
Tiyas menatap ke bawah dari atas balkon kamarnya. Memanatu sang suami yang tengah menjalani hukuman. Karena hukuman cambukan dari Chandra terlalu kejam bagi Tiyas, maka wanita itu memutuskan untuk menghukum Bagas berdiri menghadap balkon kamar mereka dari taman belakang rumah.
"Ini sampai kapan?" tanya Bagas sembari memicingkan matanya. Tentu saja hari belum berganti, matahari masih setia berada diatas. Meski tidak terlalu terik, tetapi cahayanya tepat berada di atas kepalanya.
Tiyas mengedikkan bahunya sembari tersenyum geli.
"Sampai saya suruh buat berhenti, Mas."
"Kapan?" tanya Bagas dengan tidak sabaran. Padahal hukumannya baru berjalan selama sepuluh menit.
"Suka-suka saya," ucap Tiyas dengan dengusan geli. Wanita itu melambaikan tangannya kepada sang suami dengan riang. "Saya masuk dulu ya, Mas. Mau tidur siang, gak boleh curang loh!"
"Siap bos!" seru Bagas yang mengawali kepergian sang istri.
Pria itu kemudian menurunkan pandangannya ke bawah. Matanya berkunang-kunang karena cahaya sinar matahari yang mengenai matanya.
"Kak!"
Bagas yang merasa dipanggil menoleh. Disana ada kedua orang tuanya dan Bella yang sedang menahan tangis.
"Mau kemana?" tanyanya melihat banyaknya koper yang mereka angkut.
Bella menghela napasnya sedih.
"Pergi, kami diusir Kakek. Kak Bagas gak mau tahan kami?"
Pria itu terdiam, menatap sang Ibu yang sepertinya baru selesai menangis. Kemudian bergantian menatap sang Ayah yang sepertinya terlihat lebih legowo.
"Gak. Aku pikir hukuman Kakek malah terlalu ringan. Ini bukan berarti aku gak sayang sama kalian, tapi Tiyas juga istriku. Menghina dan memfitnahnya jelas bukan perilaku baik."
"Sudahlah, Bella. Ayo pergi, taksi sudah menunggu dari tadi," celetuk Restu yang sudah terlihat lelah dan timbul perasaan jengkel. Pria paruh baya itu menatap sang anak dengan dalam. "Papa pergi dulu. Kamu pintar-pintar jaga diri."
Bagas mengangguk, ia masih tetap berdiri disana. Tidak menghampiri keluarganya untuk memberikan pelukan perpisahan.
"Hati-hati dijalan."
Bella yang masih merengek pada sang Kakak langsung ditarik paksa. Sedangkan sang Ibu tak sedikitpun menoleh pada Bagas.
Setelah kepergian keluarganya, Bagas masih terdiam disana. Pria itu tidak terlalu mengkhawatirkan mereka, karena pasti sang Ayah sudah mempunyai persiapan.
"Tuan Muda, anda sedang apa disini sampai berkeringat?" tanya Maria dengan nada panik. Niat hati ingin bersantai setelah melaksanakan tugasnya dengan memulangkan anak buahnya. Malah dikejutkan dengan sikap Bagas. "Ayo masuk. Saya akan siapkan minuman dingin untuk anda. Kalau jatuh sakit bagaimana?"
Bagas tersenyum kecil. Ia menggeleng pelan sembari mengangkat tangannya tanda penolakan.
"Gak, Maria. Kekebalan tubuh saya kuat, gak bakal saya pingsan cuma karena berdiri seharian seperti ini. Lagipula saya takut dimarahi."
__ADS_1
Maria yang ikut melihat tatapan mata Bagas keatas, akhirnya tahu apa yang menyebabkan majikannya melakukan hal seperti ini.
Tiyas yang sedari tadi memang tak bisa tidur dan berniat mengintip sang suami kini memasang wajah datar.
"Maria, dia lagi dikasih hukuman. Jangan dibantu, curang namanya!"
"Tuh!" sahut Bagas dengan berbisik sembari mesem-mesem karena gemas melihat wajah istrinya yang tertekuk. Pria itu segera menggerakkan tangannya kepada Maria. "Udah, sana-sana. Kalau istri saya ngambek, susah mau bujuknya."
Wanita paruh baya itu mengangguk paham. Kemudian menatap Tiyas sembari sedikit membungkukkan tubuhnya. Kemudian segera masuk kedalam mansion. Mungkin ia harus beristirahat di kamarnya sembari mencari pekerja baru.
"Berdirinya yang tegak!" teriak Tiyas dengan matanya yang melotot tajam.
Bagas yang mendengar itu lantas memperbaiki posisinya sembari tersenyum kecil menatap sang istri.
"Gak usah senyum-senyum!" sentak Tiyas dengan mendelik sinis. Wanita itu segera masuk kedalam kamarnya dengan cepat, berusaha untuk tidak salah tingkah. Tetapi sulit rasanya.
Diluar Bagas hanya bisa menggeleng pelan. Istrinya yang mudah salah tingkah serta kekanakan sudah kembali. Tidak ada lagi Tiyas yang marah, menangis, kesal dan dingin. Semua sifat sang istri yang tidak Bagas sukai, karena membuatnya tidak bisa dekat dengan sang istri.
Menit berganti jam, Bagas mulai kehausan. Tetapi tidak ada satupun orang disana, baik Tiyas maupun pegawai lainnya. Bagas menghela napas pelan sembari menatap awan yang semakin lama semakin gelap. Langit yang awalnya berwarna biru kini berganti kelabu. Mungkin hujan sebentar lagi akan datang.
"Tuan Muda, sebaiknya anda masuk sekarang! Sebentar lagi mau hujan!" teriak Maria yang seperti kebakaran jenggot.
