Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 27


__ADS_3

"Oke selesai!" seru sang fotografer diikuti tepuk tangan oleh para staff di sana, juga orang-orang yang tidak terlibat seperti Bagas dan Jonathan. "Waktunya kita pulang!" 


Beby, Stefanny dan Jovan kini tengah sibuk menyapa para staf dan kemudian berpamitan untuk pulang. Tidak sedikit pula para staf yang meminta untuk berfoto bersama. 


Berbeda dengan Bagas dan Jonathan yang pergi entah kemana. Tiyas malah memilih duduk di bibir pantai beralaskan pasir, menikmati deburan ombak dengan langit yang berubah jingga. 


Ditengah lamunannya, Jovan datang dan duduk di samping Tiyas. 


"Hei," panggilnya dengan berbisik. 


Tiyas mendengus geli, ia hanya menanggapi dengan sebuah gumaman saja. Malas rasanya untuk membuka suara. Entahlah hilang kemana semangatnya hari ini. 


Jovan berdecih, ia kemudian menyenggol lengan Tiyas. 


"Tumben pendiem banget hari ini." 


"Emang saya harus gimana? Biasanya juga gini kok," elak Tiyas dengan nada malasnya. Jas milik Bagas yang membalut tubuhnya semakin ia eratkan. 


"Biasanya paling semangat kalau ada pemotretan, paling banyak senyum dan ngomong juga," terang Jovan dengan senyum tipisnya. "Lagi ada masalah ya? Cerita aja gak apa-apa kok."


Tiyas hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum tipis. Inilah yang paling dibenci oleh wanita itu saat ada pria yang mendekatinya. Merasa kasihan, simpati lalu menjadi tempat penampungan cerita.


"Gak ada, Jo. Santai aja," balas Tiyas dengan santai. "Saya cuma takut aja kamu bakal ember masalah status saya yang sebenarnya." 


Alis Jovan terangkat, pria itu sejenak terdiam sebelum akhirnya terkekeh tipis. 


"Gak akan kok, saya bukan orang yang begitu." 


Kepala Tiyas mengangguk puas. 


"Baguslah, jadi gak ada yang saya khawatirkan lagi." 


Jovan balas mengangguk. Kemudian suasana kembali hening dan hanya diisi oleh deburan ombak yang lumayan kencang senja hari ini. 


Ditengah lamunannya, pria itu teringat dengan kejadian yang cukup mengusik pikirannya. Setidaknya untuk pemotretan kali ini suasana hatinya tidak terlalu buruk karena ada Tiyas yang ikut mengontrol pekerjaannya. 


"Tiyas," panggil Jovan dengan ragu. Setelah wanita itu menoleh, ia kemudian melanjutkan perkataannya. "Cowok yang tadi siapa ya? Yang marah-marah tadi. Dia juga natap saya kayak musuh. Padahal dari awal saya baik-baik kok." 


Sudah Tiyas duga. Baik Bagas maupun Jovan, kedua pria itu akan saling menyinggung satu sama lain ketika berbicara dengannya. 

__ADS_1


"Maafin sikapnya yang gak sopan ya. Dia memang agak temperamen," jawab Tiyas yang malah meminta maaf atas nama Bagas. Bagaimanapun memang sikap suaminya itu tidak dibenarkan. 


Jovan yang mendengar itu lantas alisnya terangkat, kemudian keningnya berkerut. 


"Kenapa kamu yang minta maaf?" 


"Karena saya istrinya, Jo," ungkap Tiyas pada akhirnya. Wanita itu memilih untuk jujur dengan status dirinya sekarang. Setidaknya itu memudahkannya untuk menghindar dari Jovan. 


"Kapan? Kok gak ngundang? Kenapa gak kasih tau?" tanya Jovan dengan bertubi-tubi. Pandangan pria itu yang tadinya berbinar, kini malah berubah menjadi sendu. 


Tiyas mengedikkan bahunya. 


"Karena kamu bukan keluarga. Lagian acaranya tertutup dan hanya keluarga besar." 


"Saya memang asing sama wajahnya, tapi gak asing sama namanya," celetuk Jovan yang membuat Tiyas penasaran. Pria itu melirik sosok yang dicintainya setahun terakhir ini. "Saya tahu karena udah cukup lama berpartner sama Stefanny. Dia suka banget bahas cowok yang disukainya namanya Bagas. Anak konglomerat yang punya perusahaan tekstil. Benar?" 


Tiyas terperangah. Ia tidak menyangka bahwa hubungan Stefanny dan Bagas ternyata terjadi cukup lama. Tetapi selama ini Tiyas tidak pernah bertemu model cantik itu, atau memang belum saatnya. 


Tentu jika sudah lebih dulu mengenal wanita itu, Tiyas akan mudah untuk membaca karakter Stefanny seperti apa.


