
"Brengsek! Jangan ganggu istriku!"
Tiyas menoleh kebelakang, dimana sumber suara itu berasal. Disana ada Bagas dengan pakaian formalnya, berdiri tegap nan gagah serta tatapan tajam mematikan.
Sesaat anak tunggal Adhitama itu terpesona. Namun setelahnya ia langsung terkesiap setelah mencerna perkataan Bagas barusan.
"Istri?" gumam Tiyas yang hampir tidak terdengar.
Tersadar oleh situasi yang menguntungkannya, dimana bahwa para pria itu mulai lengah. Tiyas segera melepaskan dirinya dan berlari berlindung di belakang tubuh tegap Bagas.
"Sialan lo!" Umpat salah satu pria yang tampangnya seperti preman dengan tato disekujur tubuhnya.
Pria itu perlahan melangkah maju menghampiri Bagas. Mata Tiyas melebar, ia bergerak bermaksud ingin memberikan beberapa tendangan pada pria itu namun Bagas menghalanginya.
"Kamu masih mau sok jagoan disini setelah kejadian tadi?" tanya Bagas dengan berbisik. "Sudah, biar saya yang tangani mereka semua."
Alis Tiyas terangkat. Sedikit kagum dan tidak percaya bahwa Bagas akan menumbangkan mereka semua dengan tangan kosong. Mengingat tak ada satupun benda di tangan pria itu.
"Oke," sahutnya sembari mengangkat tangan. Tiyas segera berjalan mundur sambil memantau kondisi. Siapa tahu Bagas akan membutuhkan bantuannya.
Pria bertato itu tersenyum remeh, ia menatap Bagas dari ujung kaki sampai ujung kepala. Meludah ia hingga membuat Bagas sontak terkejut dan mengambil langkah mundur.
"Aduh, maaf ya Pak Bos!" Serunya dengan tertawa keras. Menoleh ia pada kawan-kawannya yang juga ikut tertawa. Kini atensinya kembali pada Bagas yang masih berdiri diam dengan mata tajamnya. "Kenapa, gak terima lo? Mau nantangin kita? Ayo kalau gitu, gue dari pagi kebetulan belum menghajar siapapun."
Bagas berdehem, ia melirik Tiyas yang menatapnya penasaran.
"Saya disini gak mau cari ribut, Bang. Tapi kebetulan orang yang Abang ganggu itu Istri saya, rumahnya masuk gang ini juga kok."
"Oh ya?" Pria itu melirik Tiyas yang menatapnya juga. "Gue gak pernah tuh liat Istri lo selama gue jaga kampung sini. Hoki juga ye Istri lo dapat modelan kayak lo."
__ADS_1
Tiyas menahan napasnya sesaat. Meringis wanita itu, gawat pikirnya. Mungkin sekarang Bagas akan bertanya-bertanya dan situasi seperti ini benar-benar tidak menguntungkan Tiyas.
Bagas masih terdiam, di liriknya Tiyas yang hanya menunduk sembari kepalan tangannya meninju dinding rumah orang. Batinnya bertanya-tanya, ada apa dengan Tiyas?
"Gini deh Bang. Untuk keamanan dan kenyamanan Istri saya setiap lewat gang ini. Saya kasih segini deh, kalau kurang Abang boleh hubungi saya," kata Bagas dengan memberikan lima lembar uang berwarna merah masing-masing orang. Pria itu juga memberikan kartu namanya, yang dimana ada nomor telepon kantornya di sana.
"PT. W Group? Direktur? Ternyata lo anak sultan ya," tanggap pria bertato itu dengan kepalanya yang mengangguk senang. "Oke, lo udah buat perjanjian sama kita. Kalau lo sampai langgar, lo tau kan apa yang bisa kita lakukan?" sambungnya dengan ancaman sambil melihat ke arah belakang Bagas, dimana sosok wanita cantik itu berada.
Bagas mengangguk mantap. Dadanya terangkat angkuh.
"Tenang aja," katanya sembari tersenyum tipis. "Kalau begitu saya pamit, permisi abang semuanya."
Pria-pria disana mengangguk dengan senyum lebar sembari mengangkat uang di tangannya. Memberikan lambaian tangan tanda perpisahan.
Meninggalkan kebingungan pada Tiyas yang benar-benar tak mengerti arah jalan pikiran Bagas. Wanita itu pikir Bagas akan melakukan aksi heroik dengan menumbangkan semua pria itu, ternyata yang dilakukannya membuat Tiyas geleng-geleng kepala.