Meski hukuman Bagas tidak seberat yang akan dilakukan oleh Chandra. Tetapi sebagai seorang yang lebih tua terlebih mengurus Bagas dari kecil, membuat Maria tidak tega.
Bagas tersenyum lega setelah mendapati Maria disana.
"Dibanding saya yang antar kesini, kenapa gak Tuan Muda saja yang ikut masuk dengan saya?" saran Maria dengan matanya yang bergerak panik saat setetes demi setetes air hujan mulai membasahi bumi.
Tetapi anak majikannya itu memang keras kepala. Bagas tetap menggeleng tegas, bahkan ketika hujan kini tidak lagi datang dengan damai. Secara tiba-tiba, air hujan langsung turun dengan derasnya.
Maria bahkan terlonjak kaget dan bermaksud akan menarik paksa Bagas.
"Jangan! Gak boleh main basah-basahan! Nanti kamu sakit!" pekik Bagas sembari memperingati wanita paruh baya itu.
"Saya gak masalah Tuan Muda, saya sehat dan gak gampang sakit kalau cuma hujan-hujanan seperti ini!" balas Maria dengan memekik karena memang volume hujan yang turun begitu deras.
Tetapi Bagas tetap menolak sembari menggeleng tegas.
"Saya tetap disini sampai Tiyas suruh berhenti."
Maria hanya bisa menggelengkan wajahnya tak percaya, begitu keras kepala sang Tuan Muda. Akhirnya wanita paruh baya itu masuk kedalam meninggalkan Bagas yang masih setia menatap balkon kamar istrinya. Meski tidak ada tanda-tanda sang istri muncul.
"Tega banget!" sungut Bagas kala sampai beberapa menit kemudian tak ada tanda-tanda kemunculan sang istri.
Tepat ketika Bagas memutuskan untuk menundukkan kepalanya karena tidak tahan dengan air yang mengenai wajahnya dengan keras. Seseorang datang dengan payungnya dan melindunginya dari hujan.
__ADS_1
Bagas berdecak kesal.
"Saya udah bilang Maria. Saya tetap disini, gak akan pergi!"
"Serius? Ya sudah, padahal niat saya baik," ucap seseorang yang tentunya Bagas sangat mengenalnya.
Sontak pria itu langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar saat sang istri lah yang berada di depannya.
"Saya pikir kamu bakal hukum saha hujan-hujanan sampai malam."
Tiyas menatap mata sang suami dalam.
"Kenapa kamu gak masuk saja, Mas? Malah hujan-hujanan seperti ini, yang ada kamu sakit, gimana?"
"Kan saya ikuti perintah kamu," sahut Bagas dengan polosnya. "Kalau sakit ya tinggal minta urusin kamu aja."
Wanita itu berdecak kesal sembari menghela napas pelan.
"Maaf, saya ketiduran. Gak dengar kalau hujan turun. Untung Maria tadi bangunin saya. Dingin gak?"
Bagas yang mendengar perhatian sang istri hanya bisa mesem-mesem. Kemudian secara tiba-tiba memeluk sang istri dengan erat hingga Tiyas memekik terkejut. Payung terlepas dan keduanya kini berpelukan dibawah hujan.
"Mas!" panggil Tiyas dengan pekikan dan ingin menyuarakan protes.
"Meluk kamu kayak gini kok jadi hangat ya, gam kedinginan kayak tadi," ucap Bagas yang tidak peduli dengan protes sang istri.
"Gombal!" sahut Tiyas dengan senyum malunya. Wanita itu kemudian menepuk punggung sang suami. "Ayo masuk, nanti bukan cuma kamu aja yang sakit, Mas. Tapi kita berdua."
Bagas masih diam tidak menjawab, pria itu ingin menikmati tubuh sang istri yang telah lama tidak ia dekap dengan perasaan bahagia yang meledak-ledak. Begitu rindu dengan suara lembut Tiyas dan aroma tubuhnya.
Pelukan itu renggang namun tidak terlepas. Bagas memandangi wajah cantik istrinya dan berani bertaruh belum ada yang bisa menandingi kecantikan Tiyas sampai saat ini. Dielusnya pipi sang istri yang begitu lembut, entah perawatan seperti apa yang dilakukan Tiyas selama ini. Membuat Bagas tidak pernah bosan tentang semua yang ada pada istrinya.
"Saya minta maaf, Tiyas. Seharusnya sejak awal saya gak ragu sama pengakuan kamu. Tentunya kamu gak mungkin berbohong dan melakukan hal jahat kayak begitu," ungkap Bagas yang masih merasa menyesal hingga saat ini.
Tiyas mengangguk pelan sembari memberikan senyum tipisnya.
"Sudah saya maafkan, Mas. Mungkin semua yang terjadi ada hikmahnya," balasnya sembari ikut mengelus pipi suaminya. "Selamat ulang tahun, Mas Bagas. Maaf ucapannya terlambat, yang penting saya sudah ucapin."
Bagas tergelak dalam tawanya. Pria itu menggesek hidung mancung dengan hidung sang istri dengan gemas.
"Tiyas, saya gak bisa tahan lagi. Boleh saya cium kamu?"
Mungkin jika kemarin-kemarin Tiyas masih canggung dan menimbang dengan ragu. Kini wanita itu mengangguk setuju tanpa pikir panjang.
"Boleh, Mas."
__ADS_1
Dan yang terjadi selanjutnya, sepasang suami istri itu saling mengungkapkan rasa cinta mereka melalui sebuah ciuman panjang dibawah hujan deras yang membawa semua keraguan pada cinta mereka mengalir menjauh.
Selamat berbahagia Bagas dan Tiyas.