Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 47


__ADS_3

"Lo apa-apaan sih?! Lepas gak?!" 


Telinga Jonathan seakan tuli dengan teriakan-teriakan yang terlontar dari mulut Stefanny. Pria itu masih terus menyeret sang model untuk masuk ke dalam mobilnya. 


"Masuk!" perintahnya dengan sedikit kasar dan dorongan kuat karena Stefanny terus saja meronta. "Lo bisa nurut gak?! Kalau lo masih gak mau nurut, gue bikin pingsan lo sekarang!" 


Stefanny berdecak kesal, mau tak mau menuruti perkataan Jonathan untuk tidak melawan. Wanita itu sedikit terkejut karena Jonathan jarang sekali untuk membentak dan memarahinya. Bahkan sebulan yang lalu pria itu masih saja merasa kasihan dengannya saat tidak dianggap oleh Bagas. 


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Stefanny setelah mobil yang dikendarai Jonathan pergi meninggalkan kediaman Wiguna. 


"Gak usah banyak tanya," balas Jonathan dengan nada tingginya. 


Mobil tersebut membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Menyalip kendaraan lain secara ugal-ugalan. Stefanny bahkan beberapa kali memejamkan matanya saat merasa mobil yang dikendarai Jonathan hampir menabrak kendaraan lain.  


"Gila ya lo!" bentak Stefanny dengan tubuhnya yang bergetar ketakutan. "Kalau lo mau mati gak usah ajak gue!" 


Jonathan tidak menjawab, tetapi kakinya semakin dalam menginjak pedal gas. Pria itu merasa terganggu dengan ocehan Stefanny dan marah karena tindakan wanita itu yang melukai Tiyas. 


Tidak, bukan berarti Jonathan menyukai Tiyas. Pria itu hanya merasa bahwa nasib istri Bagas tersebut hampir sama seperti dirinya. Terasingkan, terkucilkan. Bedanya Tiyas diperlakukan secara terang-terangan bahkan dengan para pembantu di rumah tersebut. 


Karena kecepatan mobil yang dibawa Jonathan melebihi batas normal. Tentunya waktu yang diperlukan untuk sampai ke apartemennya menjadi lebih singkat. 


Setelah keluar dari mobilnya dan diikuti oleh Stefanny dengan raut wajah penuh kebingungan, Jonathan berjalan dengan lebih santai sekarang. 


"Lo tinggal disini?" tanya Stefanny sembari berdecak kagum. Ternyata menjadi asisten Bagas bisa tinggal di apartemen mewah seperti ini. 


Jonathan hanya melirik sekilas bagaimana ekspresi wajah Stefanny yang terpesona. Pria itu terus saja berjalan untuk masuk ke dalam lift dan akan membawanya sampai ke lantai atas. 


"Lo serius tinggal di lantai 20?" tanya Stefanny dengan matanya yang melotot kaget. 


Jonathan mendengus geli. Dagunya terangkat dengan angkuh. 


"Kalau iya, kenapa? Gue gak semiskin yang lo pikir. Bisa aja suatu saat nanti gue lebih kaya dari Bagas." 

__ADS_1


Sontak Stefanny langsung menyemburkan tawanya seakan meledek pembicaraan Jonathan yang seperti bualan. 


"Mimpi! Paling berapa sih harganya nih apartemen, gue juga bisa belinya." 


Pria itu mengedikkan bahunya, memilih untuk tak menjawab perkataan sombong wanita ini. Meskipun begitu benci dengan tingkah Stefanny yang mencelakai bahkan memfitnah Tiyas, entah kenapa Jonathan masih saja kasihan padanya. Buktinya Jonathan membawa Stefanny ke kediamannya yang jarang orang ketahui. 


"Gila! Ini mah penthouse!" jerit Stefanny sembari menutup mulutnya sembari mengerjapkan matanya kagum. 


Tentu saja wanita itu terkejut. Setelah keluar dari lift, bukan lagi lorong yang menyambut mereka tetapi sebuah hunian kelas atas yang bahkan terdiri dari dua lantai. 


"Duduk dulu," titah Jonathan sembari mengedikkan dagunya. Mengisyaratkan Stefanny untuk duduk pada sofa panjangnya yang baru datang beberapa hari lalu. 


Ditinggal oleh sang pemilik rumah, Stefanny masih saja tak berhenti terkesima. Pikirnya dari mana semua uang yang digelontorkan Jonathan untuk bisa mendapatkan hunian ini. Bahkan mungkin penghasilannya sebagai seorang model dan juga aktris sampai akhir hayatnya, tidak akan bisa membeli penthouse sebagus dan semahal ini. 


"Tangan lo mana?" 


Stefanny terlonjak kaget karena kehadiran Jonathan secara tiba-tiba di sampingnya dengan sekotak obat. 


Jonathan yang melihat keterdiaman Stefanny hanya bisa berdecak kesal. Tanpa permisi, pria itu segera menarik tangan Stefanny yang terluka dan mulai untuk membersihkan kemudian mengobatinya. 


