
"Kenapa lo?"
Bagas melirik asisten sekaligus temannya yang baru saja memasuki ruang kerjanya. Matanya menatap malas Jonathan yang tersenyum lebar kearahnya.
"Ada masalah apa?" Tanya Bagas yang kini kembali fokus pada komputer di depannya.
Jonathan mengerutkan keningnya. Ia segera duduk di sofa panjang yang telah disediakan. Bertopang tangannya pada kakinya yang menyilang.
"Harusnya gue yang tanya begitu. Pagi-pagi kok muka lo udah kusut banget. Siapa yang mau jadi istri lo nanti kalau modelnya begini? Bukannya bikin cinta malah bikin muntah."
Pria tampan itu menghentikan pergerakan tangannya. Fokusnya kini terpecah. Sebelum akhirnya Bagas memusatkan atensinya pada sahabatnya.
"Kayaknya bentar lagi gue duluan deh, Jo."
"Duluan apa? Mati?" Tanya Jonathan dengan sarkas. Hingga dihadiahi lemparan bantalan kursi ke arah wajahnya.
"Lo duluan yang mati!" Seru Bagas yang tidak bisa menahan kekesalannya. Sahabatnya ini susah sekali untuk diajak serius, padahal otak Bagas sudah mumet sejak semalam. Tidurnya bahkan tak senyenyak biasanya. "Gue bakal nikah dua pekan dari sekarang."
"What?!" Seru Jonathan dengan keras. Sampai-sampai pria itu berdiri dari duduknya sambil menutup mulut dengan kepalan tangannya tanda tak percaya. "Lo apa? Manusia kaku kayak lo duluan nikah dari gue? Gak! Gue gak terima!"
Sial, batin Bagas yang sudah mengumpat habis-habisan kepada sahabatnya itu.
"Dengerin dulu bisa kan, Jo? Lo terlalu over ekspresi, lama-lama gue pecat lo dari kantor ini," ancam Bagas dengan tatapan tajamnya.
Jonathan seketika terdiam. Meringis pria itu, akhirnya dia mengalah.
"Oke-oke," katanya dengan kedua tangannya yang terangkat tanda menyerah. Dagunya mengedik, mengkode Bagas untuk duduk bersamanya di sofa. "Jadi lo udah nerima Stefanny untuk jadi istri?" Tanyanya setelah Bagas duduk di sampingnya.
Bagas berdecak, ia menggeleng kencang.
"Sampai kapanpun gue gak pernah mau menjalin hubungan sama Stefanny."
Jonathan mengangguk. Tahu sekali ia sejarah percintaan Bagas yang sejak dulu selalu dibayang-bayangi oleh Stefanny. Hingga saat ini tak ada yang berani mendekati sahabatnya karena model cantik itu akan selalu menempeli Bagas dan mengusir wanita yang mendekati pujaan hatinya.
"Jadi?" Tanya Jonathan yang sekarang ikut penasaran.
"Gue dijodohin," jawab Bagas setelah sempat menarik napasnya beberapa detik. Ia melirik sahabatnya yang masih bungkam. "Sama cewek yang kerjanya cuma jadi guru honorer sekolah swasta."
"Hah?" Jonathan hanya bisa mengekspresikan berita yang didengarnya hanya dengan satu kata tersebut. Informasi tentang calon istri sahabatnya benar-benar diluar prediksi. "Lo serius? Apa keluarga lo gak marah gitu?"
"Marah, sudah pasti. Lo tahu betul gimana watak keluarga gue. Kecuali Kakek ya, karena dia tersangka utama yang buat gue terjebak perjodohan ini."
"Dan lo terima?"
__ADS_1
Bagas mengangguk lesu.
"Mau gak mau terima kan. Daripada Stefanny terus nempelin gue kayak parasit. Risih, gak suka tipe cewek kayak dia. Agresif, cocoknya sama cowok gak tahu diri kayak lo."
"Bangsat!" Umpat Jonathan yang langsung memberikan sahabatnya bogeman pelan di lengan atas. "Kurang ajar mulut lo ya!"
"Itu yang mama gue bilang semalam, kurang ajar," ungkap Bagas dengan senyum getirnya. "Padahal gue udah males di setir kayak boneka. Bahkan Mama bawa-bawa adek gue semalem."
Raut wajah Jonathan mulai serius. Ia tidak menyangka bahwa masalah ini akan menjadi serumit dan seserius itu. Sejak kecil Bagas dan adik-adiknya mendapatkan didikan keras dan selalu diminta untuk menuruti perintah orang tuanya. Dan yang berhasil menentang untuk pertama kalinya adalah si bungsu Wiguna.
"Tapi kalau begini keadaannya bukannya sama aja? Lo sama-sama disetir, bedanya sekarang disetir sama kakek lo," sahut Jonathan dengan nada khawatir.
Bagas mengangguk, setuju dengan pendapat sahabatnya.
"Benar, tapi seenggaknya Tiyas gak kayak Stefanny. Atau mungkin belum. Entahlah, bahkan semalam dia nolak mentah-mentah pas gue inisiatif buat anter pulang. "
"Keren juga tuh cewek," tanggap Jonathan dengan jenaka. Ia menepuk bahu Bagas guna menyemangati pria itu. "Gue mendukung semua keputusan lo. Good luck, bro!"
