
Nirmala langsung berlari masuk ke dalam rumah megahnya dengan tergesa. Harusnya sekarang wanita paruh baya itu menghadiri rapat direksi, tapi terpaksa harus meninggalkan ruang rapat karena ada berita genting yang ingin disampaikan kepada sang suami.
"Pih!" panggilnya setengah berteriak. Didalam hati, Nirmala menggerutu betapa besarnya rumah yang ia tempati. Sehingga sulit untuk menemukan seseorang disaat terdesak seperti ini. "Papih!"
Rudi yang sedang asyik bermain catur dari layar tabletnya hanya bisa terperangah saat sang istri membungkuk di depannya dengan napas terengah-engah.
"Aduh, Mih. Ada apa? Kenapa? Minum-minum!" ucap Rudi yang juga ikut panik. Pria paruh baya itu menyodorkan air putih yang memang disediakan untuknya.
Nirmala menerima segelas air putih itu dan meminumnya dengan rakus. Lalu menghempaskan tubuhnya, duduk di samping sang suami.
"Papi kok gak jawab sih?! Udah dipanggil-panggil juga!"
Rudi meringis pelan. Ia menarik tubuhnya ke belakang karena suara nyaring sang istri.
"Gak usah teriak-teriak, Mih. Kan kita udah duduk sampingan."
Nirmala menatap tajam suaminya sembari keningnya mengkerut. Kemudian wanita itu menghela napas lelah. Sudah lama rasanya tak berolahraga, walau tadi ia berlari panik tidak bisa juga disebut bagian dari olahraga
"Pih, coba buka portal berita, buka grup chat yang ada di ponsel Papi sekarang!" titah Nirmala sembari melebarkan bola matanya.
Pria paruh baya itu berdehem sembari menatap sang istri dengan gerakan santai.
"Emang ada apa sih, Mih? Berita apa yang harus kita baca?"
Nirmala menepuk dahinya kesal. Ingin rasanya mencubit semua anggota tubuh sang suami.
"Buka dulu, nanyanya nanti!"
"Iya, iya," jawab Rudi yang lagi-lagi meringis karena pekikan sang istri yang membuat telinganya berdengung.
Pemilik perusahaan Adhitama Group itu lantas menuruti perintah sang istri. Dengan gerakan santai dan memang tidak tahu kabar terbaru, Rudi mendapatkan bahwa banyak berita hangat yang berhubungan dengan keluarga Wiguna.
"Bagas?" tanya Rudi dengan perasaan ragu. Pria itu menatap sang istri yang mengangguk dengan pancaran matanya yang berapi-api. "Kenapa dia?"
Nirmala menghela napasnya pasrah.
"Papi gak liat ini siapa yang ada di foto? Judul beritanya coba baca!"
__ADS_1
"Papi lagi gak pake kacamata, Mah. Gak jelas!" protes Rudi dengan menyipitkan matanya berusaha untuk membaca deretan judul berita tersebut.
"Bagas Pratama Respati Wiguna, Direktur Utama PT. W Group ternyata memiliki istri," ucap Nirmala saat membaca judul berita yang arahnya hampir sama. "Mami pikir berita Bagas yang mukul artis gak bakal berpengaruh apa-apa ke kita. Tapi ini masalah yang lain."
Rudi terdiam sejenak. Keningnya mengkerut dalam.
"Kamu yakin yang di foto itu anak kita?"
Nirmala mengangguk pasti.
"Yakin, Pih. Mami tahu betul gimana perawakan anak kita. Kalaupun itu bukan Tiyas, kita tetap akan mengajukan protes. Bisa-bisanya anak kita diduakan oleh suaminya!"
Pria paruh baya itu menghela napasnya panjang. Pangkal hidungnya dipijat pelan, pening rasanya. Tahu begini, dari awal Rudi akan menolak perjodohan pada keluarga Wiguna yang sudah banyak skandal.
"Ayo kita kerumah Wiguna!" ajak Nirmala yang dengan semangat beranjak dari duduknya. Wanita itu ingin bertemu dengan sang putri, karena merasa Tiyas pasti membutuhkannya disaat seperti ini.
"Kita? Mami dong! Masa Papi!" keluh sang kepala keluarga menyuarakan protesnya.
Alis Nirmala terangkat tinggi, kedua tangannya berkacak pinggang.
"Kok gitu?!" pekiknya tak terima.
"Kan Papi gak diundang ke nikahan putri kita. Dikenalin juga gak! Masa iya mau nyelonong masuk sambil tiba-tiba perkenalan kalau Papi orang tuanya Tiyas!"
Nirmala terdiam, raut wajahnya yang tadi seperti ingin marah kini melembut. Kedua tangannya terkulai lemah disamping badannya.
"Oh, iya juga."
***
Di kediaman Wiguna, tepatnya di dalam kamar mertua Tiyas kini suasana kembali memanas. Tiyas yang berniat ingin memberikan secangkir teh racikannya jadi tidak bersemangat.
