
"Stefanny!"
Chandra, pria tua itu berteriak keras kala tamparan itu mendarat tepat di pipi Tiyas kencang. Matanya melotot marah karena wanita itu masuk dengan tidak sopan dan melukai pewaris Adhitama.
Indah yang sebelumnya membela mati-matian Stefanny, kini juga ikut terkejut. Mulutnya yang menganga ditutupnya dengan kedua tangan, matanya melebar tak percaya dengan tindakan berani sang model itu.
"Gila kamu!" hardik Bagas dengan nada tinggi. Pria itu langsung memeriksa keadaan istrinya dan menatap nanar pipi Tiyas yang memerah. "Berani-beraninya kamu nyakitin istri saya lagi untuk yang kedua kalinya!"
Stefanny memang sudah tahu dari orang suruhannya yang menjadi ART di mansion utama ini bahwa semua kebohongannya terungkap karena pengakuan dari Maria. Dan wanita itu siap untuk menerima kenyataan bahwa Bagas mungkin akan semakin membencinya.
Dan karena Stefanny tidak bisa mendapatkan Bagas. Maka yang ia lakukan kepada Tiyas juga sama, wanita itu tidak akan bisa mendapatkan Bagas bagaimanapun caranya. Untuk permulaan Stefanny memang ingin sekali menampar wanita rendahan itu.
"Sakit yang dia rasain gak sebanding sama aku, Gas. Dari awal aku mati-matian kejar kamu, gak peduli kalau aku dianggap cewek murahan. Tapi kamu sama sekali gak pernah sedikitpun kasih perhatian ke aku," ungkap Stefanny dengan raut wajahnya yang menyendu.
Bagas yang mendengar itu berdecak kesal.
"Dari awal saya sudah menduga sifat kamu yang seperti ini. Itu alasan utama saya gak pernah sedetikpun pernah suka sama kamu."
Pengakuan Bagas yang batu Stefanny dengar selama ini membuat dadanya nyeri. Wanita itu tersenyum getir.
"Sifat orang bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Bisa aja Tiyas sifatnya berubah menjadi jahat, kita gak ada yang tau."
"Memang benar, hati orang bisa berubah. Tapi dengan Tiyas saya yakin membina keluarga dengannya, sedangkan denganmu gak!" terang Bagas dengan tegas. "Saya gak akan segan buat sakitin kamu juga kalau setelah ini Tiyas ada apa-apa."
Bagas langsung pergi dari sana dengan masih mendekap Tiyas. Membawa sang istri untuk masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Stefanny yang wajahnya memerah karena marah dan malu.
"Otakmu itu ditaruh dimana?" tanya Chandra dengan alisnya yang terangkat, memberikan sedikit sindiran agar mata Stefanny terbuka lebar. "Menyia-nyiakan waktu berhargamu cuma untuk ngejar orang yang gak cinta sama kamu. Itu namanya tolol!"
Stefanny memalingkan wajahnya, merasa terhina dengan perkataan Chandra.
__ADS_1
"Kalau gitu keluarga Wiguna juga sama bodohnya menerima Tiyas orang rendahan yang cuma numpang hidup disini!" pekiknya yang seperti sudah tidak bisa membela dirinya. Sekalian saja semua sifat busuknya dikeluarkan. "Saya gak akan nyerah. Kalau saya gak bisa dapetin Bagas, maka Tiyas juga gak akan pernah bisa!"
Setelah teriakan pengancaman itu, Stefanny segera pergi dari sana. Meninggalkan sebuah situasi yang sulit untuk digambarkan.
"Lihat kan?" Chandra menoleh pada Indah yang kini hanya bisa terpaku. "Kamu lihat gimana sifat kurang ajar dari orang yang kamu bela dan banggakan setengah mati! Gak ada adab, sombong, semua sifatnya jelek! Saya gak akan sudi dia jadi bagian dari keluarga ini!"
"Pa, udahlah. Marah-marah terus, ntar darah tinggi kumat lagi," tegur Restu yang terus memperhatikan sang Ayah.
Chandra mendengus kesal.
"Kamu juga sama! Jadi kepala keluarga gak bisa tegas! Anak perempuan dan istrimu itu perlu diajari sopan santun, omongannya tinggi sekali seakan-akan dia yang mempunyai dunia dan seisinya! Gak ada bedanya sama bocah tadi, pantes aja dibela mati-matian!"
Restu menghela napas sembari memejamkan matanya. Mungkin karena ia juga tak suka kehadiran Tiyas karena latar belakang sang menantu, jadi membuatnya mendukung penuh sikap sang istri. Sayangnya ini menjadi bumerang juga untuknya.