"Tapi lo bisa cari informasi tentang calon istri gue kan?"
"Siapa namanya?"
"Tiyas."
"Nama lengkap dong pinter!" Seru Jonathan gemas.
"Jangan bilang kalau lo gak tau nama lengkapnya?" Tanya Jonathan untuk memastikan dan anggukan Bagas tentu membuatnya tepuk jidat. "Kalau gitu sekarang lo ajak jalan deh si Tiyas, habis itu tanya nama lengkapnya. Biar gue bisa melacak data tentang dia."
"Harus banget ajak jalan?"
"Gak, ajak dagang aja! Ya jalan dong, buset deh masa harus didikte dulu!"
***
"Tiyas Della Gayatri Adhitama!"
Seseorang yang namanya dipanggil itu hanya bisa memberikan tatapan memelasnya pada sahabatnya.
"Ayolah Beb, bantu gue. Masa lo udah gue kasih jabatan tinggi gak mau bantu bos lo sih!" Gerutu Tiyas dengan merengek.
Beby mendelik malas. Ia tidak habis pikir dengan tingkah Tiyas saat ini. Juga, bagaimana bisa wanita itu sekarang harus ungkit-ungkit masalah jabatan? Padahal Tiyas lah yang pertama tidak mau menjadi direktur, sahabatnya itu lebih memilih memantau perkembangan perusahaan yang ia bangun sendiri.
"Lo yang bener aja dong, masa mau minta bantuan abang gue. Yang ada abang gue bisa-bisa nangis bombay karena pujaan hatinya bentar lagi bakal nikah!"
__ADS_1
Tiyas berdecak, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kasar. Frustasi rasanya.
"Yang bisa bantu gue buat saat ini ya abang lo, Beb. Gue gak bisa untuk minta bantuan orang lain, semakin banyak orang tahu semakin terancam posisi gue."
Beby terdiam dan kemudian berdecak kesal. Dilema rasanya, tapi mungkin harus mengiyakan permintaan Tiyas untuk saat ini. Masalah patah hati abangnya mungkin bisa dipikirkan nanti.
"Oke, gue usahain buat ngomong sama abang. Kalau dia nolak, gue gak tanggung jawab ya."
Selamat tinggal untuk lima tahun memperjuangkan cinta Tiyas yang sampai sekarang bertepuk sebelah tangan, bang. Batin Beby dengan kesedihan mendalam. Prihatin dengan nasib abangnya.
"Gak nolak kok, gue yakin. Abang Rassya itu baik, gak mungkin dia menolak permintaan gue yang satu ini," ucap Tiyas dengan senyum kemenangan membuat Beby semakin dongkol.
"Tenang aja, Beb. Nanti abang lo dapet kok jatah mantan sehari sebelum gue jadi istri orang," sambung Tiyas dengan kedua alisnya yang naik turun. Menggoda Beby memang benar-benar menyenangkan untuknya.
"Najis, orang gila!" Sungut Beby dengan wajahnya yang semakin di tekuk. Sedangkan Tiyas semakin tergelak dalam tawanya.
Ditengah gelak tawa Tiyas, kini ponselnya berbunyi nyaring. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal membuat wanita itu tidak langsung mengangkatnya.
"Siapa?" Tanya Beby melihat Tiyas hanya diam, membiarkan ponsel itu terus berdering.
"Gak tau, orang iseng kali," kata Tiyas yang kemudian meletakkan secara asal ponselnya.
Hanya berselang beberapa detik, ponsel tersebut kembali berdering. Membuat Tiyas akhirnya terpaksa untuk mengangkat panggilan, siapa tahu ada hal mendesak.
"Halo?"
Kening Tiyas berkerut, tidak ada jawaban dari seberang.
"Halo." Ucapnya sekali lagi, tapi masih tidak ada suara disana.
Tepat ketika wanita itu berniat untuk mematikan ponselnya, seseorang dari seberang memanggil namanya.
"Ayo jalan. Saya tunggu di depan gang rumah kamu satu jam dari sekarang."
Dan sambungan telepon langsung dimatikan. Tiyas termenung sejenak, suara itu tidak asing. Tapi wanita itu tidak mengingat jelas siapa orang asing yang meneleponnya dengan nada perintah.
"Kenapa?"
"Ada orang gila salah sambung. Gak ada angin, gak ada hujan malah ngajak jalan. Mana gak kenalin namanya lagi, dikira gue peramal kali ya bisa menebak siapa dia," gerutu Tiyas sambil bersungut-sungut. Namun sedetik kemudian ia terperanjat, matanya melebar dan bergetar.
Gebrakan meja di ruangan tersebut terdengar, membuat Beby terlonjak kaget dengan mata yang melotot. Wanita itu hampir saja mengalami serangan jantung.
"Lo apa-apaan sih, Yas? Kesambet lo? Kesurupan?" Tanya Beby dengan wajah penuh ketakutan.
__ADS_1
Tyas mengangkat wajahnya panik, tangannya sudah mengusak kasar rambutnya hingga kusut tak berbentuk. Wanita itu akhirnya tahu siapa sosok yang meneleponnya.
"Cepat antar gue kerumah pak Agus! Yang di telepon tadi itu Bagas, anaknya ngajak jalan dan bakal jemput depan gang rumah sopir gue!"