
Adegan romantis bak drama Korea terhenti tatkala anak kecil yang tadi tak sengaja menabrak Tiyas menarik-narik baju keduanya.
"Om, Tante, Sakha minta maaf," rengek bocah kecil itu dengan matanya yang telat berlinang. Raut wajahnya tampak menyesal.
Tiyas berdehem, gerakannya terlampau cepat hingga hampir terpeleset untuk kedua kalinya. Untuk refleks Bagas cukup bagus untuk kembali menangkap pinggang ramping istrinya.
Pasangan suami istri itu melirik orang tua bocah yang berdiri disana, memperhatikan anaknya tengah meminta maaf karena kenakalannya.
"Minta maaf yang benar, Sakha," tutur sang Ayah dengan nada berat dan tegas.
Merasa bahwa bocah laki-laki itu akan menangis, Tiyas dengan cepat membungkuk seraya menggenggam tangan mungil tersebut.
"Dimaafin, kok. Lain kali jangan lari-larian di tempat rame kayak gini ya, bahaya. Selain bisa melukai orang lain, kamu juga bisa melukai diri sendiri," nasehat Tiyas pelan dengan senyum lembutnya. Wanita itu tidak tahan untuk tidak mengelus rambut bocah yang berbentuk mangkuk itu. "Udah, jangan nangis. Laki-laki memang harus berani buat bertanggung jawab. Sakha keren kok!"
Sakha, bocah laki-laki itu tersenyum lima jari saat mendapat pujian dari Tante cantik di depannya.
"Makasih ya Tante," sahutnya sembari membungkuk sopan.
Tiyas gelagapan sekaligus bangga dan terharu. Wanita itu tertawa kecil sembari menyodorkan kelingkingnya.
"Janji ya, gak boleh kayak tadi?"
Sakha mengangguk dengan semangat. Bocah itu menyambut kelingking Tiyas dengan jari kelingkingnya yang mungil.
"Janji!" serunya dengan senang.
Wanita itu kemudian menegakkan punggungnya, membiarkan Sakha berlari ke pelukan orang tuanya.
"Sekali lagi saya minta maaf ya Mas, Mbak. Sakha baru pertama kali kesini bareng saudaranya, jadi kelewat senang sampai nabrak orang," sesal wanita yang masih mudah itu, Ibu dari Sakha.
Tiyas menggeleng pelan.
"Gak apa-apa, namanya anak-anak, Mbak."
Kedua orang tua dan Sakha akhirnya pamit sembari mengucapkan permintaan maaf sebelum pergi. Meninggalkan Bagas yang kini menatap kagum kepada istrinya. Entah sudah berapa kali pria itu terpesona dengan sikap Tiyas.
"Kayaknya kita udah cocok deh punya anak," celetuk Bagas dengan senyum anehnya.
Tiyas menoleh pada sang suami dengan delikan tajam.
__ADS_1
"Ngomongnya gak usah macem-macem!"
Bagas mengedikkan bahunya tak peduli.
"Gak macem-macem. Orang cuma satu macem doang."
Dengan berdecak kesal, Tiyas memilih untuk meninggalkan Bagas di sana. Wanita itu berjalan cepat sembari tatapannya fokus pada biota laut yang di fotonya.
Bagas hanya bisa terkekeh gemas sekaligus getir. Sepertinya butuh perjuangan untuk bisa meluluhkan hati Tiyas. Padahal mereka sudah sedekat ini, tetapi untuk menembus hati wanita itu Bagas kepayahan. Begitu susah didobrak atau karena usahanya memang belum maksimal.
Underwater Tunnel sepanjang 80 meter sudah mereka lewati. Kini mereka berada di wahana Touch Pool, dimana mereka bisa berinteraksi secara langsung dengan biota laut. Seperti bintang laut dan penyu yang bisa disentuh. Serta hiu pemangsa dan hiu jinak yang hanya bisa dilihat dari jarak dekat.
"Pegal gak?" tanya Bagas kepada sang istri yang sejak tadi tidak berhenti berjalan. Bahkan kakinya yang pendek, berjalan lebih cepat dari Bagas.
Tiyas menggeleng semangat, kepalanya menoleh pada Bagas dengan senyum miringnya.
"Mas capek ya? Mending istirahat aja, saya masih mau lihat-lihat."
"Saya gak capek!" balas Bagas dengan sedikit tinggi. Ia tidak suka dipandang lemah apalagi di hadapan wanita, walaupun memang kakinya tidak terbiasa untuk berjalan lama.
Dengan agenda hampir 24 jam di kantor, duduk didepan komputer dan pulang pergi menggunakan mobil. Tentu kakinya tidak sekuat itu. Bahkan melakukan fitnes rutin seminggu sekali, tentu bukan berarti sanggup mengikuti langkah Tiyas hari ini.
Memang orang-orang seperti itu kuat sekali untuk berjalan. Bagas cukup salut dengan sang istri.
"Oke, biasa aja ngomongnya," sindir Tiyas dengan memutar bola matanya malas.
