
"Kapan aku setuju nikah sama dia, Ma?" tanya Bagas dengan menatap tajam sang Ibu. Muak, kelakuan Ibunya tidak berubah sama sekali.
Indah menghela napasnya pelan.
"Ini sudah kesepakatan kami bersama, Gas. Daripada kamu murung seharian, forsir semua tenaga kamu di kantor bahkan sampe gak pulang."
Bagas mendengus kesal, ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Terus apa hubungannya sama aku harus nikah? Sama Stefanny?"
Tatapan Bagas yang memandang Stefanny remeh, membuat wanita itu merasakan sakit hati untuk kesekian kalinya.
"Biar ada yang urus!" sentak Indah yang tidak mengerti lagi dengan sikap Bagas. Anak sulungnya itu semakin membangkang, hidupnya kacau. "Kondisi kamu sekarang itu butuh istri. Jadi kamu ingat pulang, ada yang ingetin kamu makan."
"Ma!" Bagas semakin meninggikan nada suaranya. "Aku ini masih punya istri! Gak perlu Mama cari istri untuk aku!"
"Istri yang mana?! Cewek yang nipu kamu itu hah?!" bentak Indah yang juga terpancing emosinya. "Mentang-mentang orang kaya bisa bohongin keluarga kita. Lihat sekarang? Emang ada kabar beritanya? Minta maaf aja gak kan?!"
Pria itu memegangi pangkal hidungnya sembari menutup matanya sejenak. Emosinya semakin tidak terkontrol dan akan meledak. Bisa-bisa barang pecah belah di dapur ini akan menjadi sasaran amukannya.
Padahal tanpa sepengetahuan keluarganya. Jelas Rudi Adhitama sudah meminta maaf secara pribadi, bahkan membujuknya untuk bertemu dengan Tiyas. Tetapi Bagas masih tidak sanggup, rasa kecewanya masih ada. Setidaknya pria itu ingin memberikan rasa jera pada Tiyas.
"Terserah Mama mau nanggepin kayak gimana. Yang pasti aku gak akan nikah sama siapapun!" putus Bagas dengan setiap penekanan dalam kalimatnya.
"Gak bisa," potong Restu yang tiba-tiba saja datang dengan wajah datarnya. "Seenggaknya kalian harus melakukan pertunangan. Terserah kalau kamu gak mau ada pernikahan, kamu bisa batalin kapan aja asal pertunangan kalian harus dilaksanakan."
Mendengar hal itu sontak bola mata Bagas melebar. Ia menatap tidak percaya pada sang Ayah yang selama ini dihormatinya. Restu yang tidak ikut campur dalam pertikaian mereka tempo hari.
"Pa! Apa-apaan sih? Gak!" tolak Bagas dengan mentah-mentah.
__ADS_1
Stefanny yang juga mendengar pernyataan Restu mendelik tidak suka.
"Mana bisa begitu? Kalau sudah tunangan, harus ada pernikahan. Bisa-bisanya Om suruh anak sendiri melakukan hal gak baik!"
Restu mendengus kasar, ia menatap Stefanny dengan tajam. Semakin lama pria paruh baya itu semakin tidak suka dengan sikap sang model cantik.
"Berita tentang pertunangan kalian udah kesebar sampai ke kolega bisnis kita, Gas. Apa kata orang tentang kamu kalau sampai berita ini ternyata cuma bualan? Udah terlalu banyak skandal yang kamu buat. Seenggaknya satu aja buat bersihkan nama kamu."
Penjelasan dari Restu membuat Bagas terdiam sekaligus curiga. Ia melirik sang Ibu dan juga Stefanny yang nampak tenang.
"Kalau gitu umumkan aja kalau aku udah punya istri. Aku akan bawa Tiyas buat konferensi pers," sahut Bagas yang tetap menolak pertunangannya dengan Stefanny.
Restu awalnya terdiam, ia juga tidak sudi memiliki menantu seperti Stefanny. Jika dilihat dari keadaan sekarang, jelas memiliki Adhitama didalam keluarga mereka layaknya sebuah berlian. Stefanny tidak sebanding dengan Tiyas dan keluarganya.
"Kamu terlambat," ucap pria paruh baya itu yang menyerahkan map coklat kepada sang anak. "Tiyas mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama. Sampai saat ini belum ada yang tau kalau Tiyas itu istrimu, tapi kayaknya dengan adanya gugatan cerai, kemungkinan beritanya sebentar lagi keluar."
