Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 28


__ADS_3

"Sudah selesai kata Stefanny," ucap Jonathan sembari melirik sahabatnya yang tengah melamun. 


Saat ini mereka tengah berada dermaga pantai, cukup jauh dari lokasi pemotretan. Semua atas keinginan Bagas yang tampaknya tak cukup nyaman berada disana, hatinya juga menjadi panas. Dan mereka sudah hampir satu jam berdiri, namun Jonathan tidak berani untuk mengeluh. 


Bagas yang tengah bersandar di pagar dermaga sembari melihat matahari terbenam kini mulai bergerak. 


"Ayo," ajaknya pada Jonathan dengan santainya.


"Pulang?" tanya Jonathan yang ikut menyusul langkah lebar Bagas. Bisa-bisanya si bos tidak memikirkan dirinya. 


"Iya, lo dan Stefanny yang pulang," balas Bagas dengan santainya. Pria itu memasukkan kedua tangannya di saku celana saat angin berhembus dan menusuk kulitnya. 


Kening Jonathan kembali mengkerut. Ia kemudian menarik tangan sahabatnya hingga keduanya berhenti berjalan. 


"Terus lo mau ngapain disini?" 


Bagas menghela napasnya kesal. Jonathan ini pura-pura tidak tahu atau memang otaknya ketinggalan di kantor. 


"Mau bulan madu, puas lo?! Gue ini cowok dan udah punya istri, lo pikir ada ditempat sebagus ini gue harus apa?!" 


"Ups!" Jonathan langsung saja melepas pegangannya pada tangan Bagas, kemudian pria itu hanya bisa terkekeh hambar. "Gue suka lupa kalau lo yang dari dulu gak punya pacar ternyata sudah punya istri sekarang." 


Bagas berdecak kesal sembari memutar bola matanya malas. 


"Udahlah, cepetan. Ntar bini gue keburu disosor orang." 


Mengingat ada Jovan di sana membuat pikiran Bagas tidak tenang. Tetapi juga tidak sanggup jika harus berada disana. 


Jonathan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sikap sahabatnya ini benar-benar menggebu dan menjadi tidak sabaran setelah menikah. Padahal sebelumnya Bagas selalu mementingkan dirinya sendiri dan berada dalam jarak aman. 


Cukup membutuhkan tenaga yang ekstra karena Jonathan baru tersadar kalau mereka memang mengambil jarak cukup jauh dari lokasi awal. Dan ketika sampai pria itu hanya bisa terengah-engah dan membiarkan Bagas mencari istrinya. 


Meninggalkan asistennya yang tengah mengambil banyak oksigen, Bagas langsung berhenti dan mengedarkan pandangannya. Karena terlalu banyak orang, pria itu cukup kesulitan menemui istrinya. 


Tetapi tidak butuh waktu lama ketika matanya kini menangkap keberadaan sang istri dan sosok yang sudah ia duga selalu menempeli Tiyas. Dan semakin naik pitamnya saat sang istri dipeluk dan mendengar perkataan pria itu. 

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Bagas segera melangkah cepat melewati sang istri dan memberikan beberapa bogeman mentah bahkan ketika Jovan sudah jatuh terbaring. 


"Jangan mimpi kamu bisa miliki istri saya!" bisiknya dengan menekan setiap perkataannya. 


Jovan yang memang tidak menduga bahwa Bagas akan datang tentunya tak ada persiapan. Pria itu akhirnya hanya pasrah menahan sakit saat Bagas melayangkan pukulan demi pukulan ke wajahnya. 


Sedangkan di sana, Tiyas berdiri termenung sebelum akhirnya sadar dengan perbuatan Bagas. 


"Mas!" jeritnya yang panik melihat Jovan sudah babak belur seperti itu. "Mas Bagas, sudah!" 


Bukan hanya Tiyas yang saja panik, tetapi para staf yang masih ada disana termasuk Beby, Stefanny dan Jonathan. 


Yang lebih dulu menghampiri Bagas adalah Jonathan, pria itu segera menariknya dari belakang tetapi sahabatnya sudah seperti dimasuki iblis. Kekuatannya besar hingga Jonathan terlempar ke belakang. 


"Mas!" jerit Tiyas sekali lagi. Dengan kekuatan yang dimilikinya, wanita itu segera menarik Bagas dan mendorongnya dengan kuat. "Sudah, Mas!" 


Bagas menggeram, ia menepis tarikan Tiyas pada tangannya dan berniat akan menghampiri Jovan yang sudah tak berdaya. Para staf disana hanya terpaku tanpa berniat menolong. Sedangkan Beby dan manajer Jovan langsung bergerak menolong pria tersebut. 


"Minggir!" bisik Bagas sembari menatap tajam sang istri. Luapan emosinya masih membara dan belum terpuaskan, pria itu masih ingin memberikan pelajaran yang berharga bagi Jovan. 


