." 

__ADS_1


Bagas mengangguk cepat. 


"Pastilah, lo tau sendiri gimana performa perusahaan itu. Adhitama dari sepuluh tahun terakhir adalah perusahaan paling stabil. Gak rugi." 


"Iya deh," sahut Jonathan yang ikut berbangga dengan pencapaian Bagas. Mengingat perjuangan sahabatnya yang baru saja menjabat sebagai Direktur Utama. Dimana harus mempertahankan perusahaan yang sudah diambang kehancuran. 


"Ayo," ajak Bagas yang lebih dulu berjalan. "Mau makan dimana? Restoran Jepang, Korea?" 


"Daripada traktir gue yang udah banyak duitnya, kenapa gak traktir istri lo aja?" saran Jonathan dengan tersenyum lebar, menggoda pengantin baru itu. "Biar makin mesra, kan enak liatnya." 


Bagas mendelik sinis. 


"Kayak tau aja lo kita mesra apa gak." 


Jonathan akhirnya mau tidak mau tertawa juga. Aura bahagia pengantin baru memang berbeda sekali. Susah untuk membuat Bagas berbinar seperti ini kecuali pria itu mendapatkan tender besar. Ya yang lagi-lagi urusannya hanya tentang bisnis. 


"Ya kan namanya pengantin baru mah ya masih malu-malu," celetuk Jonathan yang seakan-akan telah khatam. 


"Nikah aja belum lo!" cibir Bagas dengan mulutnya yang berkomat-kamit. 


Tanpa ingin mendengar ocehan Jonathan yang tidak perlu. Pria itu lantas mendial nomor istrinya, namun hingga beberapa detik kemudian tak ada tanda-tanda untuk diangkat. Karena penasaran, Bagas kembali berusaha untuk menghubungi ponsel istrinya. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban. 


"Tiyas kemana ya?" tanyanya seraya berbisik. Kening pria itu mengkerut, alisnya menukik tajam. "Telepon rumah aja kali ya," sambungnya dengan kaki yang mengetuk-ngetuk lantai. 


"Ada Tiyas?" tanya Bagas tanpa basa-basi setelah sambungan itu terjawab. Wajah pria itu semakin keruh karena mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya. 


"Ada bini lo?" tanya Jonathan yang memperhatikan perubahan gurat wajah sahabatnya. 


"Pergi katanya," balas Bagas dengan tidak bersemangat. Pria itu kemudian melirik dasi merah yang ia pakai sembari membenarkannya. "Menurut lo gue harus cari kemana?" 


Jonathan mengedikkan bahunya. Tentu saja pria itu tak tahu, berkenalan dengan istri Bagas saja belum. 


Bagas menghembuskan napas kasar. 


"Lagi sama temennya kali. Kalo gitu lo aja temenin gue makan, sekalian bungkus ntar buat istri gue." 

__ADS_1


"Duh, Pak suami ini romantis banget sih," ledek Jonathan dengan kekehan gelinya. Ia kemudian berjalan mengekori Bagas, namun terkejut karena sahabatnya tiba-tiba saja berhenti. 


Mata Jonathan membelalak kaget, melihat wanita yang tiba-tiba saja memeluk Bagas dengan erat. Dengan semakin terkejut ia karena berani-beraninya wanita itu mencuri kecupan di pipi sahabatnya. 


__ADS_2