Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 67


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Bagas segera menuju Unit Gawat Darurat dengan langkah kaki yang cepat. Para perawat yang tengah bertugas di sana juga bergerak dengan cepat untuk menangani anak laki-laki itu. 


Pergerakan mereka cukup terbatas karena anak tersebut yang Bagas ketahui bernama Ken tidak mau lepas darinya, ia terus saja menangis dan meraung ketakutan. 


"Hei," panggil Bagas dengan suara lembut. Menatap Ken yang setia menggantung kepadanya bak koala. "Gak perlu takut, saya gak akan ninggalin kamu. Kakak-kakak disini baik, mereka bantu obati luka kamu, Ken." 


Ken mengintip dari ceruk leher Bagas, ia menatap para perawat yang tersenyum lembut kepadanya. 


"Ken gak mau disuntik!" serunya sembari berbisik pada pria dewasa itu. 


Bagas menggeleng pelan. Ia menepuk punggung sang anak untuk memberikan rasa tenang. 


"Gak, Ken. Mereka cuma mau bersihkan luka kamu aja. Gak disuntik kok." 


Meski sudah dibujuk, Ken masih tidak mau melepas pelukannya pada leher Bagas. Membuat pria tampan itu menghela napas pasrah, tidak mungkin ia memaksa Ken. Yang ada anak itu akan menjerit sekuat tenaga. 


"Kenapa nih?" tanya seorang dokter muda dengan nada mendayu. Senyum lembutnya membuat orang lain yang melihat jadi ikut tersenyum. 


Bagas yang mendengar suara tersebut lantas menghela napas lega. Dengan kesusahan ia menoleh pada sang dokter yang tidak lain adalah adiknya sendiri. 


"Oh God! Thanks udah datang tepat waktu, Bas!"


Mendengar nada bicara sang kakak yang tidak biasa membuat Bastian menutup mulutnya guna menahan tawa. 


"Aneh cara ngomong lo, Kak!" 


Si sulung berdecak kesal. Ia kemudian mengkode Bastian dengan gerakan matanya. 


"Supir baru gue gak sengaja nabrak nih anak. Tapi masalahnya Ken gak mau diperiksa sama siapapun, dari tadi gue di kekepin mulu." 


Bastian tertawa mendengarnya. Ia kemudian menepuk bahu sang Kakak dengan bangga. 


"Lo emang udah cocok jadi bapak. Tinggal nunggu calonnya aja." 

__ADS_1


Bagas tak menanggapi celotehan ngawur sang Adik. Pria itu kini malah sibuk membujuk Ken, karena jujur lehernya sudah pegal. 


Karena melihat Bagas yang kewalahan, akhirnya Bastian memutuskan ikut membujuk Ken. 


"Hai, Ken," sapa Bastian dengan lambaian tangan kecil sembari tersenyum lima jari. Meski Ken hanya sekedar mengintip, pria itu masih berusaha untuk membujuk sang bocah. Ia kemudian mengambil satu buah lolipop dari sakunya. "Kenalin nama dokter, Bastian. Sebagai tanda pertemanan kita, mau ambil ini? Kalo Ken ambil, berarti kita mulai temenan nih!" 


Awalnya Ken terdiam masih dengan mengintip dibalik bahu kokoh Bagas. Bocah itu kemudian melirik Bagas dengan ragu. 


Bagas yang melihat reaksi itu jelas hanya bisa tersenyum gemas. 


"Kenapa? Ambil aja, dokter Bastian ini adik saya." 


Kembali Ken amati guratan ramah sang dokter juga lolipop di tangannya. Bocah itu tiba-tiba saja melengkungkan bibirnya ke bawah. 


"Kata Mami gak boleh terima sesuatu dari orang asing." 


Celetukan Ken dengan wajah menggemaskannya membuat semua yang memperhatikan ikut tertawa. Bahkan Bagas tidak bisa untuk menahan rasa gemasnya.


"Kamu ini," kata Bagas sembari mencubit gemas pipi Ken yang sedikit berisi. "Gak ada yang mau jahatin kamu, Ken. Trust me, semuanya akan baik-baik aja." 


"Janji dulu ya, kalau kamu ambil ini mau diperiksa," ucap Bastian sembari menggoyang-goyangkan lolipopnya. "Gak bakal sakit, kok. Rasanya kayak digigit semut aja. Nanti kalau gak dibersihkan malah jadi infeksi, mau ya?" 


Karena Ken masih ragu untuk menerimanya, akhirnya Bagas membisikkan sesuatu di telinga bocah itu. Dan ajaibnya wajah Ken langsung sumringah, bocah itu mengangguk semangat kepada sang dokter. 