"Ya, itu benar," jawab Tiyas singkat. Wanita itu tidak tahu harus bereaksi apa lagi. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menatap langit yang perlahan-lahan mulai menggelap. 


"Klise ya," kekeh Tiyas hambar. Wanita itu kemudian mengangguk guna menjawab pertanyaan Jovan. "Kami gak mengenal satu sama lain dari kecil. Saya bahkan baru tahu Mas Bagas kurang lebih dua minggu yang lalu dan kami baru menikah kemarin." 


"Oh," balas Jovan dengan helaan napas lega. Pria itu menarik senyum simpulnya. "Bagus deh." 


Kening Tiyas mengkerut. Ia menoleh pada Jovan yang sedang menatap deburan ombak. 


"Kenapa?" 


Jovan kini balik menatap Tiyas dengan senyum lembutnya. 


"Kenapa?" tanyanya yang disambung dengan gumaman. "Karena saya masih punya kesempatan." 


"Maksudnya?" tanya Tiyas berpura-pura tidak mengerti. Ia mengalihkan pandangannya, kemanapun asal jangan pada sepasang mata Jovan yang menatapnya dengan dalam. 


"Kamu pura-pura gak tau atau memang gak tau?" tanya Jovan dengan kekehan getirnya. "Harusnya kamu tahu apa yang saya pikirkan saat ini sebagai orang yang mencintai kamu." 


Tiyas terdiam, ia tak bisa lagi membalas perkataan Jovan. Sejak awal wanita itu tidak menaruh rasa pada Jovan atau pria manapun. Bahkan untuk Bagas saat ini, Tiyas masih belum ada rasa pada suaminya. 

__ADS_1


"Jangan mengharapkan apapun dari saya, Jo. Bahkan jika itu cuma sebuah rasa simpati dan empati," sahut Tiyas ketika berdiam cukup lama. Wanita itu kemudian berdiri dari duduknya. 


Jovan juga langsung ikut berdiri dengan cepat. 


"Kenapa?" tanyanya dengan nada yang sedikit membentak. 


Tiyas menghela napasnya. Wanita itu kini berhadapan dengan Jovan. 


"Karena bahkan dengan rasa benci saya, gak akan buat kamu juga ikut benci. Itu semua karena semua yang kamu terima baik itu bagus atau buruk adalah dari sosok yang kamu cintai." 


Jovan terdiam sembari mencerna perkataan Tiyas. 


"Tapi saya gak akan nyerah, Yas. Bagaimanapun kamu menanggapi perasaan ini, saya gak akan mundur." 


Bukan tanpa alasan Jovan berbicara seperti itu. Semua karena ia tahu bahwa mustahil terjadi hubungan yang lebih dalam antara Bagas dan Tiyas. Jovan tahu betul bagaimana sikap Stefanny terhadap Bagas, keduanya pasti memiliki hubungan tak terduga. 


Tiyas menghela napasnya kesal. Ia menatap Jovan dengan kening berkerutnya. Harusnya memang sejak awal ia tak akan mengaku bahwa Bagas adalah suaminya. Jovan adalah seseorang yang cukup nekat. 


"Itu yang saya bilang tadi, Jo. Kamu memang seperti itu." 


Wanita itu kemudian berbalik pergi karena merasa pembicaraan mereka cukup sampai disini. Tetapi pergerakan Jovan benar-benar tak terduga, di luar perkiraannya.


Karena kini pria itu memeluk Tiyas dari belakang dengan begitu erat. Seakan-akan jika pelukannya melemah sedikit, wanita itu akan pergi. 


"Saya suka sama kamu sejak lama, Tiyas. Saya cinta," bisiknya dengan begitu lirih. 


Tiyas menghela napas sembari memejamkan matanya kesal. Dengan cepat ia melepas pelukan Jovan dan mendorong pia itu menjauh. 


"Jo! Gila kamu ya!" pekik Tiyas seraya menatap tajam pria itu. "Saya gak ambil pusing dengan perasaanmu. Tapi kamu gak bisa paksa seseorang buat terima cinta kamu." 


Jovan menggeram kesal. Ia menendang pasir di kakinya dengan kencang. 


"Saya buntu, Tiyas! Jika kamu sendiri mungkin saya masih bisa berjuang, tapi kamu sekarang sudah milik orang lain. Apa yang harus saya lakukan agar kamu jadi milikku?" 


Tiyas baru saja akan kembali meneriaki Jovan. Tetapi disampingnya seperti lewat sekejap embusan angin kencang, namun tebakannya salah. 


Karena bukan angin yang lewat di sampingnya, tetapi Bagas yang datang dengan melangkah cepat dan langsung memberikan bogem mentah pada Jovan beberapa kali. 


"Jangan mimpi kamu bisa miliki istri saya!" 

__ADS_1


__ADS_2