Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 55


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Kedua orang tua Bagas dan Bella kini mendapatkan hunian yang cukup layak, walau terbilang kecil untuk mereka. Setelah Jonathan tidak mengizinkan mereka untuk memperpanjang masa menginap, Restu akhirnya mau tidak mau angkat kaki dan mencari hunian melalui kolega-koleganya. 


Restu masih rutin pergi ke kantor untuk memantau perusahaannya dan juga milik sang anak. Sedangkan sang istri tengah repot-repotnya belajar masak lewat video diponselnya. Karena menyewa pembantu akan membutuhkan biaya lebih, Restu meminta sang istri untuk belajar memasak. Meski hingga sekarang, hasil masakan Indah masih macam-macam rasanya. Tidak ada yang berubah dalam kehidupan Bella, ia masih sibuk dalam dunia modelnya. 


Dan tentunya hubungan Bagas dan Tiyas tentu ada peningkatan. Seperti pagi ini, sepasang sejoli itu masih saja bergelung nyaman dalam satu selimut yang sama. 


Bagas lebih dulu bangun, karena pria itu peka terhadap cahaya. Matanya langsung menatap wajah cantik sang istri yang tengah terlelap menghadapnya. 


Pria itu segera berganti posisi dan kini mereka saling berhadap-hadapan. Dengan gerakan lembut, Bagas menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya. 


"Bangun," bisik Bagas sembari mendekatkan jarak diantara mereka. 


Tetapi Tiyas malah bergumam dengan kesal. Matanya masih berat, karena mereka baru saja tidur lewat dari tengah malam. Ini semua karena Bagas yang hampir meminta jatah tiap hari. 


"Sayang," panggil Bagas sembari mengelus bahu polos istrinya. 


"Mas, badanku remuk. Ntar aja bangunnya, ngantuk berat!" gerutu Tiyas yang malah masuk ke dalam dekapan sang suami. Mendusel pada dada bidang Bagas yang juga tak memakai sehelai benang dan kembali tertidur. 


Bagas terkekeh pelan. Karena merasa kasihan, pria itu membalas pelukan sang istri. Mengelus dengan gerakan acak pada punggung Tiyas dan bergerak semakin kebawah. 


"Mas!" tegur Tiyas dengan decakan kesal. "Kan baru main semalam. Gak sanggup saya kalau harus main lagi, capek. Memang Mas gak capek apa?" 


Pria itu menggeleng pelan dengan sedikit berdengung. 


"Gak tuh. Saya nafsu terus kalau sudah lihat kamu kayak begini." 


"Dasar mesum!" sindir Tiyas yang kemudian menggigit dada sang suami dengan kesal. Tak menghiraukan teriakan kesakitan sang suami, wanita itu langsung berbalik badan dan berusaha untuk melanjutkan tidurnya. 


"Dih, gak masalah. Orang sama istri sendiri kok!" balas Bagas dengan nada tidak terima. Pria itu tak pantang menyerah, ia tetap bergerak mendekat dan memeluk tubuh polos istrinya. 


Tiyas yang merasa tidurnya terganggu hanya bisa memekik kesal. Wanita itu menyikut tubuh sang suami, namun tidak kena. 


"Mas, jangan berdiri itunya dong! Saya mau tidur sebentar doang, malah diganggu! Kalau saya ngantuknya hilang, gak ada jatah hari ini!" 

__ADS_1


Wajah Bagas merengut tidak suka. Jika dengan pengancaman seperti itu, Bagas mau tidak mau berhenti untuk menjahili sang istri. 


"Padahal itunya memang berdiri sendiri kok! Bukannya saya yang mau, lagian nafsu sama istri sendiri mah sah-sah aja!" protes Bagas yang langsung menenggelamkan wajahnya pada belakang leher sang istri. "Gak adil kamu!" 


Tiyas berusaha untuk menutup telinganya dengan segala tingkah merajuk Bagas yang persis seperti anak-anak, tidak ada bedanya. 


***


Di tempat yang berbeda, kini Jonathan hanya bisa menghela napasnya lelah. Melihat malas ke arah Stefanny yang duduk nyaman di dalam ruang kerjanya. 


"Lo udah berhenti kerja apa gimana? Gak ada kerjaan lo ya dateng terus ke kantor!" protes Jonathan dengan keningnya yang berkerut. 


Setelah malam dimana Stefanny mencuri pembicaraan antara Jonathan dengan keluarga Bagas, wanita itu tidak absen untuk terus mengganggu Jonathan. Entah apa motifnya, Stefanny terus saja datang di kantor bahkan di rumahnya. 


"Enak aja, gue masih kerja. Malah sekarang gue dapet bayaran lebih gede!" balas Stefanny dengan menggerutu. "Lagian gak boleh ya gue disini? Gue juga gak ganggu kok. Cuma main hp aja." 


