
Bagas melirik untuk yang kesekian kalinya pada sang istri. Sejak pulang dari prosesi pernikahan mereka hingga sekarang berada di mobil menuju mansion utama Wiguna, Tiyas tidak mengeluarkan sepatah katapun. Wanita itu sedingin kutub utara, Bagas bahkan ragu-ragu untuk mengajaknya berbicara.
"Tuan Muda, kita sudah sampai," ucap sang supir membuat lamunan Bagas kini terpecah.
Pria itu sedikit tergagap kala Tiyas sudah lebih dulu turun dari mobil lewat pintu lain. Tak butuh waktu lama untuk Bagas ikut menyusul sang istri yang nampaknya masih dibalut amarah.
Kedatangan mereka disambut oleh para pembantu rumah tangga yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Tidak ada keluarga Wiguna yang lain, termasuk mertua dan adik iparnya.
"Selamat datang, Tuan Muda. Dan juga Nona Muda," sapa seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang berbeda dari semuanya. "Perkenalkan saya Maria, kepala asisten rumah tangga."
Tiyas mengangguk singkat, moodnya belum juga membaik. Ia melirik Bagas yang masih terdiam dengan tubuh tegap dan gagahnya.
"Saya mau istirahat."
Bagas mengangguk mengerti. Ia segera menggiring Tiyas untuk masuk ke dalam mansion. Pria itu berhenti sejenak, kemudian menatap Maria.
"Tolong siapkan keperluan istri saya sekarang," titahnya. Kemudian pria itu juga melirik bodyguard miliknya disana. "Bawa barang-barang istri saya ke lantai atas."
Semua pegawai di sana kemudian membungkuk mengiringi kepergian Tuan dan Nona mereka.
"Sombong! Baru juga sah jadi istrinya Mas Bagas. Emang dasar orang miskin baru kaya emang begitu!"
"Bener! Masih mending nona Stefanny. Emang sih agak judes, tapi maklumlah anak orang kaya dan jadi model terkenal."
Maria berdesis keras, ia melirik tajam kedua gadis yang belum lama menjadi ART di keluarga Wiguna.
"Sudah, lebih baik kalian kembali bekerja! Jangan ada yang bergosip tentang tuan atau nona muda."
Kedua gadis itu berjengit kaget, meringis mereka. Tidak disangka jika bisik-bisik mereka didengar oleh Maria. Kemudian karena perintah Maria akhirnya mereka bubar dan kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Di lantai atas, kini Tiyas berjalan masuk ke dalam kamar suaminya. Dimana kamar ini sama luasnya dengan kamarnya, bedanya adalah dekorasi kamar Bagas dominan pada warna gelap. Sedangkan Tiyas lebih didominasi warna-warna pastel.
"Haus gak? Mau minum apa? Nanti saya suruh Maria antar kesini," tawar Bagas yang masih saja mengekor istrinya setelah memastikan bahwa pintu kamar mereka tertutup.
Tiyas menghela napasnya. Ia kemudian duduk di tepi ranjang berukuran besar milik Bagas.
"Saya capek, Mas. Mau tidur aja."
Bagas tergagap dengan jawaban singkat istrinya.
__ADS_1
"Oke," katanya yang kemudian hening kembali menyelimuti keduanya.
Di pihak Tiyas, wanita itu bingung ingin melakukan hal apa dulu. Rasanya terlalu kurang ajar jika dia langsung berbaring di ranjang, tetapi kejadian hari ini membuat tenaganya terkuras karena emosi yang ia pendam tak bisa dikeluarkan.
Sedangkan Bagas juga sama bingungnya. Apa yang harus dilakukannya saat mereka sudah berstatus suami istri berdua di dalam kamar. Ingin duduk di samping Tiyas pun rasanya canggung.
"Saya mandi dulu," putus Bagas setelah suasana hening membuatnya gelisah. "Kalau ada yang kamu butuhkan, panggil saya aja."
Tiyas mengangguk dalam diam. Ia menatap Bagas yang tengah membuka dasi, jas dan aksesoris di tangannya. Wanita itu hampir saja menjerit karena mengira Bagas akan membuka baju di depannya. Untung saja tidak.
"Mas," panggil Tiyas dengan tergagap. Ia melirik Bagas dengan ragu.
Dengan dua kancing kemeja atasnya yang terbuka. Pria tampan itu bergumam sembari berbalik badan.
"Kenapa? Mau apa?"
Wanita itu meringis kecil. Ia menunjuk ranjang yang sudah ia duduki.
"Itu, saya mau tidur. Boleh?"
Alis Bagas terangkat. Awalnya ia tidak mengerti, namun setelah ia mencerna lagi perkataan Tiyas alhasil membuatnya tertawa kecil.