Bagas mengambil map coklat untuk dengan perasaan sesak. Dilihatnya map yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kemudian dibukanya dengan buru-buru, dibacanya lembaran kertas itu dengan gerakan cepat. Hingga akhirnya kedua tangannya melunglai.
Restu mengedikkan bahunya.
"Maria yang menerima dan kasih ke Papa. Kalau sudah seperti ini, pertunangan kalian tetap dilaksanakan setelah akta cerai kalian keluar. Ada baiknya baik kamu maupun Tiyas gak perlu datang untuk mediasi, biar prosesnya cepat."
Pria tampan itu menggeram marah. Ia meremas map coklat itu dan merobeknya hingga menjadi bagian kecil.
"Enteng sekali Papa bicara. Sampai kapanpun aku gak akan pisah sama Tiyas!"
Bagas segera berlari cepat menuju pintu utama. Pria itu berniat pergi ke rumah istrinya dan memperbaiki semuanya. Bahkan jika mungkin alasan Tiyas berbohong akan menyakiti hatinya, Bagas akan tetap memilih Tiyas. Pria itu tidak akan menikah dengan wanita manapun selain istrinya.
Restu yang melihat anaknya akan kabur. Langsung berteriak keras.
__ADS_1
"Tangkap Bagas! Dan kunci dia di kamarnya!"
Para bodyguard berkisar 4-5 orang itu langsung bergegas berlari cepat dan segera menangkap Bagas. Tak sulit bagi mereka, karena memang sudah berjaga di pintu keluar.
"Lepas!" teriak Bagas sembari menggoyangkan tubuhnya kuat. Pria itu dengan sekuat tenaga berusaha untuk menghentakkan tubuhnya, namun hasilnya sia-sia.
Baik Indah, Stefanny dan Bella menatap tak percaya dengan pemandangan didepan mereka. Tubuh gagah Bagas diseret paksa, meski sudah meronta-ronta.
Bagas menatap bengis sang Ayah yang nampak santai.
"Beginikah Papa memperlakukanku? Aku cuma ingin ketemu sama Tiyas dan memperbaiki segalanya. Apa salah?"
"Gak salah, kalau dari awal kamu gak keukeuh diam ditempat kayak begini. Sekarang, Adhitama mencabut semua sahamnya di perusahaan kita. Dan kamu harus dapat hukuman dari apa yang kamu perbuat," jelas Restu dengan tegas.
Bagas tidak mengerti dengan jalan pikiran Ayahnya. Pria itu masih terus mengamuk, berusaha untuk melepaskan tangan-tangan yang mencengkram tubuhnya erat.
"Aku kecewa karena dibohongi. Apa aku salah gak kasih Tiyas kesempatan buat ngomong? Tapi bukan maksud aku untuk cerai," balas Bagas dengan matanya yang kini mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar sembari menatap nyalang sang Ayah.
Restu berdecak kesal, ia menatap sang anak dengan pandangan lembut. Bagaimanapun juga, anak-anaknya adalah harta berharga baginya.
"Kamu pikir setelah kabar pertunangan ini merebak, keluarga Adhitama mau terima kamu lagi? Gak, Gas. Mereka gak sebodoh itu. Kalau mereka terima kamu lagi, yang ada nama mereka ikut tercoreng," jawab Restu dengan memberikan pengertian.
Bagas terdiam. Ada benarnya perkataan sang Ayah, tapi pria itu juga tidak sudi jika ada orang lain yang menggantikan posisinya sebagai suami Tiyas.
"Perusahaan kita lagi di ujung jurang, Gas. Ini konsekuensi yang kamu dapatkan. Pertunangan kalian harus dilaksanakan, untuk menggaet kembali kepercayaan dari kolegamu. Perbaiki perusahaan kita agar stabil seperti semula," perintah Restu dengan tatapan seriusnya.
Bagas menatap sang Ayah dengan tajam, menghunus seperti pedang.
"Lalu apa yang akan aku dapatkan?"
__ADS_1
Restu mengedikkan bahunya. Sembari menepuk puncak kepala sang anak. Pria paruh baya itu tersenyum lembut.
"Papa janji untuk gak menghalangi kamu untuk kembali sama Tiyas. Kamu bisa cari Tiyas, setelah kamu melakukan apa yang Papa perintahkan tadi."