Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 64


__ADS_3

"Hamil?" 


Seketika mata wanita paruh baya itu melotot kaget. Menatap sang dokter pribadi yang sudah mengabdi cukup lama di keluarga Adhitama. 


Dokter pria yang sudah cukup berumur itu mengangguk yakin. 


"Iya, Nyonya. Kandungannya sudah memasuki usia 14 minggu." 


Tubuh Nirmala langsung lemas seketika, wanita paruh baya itu terduduk di tepi ranjang sembari menatap anaknya dengan malang. 


"Pantas aja. Tiyas sering muntah dan mengeluh pusing. Saya pikir itu karena dia yang selalu telat makan." 


"Bisa jadi karena pengaruh hormon. Ada ibu hamil yang nafsu makannya meningkat dan juga ada yang menurun. Mungkin Nona Tiyas masuk di salah satunya," terang sang dokter dengan senyum ramahnya. "Tapi saya sarankan untuk diperhatikan asupan makanannya demi kesehatan ibu dan janin."


"Baik, dok," balas Nirmala yang sudah bingung ingin menjawab seperti apa. 


Arya yang juga berada disana bersama Beby, kemudian mengantar sang dokter keluar dari kamar Tiyas. 


"Sekali lagi, selamat atas kehamilan Nona Tiyas. Kalau begitu saya permisi," pamit sang dokter yang berjalan cepat dan menghilang dibalik pintu. 


Menyisakan sepasang suami istri yang menatap sendu sang anak. 


"Ini lebih rumit dari apa yang kita pikirkan. Kalau pihak pengadilan tau Tiyas lagi hamil, yang ada proses perceraian malah ditunda," keluh Nirmala sembari meremas tangannya cemas. 


Rudi yang sejak tadi terdiam karena rasa terkejutnya, kini menghela napasnya panjang. Pria paruh baya itu berusaha memutar otak. 


"Apa kita perlu kasih tau Bagas? Bagaimanapun juga Bagas adalah ayah dari anak yang dikandung Tiyas." 


Nirmala terdiam, wanita yang tadinya bersikeras untuk memisahkan Tiyas dengan Bagas kini dilanda dilema. Setelah dipikir-pikir, Tiyas mungkin masih mencintai Bagas. Dan kasihan jika sang anak dijauhkan oleh ayah kandungnya. 

__ADS_1


"Gak perlu, Pi," potong Tiyas dengan suaranya yang lemah dan parau. Wanita itu sudah bangun dari pingsannya saat sang dokter tengah memeriksa keadaanya. 


"Dek, apa yang kamu rasain? Pusing? Mual? Mau minum yang anget-anget?" tanya Nirmala dengan bertubi-tubi. Mengingat Tiyas yang jarang makan membuat wanita itu kini khawatir dengan kondisi anak dan calon cucunya. 


Tiyas menggeleng pelan. Ia membawa tangan sang Ibu untuk digenggam sembari melemparkan senyum tipis. 


"Aku baik-baik aja kok, Mi. Gak perlu khawatir." 


Nirmala menghela napas lega. Langsung dipeluknya tubuh sang anak yang terbaring lemah itu dengan lembut. Tanpa sadar setetes air mata turun, mengasihani takdir yang menimpa anak semata wayangnya. 


Begitu juga dengan Rudi. Pria paruh baya itu langsung menghampiri sang anak, membungkuk ia dan mengecup kening Tiyas dengan lembut. 


"It's okay,"ucapnya berusaha untuk menenangkan hati anak tercintanya. 


Mendengar kata-kata itu dari sang Ayah membuat Tiyas tak bisa menahan tangisnya. Wanita muda itu langsung menangis sejadi-jadinya. Menangisi takdir yang begitu kejam kepadanya. Menangis tentang bagaimana kehidupan sang anak kedepannya, meratapi sang ayah kandungnya yang akan menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat ini. 


"Mami sama Papi ada disini, Dek. Kamu gak perlu takut, kita besarkan anak kamu bareng-bareng ya. Gak perlu ada orang lain, kasih saya kami cukup untuk kalian berdua." 


Tiyas tidak menjawab, wanita itu masih sibuk mengeluarkan kesedihannya yang ditahan selama tiga bulan ini. Baru kali ini Tiyas menumpahkan semua air matanya, padahal sebelumnya bertemu dengan orang tuanya pun enggan. 