Tiyas menghela napasnya panjang sembari menutup matanya sebentar. Lelah sudah dengan semua yang terjadi dalam hidupnya sejak kedatangan Bagas. 


Bagas berdecih kesal, kemudian satu alisnya terangkat. 


"Oh, kamu bela dia? Atau kamu emang suka sama dia? Seneng dong kamu dipeluk-peluk terus sama tuh cowok!" 


"Gak gitu!" pekik Tiyas tertahan. Ia segera menggenggam telapak tangan Bagas yang mengepal dan buku jarinya yang mulai memerah. "Saya mikirin reputasi kamu, Mas. Kamu gak lihat mereka semua siapa? Mereka itu media dan pastinya berita seperti ini akan menguntungkannya. Jovan itu artis yang lagi naik daun, semua pasti berbondong-bondong membelanya. Sedangkan kamu akan terkucilkan dan jadi buah bibir." 


Kepalan tangan Bagas mulai melemah karena elusan jari Tiyas disana. Amarahnya sedikit demi sedikit mulai mereda. 


"Saya suruh kamu berhenti bukan berarti saya suka sama dia. Tapi saya gak mau nama kamu jadi buruk dimata orang-orang termasuk kolegamu. Saya tahu kalau media sekejam itu, Mas," sambung Tiyas berbisik pelan sembari menghela napasnya. 


Wanita itu melirik Jovan yang sudah dibawa pulang oleh Beby dan manajernya. Sedangkan para staf berangsur mulai meninggalkan lokasi dengan berbagi cerita tentang pemukulan tadi. Kini hanya tersisa sepasang suami istri tersebut, serta Jonathan dan Stefanny. 


"Ayo pulang, gue antar sampai rumah," tawar Jonathan sembari menarik tangan Stefanny. 

__ADS_1


Model cantik itu masih bergeming ditempatnya. Menatap dengan pandangan tersirat kepada sepasang suami istri itu. 


"Gue gak pernah melihat Bagas semarah itu. Bahkan ketika bawahannya melakukan korupsi besar-besaran.":


Jonathan menghela napasnya sembari menggaruk pelipisnya. Ia juga baru kembali menemukan Bagas dengan kemarahannya yang sebesar ini. Terakhir mungkin sekitar beberapa tahun lalu saat adiknya diusir dari mansion utama. 


"Udahlah, biarin aja Bagas sama istrinya. Mending lo pulang sekarang sama gue, udah malam," ajak Jonathan yang kembali menarik Stefanny. Untungnya wanita itu tidak memberikan penolakan meski wajahnya kini menyendu. 


Tiyas yang melihat kepergian asisten Bagas dan Stefanny juga berniat pulang. Tubuh dan pikirannya sudah lelah, wanita itu butuh istirahat


"Mau pulang?" tanyanya dengan hati-hati takut amarah Bagas belum mereda. 


Bagas menggeleng pelan. Tanpa aba-aba pria itu mendekap istrinya dengan begitu erat namun hati-hati dan tidak menyakiti.


"Saya gak mau pulang. Kita bermalam disini aja. Saya gak jamin kalau pulang kerumah amarah saya akan aman." 


Sebagai istri, tentu Tiyas mau tak mau menuruti kehendak suaminya. Wanita itu cukup takut saat melihat amarah Bagas yang meledak-ledak dan sulit untuk dibendung. Inilah yang Tiyas tahu, bahwa Bagas memang pria yang tempramental. Bukan seperti Bagas beberapa hari terakhir. 


"Oke, kalau gitu lepas dulu. Gak enak dilihat banyak orang," keluh Tiyas yang tanpa sadar melesakkan kepalanya semakin dalam. Malu karena beberapa orang masih jalan melewati mereka. 


Bagas lagi-lagi menggeleng. Ia malah mempererat pelukan mereka. 


"Gak!" tolaknya dengan keras. "Sudah berapa kali dia peluk kamu? Saya mau menghilangkan jejak dia dulu. Kalau bisa saya peluk kamu semalaman." 


Tiyas tersenyum geli, ia kemudian berdecak kesal. 


"Lebay!" ledeknya yang merasa tak keberatan dengan pelukan dari suaminya. 


"Biarin!" sahut Bagas dengan sedikit tidak terima. "Kan kamu istri saya. Sudah sepantasnya gak ada yang boleh sentuh kamu kecuali saya." 


Dengan matanya yang berputar malas, Tiyas hanya membalas dengan gumaman. 


"Terserah deh." 


Setelahnya hanya ada hening ditemani oleh deburan ombak dan langit yang gelap karena matahari sudah sepenuhnya turun. 

__ADS_1


Bagas mencium dan menghirup aroma rambut istrinya yang masih wangi walau sudah berjam-jam diluar. 


"Saya gak akan biarin siapapun mengambil kamu dari sisi saya. Gak seorang pun, Tiyas." 


__ADS_2