
Bastian kebingungan saat mendapati sang kakak yang tengah berdebat dengan seorang wanita. Niatnya awalnya ingin mengambil barang yang tertinggal, kini langkahnya terdiam di pojok. Mengintip pembicaraan keduanya.
Disisi lain, kini Tiyas sedang merasa ketakutan. Ia tidak ingin Bagas mengetahui yang sebenarnya. Wanita itu tidak bisa membayangkan jika keluarga Wiguna mengetahui keberadaan Ken dan mengambil paksa anaknya.
"Bukan, Ken bukan anak kamu," sahut Tiyas yang berdiam cukup lama. Wanita itu berusaha agar suaranya tidak goyah. "Kamu pikir selama kita berpisah, saya gak pernah menikah lagi kah, Mas? Jangan terlalu diri.
Kini giliran Bagas yang tidak bisa membalas kata-kata mantan istrinya. Benar kata Jonathan, tidak mungkin seorang Tiyas tidak pernah menikah lagi. Dan adanya kehadiran Ken membuat dada Bagas terasa sesak.
Setelah menyadari bahwa fokus Bagas kini mulai beralih, Tiyas dengan cepat menutup pintu mobil.
"Jalan Beb."
Beby mengangguk pelan, ia kemudian segera menginjak pedal gas dan pergi dari sana secepat mungkin. Kedua wanita dewasa itu tidak menyadari bagaimana ekspresi Ken yang kini terdiam dengan wajah seriusnya. Oh, bocah itu terlalu cerdas hingga bisa mengerti situasi sekarang.
Sedangkan Bagas kini hanya bisa berdiri mematung, memandangi kepergian Tiyas dan bocah kecil yang mulai disayanginya. Pria tampan itu terkekeh getir sembari menggeleng pelan, tidak percaya dengan fakta yang diberikan Tiyas. Padahal Bagas yakin antara dirinya dan Ken memiliki banyak kesamaan.
"Kak," panggil Bastian yang keluar dari persembunyiannya. "Mantan istri lo?" tanyanya kemudian.
Bagas sedikit berjengit, mendelik pada sang adik yang muncul secara tiba-tiba. Kemudian pria itu menghela napasnya pelan.
"Kenapa kamu bisa ada disini?"
Bastian balas dengan mengedikkan bahunya.
"Ini parkiran umum, Bos. Wajar kalau gue ada disini, Kak."
Oh, benar. Bagas hanya balas dengan anggukan, pikirannya kini tengah kacau. Ia kemudian menepuk bahu sang adik sembari tersenyum tipis.
"Gue pulang duluan, Dek. Lo juga harus pulang kerumah. Udah mau berapa tahun nih? Masih aja ngumpet, begitu-begitu mereka orang tua lo."
"Orang tua yang bikin hubungan rumah tangga lo hancur kan?" tanya Bastian sembari memastikan. Pria itu tersenyum sinis sembari menghela napas panjang. Ia menatap sang kakak dalam. "Gue belum sanggup untuk ketemu mereka, lagi pula mereka gak merasa kehilangan gue selama ini."
Bagas mendengus malas. Selalu penolakan yang didapatkannya dari Bastian, padahal pria itu sudah menjadi dokter hebat. Dan pastinya informasi ini sudah diterima oleh kedua orang tuanya. Sayangnya baik Restu dan Indah terlalu gengsi untuk mengungkapkan rasa rindu mereka. Sedangkan Bella sekarang sering mengunjungi adik yang pernah dilupakannya.
***
Di kediaman keluarga Adhitama, Tiyas kini baru saja sampai bersama dengan Ken dan Beby. Dua dari ketiganya masuk dengan wajah yang muram, terutama Tiyas. Namun dengan cepat raut wajah itu berubah ketika bertemu dengan Arya.
__ADS_1
"Sudah sampai?" tanya Arya dengan basa-basi. Ia kemudian memeluk singkat Tiyas dengan senyum tipisnya. "Apa kabar?"
Tiyas terkekeh pelan.
"Baik, Bang. Sudah jangan lama-lama, nanti ada yang marah."
Beby yang merasa disindir hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Gak bakal marah gue. Kan sekarang Bang Arya cintanya cuma sama gue."
Tiyas hanya membalasnya dengan delikan iri. Sedangkan Arya hanya tersenyum malu, sebuah kemajuan dalam hubungannya dengan Beby adalah ketika pria itu bisa banyak berekspresi.
"Hai, jagoan. Apa kabar?" tanya Ken yang kini membungkuk menghadap Ken.
Bocah lima tahun itu mengangguk senang.
