
"Nona?" tanya Bagas sembari mengangkat alisnya. Ia menatap sang istri dengan raut wajah kebingungan.
Sesaat Tiyas memejamkan matanya sembari meringis tipis. Wanita itu mendelik tajam pada Inah yang tiba-tiba saja datang sambil berteriak.
"Duh, Bi. Jangan bercanda begitu, kasian suamiku," keluhnya sembari memainkan mata.
Istri kedua pak Agus, Inah itu sesaat hanya terdiam sebelum akhirnya mengangguk cepat. Paham dengan apa yang dimaksud oleh majikan.
"Oh, maaf-maaf. Padahal niatnya saya cuma bercanda doang."
Bagas yang masih tidak mengerti hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Maksudnya apa?"
"Bibi sering bercanda, Mas. Karena saya nikah sama Mas Bagas, jadi Bibi sering ledek saya pake panggilan Nona Muda. Sama kayak ngeledek mami, manggilnya Nyonya Besar," terang Tiyas dengan senyum palsunya yang kelewat lebar.
"Oh," tanggap Bagas yang mengangguk paham sembari terkekeh kecil.
Tiyas juga balas mengangguk untuk meyakinkan. Ia kemudian sedikit melotot pada wanita di depannya ini.
"Mami dimana, Bi? Katanya tadi dipanggil mami."
"Kenapa?"
Tiba-tiba Nirmala datang dengan bajunya yang biasa-biasa saja. Meski aura wanita paruh baya itu masih saja nampak bersinar.
"Oh, nak Bagas sudah datang ya? Ayo duduk," celetuk Nirmala dengan senyum keibuannya. Wanita paruh baya itu memainkan matanya, mengkode untuk sang anak pergi ke dapur dan membawa Inah sekalian.
Tiyas mengangguk diam-diam. Wanita itu kemudian pamit sebentar kepada sang suami.
"Mas, saya ambilkan minum dulu ya. Ayo Bibi."
Inah pasrah kala tangannya harus diseret paksa oleh Tiyas. Wanita itu hanya bisa menyunggingkan senyum manisnya pada Bagas.
Bagas yang melihat kepergian sang istri, kini merasa canggung. Ia hanya bisa melemparkan senyum kakunya pada sang mertua.
"Apa kabar, Gas?" tanya Nirmala yang masih mempertahankan senyum tenangnya. "Udah lama kita gak jumpa ya."
Bagas tersenyum kikuk. Ia hanya bisa mengangguk pelan.
"Iya, Mih."
__ADS_1
Pria itu bingung harus menjawabnya dengan kata-kata seperti apa. Jelas alasan kenapa Bagas jarang bertemu mertuanya dan bahkan untuk Tiyas yang sebagai anaknya sendiri. Semua itu karena semua permasalahan pelik yang terjadi di lingkup keluarganya. Melihat reaksi Nirmala membuat Bagas yakin bahwa sang istri tidak mengatakan hal apapun menyangkut kerenggangan yang sempat terjadi pada hubungan mereka.
"Gimana kabar pak Chandra, Gas? Papa dan mama kamu juga baik kan? Tiyas kayaknya betah banget deh disana, sampai lupa mau ngabarin Maminya," celetuk Nirmala dengan raut wajah sendunya. "Tapi Mami senang kok kalau Tiyas betah. Artinya keluarga kamu sayang sama dia."
"Baik, Mih. Semuanya dalam keadaan baik-baik aja," balas Bagas dengan rasa gugup yang luar biasa. Perkataan Nirmala bagaikan sebuah bom untuknya. Mengingat bagaimana keluarganya begitu tidak menyukai Tiyas. "Kalau Mami kangen, datang aja kerumah. Tiyas pasti seneng kok."
Nirmala mengangguk paham dan obrolan mereka lanjut pada pembahasan yang lain. Bahkan Tiyas yang datang dengan kopi panas pun ikut meninbrung hingga tidak sadar bahwa langit telah gelap.
"Udah malam, pulang Dek," tegur Nirmala pada Tiyas yang terlihat matanya sudah memerah. "Nanti lain kali main lagi, kasihan suamimu masih mau kerja lagi besok."
Tiyas hanya bisa mengangguk. Dipaksa pun tidak mungkin, kasihan juga pada Ibunya. Pasti Nirmala juga lelah dan ingin segera pulang.
"Aku pulang dulu ya, Mi. Sehat-sehat pokoknya."
Nirmala tersenyum senang. Ia membalas pelukan sang anak dengan erat dan memberikan kecupan di kedua pipi Tiyas.
"Kamu juga hati-hati. Pelan-pelan aja ya Gas bawa mobilnya."
"Oke, Mih," sahut Bagas dengan senyum tipisnya. Ia juga memeluk sejenak mertuanya sebelum akhirnya menuntun Tiyas berjalan keluar dari rumah. Supir pribadinya sudah menunggu setelah sebelumnya ia suruh untuk berjalan-jalan sejenak.
"Senang gak?" tanya Bagas setelah mereka sudah ada di dalam mobil. Mengelus rambut sang istri yang kini bersandar nyaman di dadanya.