Langkahnya semakin dipercepat dan seakan seperti berlari kecil. Kini wanita itu sudah lebih dulu sampai pada sebuah tempat dimana ada beberapa ekor penyu di sana. Beberapa orang yang mengelilingi tempat itu juga sedang menyentuh penyu secara cuma-cuma.
"Wah, lucunya!" serunya bermolog sendiri. Senyum lebarnya kembali menghiasi wajah cantiknya.
Bagas yang kini mendapati sang istri sudah menghilang di balik kerumunan hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin untuk kedepannya, pria itu akan membawa Tiyas ke tempat wisata yang hanya ada satu wahana.
Beruntung tubuhnya cukup tinggi dan matanya jeli mengenali tubuh istrinya, dengan cepat Bagas menemukan Tiyas dibalik kerumunan orang-orang.
"Ada bagusnya saya gandeng tangan kamu biar gak hilang kayak anak kecil," keluh Bagas yang kini berada di belakang tubuh Tiyas dengan sedikit membungkuk.
Tiyas yang merasakan napas hangat di pipi kirinya hanya bisa pura-pura santai dan tidak ingin terlihat gugup.
"Walaupun saya keliling di tempat ini, Mas tenang aja. Saya pasti bisa keluar tanpa harus Mas dateng ke pusat informasi."
__ADS_1
Bagas melirik istrinya kesal, selalu saja ada perkataannya yang dibantah. Dengan dongkol, pria itu meniup telinga Tiyas hingga dibuahi protes oleh sang empunya.
"Mas, geli!" protesnya dengan pekikan tertahan. Tahu diri untuk tidak berteriak sesuka hati di tempat ramai seperti ini.
"Hukuman karena kamu nakal. Pernyataan saya selalu kamu jawab, gak sopan begitu," timpal Bagas dengan keningnya yang mengkerut.
Tiyas hanya membalas dengan ejekan. Kemudian fokusnya kini teralihkan pada penyu yang tengah disentuhnya. Binar matanya berubah hanya dalam hitungan detik. Dari dulu ia gemar memelihara kura-kura, tetapi selalu saja tidak bertahan lama. Padahal sudah dirawat sebaik mungkin, malangnya umur makhluk kecil itu tidak panjang
Bagas ikut menatap penyu yang tengah istrinya sentuh. Pria itu juga penasaran bagaimana tekstur permukaan cangkang penyu, tapi Bagas tidak memiliki keberanian. Dengan serangga saja sulung Wiguna itu bisa teriak layaknya wanita. Dan penyu adalah hewan aneh di matanya.
Pria itu ingin sang istri untuk berpindah ke tempat yang lain, namun sesuatu di bawahnya mendesak ingin keluar dan tak bisa ditahan.
"Saya mau ke toilet dulu!"
"Oh, yaudah sana!" titah Tiyas saat melihat wajah memerah Bagas. Anehnya pria itu masih bertingkah sok tampan, bisa dilihat dari cara berjalannya yang begitu tenang. Wanita itu hanya bisa menggeleng sembari mencari spot wahana yang lain.
Baru saja kakinya akan melangkah. Ponsel Bagas di tangannya bergetar, ada sebuah panggilan masuk di sana. Tidak ada namanya dan Tiyas berniat untuk membiarkannya saja sampai sang suami kembali.
Tetapi sepertinya orang ini tidak berhenti menghubungi, seperti ada hal penting yang harus dikatakannya.
Maka dengan ragu, Tiyas menjawab panggilan tersebut.
"Halo?"
"Halo, Gas! Kamu kemana aja sih dari kemarin? Gak ada kabarnya!" pekik kesal seseorang di seberang.
Tanpa jeda waktu yang lama, Tiyas bisa tahu bahwa yang tengah menghubungi suaminya adalah wanita bernama Stefanny.
"Mas Bagas lagi ditoilet, kami sedang berbulan madu di hotel sekitaran Ancol," jawab Tiyas dengan nada angkuhnya. Stefanny harus sadar bahwa kini Bagas punya seseorang yang menjadi prioritasnya.
Decakan kesal terdengar dari seberang. Dengan tertawa lirih namun terdengar seperti mengejek.
"Setelah lo berhasil buat Bagas mukul orang, bisa-bisanya kalian pergi bulan madu. Lo kasih jampi-jampi apa biar Bagas tunduk, hah?!"
Tiyas sontak memejamkan matanya, ponselnya sesaat ia jauhkan dari telinga. Kemudian setelah telinganya tak lagi berdenging, wanita itu kembali mendekatkannya.
"Jangan asal tuduh, Mbak. Lagipula saya punya masalah apa sama kamu, sampai marah-marah gak jelas kayak gini?!"
"Gak usah pura-pura bego deh lo! Gak mungkin dari kalian gak buka sosial media!" Tak ada kalimat santai di setiap kata dari Stefanny. "Mending suruh Bagas pulang. Tante Indah lagi drop karena berita anaknya yang mukulin orang dengan brutal."
__ADS_1