
"Stefanny!"
Bagas segera menyentak tubuh kecil Stefanny dan tatapan matanya tampak tajam serta tidak bersahabat.
"Apa-apaan kamu!" bentak Bagas dengan murka. Pria itu segera mengambil langkah mundur, sejajar dengan Jonathan.
Stefanny mendengus kesal.
"Gas, kamu tuh kenapa sih? Aku cuma pengen peluk aja, kangen tau. Kita kemarin berantem, aku gak sempat buat kangen-kangenan sama kamu."
"Tapi saya gak kangen kamu," ungkap Bagas bernada dingin. "Saya merasa aman sejak gak muncul dihadapan saya."
Awalnya penolakan Bagas masih bisa diterima oleh Stefanny. Wanita itu akan tetap nekat dengan wajah tebalnya untuk tetap mengejar cinta pria itu. Tetapi kini situasinya sudah berbeda, Bagas sudah memiliki istri. Tentu fakta itu membuat Stefanny sakit hati.
Tanpa disadari setetes air mata jatuh dipipinya. Dengan cepat wanita itu mengusapnya.
Jonathan yang menatap pemandangan itu lantas merasa kasihan. Ia melirik Bagas yang tampak fokus pada ponselnya, tak sedikitpun menaruh perhatian pada Stefanny.
"Nangis tuh," bisik Jonathan dengan menyikut lengan sang sahabat.
Alis Bagas terangkat. Tak mengerti dengan arah pembicaraan asistennya.
"Ya, terus?"
Jonathan menghela napas kesal.
"Simpati dikit, kek. Kasihan anak orang, masa udah cantik gini dibuat nangis."
"Ya terus? Biarin aja sih, bukan anak kecil ini. Dia nangis juga ntar reda sendiri," balas Bagas dengan nada nyolotnya. Nata pria itu bahkan melotot pada Jonathan dengan kesal. "Udahlah, gue mau makan. Kalau lo mau ikut, ayo."
"Eh, tunggu dulu!" seru Jonathan yang langsung menarik lengan Bagas, membuat langkah pria itu terhenti. Matanya melirik pada Stefanny yang masih menunduk sedih. "Ajak dia aja ya, gak tega gue."
Bagas menarik lengannya, menyentaknya dengan kencang. Ia menatap Jonathan dengan tajam.
"Gak! Kalau lo emang berempati, lo ajak makan berdua sama dia. Gue ogah!"
Karena Bagas sudah hafal gerak-gerik dan pemikiran Stefanny. Wanita itu jika sudah diberikan secuil kebaikan, maka dia tidak akan mau melepaskannya.
Tanpa peduli dengan Jonathan disana, Bagas langsung pergi begitu saja tanpa pamit. Pria itu sepertinya lebih memilih makan diluar dan sesekali menghubungi sang istri yang sampai sekarang belum ada kabar.
__ADS_1
***
"Jovan bentar lagi bakal jadi model pakaian. Lo mau ikut gak?" tanya Beby sembari mengaduk-aduk jus alpukatnya.
Kini setelah menghabiskan waktu mereka dengan makan-makanan berat di kantor, akhirnya berakhir di sebuah cafe minimalis namun banyak diminati para muda-mudi.
Tiyas ponselnya yang berdering menampilkan nama kontak Bagas disana, namun wanita itu enggan untuk mengangkatnya. Yang dilakukannya malah membalikkan layar ponselnya ke bawah.
"Jovan yang mana?" tanya Tiyas yang kembali menyeruput jus jeruknya.
Beby berdecak kesal. Ia kemudian mengotak-atik ponselnya dan memberikannya pada Tiyas. Sebuah foto pria tampan dengan kemeja yang semua kancingnya terbuka.
"Nih, Jovan. Artis kita yang lagi terkenal dan banyak digandrungi cewek-cewek. Tapi sayangnya malah naksir sama atasannya yang cuek dan ditambah udah punya suami sekarang," ungkap Beby dengan sedikit ledekan disana. "Artis kita yang namanya Jovan cuma dia doang, gak usah pura-pura pupa deh lo."
Tiyas berdengus geli. Ia kemudian menggeser ponsel Beby menjauh darinya.
"Gak deh, males. Gue pengen rebahan aja kayaknya dirumah."
"Rumah siapa? Gue yakin sih kalau dirumah suami lo gak mungkin bisa santai. Yang ada lo bakal jadi babu!" cetus Beby dengan nada yang terdengar kesal.
Jika dipikir-pikir perkataan sahabatnya ada benarnya. Apalagi Tiyas tidak tahu jam berapa saja mertuanya itu tidak ada dirumah. Bisa-bisa jika tidak keluar kamar wanita itu akan menjadi bahan omongan.
"Udahlah, mending lo ikut aja. Gak ada yang tau ini kan lo udah jadi istri orang."
