
"Tiyas! Buka Tiyas! Maafin gue, tolong buka! Lo masih hidup kan? Jangan bikin gue kira lo mati ya!"
Teriakan-teriakan itu terus berulang berkali-kali, diiringi dengan ketukan pintu yang memekakan telinga.
Tiyas sudah menutup telinga dengan bantal sejak lima menit yang lalu. Tak dihiraukannya teriakan itu, karena kantuknya masih terasa berat. Wanita itu masih butuh tidur setidaknya dua sampai tiga jam lagi.
"Tiyas! Gue dobrak nih pintu ya kalau sampe gak keluar!"
Teriakan itu kembali terdengar. Sekarang bukan hanya ketukan, tapi beberapa kali terdengar tendangan di sana.
Tiyas mengerang kesal. Tidur nyenyaknya kini terganggu, matanya yang masih berat itu terpaksa ia buka sedikit. Semakin mengerang ia karena tahu bahwa sekarang baru pukul tujuh pagi.
"Demi Tuhan!" pekik Tiyas dengan kesal. Ia merubah posisi tidurnya menjadi telungkup, bantalnya masih setia menutup telinganya.
Hening beberapa saat kemudian. Tiyas menghela napas lega, ia bermaksud untuk menyambung tidur dan mimpi indahnya. Sayang seribu sayang, gedoran pintu semakin membabi buta. Wanita itu membalikkan posisinya menjadi terlentang, kakinya terangkat menendang-nendang udara dengan kesal.
Dengan mata yang merah dan tidak terbuka sepenuhnya. Tiyas dengan paksa menyeret langkahnya untuk sampai di depan pintu kamar dan memutar kuncinya hingga akhirnya pintu tersebut terbuka. Dan tampaklah Beby, sahabatnya itu berdiri dengan beruraian air mata.
"Maafin gue!" teriaknya kembali kini lebih keras. Tubuhnya ia lemparkan pada Tiyas hingga membuat keduanya lantas oleng. Untung saja kuda-kuda kaki Tiyas cukup tangguh hingga tidak membuat mereka terjatuh.
"Duh!" keluh Tiyas yang langsung melepaskan pelukan Beby dengan kasar. Tanpa pikir panjang, wanita itu kembali merebahkan dirinya di ranjang dan kembali memejamkan matanya.
Bibir Beby mengerucut kesal, kakinya ia hentakkan. Tanpa permisi, Beby melemparkan tubuhnya diatas Tiyas hingga si empunya mengerang kesal.
"Ah! Turun sekarang, Beb. Gue gak bisa napas!" pekik Tiyas seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Beby segera menyingkir dari sana.
Beby menggeleng keras. Bukannya dilepas, ia semakin mendekap Tiyas dengan erat.
"Gak! Gue gak akan lepas, sebelum lo maafin gue!"
Tiyas berdecak kesal. Wanita itu beberapa kali mengambil napas dengan rakus.
"Badan lo berat, gila! Turun sekarang atau lo gak gue maafin selamanya!"
__ADS_1
Dengan segera, Beby melepaskan pelukannya. Kini ia duduk di tepi ranjang dengan manis.
"Sekali lagi gue minta maaf atas kejadian semalam."
"Lo kenapa ninggalin gue sih?!" gerutu Tiyas yang kini membalikkan tubuhnya menghadap Beby. "Lo gak liat gue jatuh dan kacau semalam?!"
Beby menggigit bibir bawahnya merasa bersalah.
"Gue mau samperin, tapi keburu my honey bunny sweety duluan. Mana abis itu calon suami lo dateng lagi, gue gak mau ikut-ikut dalam permasalahan kalian."
Tiyas menatap sahabatnya itu dalam diam. Bergerak ia mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang. Menghela napas berat wanita itu.
"Gue gak tau kalau kedatangan bang Arya malah bikin Bagas salah paham. Dia kira gue sama bang Arya pacaran."
"Tapi emang perlakuan bang Arya ke lo tuh beda, Yas," sahut Beby dengan wajah sendunya. "Gue juga suka cemburu kalau liat bang Arya lagi perhatian ke lo."
"Gue anggap dia sebagai abang gue sendiri, gak lebih. Lo tau itu, jadi gak usah cembara-cemburu," balas Tiyas dengan tegas. Matanya memutar bosan karena pembahasan ini pastinya selalu saja terjadi.
"Jadi sekarang kalian gimana?"