"Baik, Uncle!"
Arya tertawa kecil sembari mengusak pelan rambut bocah itu gemas. Kemudian ia kembali tegak dan menghampiri sang kekasih. Memberikan pelukan serta kecupan di kening, membuat Tiyas berteriak protes sembari menutup mata sang anak.
"Yeu, iri aja lo!" balas Beby dengan gerakan bibirnya yang mengejek sang sahabat. Wanita itu kini malah semakin memeluk erat sang kekasih tanpa peduli protesan keras Tiyas.
Arya hanya bisa menghela napasnya melihat tingkah kekanakan sang kekasih. Tetapi ia juga tidak menolak pelukan dari Beby, karena keduanya baru bertemu setelah satu minggu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Males ngomong sama orang bucin," ucap Tiyas yang merasa sia-sia berdebat dengan Beby. Ia kemudian menarik Ken untuk segera kembali berjalan. "Mami dimana, Bang?"
Arya langsung menunjuk lantai atas.
"Dikamar kamu, lagi beres-beres."
Kening Tiyas berkerut dalam.
"Loh kok beres-beres, sih!" keluhnya yang langsung membawa sang anak untuk sedikit mempercepat jalan menuju lantai atas.
"Mami!" panggil Ken yang kewalahan menyamai langkah Tiyas. "Jangan lari-lari!"
Karena merasa langkah Ken memperlambatnya, maka Tiyas memutuskan untuk menggendong Ken yang sudah lumayan berat. Dengan napas terengah akhirnya keduanya sampai di lantai atas dan segera menuju kamarnya.
__ADS_1
"Mih!" panggil Tiyas dengan bola matanya yang melebar. Ia segera menghampiri Nirmala yang sibuk membersihkan kamarnya. "Gak usah dibersihkan, kalau Mami capek dan drop lagi gimana?!"
Nirmala tidak mempedulikan omelan sang anak. Wanita paruh baya itu malah memusatkan perhatiannya pada sang cucu.
"Aduh, cucu Grandma! Kangen banget loh Grandama sama Ken!"
Ken yang juga merindukan sang Nenek karena selalu dimanja langsung melemparkan dirinya. Memeluk sang Nenek dengan tawa kecilnya.
"Ken juga kangen Grandma!" serunya sembari mengecup seluruh bagian wajah sang nenek yang masih tampak cantik.
Nirmala tertawa kecil, kemudian ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh Ken. Tatapan wanita itu kemudian berubah menjadi panik.
"Tiyas, ini kenapa sama Ken? Kok ada banyak perban?"
Tiyas terdiam, kembali diingatkan lagi dengan pertemuan Bagas yang membuat hatinya hampir goyah. Wanita itu membisu dan akhrinya Ken yang berbicara.
"Tadi Ken nakal, Grandma. Menyebrang tapi tidak melihat jalan lalu ditabrak mobil!" cerita Ken dengan wajah yang malah antusias.
Membuat Nirmala terkejut bukan kepalang. Sontak wanita itu kembali memeriksa tubuh sang cucu yang amat disayanginya.
"Oh, Tuhan. Ken gak apa-apa kan, Nak?"
Tanggapan si kecil yang menggeleng dengan wajah sumringahnya membuat Nirmala setidaknya bisa menghela napas lega.
"Grandma, tadi Ken ketemu sama Uncle tampan!" seru Ken tiba-tiba yang membuat aliran darah Tiyas seakan berhenti. "Dia yang buat Ken gak takut sama suntik! Terus Mami sama Uncle malah berantem."
Kening Nirmala berkerut dalam. Ia tidak mengerti apa maksud sang cucu, ia kemudian beralih menatap sang anak. Tiyas hanya bisa diam dengan raut sendu dan ketakutannya.
Ken kemudian melanjutkan dengan wajah polosnya.
"Grandma, sepertinya Uncle tampan itu Papi Ken ya?"
"Papi?" beo Nirmala yang kini raut wajahnya juga sama seperti Tiyas. Ia kemudian menatap sang anak yang terdiam sembari menutup wajahnya. Dan segera beralih pada sang cucu yang bercerita dengan wajah bahagia. "Kenapa Ken bisa tau itu Papi?"
"Soalnya Uncle tanya Mami siapa Ken, tapi Mami bohong. Mami bilang kalau sudah menikah dan punya Ken. Padahal Mami gak menikah dengan siapa-siapa kan, Grandma?" tanya Ken yang tidak mendapatkan jawaban dari kedua orang dewasa disana.
"Jadi Uncle tampan itu beneran Papi Ken ya?"
__ADS_1