"Kalo penyamaran gue terbongkar gimana?" tanya Tiyas kesal. Wanita itu kembali terganggu dengan ponselnya yang terus berdering. Dengan gerutuan, Tiyas kemudian mematikan ponselnya.
"Jovan juga selama ini gak ngomong apapun di media atau teman artis lain kan? Cuma dia yang tau kalau lo yang punya agensi, selebihnya orang-orang taunya kan lo cuma teman gue yang numpang tenar," balas Beby dengan senyumnya yang menjengkelkan.
"Najis!" seru Tiyas sembari melemparkan tisu yang digumpalkan sembari tersenyum geli. "Yaudah, sekarang kita pergi?"
Mata Beby membelalak kaget.
"Lo serius nih?"
Tiyas mengangguk santai. Ia kini fokus menghabiskan jus jeruknya.
"Iya, gue gak tau lagi mau ngapain," jawabnya enteng. Kemudian ia melihat ekspresi Beby yang masih terdiam. Kemudian wanita itu berdecak. "Gak deh, gak jadi."
"Eh!" Mendengar hal itu, Beby segera beranjak dari duduknya dan menarik Tiyas yang bokongnya masih saja menempel pada kursi. "Ayo, lo gak boleh ya plin-plan begitu!"
__ADS_1
Tiyas mendengus sinis. Langsung ia rampas ponselnya diatas meja. Kemudian berjalan gontai, pasrah akan tarikan Beby pada lengannya.
"Gue yakin sih, Jovan bakal kegirangan," kikik Beby yang tiba-tiba saja merasa senang.
Mendengar informasi dari bawahannya kalau artis kesayangan mereka itu tampak tidak bersemangat untuk melakukan apapun, membuat Beby dilanda cemas. Pasalnya beberapa tawaran iklan batal untuk menggaet Jovan menjadi model mereka karena tingkah kekanak-kanakan pria itu.
Tiyas mengangguk seadanya, terserah pikirnya. Yang penting Beby senang, setidaknya bisa menebus permintaan maaf pada Rassya. Kakak dari Beby itu dengar-dengar mengurung diri seharian di kamarnya saat prosesi pernikahan Tiyas dan Bagas tengah berlangsung.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di Pantai Ancol. Tempat dimana pemotretan akan berlangsung dan kemungkinan akan berpindah tempat.
"Duh, panas banget!" keluh Beby yang bersembunyi di belakang tubuh Tiyas.
"Loh udah pake baju kayak gitu masih bilang panas?" tanya Tiyas dengan gelengan kepala tak percaya.
Setelah tahu bahwa pemotretannya akan dilakukan di pantai, juga mengingat sekarang waktu siang menjelang sore membuat kedua sahabat itu memutuskan untuk mampir ke toko untuk membeli baju ganti.
Kini Beby sudah memakai atribut lengkap yang menutup tubuhnya. Dengan rok panjang sebetis, juga baju turtleneck lengan panjang berwarna pink, serta kacamata hitam dan juga topi.
Sedangkan Tiyas malah kebalikannya. Pikirnya mereka sudah berada di pantai, hal yang sia-sia jika memakai pakaian yang tertutup. Jadi wanita itu memakai celana pendek berwarna putih dan juga kemeja kebesaran berwarna senada yang sedikit transparan hingga terlihat tanktop hitamnya.
"Gue malah gak nyangka outfit lo begini, biasanya tomboy abis," ledek Beby dengan delikan sinisnya. Wanita itu kemudian bergumam dengan kerlingan mata jahilnya. "Atau lo udah berubah pikiran buat bikin si Jovan klepek-klepek sama lo ya, kan?"
"Klepek-klepek, emangnya ikan apa!" protes Tiyas dengan alisnya yang menukik tajam. "Udah ah, bacot banget. Mending lo cari dimana orang-orang, outfit lo bikin kita diliatin tau gak."
Bibir Beby mengerucut, tak terima dengan penghinaan Tiyas. Tapi memang mau apa dikata, Jakarta memang lagi panas-panasnya.
Di tengah keduanya yang sedang menunggu informasi dari manajer Jovan. Tiba-tiba ada suara wanita yang memanggil nama Tiyas.
"Tiyas!"
Bukan hanya siempu yang punya nama saja menoleh, tetapi juga Beby dengan ponselnya yang masih tertempel di telinganya.
Pandangan Tiyas tidak terlalu jelas karena teriknya matahari, namun semakin sosok itu mendekat maka penglihatannya semakin jelas.
Di sana, sosok yang memanggil namanya adalah Stefanny. Wanita itu memakai pakaian yang memang cocok dengan pantai. Tidak ada masalah dengannya, hanya mata Tiyas kini tertuju pada pria yang digandengnya.
Bagas, suaminya.
Tiyas hanya bisa terdiam menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sayangnya kini pandangannya tertutup oleh sebuah tubuh lebih besar darinya, memeluk Tiyas dengan erat hingga membuatnya menegang.
__ADS_1
"Kangen."