Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 41


__ADS_3

"Saya gak setuju!" 


Semua orang di dalam kamar tersebut terkejut dengan sebuah teriakan keras dari arah luar ruangan tersebut. Terlebih Tiyas yang tidak asing dengan suara tersebut. Mereka sontak menolehkan kepalanya kepada sumber suara. 


"Mami!" panggil Tiyas dengan sedikit panik. "Kenapa gak bilang kalau mau kesini?" 


Nirmala mendelik kesal pada sang anak. 


"Kamu dari kemarin gak bisa dihubungi. Sampe berita-berita itu muncul, Mami masih gak bisa ngehubungin kamu!" 


Benar. Ponselnya belum sempat diisi daya baterai. Baik Bagas dan Tiyas bak dikejar waktu. Mereka bahkan lupa perut sudah terisi atau belum. Karena memang sebentar lagi malam menjemput. 


Chandra yang kedatangan tamu tiba-tiba lantas mendekat ke arah ibu dari Tiyas. 


"Bagaimana kabarnya, Bu? Duh maaf sekali tidak bisa menyambut kedatangan anda." 


Nirmala menghela napasnya sembari menggeleng pelan. 


"Gak masalah, Pak. Saya kesini karena khawatir sama Tiyas, dia anak yang gak bisa sedikit saja direkam atau dipotret oleh kamera. Jadi anak saya sekarang ketakutan." 


Tiyas yang sejak kedatangan sang Ibu sudah menahan tangis, kini air matanya tak bisa lagi terbendung. Dengan cepat wanita itu memeluk sang Ibu dengan erat sembari terisak pelan. Dengan traumanya kepada kamera media hingga terpojok oleh mertuanya sendiri, membuat Tiyas merasa frustasi.


Setidaknya itulah alasan kenapa yang terekspos keluarga Adhitama hanya sang kepala keluarga. Karena Nirmala yang memang tidak ingin identitas keluarganya diketahui banyak orang. Juga trauma masa kecil Tiyas yang membuatnya takut disorot banyak kamera dengan lampu flash. 


Bagas yang tidak tahu bahwa ketakutan sang istri kepada awak media begitu besar, membuat hatinya merasa bersalah dan menyesal karena tidak bisa membantu Tiyas merasa aman. Pria tampan itu melirik Ibunya yang masih terdiam dengan raut kesalnya. 


"Aku gak suka Mama menghakimi Tiyas seperti tadi. Mama liat sendiri kalau dia punya trauma," ungkap Bagas dengan harapan Indah setidaknya perlahan-lahan akan merubah sifat buruknya itu. 


Dengan persetujuan bersama. Kini mereka telah duduk melingkar di ruang tamu dengan diselimuti suasana yang tegang. 

__ADS_1


"Maaf sekali lagi, Bu. Kami membuat anda khawatir," ungkap sesal Chandra dengan menundukkan kepalanya. 


Nirmala hanya balas mengangguk. Usulan dari Restu tentang menggantikan Tiyas menjadi Stefanny benar-benar melekat di otaknya dan membuatnya dilanda amarah. 


"Saya gak peduli, Pak. Mau Bagas terkena skandal karena memukul orang atau apapun. Tapi saya gak setuju, mendengar usulan tadi," balas Nirmala seraya melirik bergantian kedua besannya itu. 


Chandra menghela napasnya kasar. Sepertinya sikapnya kepada anak dan menantunya terlalu lembut akhir-akhir ini. 


"Saya minta maaf atas sikap kurang ajar anak dan menantu saya, Bu. Saya memang terlalu lembut dengan mereka dan membuatnya semena-mena." 


Indah dan Resty hanya bisa terdiam. Mendengar perkataan Chandra tentu tidak baik bagi mereka. Ada beberapa kemungkinan hukuman yang diberikan pria tua itu untuk mereka. 


"Saya juga bisa membuat mereka berlutut kepada anda. Keluarga Wiguna adalah orang-orang yang cerdas, sopan, beradab dan beretika," sambung Chandra sembari menatap Indah dan Restu dengan tatapan tajamnya. Mengisyaratkan dua orang itu untuk melaksanakan perintahnya. 


Setidaknya itu lebih baik daripada Nirmala semakin marah, kemudian memutuskan untuk memutuskan kerjasama antara Adhitama dan Wiguna. 


Indah melebarkan matanya, ia tidak ingin berlutut di depan wanita yang bahkan derajatnya tidak lebih tinggi darinya. Begitu juga dengan Restu, ini sama saja menurunkan harga diri juga menghilangkan wibawanya. 


"Gak perlu, Pak. Itu berlebihan," tolaknya dengan segala kerendahan hati. "Apalah saya, hanya orang biasa-biasa aja. Kami memang pantas untuk dihina dan direndahkan." 