Tiyas tersenyum canggung, kemudian meringis malu. Wanita itu langsung melepas alas kakinya dan segera merebahkan dirinya. Membuat posisinya senyaman mungkin dan membelakangi Bagas.
Pria itu menggeleng, kemudian tersenyum kecil. Lucu rasanya ada seseorang yang sangat asing masuk bahkan tidur di kasurnya. Jantungnya berdebar kencang, begitu juga dengan perutnya yang terasa menggelitik. Ada gelenyar aneh, namun tak henti-henti membuat ujung bibirnya tertarik lebar.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup. Mata Tiyas yang semula terpejam kini perlahan terbuka. Wanita itu menghembuskan napas panjang, terasa begitu lega di dadanya.
Sebenarnya bukan hanya karena kejadian memalukan hari ini, tetapi juga Tiyas baru sadar bahwa kini status mereka sudah sah menjadi suami istri. Jika dilihat perawakan Bagas yang kekar dan sehat, tentunya pria itu pasti sudah tidak tahan untuk meminta jatah malam pertama.
"Duh, gue gak mau," rengek Tiyas seraya bergidik ngeri.
Ini karena istri kedua pak Agus yang ikut hadir memberi wejangan bagaimana cara memuaskan suami. Sayangnya wanita itu menakut-nakuti Tiyas dengan mengatakan bahwa malam pertama itu sakit. Bi Inah bahkan menangis karena tidak berhasil dibobol selama dua hari. Untung saja hati ketiga punya pak Agus masuk juga.
"Mamih." Tiyas kembali merengek dengan selimut yang menutupi wajahnya. Takut-takut kalau Bagas mendengar suaranya.
Di tengah ketakutan dan kegelisahan Tiyas, tiba-tiba saja sesuatu memegangi kakinya membuat wanita itu terperanjat dan berteriak keras.
Matanya melotot dengan tubuhnya yang terduduk sempurna. Menatap Bagas yang berjongkok di tepi ranjang tanpa menggunakan atasan.
__ADS_1
"Mas!" panggil Tiyas dengan nada sedikit membentak. "Ngapain?!"
Bagas mengerjapkan matanya. Kepalanya yang tak gatal ia garuk dengan handuk di lehernya. Ia menatap istrinya dengan aneh.
"Saya mau lepas kaos kakimu. Pasti gak nyaman kamu tidur begitu."
Tiyas menghela napasnya kasar. Dada kirinya dipegangnya dan terasa berdebar kencang.
"Harusnya bangunin aja, Mas. Jangan ngagetin begitu!"
"Saya kira kamu sudah tidur," timpal Bagas dengan alisnya yang terangkat. "Kamu kenapa sih? Ngeliat hantu apa gimana?"
Wanita itu menggeleng pelan. Malu rasanya kalau Bagas tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Padahal pria itu bahkan tak menyinggung malam pertama sedikitpun, bahkan ciuman mereka juga tidak menjadi topik obrolan Bagas.
"Gak tau," jawab Tiyas menggerutu. Ia kemudian mendelik pada penampilan Bagas malam ini. "Mas, pake baju."
"Panas," sahut Bagas dengan singkat. Pria itu kini terduduk di belakang meja kerjanya. Mengeringkan rambutnya sembari memeriksa perkembangan perusahaan. "Kamu gak mandi?" tanyanya sembari melirik sang istri dari ekor matanya.
Tiyas menggaruk lehernya. Matanya bergerak gelisah kesana dan kemari.
"Ntar aja deh," jawabnya tak yakin.
"Emangnya gak gerah?" Bagas kembali bertanya, kini fokusnya beralih pada sang istri yang tampak salah tingkah. Dan pria itu menyadari sesuatu. "Oh, tapi kalau kamu gak mandi juga gak masalah kok."
"Hah?"
Tiyas melirik waspada pada Bagas yang beranjak dari duduknya dan melangkah menghampirinya. Tatapan pria itu bak serigala yang tengah kelaparan, membuat Tiyas gemetar.
Dengan sekali gerakan, kini Tiyas sudah berada di bawah kukungan Bagas. Wanita itu memejamkan matanya kala sang suami semakin mempersempit jarak diantara mereka.
"Awalnya saya gak kepikiran karena tahu kalau kamu kecapekan. Tapi kayaknya kamu putuskan buat jadi istri yang baik malam ini," bisik Bagas sembari tersenyum geli menatap kedua mata Tiyas yang terpejam.
Tiyas menggeleng kencang.
"Gak gitu, Mas!" teriaknya setengah merengek. Kedua tangannya berada di depan dada berusaha mendorong Bagas namun sepertinya Tiyas kalah tenaga.
Ditengah kejahilan Bagas yang senang menggoda Tiyas. Suara pintu kamar mereka terbuka, di sana ada seseorang tengah berdiri dengan matanya yang membelalak kaget.
"Bagas?"
__ADS_1