
Jalan masing-masing? Perkataan dari Bagas yang menyentuh hati Tiyas dengan teramat sakit. Wanita itu tidak menyangka bahwa sang suami mengambil keputusan gegabah dan tidak ingin mendengar penjelasannya.
Tiyas kini tengah sibuk mengemas barang-barangnya dengan derai air mata yang tidak bisa ditahan. Wanita itu memasukkan satu demi satu pakaian miliknya dengan terisak pelan, tidak percaya bahwa semua kebahagiaannya kini hancur tak bersisa. Bahkan Bagas tidak mengejarnya, pria itu tidak berada di kamarnya.
Tapi mungkin inilah konsekuensinya, maka Tiyas harus menerimanya dengan lapang dada. Wanita itu segera keluar dari kamarnya. Setelah berada di lantai bawah, Tiyas bertemu dengan Chandra yang sepertinya baru tiba dirumah.
"Mau kemana kamu, Tiyas?" tanya Chandra dengan keningnya yang berkerut tajam. Pria tua itu menatap satu buah koper besar yang Tiyas bawa.
Tunggal Adhitama itu tersenyum tipis dengan jejak air mata di pipinya.
"Semua sudah berakhir, Kek. Mas Bagas sudah tau semua tentang kebohongan yang saya perbuat. Jadi kami memutuskan untuk berpisah."
"Mana bisa seperti itu!" sentak Chandra yang ikut panik. "Kamu sudah jelasin semuanya ke Bagas?"
Tiyas menggeleng pelan dengan senyum getirnya. Ia bermaksud untuk menjawab, tetapi seseorang menginterupsinya.
"Gak perlu ada penjelasan disini," potong Bagas yang tiba-tiba saja sudah ada diantara mereka. Tatapan pria itu tajam tertuju pada istrinya. "Dengan kebohongan yang sudah dia lakukan, sudah lebih dari cukup, Kek."
Chandra menghela napasnya. Pria tua itu tahu bahwa Bagas tidak akan mendengarkan siapapun jika emosi sudah mengendalikannya.
"Kamu jangan langsung menuduhnya kayak gitu, Gas. Ayo duduk dulu, kita bahas ini dengan kepala dingin."
Bagas mendengus sinis, kemudian memalingkan wajahnya. Melihat bagaimana raut wajah istrinya yang menyedihkan membuatnya tidak sanggup untuk melihat.
"Gak perlu. Saya udah pikir semuanya matang-matang, Kek."
__ADS_1
Bohong, yang dikatakannya tidak benar. Ini semua karena perasaan kecewa dan sakit hati karena sudah ditipu oleh istrinya sendiri. Maka dengan latar belakang kecewanya, Bagas mengambil keputusan tanpa pikir panjang
"Pikir matang-matang apaan?! Kalau kamu bersikap kayak gini yang ada bakal menyesal nantinya. Tiyas pasti punya alasan untuk itu, jangan menghakiminya kayak gitu!" bentak sang Kakek yang gemas dengan sikap gegabah cucunya.
"Mau alasan apapun, kalau dimulai dengan kebohongan semuanya bakal berakhir sama, Kek!" sahut Bagas yang ikut terpancing. "Kakek juga dari awal tau semuanya kan?! Kenapa harus ada kebohongan disini? Apa yang sudah kalian rencanakan? Apa jangan-jangan dia emang mau main-main dengan pernikahan ini?!"
Dengan telunjuk Bagas yang terarah padanya, Tiyas sontak memejamkan matanya. Setetes air mata kini membasahi pipinya, mendengar bagaimana Bagas enggan untuk menyebut namanya membuat dada Tiyas seperti ditikam belati.
"Disini saya sudah kayak kerbau yang dicucuk hidungnya! Bodoh, mengikuti semua keinginan Kakek untuk menerima perjodohan ini! Juga wajah polosnya bak orang miskin! Padahal perbuatan kalian busuk! Ketulusan saya ke kamu hanya sia-sia!" Bagas kembali berteriak dengan nada tinggi.
Sampai-sampai Maria dan beberapa pegawai baru kini mulai keluar dan mengintip perdebatan ketiga orang tersebut.
"Bagas!" teriak Chandra karena merasa perkataan cucunya sudah keterlaluan. Pria tua itu sadar bahwa kebohongan yang mereka lakukan tidak benar, tetapi ini semua ada alasannya. Selain karena sikap keluarga Wiguna yang enggan untuk menerima orang miskin, tentu pasti ada alasan yang lebih kuat disana.
"Sudah, Kek!" Tiyas kini mulai angkat suara. Wanita itu tersenyum tipis pada Chandra sembari mengangguk. "Gak perlu diperpanjang. Intinya semua berawal dari saya yang sudah berani berbohong."