Tiyas menyunggingkan senyumnya, kemudian menguap lebar. Ia kembali menyamankan posisinya dan memeluk sang suami.
Bagas mengangguk paham. Ia kemudian membawa tangan sang istri yang berada di dadanya untuk diciumi.
"Syukurlah, lain kali kalau kamu kangen sama mami bilang aja. Nanti saya yang antar dan jemput kamu."
"Makasih ya, Mas," sahut Tiyas dengan pelan, ia bersungguh-sungguh mengucapkan itu. "Perlakuan Mas ke saya itu benar-benar sesuatu yang gak saya sangka. Saya inget banget, pertama kali Mas ajak ke mal awal kita kenal. Saya jengkel banget sama Mas."
Kalau diingat-ingat, memang perkataan Bagas saat itu benar-benar kejam, kasar dan sarkas. Sesuatu yang tidak pernah pria itu katakan lagi kepada sang istri sekarang.
"Maafin saya ya. Memang mulut saya itu gak bisa dikontrol kalau sama orang baru, apalagi waktu itu saya belum suka sama kamu," celetuk Bagas dengan kekehan pelan.
Tiyas hanya menanggapi dengan senyuman lemahnya. Kantuk yang dirasa sudah tak tertahankan, tetapi otaknya masih ingin merespon obrolan sang suami.
"Mas, capek gak? Harusnya saya yang jadi tempat bersandarnya, Mas. Bukan jadinya saya, padahal dari pagi saya gak kerja apa-apa," keluh Tiyas yang berusaha untuk mengangkat kepalanya.
Namun respon Bagas lebih cepat. Pria tampan itu menahan kepala Tiyas sembari mengelusnya lembut dan memeluknya dengan erat.
"Saya gak capek kok. Pulang sore jadi rekor tercepat saya selama ini. Kalau kamu mau tidur, ya tidur aja. Apa mau saya nyanyikan?"
__ADS_1
Tiyas berdecak kesal. Ia mencubit perut sang suami dengan pelan.
"Gak perlu. Yang ada saya gak jadi tidur karena suara nyanyian, Mas."
Bagas memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya Tiyas meledek suara nyanyiannya, walaupun memang pada dasarnya Bagas tidak bisa bernyanyi.
Akhirnya tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Tiyas dengan cepat tertidur, sedangkan Bagas tidak juga melepaskan pelukan pada istrinya. Berusaha untuk memejamkan mata walau hasilnya tidak juga mengantuk.
Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama, karena jalanan malam ini cukup senggang. Mobil berhenti di depan gerbang dan tidak langsung masuk ke dalam membuat Bagas mengerutkan keningnya.
"Kenapa diam aja? Saya sudah lelah," gerutu Bagas menatap supir pribadinya dengan tajam.
Sang supir hanya bisa terdiam sejenak, menatap kearah depan yang menghalangi jalan mereka.
"Ada orang di depan, Tuan. Saya gak bisa jalan begitu aja. Ada Tuan Jonathan juga disana bersama Nona Stefanny dan satu orang laki-laki."
Bagas menghela napas kasar. Pria itu akhirnya turun setelah meninggalkan Tiyas yang terlelap di dalam mobil. Ia menatap ketiga orang itu, yang ternyata ada Jovan disana.
"Lo ngapain disini? Minggir gue mau masuk!" seru Bagas sembari menatap sepupunya.
Jonathan menghela napas kesal. Ia melirik Stefanny sebelum akhirnya menarik kakinya mundur.
"Gue udah suruh dia buat menyingkir, tapi gak mau."
Karena sambungan telepon Stefanny yang tak diangkatnya, juga pesan yang diterimanya. Bahwa Stefanny akan membongkar siapa Tiyas sebenarnya, membuat Jonathan harus berakhir disini.
Bagas menatap tajam Stefanny dengan giginya yang bergemeletuk.
"Mau apa? Saya udah bilang buat gak ganggu kehidupan Tiyas. Kamu tuli atau memang udah gak peduli sama karirmu?"
Stefanny berdecih kesal. Ia kemudian melangkah menghampiri Bagas.
"Gue disini karena gue peduli sama lo!" sentaknya sembari menunjuk Bagas. Ia kemudian dengan gerakan cepat membuka pintu mobil dan menarik Tiyas yang tengah tertidur lelap.
Bagas melebarkan bola matanya. Ia langsung menarik dan mendorong Stefanny dengan kasar, hingga wanita itu terjatuh. Pria itu dengan cepat menangkap sang istri yang limbung karena dipaksa bangun dari tidurnya.
"Lo bener-bener buat kesabaran gue abis, sialan!"
Baik Jonathan dan Jovan yang masih diam ditempat, hanya bisa bergidik ngeri. Aura yang dikeluarkan Bagas benar-benar mengerikan.
Sedangkan Stefanny yang sudah kepalang emosi kembali bangun.
__ADS_1
"Gue gak peduli kalau lo mau abisin gue! Tapi disini gue cuma mau bilang kalau istri lo ini pembohong besar! Dia bukan Tiyas yang kita kenal sebagai orang dewasa yang kerjanya guru honorer! Dia itu Tiyas, anak konglomerat keluarga Adhitama!"