"Kalian!" Chandra kini melempar amarahnya pada beberapa pegawai wanita yang sudah mengkerut ketakutan. "Mulai detik ini angkat kaki kalian dari rumah ini, saya gak mau lihat muka kalian lagi siang ini!"
"Tuan, jangan! Saya masih mau kerja disini!
"Diam!" bentak Chandra yang kesabarannya sudah habis. Pria itu melirik Maria yang masih berdiri dengan tatapannya yang lurus. "Usir mereka, kasih gaji bulan ini. Gak ada pesangon untuk penghianat kayak mereka."
Maria menundukkan kepalanya.
"Baik, Tuan."
"Kalian bertiga," sambung Chandra menatap anak, menantu dan cucunya. "Segera kemasi barang-barang kalian. Mulai sekarang cari tempat tinggal kalian sendiri, semua fasilitas yang kalian punya sekarang sudah diblokir. Ini hukuman kalian."
Chandra segera pergi dengan langkah tegasnya. Diikuti oleh Maria yang segera mengurus anak buahnya untuk dipulangkan. Tersisa Restu, Indah dan Bella yang langsung saja menyuarakan protesnya.
"Kok jadi aku yang kena sih?! Padahal aku diem aja, gak bela siapapun," sungutnya dengan kesal. Ia kemudian melirik sang Ibu dengan tajam. "Ini semua gara-gara Mama. Harusnya Mama gak usah ngelawan kakek! Toh Stefanny juga akhirnya gak bisa bantu kita kan!"
__ADS_1
"Kok jadi Mama?!" Indah yang merasa tidak terima disalahkan balas protes. "Kamu kan dari awal juga gak setuju sama Tiyas. Jadi bukan salah Mama sepenuhnya."
Restu yang melihat pertengkaran Ibu dan anak itu hanya bisa menghela napas pasrah. Tanpa kata ia meninggalkan Indah dan Bella yang masih saling menyalahkan satu sama lain.
Di lantai dua, tepatnya kamar Bagas dan Tiyas. Kini keduanya sama-sama terdiam di tepi ranjang setelah tiba di kamar.
"Saya minta maaf sekali lagi. Harusnya saya udah menduga bahwa Stefanny bisa aja melakukan hal diluar akal sehat kita," ucap Bagas dengan memulai pembicaraan. Pria itu kemudian mengelus pipi putih istrinya yang kini mendapatkan bekas tamparan disana. "Saya bahkan gak bisa lindungin kamu lagi. Kalau saja Stefanny bukan perempuan, udah saya pukul dia."
Tiyas tersenyum tipis. Mendapatkan tamparan di depan banyak orang membuatnya malu. Entah harus pakai cara apa agar Stefanny bertekuk lutut dihadapannya. Wanita itu akan pikirkan hal tersebut nanti.
"Sekarang kamu percaya kan, Mas? Saya pikir kamu tadi sempat goyah karena pengakuan pegawai tadi. Syukurlah Maria melihat kebenaran itu," sahut Tiyas yang mulai sedikit lega. Dadanya tidak sesak seperti sebelumnya.
Bagas mengangguk, mengakui bahwa perannya sebagai suami tidak bisa menjadi tempat berlindung istrinya. Tiyas yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari support system terbaiknya malah mendapatkan hal sebaliknya.
"Saya akui kalau saya bodoh, Tiyas. Pernikahan kita masih awal, tapi cobaan terus saja datang tanpa berhenti. Bulan madu kita gagal dan juga belum malam pertama," ungkap Bagas dengan terkekeh pelan, berusaha untuk mencairkan suasana.
Tiyas berdecak sembari menggeleng pelan. Menghempaskan tangan Bagas yang masih mengelus pipinya dengan cukup kuat.
"Jangan senyum-senyum. Hukuman Mas tetap berjalan ya. Saya udah luka di telapak tangan, kena tampar juga. Belum lagi hina-hinaan yang lain! Hati saya masih dongkol."
Bagas meringis ngeri, membayangkan bagaimana tubuhnya harus menerima cambukan-cambukan kuat.
"Harus banget gitu dicambuk?"
"Gak lah," jawab Tiyas sembari menggeleng pelan. "Saya gak setega itu. Hukuman yang Mas dapet biar saya aja yang kasih. Kakek gak perlu ikut campur."
Pria itu tersenyum tipis, sembari mengangkat alisnya.
"Oke, apa hukumannya?"
__ADS_1
Tiyas terdiam sembari berpikir. Ditengah kejahilannya untuk menghukum sang suami. Ingatannya tentang Stefanny, dimana wanita itu bilang bahwa sifatnya di kemudian hari akan berubah terbesit dipikirannya.
Bagaimana jika saat itu tiba, dimana Bagas tahu bahwa Tiyas selama ini berbohong?