"Saya minta maaf, Mas. Kebohongan saya ini memang sulit untuk dimaafkan, awalnya saya juga gak mau. Tapi semuanya tentu ada alasannya," jelas Tiyas sembari menutup matanya. Kepalanya pening, dadanya juga sesak. "Saya akan penuhi permintaan, Mas. Maka dari itu saya akan angkat kaki dari rumah ini."
"Itu kata-kata yang saya tunggu dari kamu!" sentak Bagas yang masih menatap tajam sang istri. "Kalau begitu pergi sekarang. Saya muak liat muka kamu!"
Tiyas mengangguk pelan. Tubuhnya ia tegakkan kembali, melemparkan senyum kecilnya pada Chandra yang menatapnya prihatin. Wanita itu juga menatap wajah suaminya untuk yang terakhir kalinya.
"Saya pamit," sambung Tiyas sebelum akhirnya menarik koper miliknya dan melangkah keluar dari rumah yang beberapa bulan ini memberikan kenangan dan pengalaman berharga untuknya.
"Kamu keterlaluan!" sentak Chandra dengan raut wajah marahnya. "Kakek harap setelah ini kamu gak menyesal dengan semua keputusan yang sudah kamu buat!"
__ADS_1
Pria tua itu kemudian berbalik pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Bagas yang berdiri terdiam dengan tangannya yang mengepal erat.
Di luar rumah, Tiyas kembali bertemu dengan Jovan yang ternyata belum pergi dari sana. Sang model pria itu berusaha untuk menahan Tiyas, namun wanita itu dengan cepat menghindar.
"Tiyas!" panggil Jovan dengan nada panik. Pria itu masih berusaha untuk menghentikan langkah wanita yang dicintainya itu. "Saya terpaksa harus mengakui semuanya."
Langkah Tiyas terhenti, wanita itu menoleh pada artis naungannya.
"Lancang kamu!" hardiknya dengan amarah yang memancar dari kedua matanya. "Kamu gak ada hak untuk membocorkan semua rahasia saya! Apa kamu pikir dengan sikap kamu yang begini bakal bikin saya bisa kamu dapatkan? Gak! Untuk liat mukamu saja sekarang, saya jijik!"
Jovan menghela napasnya panjang.
"Saya minta maaf. Tapi mungkin lebih baik saya yang katakan, daripada Stefanny. Kalau cewek itu yang sampaikan, mungkin kamu bakal semakin terpojok. Kamu tau sendiri gimana wataknya. Bahkan setelah ditolak mentah-mentah, dia masih berharap cinta Bagas!"
"Kalau aja kamu gak berbagi informasi sama Stefanny, apa mungkin itu cewek bakal tau semuanya?" tanya Tiyas dengan tatapan remehnya. "Kamu jangan sok polos, Jo. Kamu tau gimana pengaruhnya saya? Mau sampe dicari bagaimanapun, Stefanny gak bakal bisa bongkar identitas saya. Memangnya apa yang dia janjikan sama kamu?"
Benar kata Tiyas. Sebagai anak konglomerat yang cukup tersohor, tentu Tiyas memiliki berbagai cara untuk menyembunyikan identitas aslinya. Sampai sekarang tak ada satupun yang tahu siapa dan bagaimana wajah anak Rudi Adhitama. Tidak pula ada yang tahu siapa pemilik perusahaan TD Agency. Semuanya tersembunyi sampai-sampai tidak ada satupun media yang berhasil mengungkapnya.
"Jo, meski kamu berjuang bagaimanapun buat dapetin cinta saya, itu semua percuma," sambung Tiyas yang kini nada bicaranya mulai melemah. "Dari awal saya gak ada rasa sama kamu, bahkan sebelum saya kenal Bagas. Saya tau Stefanny pasti udah rayu kamu, bilang kalau kamu bakal dapat saya dan dia dapat Bagas kan? Tapi maaf Jo, sampai kapanpun kamu gak bakal bisa dapetin saya. Karena cinta saya sekarang sudah habis pada Bagas."
Tatapan Jovan menyendu, sekaligus terluka. Seharusnya pria itu memikirkan matang-matang tawaran Stefanny. Sayangnya Jovan tergiur karena Stefanny bertekad akan mengambil Bagas dari Tiyas dan membuat wanita yang dicintainya akan tersiksa. Dan Jovan melupakan bagaimana pengaruh Tiyas sebagai anak konglomerat.
"Kamu yakin? Gimana kalau kedepannya Bagas ternyata bersatu dengan Stefanny?" tanya Jovan dengan tatapannya yang begitu dalam pada Tiyas.
Sesaat Tiyas terdiam. Mendapati tanggapan Bagas yang seperti tadi, tidak menutup kemungkinan pria itu akan beralih pada Stefanny. Jujur, membayangkan itu membuat hatinya sakit.
__ADS_1
"Meskipun kedepannya saya dan Bagas gak bersama. Saya percaya bahwa kita juga gak akan bisa bersama, Jo. Kalaupun Bagas menemukan cinta yang lain, biarkan saya tenggelam dengan perasaan ini."