Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 57


__ADS_3

"Sebenarnya siapa sih dia? Terus Dirut tempat Jovan kerja  juga ada disana," gumam Tiyas dengan kebingungan. 


Karena merasa bahwa keberadaannya disini bisa menimbulkan kecurigaan. Wanita itu segera bergegas masuk ke dalam mobilnya dan berniat untuk pergi ke perusahaan Bagas. Stefanny ingin berbicara dengan Jonathan mengenai Tiyas. 


Tidak butuh waktu lama bagi sang model untuk sampai di PT. W Group. Dan sebuah kebetulan yang tidak terduga, Stefanny bertemu dengan Bagas di lobi kantor. Pria itu sedang berjalan bersama dengan jajaran staf yang mengekor di belakangnya. 


"Bagas!" teriak Stefanny memanggil pria yang masih dicintainya. 


Sang pimpinan itu sontak menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh dan tatapannya langsung menajam saat sadar bahwa yang memanggilnya adalah Tiyas. 


"Ayo jalan," ucapnya yang tidak menanggapi kehadiran wanita itu. Bagas kemudian kembali melangkahkan kakinya. 


Tetapi Stefanny tidak pantang menyerah. Wanita itu kini mulai berlarian kecil dan mencegat Bagas disana. 


"Tunggu! Ada yang mau gue kasih tau sama lo!" 


Bagas berdecak kesal. Tak ada lagi raut wajah datar seperti biasanya. Pria itu sudah kepalang benci dengan Stefanny. Hubungan baiknya dengan sang istri dan mengingat pengakuan palsu sang model, membuat Bagas murka. 


"Apa yang kamu mau lakukan lagi? Gak cukup dengan pengusiran waktu itu? Saya masih berbaik hati untuk gak tampar kamu balik," sahut Bagas dengan nadanya yang tegas. 


Stefanny bisa melihat bahwa tak ada lagi guratan yang biasanya ia lihat. Bagas sekarang benar-benar telah membencinya. Dan fakta itu membuat hatinya semakin terbakar dan mantap untuk membuka semua kebohongan Tiyas, walau ia belum bisa memastikan. 


"Gue cuma mau kasih lo sesuatu. Ini ada hubungannya sama Tiyas," ungkap Stefanny masih dengan sikap keras kepalanya.


Mendengar nama sang istri dibawa-bawa membuat Bagas semakin naik pitam. Rahang pria itu mengeras, telunjuknya kini mengarah tepat diwajah Stefannya. 


"Saya gak suka nama Tiyas keluar dari mulut kamu. Gak cukupkah kamu sudah tampar istri saya waktu itu? Jadi berhenti buat perkataan palsu kamu, saya gak akan percaya. Kalau kamu mengharapkan rumah tangga saya hancur, maka bermimpilah!" 


Bagas dengan tega mendorong Stefanny yang menghalangi jalannya. Pria itu melangkah dengan tegas sembari memasang wajah sangar. Meski beberapa karyawannya terkejut mendengar fakta yang keluar dari mulut atasannya. 


Rumor yang sempat simpang siur bahwa Bagas sudah mempunyai pasangan, baik masih sebagai kekasih atau istri. Ternyata memang benar, tetapi pasangannya bukanlah Stefanny. Sang model yang digadang-gadang memang sedang dekat dengan Bagas ternyata bukan wanita di berita tersebut. 


Mendapatkan perlakuan kasar dari Bagas membuat Stefanny juga dilingkupi amarah. Ia berusaha untuk menelepon Jonathan dan memutuskan untuk pria itu membantunya mencari kebenaran. Tetapi yang Stefanny dapatkan hanyalah dering panjang tanpa tanda akan diangkat. 


"Sialan!" 


Dengan perasaan dongkol, wanita itu akhirnya berjalan keluar perusahaan dan segera masuk ke dalam mobilnya. 

__ADS_1


"Siapa yang harusnya gue hubungi?" tanya Stefanny dengan dirinya sendiri. Satu persatu dilihatnya foto-foto pada ponselnya. Kemudian dengan kecanggihan teknologi di jaman sekarang. Foto rumah tersebut muncul di website, persis seperti rumah Adhitama. 


Kening Stefanny semakin berkerut dalam. Karena merasa tidak percaya dan takut bahwa kesalahan internet. Wanita itu kembali mencari lagi dengan bermodalkan foto di ponselnya. Dan lagi-lagi yang keluar adalah foto keluarga Adhitama. Keluarga kaya yang mempunyai perusahaan industri pertambangan. 


"Kok muncul ini terus sih?" 


Kepanikan Stefanny serta rasa penasarannya terus timbul. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk mencari data pribadi Beby. 


"Beby Ayuningtyas," gumamnya yang membuat keningnya semakin berkerut. "Oke, tapi kenapa namanya sama? Mereka adik kakak atau gimana?" 


Karena rasa penasaran yang terus muncul. Stefanny memutuskan untuk menghubungi Jovan. Dengan cepat wanita itu mengotak-atik ponsel sembari menggigiti kuku ibu jarinya dengan cemas. 