"Ayo," ajak Bagas yang lebih dulu berjalan melewati Tiyas. Tanpa repot menunggu wanita itu berjalan berdampingan. "Masuk," sambungnya sebelum akhirnya ia masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Kenapa Mas Bagas kasih mereka uang sebanyak itu? Mereka pasti bakal morotin Mas dari sekarang." Tiyas memberanikan diri untuk membuka suara setelah mobil perlahan berjalan.
Hening melanda sesaat, sebelum akhirnya Bagas menjawab.
"Lalu harus gimana lagi? Kamu mau saya berantem sama mereka? Kamu pikir saya aktor film laga? Yang ada saya babak belur kalau cari masalah sama mereka."
Tiyas menggaruk pelan pelipisnya. Sedikit menyesal telah bertanya karena jawaban Bagas terdengar kesal ditelinga wanita itu. Mungkin pertanyaannya membuat pria itu tersinggung.
"Maaf, Mas," balas Tiyas dengan suara pelan.
Bagas melirik calon istrinya itu dari ekor matanya. Dan baru menyadari jika tampilan Tiyas terkesan sederhana serta santai untuk acara kencan pertama mereka.
__ADS_1
"Kayaknya kamu gak ada dress ya? Tapi seingat saya malam itu kamu pakai dress panjang atau itu cuma sewa?" tanya Bagas penasaran. Mata pria itu fokus ke jalan raya, tapi gaya berpakaian Tiyas benar-benar mengganggu pengelihatannya.
Tiyas terperangah, wanita itu sedikit dongkol mendengar pertanyaan Bagas. Ia kemudian tertawa lirih.
"Sewa? Maaf ya Mas Bagas, saya itu banyak baju…"
Mampus.
Wanita itu memejamkan matanya, meringis ia. Melipat bibirnya ke dalam dan tidak melanjutkan perkataannya. Lupa ia kalau sedang berpura-pura menjadi wanita biasa dan bukan Tiyas yang seorang putri konglomerat. Hampir saja keceplosan.
"Ya?"
Rupanya Bagas masih menanti kelanjutan perkataan Tiyas. Tanpa disadari pria itu untuk kedua kalinya berbicara panjang dengan seorang wanita di luar keluarganya, tentunya yang pertama dengan Stefanny. Wanita yang selalu mengusik kehidupan tenang Bagas. Setidaknya cukup bagus hingga acara pernikahannya berlangsung, karena Stefanny akan berada di Singapura hingga dua bulan kedepan.
Tiyas berdehem, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja terasa kering. Ia bahkan membuka topinya, menyugarkan rambutnya yang sedikit lepek karena keringat.
"Saya memang banyak baju Mas, tapi semuanya sewa," jawab Tiyas dengan kekehan hambar. "Benar perkiraan Mas Bagas, dress itu memang sewaan. Saya gak ada uang buat beli dress semahal itu."
Bagas terdiam. Cukup prihatin dengan kondisi Tiyas. Untuk membeli sebuah dress saja tidak mampu, wajar jika penampilan pada kencan pertama mereka pakaiannya begitu biasa saja.
Walau cukup disayangkan bahwa Bagas tidak memperhatikan brand baju yang dipakai Tiyas saat ini, mungkin harganya setara dengan satu buah motor keluaran terbaru.
"Kalau preman tadi masih ganggu kamu, kasih tau saya aja," ungkap Bagas yang membuat Tiyas tidak mengerti. "Mereka pasti mau ambil semua harta kamu, padahal kamu untuk makan saja susah. Biar mereka jadi urusan saya aja. Ini bukan berarti saya peduli sama kamu, cuma sebagai bentuk tanggung jawab saya aja."
Tiyas berdecih pelan. Tidak menyangka bahwa dirinya dipandang begitu rendah oleh Bagas. Didalam hatinya terdapat makian dan umpatan yang Tiyas lemparkan pada Bagas. Tunggal Adhitama ini memang menyambi menjadi guru honorer, tapi bukan berarti gaji yang dia dapat itu tidak bisa untuk makan. Bisa, meski memang pas-pasan.
Lalu apa tadi? Tidak peduli dan hanya bentuk tanggung jawab saja? Memang siapa yang minta dipedulikan?!
"Kalau begitu kita ke Mall saja. Kita cari baju untuk kamu. Rasanya gak etis, saya sudah berpenampilan rapi seperti ini sedangkan kamu malah sederhana sekali," tanggap Bagas dengan wajah datarnya yang merasa tidak bersalah.
__ADS_1
"Ini bukan berarti saya malu untuk jalan sama kamu. Cuma kurang enak dipandang aja, ya kan?"
Tiyas hanya bisa terkekeh pelan sambil menahan amarahnya yang mungkin akan meledak sewaktu-waktu. Penghinaan ini namanya!