"Udah gak ada hubungan apa-apa," jawab Tiyas seraya mengedikkan bahunya. "Gue udah bilang ke kakek Chandra bahwa gue gak mau melanjutkan perjodohan ini."
"Lo yakin?" Alis Beby terangkat, ada sedikit rasa ragu terhadap perkataan Tiyas. "Gue rasa kalau perjodohan begini, mau alasan apapun tetap aja dilanjutin."
"Dan harus dapat penghinaan sama kata kasar, terus hadapi dia yang emosinya meledak-ledak?" Tiyas menggeleng tegas. "Gak! Gue gak mau!"
Beby menghela napas panjang. Dipeluknya sahabatnya itu, menyalurkan energi positif darinya.
"Gue cuma bisa doa yang terbaik aja deh," ucapnya dengan senyum tipis. "Tapi gimana kalau Bagas minta lo buat lanjutin perjodohan ini?"
Tiyas seketika terdiam. Di dalam otaknya, tentu dengan lantang ia tidak akan menerima Bagas kembali. Tapi benar kata Beby, biasanya perjodohan seperti ini tidak akan bisa putus begitu saja. Terlebih tradisi ini sudah dilakukan selama beberapa generasi.
"Mungkin kalau Bagas, gue masih bisa nolak. Tapi kalau kakek Chandra gue agak ragu, apakah gue bakal bisa nolak sekeras gue nolak Bagas?" tanya Tiyas seakan berbisik kepada dirinya sendiri. "Kayaknya gue gak bisa menghindari pak tua yang satu itu."
__ADS_1
Beby menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.
"Daripada lo yang ikuti alur mereka. Kenapa gak buat mereka yang ikutin permainan lo? Dibanding lo menolak perjodohan ini, kenapa gak bikin Bagas jadi jatuh cinta ke lo? Gue yakin, cowok model kayak Bagas kalau udah cinta semua bisa dia pertaruhkan. Termasuk berubah jadi lebih baik."
Tiyas melirik sahabatnya dengan wajah yang sendu.
"Kalau dipikir-pikir, gue gak mau nikah kedua atau ketiga kali dalam hidup gue. Maunya gue nikah sekali seumur hidup bersama dengan orang yang gue cintai. Tapi kalau jodoh gue keluarga Wiguna, kayaknya susah deh."
Setelah merenung sepanjang malam. Tiyas kembali berpikir bahwa ia tak ingin pernikahan ini membawanya dalam perceraian. Walau awalnya karena perjodohan, siapa tahu lama-lama akan timbul nyaman diantara mereka.
Sejenak Tiyas berencana akan membongkar identitas aslinya. Tetapi dirinya masih ragu. Mendapati bagaimana penghinaan Bagas padanya membuat Tiyas sakit hati.
"Gue yakin Bagas gak seburuk yang lo kira. Kalau yang gue amati semalam, perilaku calon suami lo itu kayak orang yang lagi cemburu. Wajar sih, dia kan liat gimana bang Arya memperlakukan lo dengan lemah lembut. Pasti rasa cemburu itu ada," ungkap Beby dengan kepalanya yang dianggukan. Merasa masuk akal dengan perkataannya sendiri.
Tiyas tertawa getir, kepalanya kemudian menggeleng.
"Lo gak tau gimana dia ngehina gue dan bikin harga diri gue diinjak-injak. Mustahil dia cemburu sama gue."
Beby mengedikkan bahunya.
"Kan gue cuma melihat apa yang gue lihat malam itu."
"Dia cuma manfaatin gue, Beb," sahut Tiyas dengan sedikit tarikan pada ujung bibirnya. "Dia sendiri yang bilang itu kemarin, tapi dia gak jawab karena apa. Tapi kalau gue pikir-pikir, mungkin karena cewek yang namanya Stefanny."
"Model yang katanya bakal jadi calon menantu Wiguna?" tanya Beby dengan mata yang membelalak lebar.
Tiyas menganggukan kepalanya.
"Gue bisa tau kalau seluruh keluarga Wiguna gak suka salah satu dari mereka adalah orang miskin. Dan gue dapat informasi kalau Bella dan Stefanny satu agensi, mereka berdua pasti dekat banget."
"Jadi, apa yang mau lo perbuat setelah ini?"
"Kalau Bagas aja bisa memanfaatkan gue. Maka gue juga bisa melakukan hal kayak gitu! Gue akan bayar sakit hati atas penghinaan dia terhadap gue."
__ADS_1