Jonatahan berdecak kesal, kedua tangannya kini berada dipinggang. 


Stefanny mengedikkan bahunya dengan tidak peduli. Matanya masih fokus pada deretan pesan di ponselnya. 


"Iseng aja. Gue gak ada temen yang bisa diajak ngobrol."


Selalu seperti itu, Stefanny tidak pernah mengungkapkan apa motif kedatangannya yang mengganggu konsentrasi Jonathan dalam bekerja. Ia hanya beralasan bahwa ingin main saja, iseng, tidak ada teman. Terus seperti itu. 


"Gue juga gak ada waktu ngobrol sama lo. Kerjaan gue banyak," ungkap Jonathan yang kini mulai pasrah. Mungkin memang sebaiknya bersikap tidak peduli adalah jalan keluarnya. 


"It's oke," tanggap Stefanny dengan santai. "Bentar lagi gue juga bakal pergi kok. Kalau lo mau kerja, silahkan aja. Gue akan tutup mulut," sambungnya sembari membuat gerakan seakan-akan bibirnya adalah resleting dan ditutup kuat kemudian kuncinya dibuang. 


Jonathan menghela napas lelah. Ia kemudian segera berbalik pergi menuju meja kerjanya. Dibalik sana, pria itu menatap Stefanny dalam diam. Selama beberapa bulan ini, wanita itu tidak lagi menanyakan atau membahas yang menyangkut dengan Bagas. Stefanny bahkan akan menghindar dan pergi jika Bagas kebetulan tengah berada di kantor. 


Entah wanita itu sudah menyerah atau memiliki rencana yang lain. Ya, Jonathan berharap Stefanny benar-benar memilih untuk menutup hatinya untuk Bagas. 


Di tempatnya, Stefanny mendapatkan pesan bahwa teman-temannya tengah berkumpul di sebuah pusat perbelanjaan. Maka dengan rasa antusias, wanita itu segera beranjak dari duduknya. 

__ADS_1


"Gue pergi ya, Jo," pamit Stefanny dengan kerlingan mata jahilnya. "Ntar malem gue nginep tempat lo ya!" 


Jonathan yang mendengar itu melebarkan bola matanya. Kepalanya condong ke depan sembari mengikuti langkah Stefanny yang menghilang di balik pintu. 


"Heh! Enak aja, gak! Lo pikir gue cowok apaan! Awas aja ya lo kalau ke rumah!" 


Stefanny hanya bisa terkekeh geli mendengar protes dari Jonathan. Menjahili dan mengganggu pria itu adalah aktivitas barunya akhir-akhir ini dan ternyata itu cukup menyenangkan.


Dan untuk Bagas, wanita itu memilih untuk menjauh sebentar. Mengingat betapa murkanya Chandra dan sempat membuat beberapa brand membatalkan kerjasamanya. Stefanny memutuskan untuk menunggu situasi aman dan mencari titik kelemahan Tiyas. Setidaknya upayanya kali ini harus berhasil.


 Di tengah perjalanannya masuk ke dalam pusat perbelanjaan sembari mencari temannya. Stefanny tidak sengaja bertemu dengan sahabat Tiyas yang memang baru sekali bertemu dengannya. Beby sedang berkencan dengan seorang pria berjas rapi. 


Karena tingkat penasaran Tiyas tinggi, akhirnya wanita itu mengekori keduanya dari jarak yang cukup aman. 


"Mau gak? Gak enak, aku gak suka rasa cokelat. Mau punya Bang Arya aja," ucap Beby dengan nada yang begitu manja, membuat Stefanny yang mendengarnya ingin muntah. 


Berbeda dengan sikap Arya yang malah menuruti kehendak Beby dengan terkekeh geli.


"Saya udah bilang kan. Lagian kamu udah tau gak suka cokelat malah coba-coba." 


Beby mengedikkan bahunya tidak peduli. Ia malah memakan es krim milik Arya dengan lahap. 


"Penasaran aja, siapa tau suka. Eh ternyata gak." 


Sepertinya percakapan Beby dan Arya memang hanya sebatas berkencan saja. Stefanny sudah mengharapkan bahwa setidaknya ada hal menyangkut Tiyas yang bisa didapatkannya. 


Ketika Stefanny memutuskan untuk berhenti menguntit keduanya. Tiba-tiba Arya kembali berbicara. 


"Gimana kabar Tiyas? Tuan dan Nyonya kangen berat, udah lama Tiyas gak pulang." 


Kening Stefanny berkerut dalam. Ia menatap sepasang kekasih itu dengan pandangan bingung. 


"Tuan dan Nyonya? Memang Tiyas siapa mereka? Pembantu kah? Tapi kenapa harus dikangenin segala?"

__ADS_1


__ADS_2