Bastian yang takjub dengan perubahan ekspresi Ken menatap bangga kepada sang Kakak. Akhirnya Ken dibaringkan pelan diranjang, meski tangannya masih tidak mau lepas menggenggam kelingking besar Bagas. 


"Good boy," puji Bagas sembari tersenyum tipis. "Sebagai laki-laki kamu harus kuat, jangan gampang takut dan harus lebih berani." 


Ken mengangguk polos. Ia kemudian melirik Bastian yang tengah membersihkan lukanya, bocah itu hampir berteriak namun langsung menutup mulutnya dengan tangan mungilnya. Matanya terpejam menahan rasa perih juga ketakutan yang tentunya masih ada. 


Bagas mengapresiasi kecerdasan Ken yang dengan mudah memahami perkataannya. Pria itu tidak berhenti mengelus lembut rambut Ken yang begitu lebat dan hitam. 


"Yeay! Selesai!" seru Bastian sembari terkekeh geli. Tentunya interaksi antara Bagas dan Ken tidak luput dari perhatiannya. Sedikit terkesima karena Bagas jarang sekali ingin berdekatan dengan anak kecil, namun bersama dengan Ken semuanya terasa berbeda. 

__ADS_1


Ken yang sejak tadi menutup matanya rapat kini mulai mengintip, kemudian melirik Bagas yang tersenyum senang. Bocah itu berpindah posisi untuk bersandar disana sembari melihat luka-lukanya yang telah ditutup. 


"Wah!" serunya dengan mata yang berbinar. "Ternyata gak sakit ya!" 


Kedua kakak beradik itu tertawa lepas. Mereka menikmati bagaimana wajah mungil itu berekspresi. 


"Nah, sekarang Ken udah boleh pulang!" seru Bastian yang kemudian berlalu pergi untuk menangani pasien lainnya. "Gue duluan, Kak!"


Bagas hanya balas mengangguk sembari melambaikan tangannya. Ia kemudian menatap Ken yang kini menjadi murung kembali. 


"Kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya dengan panik. 


Ken balas dengan menggeleng pelan. Raut bocah itu menyendu. 


"Kangen Mami. Pasti sekarang Mami lagi cari Ken. Soalnya Ken nakal, tadi gak izin sama Mami untuk lihat-lihat mainan." 


"Kita cari Mami kamu ya, Ken. Gak perlu khawatir," sahut Bagas yang menenangkan. Pria itu menatap Ken dengan pandangan yang begitu lembut. "Kan saya juga janji untuk belikan kamu mainan karena udah pinter melawan rasa takut kamu." 


Ditengah perbincangan kecil Bagas dan Ken yang berencana akan mengunjungi toko mainan di sebuah mal, tiba-tiba ada suara wanita berteriak keras. 


"Dimana anak saya?! Hei, dimana anak saya?!" 


Ken yang tidak asing dengan suara itu lantas panik. Bocah itu bergerak cepat untuk turun yang dibantu oleh Bagas dengan wajah kebingungan. 


"Mami!" teriak Ken yang tentunya menjadi pusat perhatian. 


Tiyas yang begitu ketakutan dengan kondisi sang anak lantas segera mencari sumber suara. Helaan napas lega terdengar dari wanita itu, dengan segera ia berlari menghampiri sang anak kemudian berjongkok dan memeluk Ken dengan erat. 


"Oh Tuhan, syukurlah," ucap Tiyas dengan terus menciumi sang anak yang tertawa kegelian. "Kamu bikin Mami khawatir, Ken!" 


"Sorry, Mami. Ken gak akan begitu lagi," balas Ken yang juga memeluk Tiyas dengan begitu manisnya. "Oh iya Mami. Kenalan dulu sama Om yang udah bantu Ken yang ketakutan karena mau disuntik dokter." 


Pelukan mereka terlepas dan Ken segera menarik tangan Tiyas yang belum berdiri sempurna. Ketika kini wanita itu menegakkan tubuhnya, bola matanya melebar saat melihat sosok yang ada di depannya. Pria yang selama ini membuatnya merasakan jatuh cinta dan juga sakit hati secara bersamaan. 

__ADS_1


Rasa terkejut juga ada pada Bagas. Pria itu mematung saat mengetahui bahwa kini bisa melihat wajah cantik Tiyas yang tambah dewasa. Rasa sesak kini memenuhi dadanya, tangannya gemetar hebat dan matanya mulai berlinang. 


Sosok yang dicintainya kini telah kembali. 


__ADS_2