"Lo dimana?" tanya Stefanny saat sambungan panggilan itu terangkat. 


Jovan yang memang sedang bekerja menjawab dengan seadanya, bola matanya memutar malas karena Stefanny yang sudah lama tak bertukar kabar tiba-tiba menelepon tanpa salam. 


"Lagi di lokasi syuting gue. Kenapa emangnya?" 


"Kapan selesainya?" Stefanny kembali bertanya tanpa basa-basi. Semua informasi yang didapatkannya membuat semangat, panik, senang dan gemetar bercampur menjadi satu. 


Dengan kening berkerut, Jovan tetap membalas sembri berkomunikasi dengan sang manajer yang mengatakan bahwa sekarang adalah bagiannya untuk take. 


Stefanny mengangguk tanpa sadar. 


"Iya," katanya singkat. Tapi tiba-tiba ia berubah pikiran. "Gue yang ke lokasi syuting lo deh. Dimana tempatnya? Sherlock sekarang." 


Panggilan tersebut langsung dimatikan secara sepihak. Membuat Jovan hanya bisa mengumpat kasar sekaligus berdecak kesal di depan ponselnya. Ia akhirnya mengirim lokasi terkininya dan membiarkan Stefanny yang menghampirinya. 


Tak butuh waktu lama. Tepat setelah adegan terakhir Jovan selesai, Stefanny kini sudah menunggu sendirian. Duduk dibawah pohon sambil memainkan ponselnya. 


"Udah nunggu lama?" tanya Jovan yang langsung duduk disamping rekan kerjanya tempo hari.  


Stefanny tersenyum dengan gugup. 


"Lumayan."


Dan setelahnya hanya hening saja. Karena Jovan sudah lelah dan ingin istirahat, akhirnya pria itu langsung bertanya tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Ada apa lo pengen ketemu gue?" tanyanya dengan wajah penasaran, ingin tahu.


Stefanny segera menyodorkan ponselnya, membiarkan Jovan mengambilnya dengan perasaan bingung.


"Coba, lo liat-liat dulu foto yang gue ambil." 


Sang model pria itu menurut. Yang dilihatnya adalah sebuah gambar rumah mewah, layaknya mansion. Juga banyaknya mobil-mobil mewah di sana, bersama dua orang wanita. Tidak jelas siapa wanita itu. 


"Terus? Ada yang salah?" tanya Jovan yang masih tidak mengerti dengan maksud Stefanny memintanya untuk melihat gambar tersebut. 


Stefanny berdecak kesal. Ia kemudian segera mengambil ponselnya dengan kasar. 


"Gue mau tanya satu hal sama lo. Tentang Tiyas." 


Karena sudah lama tidak mendengar kabar Tiyas, juga wanita itu tidak pernah lagi datang ke kekantor. Jovan sedikit banyak merasa tertarik dengan pembahasan Stefanny saat ini. Pria itu hanya mengangguk, membiarkan Stefanny kembali menyambung perkataannya. 


"Gue harap lo jawab jujur, Jo," pinta Stefanny dengan raut wajah seriusnya. "Tiyas, dia anak konglomerat kan?" 


***


Di tempat lain, sang anak konglomerat yaitu Tiyas tengah berpamitan dengan orang tuanya. 


"Kamu serius gak mau lebih lama lagi? Mami masih kangen loh, Dek," ucap Nirmala dengan raut sedihnya. Lama sudah tidak bertemu dengan sang anak dan sekarang Tiyas sudah ingin berpamitan pulang. 


Tiyas menghela napas sedih. Kasihan juga melihat Ibunya, karena tidak ada teman dirumah sebesar ini. Biasanya Tiyas dan Nirmala akan pergi berdua untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Tapi semenjak menikah, kebersamaan mereka sudah sangat jarak. 


"Mih, aku bakal sering-sering kesini kok. Tapi buat hari ini cukup, aku harus pulang sebelum Mas Bagas pulang. Bisa gawat kalau Mas Bagas mau jemput aku dirumah pak Agus," balas Tiyas memberi sang Ibu pengertian. 


Akhirnya mau tidak mau Nirmala merelakan anaknya untuk pulang ke rumah Bagas. 


Tiyas memberikan pelukan sekali lagi kepada Ibunya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Namun baru saja kakinya naik, sebuah panggilan masuk di ponselnya. 


"Dari siapa? Papi ya?" tanya Nirmala yang menghampiri sang anak. Mungkin itu sang suami, karena Rudi tidak sempat bertemu dengan Tiyas hari ini. Pria paruh baya itu cepat-cepat pergi karena ada meeting pagi. 


Tiyas menggeleng, kemudian ia segera mengangkat teleponnya. Sedetik kemudian mata wanita itu melebar dengan mulutnya yang ditutup tangan. 


"Kenapa?" tanya Nirmala yang ikut panik melihat ekspresi sang anak. 

__ADS_1


"Mih, Bagas mau jemput aku! Dia udah setengah perjalanan!" 


__ADS_2