"Awak media sepertinya sudah menyiapkan ini dengan matang," ungkap Chandra yang duduk disana dengan wajah serius. "Cepat atau lambat bukan hanya orang lain, bahkan kolega bisa saja bertanya dan meminta untuk di klarifikasi."
"Tapi untungnya, aku menutup hampir seluruh tubuh Tiyas," sahut Bagas yang membuat kedua orang tuanya ikut mendelik.
Indah berdecak kesal, sudah tak ada lagi nafsu untuknya makan.
__ADS_1
"Itu malah buat mereka semakin penasaran. Dari dulu kan gak pernah tuh media tangkap basah Bagas sama cewek lain, kecuali Stefanny."
Tiyas menunduk lesu, kepalanya juga terasa pening karena masalah yang tak kunjung selesai.
"Lagian ngapain juga kamu tutup-tutupi pake peluk segala. Harusnya biar aja, kita bisa klarifikasi kalau itu salah satu anggota jauh keluarga Wiguna," tanggap Indah dengan nada ketusnya yang tidak hilang.
Alis Bagas menukik tajam mendengar pernyataan sang Ibu.
"Gak bisa gitu dong, Ma. Memangnya Mama tahu gimana keadaan kita diluar sana? Tiyas ketakutan. Wartawan berkerumun sampai mobil susah buat bergerak maju!"
"Makanya sebelum berbuat itu pikir-pikir dulu! Jangan cuma karena lagi jatuh cinta, malah otak pintarmu gak dipake! Bukannya nikah tambah benar, malah tambah gak karuan!" sindir Indah dengan delikan sinisnya yang ditujukan kepada Tiyas.
Bagas yang tadinya berusaha untuk tenang dan mencari solusi jadi terpancing hingga naik pitam. Tidak setuju dengan perkataan sang Ibu yang tentunya tidak sesuai dengan fakta.
"Ma! Jangan jadi nyalahin Tiyas begitu!"
"Bantah terus kamu ya!" teriak Indah yang sudah penuh dengan amarah. Wanita itu beranjak dari ranjangnya dan berjalan mendekati sang anak. "Kamu semenjak kenal dia malah jadi pembangkang! Kalau aja kamu gak nikah sama dia, semuanya gak bakal kayak begini!"
"Mah!"
Chandra menghela napasnya melihat bagaimana sang menantu dan cucunya terlibat perang dingin dengan berapi-api.
"Sudah! Indah, duduk kamu!" ucap Chandra dengan tegas sembari menunjuk sang menantu. "Bisa-bisanya kamu gak menghargai saya disini! Kalau kamu mau bertindak semau kamu, angkat kaki dari rumah saya! Saya gak sudi punya menantu yang berperilaku rendahan kayak kamu!"
Habis sudah kesabaran Chandra. Mengingat bagaimana Bagas adalah cucu tersayangnya, pria tua itu tidak terima saat Indah malah menyalahkan perjodohan ini kepada Tiyas. Yang patut disalahkan tentunya adalah dirinya sendiri. Sayangnya Chandra tidak tahu jika hal ini akan terjadi.
Setelah peringatan keras dari Chandra. Indah terdiam dengan mata memerah, ditenangkan oleh sang suami. Sedangkan Bagas juga ikut ditenangkan oleh Tiyas dengan elusan lembut di tangannya yang terkepal. Untuk sementara suasana sudah mulai tenang.
"Saya gak minta kalian buat menangin ego masing-masing. Saya minta berkumpul untuk mencari kesepakatan bersama dan jalan keluar," sambung Chandra dengan matanya yang menatap tajam anak, menantu dan cucunya. "Saya mau dengar bagaimana pendapat kalian. Apa yang sebaiknya kita lakukan? Kalau untuk meredam media itu mudah, sayangnya berita ini pasti tersebar sampai ke kolega."
"Saya gak mau kita bongkar siapa Tiyas sebenarnya! Dari awal perjanjian sudah sepakat bahwa pernikahan ini dirahasiakan!" ucap Indah menyuarakan pendapatnya.
Tetapi Bagas tidak menerima gagasan sang ibu, sama saja membuatnya tidak bisa bergerak banyak.
"Gak, Kek. Aku mau pernikahan kami diumumkan."
Untuk yang satu ini tentu Tiyas tidak akan pernah setuju. Dan Chandra tentu akan membantu Tiyas menutup rapat identitas sebenarnya. Maka permintaan Bagas sudah pasti tidak bisa dikabulkan.
__ADS_1
"Kalau begitu, bagaimana pernikahan Bagas tetap kita umumkan? Tapi dengan pengantin wanita yang berbeda? Kita bisa mengumumkan bahwa Bagas dan Stefanny sudah resmi menikah. Dan wanita yang di dalam mobil itu tentunya adalah Stefanny."