
Langit sudah menunjukkan waktu sore. Bagas langsung saja bergegas untuk merapikan berkas-berkas di mejanya dengan gerakan cepat.
Jonathan yang baru saja masuk ke dalam ruangan hanya bisa terperangah dengan keningnya berkerut heran.
"Lo udah mau pulang aja, Bos?"
Sang pimpinan hanya mengangguk cuek sembari fokus pada ponselnya.
"Udah sore. Kalau waktunya pulang, ya pulang, Jo."
"Biasanya juga lembur sampai jam 11 malam," sindir Jonathan dengan raut sinisnya. Pria itu kemudian langsung meletakkan tumpukan berkas yang cukup tinggi dimeja atasannya. "Besok pagi harus udah ditandatangani semua."
Bagas menatap tumpukan berkas itu dengan wajah tidak sukanya.
"Gila lo, yang bener aja. Gue mau pulang sekarang."
Alis Jonathan terangkat, kemudian membuat gerakan tangan seakan memberi jalan untuk Bagas.
"Silahkan, Bro. Gue cuma kasih tau aja kalau besok pagi semuanya harus udah ditandatangani. Lebih bagus kalau lo bawa pulang."
"Gak!" tolak Bagas dengan cepat. Pria itu menyimpan ponselnya di saku setelah mengabari sang istri bahwa akan menjemputnya. "Waktu gue di rumah full buat istri. Gak ada itu yang namanya kerjaan dibawa ke rumah."
Jonathan mengangguk cuek. Pria itu akhirnya hanya bisa menuruti keinginan sepupu sekaligus atasannya. Membiarkan Bagas dengan dunianya setelah hampir sebagian hidupnya didedikasikan untuk perusahaan.
"Oh iya, tadi gue di telepon Stefanny terus," celetuk Jonathan yang membuat langkah Bagas terhenti. "Kayaknya dia lagi ada masalah deh."
Bagas menghela napas panjang. Ditatapnya sahabat sekaligus sepupunya.
"Pagi tadi dia dateng kesini, maksa gue buat ngomong sesuatu tentang Tiyas. Lo pikir, setelah semua yang terjadi gue bakal percaya gitu sama omongannya?"
Jonathan terdiam. Jelas ia tahu maksud perkataan Bagas. Untungnya sang sepupu tidak mengetahui bahwa Jonathan tahu kronologi kejadian acara ulang tahun tempo hari, hanya saja sampai sekarang masih ditutupi.
"Dan gue bingung," sambung Bagas dengan aslinya yang terangkat. "Kenapa lo masih mau nampung tuh cewek dirumah? Gak risih kah? Atau mungkin karena lo suka?"
"Jangan asal nebak," sahut Jonathan dengan kerutan tidak suka di wajahnya. "Gue juga udah usir dia biar gak ganggu, tapi tuh cewek keras kepala. Buang-buang energi aja kalau harus hadapi dia. Jadi gue biarin asalkan gak merugikan gue."
Jonathan tidak berbohong. Disatu sisi pria itu kasihan pada Stefanny. Wanita itu tidak ada teman sama sekali, itulah sebabnya Stefanny lebih sering mengganggu ketenangan Jonathan.
Bagas mendengus kesal. Omong kosong. Jonathan hanya ingin melindungi Stefanny dengan rasa kasihan.
__ADS_1
"Terserah deh, asal dia gak bakal ganggu istri gue lagi. Kasih tau dia buat gak usah fitnah-fitnah Tiyas lagi. Gue udah muak."
Sang asisten hanya bisa melihat atasannya pergi dengan suasana hati yang buruk. Jonathan menghela napasnya, menyesal karena harus mengungkit Stefanny setelah sekian lama. Bagaimanapun juga dari awal hubungan Bagas dan Stefanny tidak baik. Kemudian semakin buruk karena tragedi tempo hari.
Bagas merasa bersalah karena harus melampiaskan amarahnya pada Jonathan. Tapi mau bagaimana lagi, mendengar nama Stefanny membuat amarahnya jadi tak terkendali. Hukuman yang Chandra buat untuk wanita itu tidak membuat Stefanny enyah dari hidupnya.
Dengan menghirup napas dalam dan dikeluarkan dengan panjang. Bagas berusaha untuk meredakan amarahnya dan segera pergi untuk menjemput sang istri.
Tidak butuh waktu lama untuk Bagas sampai di depan gang rumah istrinya.
"Berhenti disini, saya masuk sendiri saja."
Dengan gagahnya, Bagas turun dari mobil yang sudah disambut dengan para preman.
"Apa kabar, Bos?"
Sosok pemimpin dari para preman itu menyambut Bagas dengan lambaian tangannya sembari tersenyum miring.