Baik Bagas dan Chandra sama-sama terdiam sembari mata mereka terpejam erat. Malu rasanya mendengar sindiran dari Nirmala. Berbeda dengan Chandra. Dari sudut pandang Bagas, sindiran ibu mertuanya mengarah kepada statusnya sebagai suami tidak bisa memberikan perlindungan kepada Tiyas. 


Sedangkan Indah dan Restu lagi-lagi memilih bungkam. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka. 


"Cuma kalau memang Tiyas tidak dianggap di keluarga ini, saya mohon kelapangan hati Bapak untuk menyerahkan Tiyas kepada keluarganya yaitu saya," sambung Nirmala dengan senyum kecilnya yang begitu palsu.


Daripada anaknya terus menderita mungkin inilah jalan terbaik mereka. Mungkin untuk kedepannya janji perjodohan antara Adhitama dan Wiguna harus dihilangkan. 


Chandra yang mendengar itu sontak terkejut. Ia menggeleng dengan tegas. 

__ADS_1


"Tidak, Bu. Saya mohon maaf sebesar-besarnya sekali lagi, tapi tolong pertimbangkan juga Bagas yang sudah sah menjadi suami anak anda." 


"Loh, kenapa?" tanya Nirmala dengan alisnya yang terangkat skeptis. Membuat Bagas yang sudah terkejut semakin terheran mendapat tanggapan seperti itu dari Ibu mertuanya. "Untuk apa saya harus mempertimbangkan Bagas? Bukannya dari awal keinginan keluarga ini memang ingin menantunya Stefanny? Udah saya kabulkan loh, bagus kan?" 


Indah terperangah dengan perkataan besannya. Walau di satu sisi senang karena mungkin inilah jalannya untuk bisa memisahkan Tiyas dan Bagas. Tapi disatu sisi jengkel karena sikap Nirmala tidak ada lemah lembutnya. Padahal yang sedang dihadapi adalah Chandra Wiguna. 


Jika orang tuanya mungkin senang mendengar ini, berbeda dengan Bagas. Pria tampan itu sampai berdiri dari duduknya dengan tatapan cemas. 


"Saya gak setuju, Tante. Maksud saya Mih," balas Bagas dengan terbata-bata. "Saya sebagai suami Tiyas gak mau berpisah dengan dia. Yang saya cinta cuma Tiyas, Mih. Bukan Stefanny atau siapapun." 


Nirmala bergeming, balik menatap menantu satu-satunya yang begitu tampan dan gagah. Juga memegang jabatan tertinggi perusahaan seharusnya membuat wanita paruh baya itu senang sekaligus bangga. Tapi kenyataannya tentu berbeda. 


"Mih, stop. Ingat tujuan Mami kesini, mau apa?" tanya Tiyas seraya menyela Nirmala yang akan berbicara. 


Wanita paruh baya itu menghela napasnya kasar. Entah kenapa setelah berhadapan dengan keluarga inti Wiguna membuatnya begitu muak. 


"Saya gak akan membawa Tiyas seperti permintaan Bagas. Tapi saya ingin berita-berita ini segera dilenyapkan, bukan saya sok perintah," ucap Nirmala dengan cepat saat menyadari bahwa Indah akan menyela ucapannya. "Itu semua murni permintaan saya, karena saya gak punya power sebesar kalian untuk itu. Selagi kalian gak klarifikasi atau mengatakan apapun, tentunya berita itu akan lenyap dengan sendirinya. Apa yang perlu ditakuti?" 


Benar-benar mencerminkan seorang keluarga Adhitama. Cerdas, cerdik, sopan santun, lemah lembut, beradab, beretika dan bagaimana mereka berbicara sangat tertata. 


"Bagaimana dengan kolega?" tanya Restu yang akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. 


"Cukup diam saja," putus Nirmala dengan cepat. "Kalau memang terpaksa bilang saja Bagas sudah menikah, biar mereka berspekulasi sendiri siapa istrinya." 


Chandra mengangguk paham. Setidaknya pendapat Nirmala adalah jalan keluar yang aman untuk mereka lakukan saat ini. 


"Saya cuma mau Bagas janji untuk gak menduakan Tiyas. Bukannya saya menuduh ya. Tapi dengan menyembunyikan pernikahan seperti ini tentu meningkatkan resiko banyak perempuan mendekat," ungkap Nirmala dengan serius. Ia bahkan menekan beberapa kata disana. 


Bagas mengangguk tegas dengan senyum tipisnya yang menandakan bahwa pria itu begitu lega. 

__ADS_1


"Saya janji, Mih. Sebagai pria, saya akan memegang teguh untuk tidak menduakan bahkan meninggalkan Tiyas." 


__ADS_2