"Gak perlu kasih tau Bagas, Pi," celetuk Tiyas setelah berhasil meredakan tangisnya. Ia menatap sang Ayah dengan wajah yang berantakan. "Sebentar lagi dia bakal tunangan. Gak ada guna kita kasih tau dia, aku gak mau ketemu lagi sama Bagas." 


Tiyas tahu bahwa ini semua berawal dari semua kebohongan yang dilakukannya. Wanita itu tentunya bisa menjelaskan alasannya melakukan ini, tetapi Bagas tidak sudi untuk mendengarkannya. Pria itu mengusirnya, tidak lagi menghubunginya, dan sekarang dia akan menikah dengan Stefanny. 


Pantas untuk Tiyas merasa kecewa. Jika saja Bagas lebih sedikit bersabar, lebih bisa mengontrol emosinya. Mungkin mereka tengah berbahagia mendapat kabar kehamilan ini. Dan Tiyas tidak ingin Bagas mengetahui kehamilannya, bisa saja pria itu akan membawa kabur anaknya setelah lahir. Keluarga Wiguna semuanya sama saja. 


Rudi mengangguk mengerti. Tentunya Tiyas sudah memikirkan hal itu dan sebagai orang tua tentu akan menuruti kemauan putrinya. 


"Oke, Papi akan urus segera perceraian kalian. Kita sembunyikan semua fakta kehamilan kamu." 

__ADS_1


Tiyas tersenyum getir, ia berterima kasih kepada sang Ayah dengan segenap hatinya. Lagi-lagi tempat ternyamannya pulang adalah keluarganya. Meski cintanya begitu besar untuk Bagas, mulai sekarang wanita itu akan mengubur semua perasaan tersebut dalam-dalam. 


"Kamu gak perlu khawatir, Dek. Mami akan mengerahkan semua tenaga untuk kebahagian kamu dan cucu kami," ungkap Nirmala sekali lagi, demi menenangkan hati putrinya yang mungkin saja masih merasa sedih. 


Tapi rasa takut jelas memenuhi otak Tiyas setelahnya. Meski keluarganya akan selalu melindunginya, Tiyas takut Bagas akan mencarinya. Karena kehamilannya jelas tidak mungkin disimpan selamanya. Berada di satu kota jelas riskan. 


"Mi, apa boleh aku tinggal diluar negeri aja?" tanya Tiyas dengan tatapan memelasnya. 


Kening Nirmala berkerut dalam.


"Kenapa harus jauh-jauh? Disini juga Mami jamin keselamatan kamu. Kalau jauh disana, Mami gak bisa sering-sering kontrol kamu. Kandunganmu itu masih muda banget loh, Dek. Gak boleh ikut penerbangan jauh." 


"Disini semua sulit banget, Mi. Kenangan aku sama Bagas terlalu banyak walau kami baru sebentar. Aku gak sanggup kalau berita pertunangan mereka terdengar ditelingaku," tanggap Tiyas dengan tatapan sendunya.


Mungkin ini faktor hormon kehamilannya. Entah kenapa setiap kali mengingat Bagas, perasaannya selalu melow. Padahal saat kakinya melangkah keluar rumah Wiguna, Tiyas dengan tegas menerima semua akibat yang diperolehnya. 


Rudi yang tentunya mengerti bagaimana khawatirnya sang istri kepada Tiyas jika jauh dari pandangan mereka. Juga tahu tentang perasaan Tiyas yang masih mencintai suaminya, meski sekarang telah muncul rasa kecewa.


Pria paruh baya itu menepuk bahu sang istri, memberikan anggukan pelan sembari tersenyum tipis. 


"Sudahlah, ikuti saja kemauan Tiyas. Mungkin emang lebih baik dia pergi ke tempat yang jauh, lebih bagus untuk perkembangan janinnya. Kalau kamu mau jenguk, silahkan aja." 


Nirmala sejenak terdiam, kemudian menghela napasnya panjang. Berat rasanya jika terpisah antar negara apalagi jika itu antar benua. Tiyas yang kemarin jadi istri Bagas saja Nirmala sudah cepat rindu. Apalagi sekarang dan ditambah dengan kehadiran sang cucu.


"Oke deh, Mami turutin. Emang kamu mau kemana, Dek? Jangan yang jauh-jauh banget," ucap Nirmala berusaha untuk memberi batasan kepada sang putri semata wayangnya. 


Tiyas tersenyum tipis, wanita itu menatap sang Ibu dengan pandangan tak terbaca.


"Aku maunya yang jauh, Mi. Jauh banget." 

__ADS_1


__ADS_2