Bagas yang tidak menyangka bahwa para pria itu masih mengingatnya langsung tersenyum tipis. Pria tampan itu langsung saja mengambil dompet dari sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Buat beli rokok," ucap Bagas basa-basi. "Saya langsung ya, mau ke tempat mertua."
Walau dengan raut wajah kebingungan, para pria itu memberikan jalan pada Bagas sembari menunduk sopan dan tersenyum lebar.
"Mas!"
Suara yang sudah ia kenal di luar kepala itu masuk ke dalam telinganya. Kepalanya menoleh kepada sumber suara dan mendapati sang istri berlarian ke arahnya.
Bagas menghentikan langkahnya, menunggu sang istri yang menghampirinya dengan napas yang tersengal.
"Loh, kenapa kamu lari-larian gini?"
Tiyas tidak menjawab pertanyaan Bagas. Wanita itu sibuk mengatur napasnya dan juga dadanya yang berdetak begitu cepat.
"Aku ngejar, Mas."
"Kenapa harus dikejar? Kan rumahmu disini, kayak bukan tempatmu aja," balas Bagas yang membuat dada Tiyas sakit seperti ditusuk anak panah. "Lagian kamu dari mana?"
"Dari … minimarket," sahut Tiyas setelah menimbang-nimbang harus berbohong bagaimana. Wanita itu melirik ke arah rumah istri kedua pak Agus. Dimana sang ibu telah mengendap-endap masuk lewat pintu belakang. Untungnya di perjalanan, pak Agus langsung mengabari sang istri. "Masuk dulu yuk, Mas."
__ADS_1
Bagas mengangguk, ia kemudian merangkul bahu sang istri sembari diciumnya puncak kepala Tiyas.
"Jadi ke minimarket gak beli apa-apa?"
Tubuh Tiyas sedikit menegang, beberapa saat matanya tertutup dengan ringisan pelan.
"Duh, yang saya cari gak ada, Mas. Kalau ada juga duit saya gak cukup."
"Kamu ini," ucap Bagas sembari berdecak kesal. "Kan sudah saya bilang kalau mau belanja atau beli keperluan kamu gak usah sungkan pake kartu kredit saya. Kalau kondisi kayak gini kan susah juga."
Wanita itu hanya bisa terkekeh hambar sembari menuntun sang suami untuk duduk di sofa ruang tamu tersebut.
"Mas, mau minum apa? Nanti saya buatkan."
"Kok repot-repot, saya kesini kan mau jemput kamu. Mana mami? Kita langsung pamitan aja," sahut Bagas yang beranjak dari duduknya dan bermaksud untuk masuk lebih dalam.
"Nona Tiyas, dipanggil Nyonya Besar. "
***
Stefanny masih setia menatap Jovan yang terdiam. Wanita itu bahkan menjentikkan jarinya beberapa kali.
"Bener kan? Kayaknya bener deh, kalau dilihat dari ekspresi lo."
Jovan menghela napasnya kesal. Pria itu tidak menyangka bahwa sesuatu tentang Tiyas yang ingin Stefanny ceritakan adalah sebuah rahasia besar ini. Rahasia yang tidak pernah dibocorkannya hingga saat ini.
"Kalau iya, emang kenapa?" tanya Jovan dengan sedikit menantang.
Melihat tanggapan Jovan yang terkesan marah dan tidak santai. Membuat Stefanny sangat percaya bahwa Tiyas memang bukanlah orang biasa.
Wanita itu tersenyum miring sembari menatap Jovan. Senyum yang menyiratkan banyak makna. Meski didalam hatinya, Stefanny benar-benar terkejut dengan fakta ini. Bagaimana bisa Tiyas begitu rapi menyimpan rahasia sebesar ini.
"Kalau iya, gue mau lo beberkan semua fakta tentang Tiyas," sahut Stefanny dengan satu alisnya yang terangkat.
"Kenapa gue harus?" tantang Jovan dengan keningnya yang berkerut. Pria itu sudah berjanji pada Tiyas untuk tidak membongkar rahasia ini. "Dan apa untungnya buat gue."
Stefanny mengangkat kedua bahunya. Kemudian menatap mantan partnernya itu dengan tajam.
"Harus, gue gak mau tuh cewek bahagia diatas penderitaan gue. Kalau Bagas tau apa yang Tiyas sembunyikan, apa lo pikir dia bakal maafin istrinya? Gak akan. Dan keuntungannya buat lo, tentu setelah ini gak akan ada yang bisa ganggu hubungan lo sama Tiyas. Karena Bagas akan gue ambil alih."
__ADS_1
Jovan terdiam cukup lama. Ia mencerna perkataan Stefanny dengan pelan dan baik-baik. Kemudian pria itu kembali menatap Stefanny yang sudah menjulurkan tangannya.
"Lo dapet Tiyas dan gue dapet Bagas. Deal?"