Kening Stefanny berkerut dalam, sesekali meringis saat Jonathan tengah membersihkan lukanya. 


"Gak ada urusannya juga sama lo. Lagian ngapain lo tarik gue keluar?! Bagas udah mau nolongin gue, eh lo malah bikin kacau." 


"Buka mata lo lebar-lebar!" sahut Jonathan sembari mendengus sinis. "Mau lo terluka separah apapun, Bagas akan tetap memprioritaskan istrinya diatas lo. Jadi jangan berharap lebih."


"Mau lo bilang apapun, gue gak akan nyerah buat dapetin Bagas," timpal Stefanny dengan dengusan kesal. Wanita itu melirik telapak tangannya yang saat ini mendapat goresan cukup panjang disana. 


Jonathan memutar bola matanya kesal. Situasi dimana seseorang terlalu cinta seperti Stefanny ini memang tidak bisa untuk dikasih nasehat. Terlalu keras. 


"Gue cuma kasihan liat lo kayak gini. Kalau tadi gue gak tarik lo buat keluar dari rumah itu, mungkin lo harus menanggung malu karena Bagas pasti lebih pilih Tiyas untuk dikhawatirkan." 


Stefanny terdiam seribu bahasa. Dengan meringis menahan sakit setelah Jonathan memberinya antiseptik, pikirannya juga ikut melayang. Sudah sejak lama wanita itu mengejar cinta Bagas, bahkan ketika pria itu sedang tidak dekat dengan siapapun. Tetapi Bagas tetap tidak menoleh padanya. 

__ADS_1


Berbeda dengan Tiyas. Meski mereka dijodohkan, entah kenapa Bagas malah lebih menerima Tiyas yang notabenenya adalah orang asing. Dibandingkan Stefanny yang jelas-jelas sudah mengenal Bagas lebih lama. 


Kenyataan itu membuat Stefanny tidak rela jika Bagas akhirnya jatuh kedalam pelukan Tiyas. Padahal selama ini Stefanny mengupayakan semuanya agar Bagas menjadi miliknya. 


"Terus lo kenapa khawatir sama gue? Kenapa lo gak pengen gue malu disana?" tanya Stefanny dengan alisnya yang terangkat. 


Jonathan sejenak terdiam. Tetapi tangannya tetap bergerak untuk membungkus luka Stefanny dengan perban. Setelah selesai, pria itu duduk sedikit menjauh dari Stefanny dan menatap jauh ke depan. 


"Gak tau. Gue gak tega aja liat cewek nangis, sedih ataupun kecewa. Tapi jangan geer, gue juga marah sama lo karena udah bikin celaka Tiyas." 


"Kok gue?!" protes Stefanny dengan tidak terima. "Tiyas yang dorong gue sampai berdarah begini!" sambungnya dengan menunjukkan tangannya yang diperban. 


"Gue bukan orang tolol," sahut Jonathan sembari melirik Stefanny yang panik seperti tertangkap basah. "Dari Tiyas sendirian di dapur sampe lo datang dan terjadi pecahan piring, gue ada disana, Steff. Gue lihat semuanya tanpa terlewat satu pun." 


Mata Stefanny bergerak panik. Ia segera membawa tangan Jonathan untuk digenggamnya dengan tatapan memelas. 


"Lo gak akan bilang ini ke Bagas kan?" 


Tentu tidak. Jonathan tidak mungkin tega untuk membeberkan semuanya. Biarlah itu menjadi urusan rumah tangga Tiyas dan Bagas. 


"Dengan syarat lo gak ganggu Bagas lagi," tantang Jonathan dengan satu alisnya terangkat. Menunggu tanggapan dari Stefanny. 


"Gue gak bisa!" tolak Stefanny dengan tegas. "Mau gimana pun tanggapan Bagas terhadap gue nantinya. Gue tetap gak akan mundur untuk dapetin dia." 


Benar-benar keras kepala. Itulah yang ada dibenak Jonathan saat ini. 


"Apa yang sebenarnya lo cari di diri Bagas? Bahkan selama ini dia gak ada baik-baiknya sama lo. Apa lo cuma mau sama hartanya?" tanya Jonathan dengan tatapannya yang dalam seakan mendesak Stefanny untuk berbicara jujur. 


Stefanny mendengedikkan bahunya. 


"Wajar kan kalau gue cari yang setara dan bisa memperbaiki kehidupan gue kedepannya? Gue gak mau punya pasangan yang penghasilannya jauh di bawah gue." 


"Kalau gue tawarin diri untuk jadi pacar lo gimana?" tanya Jonathan sekali lagi. "Gue kayaknya gak kalah kaya dari Bagas." 

__ADS_1


"Tapi lo bukan Wiguna." 


"Kalau ternyata nama belakang gue juga Wiguna, gimana?" 


__ADS_2