
Takdir yang begitu buruk bagi Tiyas. Wanita itu tentunya tahu bahwa skalanya untuk bertemu Bagas mungkin besar, tetapi tentu tidak secepat ini. Terlebih Bagas sudah bertemu dengan Ken, itu adalah satu-satunya yang tidak Tiyas inginkan.
Tiyas memandang balik wajah pria yang dulu sempat dicintainya. Pria tampan yang usianya semakin matang namun jelas gurat lelah di wajahnya tidak bisa abaikan. Bagaimana kantung mata pria itu terlihat jelas dan wajahnya semakin tirus.
Semakin dilihat semakin kasihan. Dan Tiyas adalah orang pertama yang memutuskan kontak mata di antara mereka. Wanita itu langsung membungkuk sopan.
"Terima kasih karena sudah menjaga, Ken," ucapnya sembari cepat-cepat menarik tangan sang anak. "Ayo Ken, kita pulang."
"Tiyas!" panggil Bagas dengan agak keras. Pria itu tidak akan melepaskan mantan istrinya begitu saja. "Saya mau bicara dulu."
"Gak perlu," sahut Beby yang sejak tadi sudah ada disana. Wanita itu menatap tajam Bagas.
Tiyas melirik sekeliling, bagaimana banyak pasang mata yang begitu penasaran dengan interaksinya.
"Lo siapin mobil aja," titah Tiyas pada Beby yang awalnya menolak, namun kemudian berusaha mengerti posisi sahabatnya. Kemudian Tiyas segera melirik Bagas dari ekor matanya.
"Kita bicara di luar saja, gak enak dilihat banyak orang."
Bagas kemudian mengikuti Tiyas yang berjalan cepat dengan menggandeng Ken, hingga bocah itu kewalahan. Dalam pikirannya bertanya-tanya apakah Ken adalah anaknya? Tidak dipungkiri jika guratan wajah Ken persis seperti Bagas saat kecil.
Kini ketiganya telah sampai di parkiran mobil rumah sakit. Bagas belum sempat untuk berbicara, karena Tiyas lebih dulu membungkuk kepada Ken.
"Masuk dulu bareng sama Aunty Beby. Mami mau bicara sama Om ini dulu ya," titah Tiyas dengan senyum lembutnya.
Ken mengangguk setuju.
"Oke, Mami," balasnya yang langsung berjalan ke arah dimana mobil Beby terparkir. Tetapi baru setengah perjalanan Ken kembali memutar balik jalannya, sedikit berlari untuk memeluk kaki panjang Bagas. "Beli mainannya tunda aja ya, Om. Tunggu Ken ulang tahun. Terima kasih sudah bantu."
Bagas yang mendapati perlakuan manis tersebut tidak bisa untuk tidak tertawa. Pria itu langsung membawa Ken ke gendongannya.
"Oke, gak masalah. Saya akan datang ke acara ulang tahun kamu. Anak pintar."
Mendapatkan pujian dari orang lain selain keluarganya jelas membuat Ken bahagia. Terlebih Bagas merupakan sosok yang begitu sempurna dimata bocah tersebut.
__ADS_1
Maka tanpa sungkan Ken melayangkan ciuman tepat di pipi Bagas.
"Sampai ketemu lagi ya, Om."
Dan Bagas tidak akan melewatkan kesempatan ini. Pria itu juga membalas dengan ciuman di pipi berisi Ken.
"See you."
Karena tidak ingin Tiyas marah, Ken langsung buru-buru meminta turun dan berlari pergi masuk ke dalam mobil. Menyisakan Tiyas yang tidak tahu harus menanggapi kedekatan Bagas dan Ken bagaimana lagi.
"Jadi apa yang mau Mas katakan? Saya gak punya waktu banyak," kilah Tiyas dengan nada ketusnya.
Bagas yang menyadari bahwa Tiyas selama ini telah memendam dendam kepadanya hanya bisa menghela napas pasrah.
"Sorry untuk semuanya. Saya gak bisa menyebutkan satu-satu, tapi saya minta maaf tentang semua hal yang membuat kamu sakit."
Dikaitkan lagi dengan masa lalunya yang pahit jelas membuat Tiyas muak. Wanita itu mengalihkan wajahnya saat merasa setetes air mata mungkin akan jatuh.
Sulit ternyata. Bagas akhirnya mengangguk mengerti, mungkin ini adalah akibat perbuatannya bertahun-tahun yang lalu. Pria itu berusaha untuk tersenyum walau berat sekali untuk menarik ujung bibirnya.
"Ya, saya memaklumi itu. Mungkin susah bagi kamu buat maafin semua perlakuan bejat saya."
Kemudian hanya hening yang terjadi, karena Tiyas tidak ingin membalas perkataan mantan suaminya.
"Udah kan? Saya mau pulang, Ken harus istirahat."
Tidak, jangan dulu. Anggaplah Bagas egois. Tetapi pria itu masih ingin berlama-lama menatap wajah Tiyas.
"Supir saya gak sengaja nabrak Ken yang nyebrang jalan. Sebagai tanggung jawab saya, bisa minta kartu nama kamu?"
Tiyas mendelik tajam pada Bagas. Wanita itu baru tahu bahwa Bagas menolong karena memang dia pelaku penabrakan.
"Seharusnya sebagai bentuk tanggung jawab, Mas. Saya minta untuk gak berhubungan lagi sama kami. Lupakan aja tentang omongan Ken, dia cuma anak kecil."
__ADS_1
Bagas menghela napasnya, sepertinya sulit untuk membujuk Tiyas kali ini.
"Gimana kabarmu? Baik?"
"Mas, saya punya urusan lebih penting. Kalau cuma bahas masa lalu mendingan gak usah," jawab Tiyas dengan cepat dan tegas. Wanita itu menatap tajam mantan suaminya. "Saya sudah gak mau menoleh kebelakang, jadi harusnya Mas juga lakukan itu."
Bagas terdiam, ia memandang Tiyas yang kini berbalik badan lalu berjalan dengan langkah cepat. Pria itu sepertinya tidak menyerah, memanfaatkan kakinya yang panjang dengan cepat Bagas menarik Tiyas kembali.
"Saya masih cinta sama kamu, Tiyas," ungkap Bagas dengan nada menyesal juga frustasi. Wajah pria itu nampak sangat lelah.
Tiyas menarik tangannya yang digenggam erat oleh Bagas. Memalingkan wajahnya dengan wajah yang penuh sarat akan makna.
"Gak ada gunanya bilang kata-kata itu sekarang, Mas. Lebih dari tiga bulan saya tunggu kabar dari kamu saat itu, tapi yang saya dapet malah berita pertunangan kamu."
"Saya bisa jelasin, Tiyas. Itu gak seperti yang kamu pikirkan," balas Bagas yang semakin frustasi. Pria itu ingin menjelaskan kepada Tiyas dengan kepala dingin dan bukan dengan kondisi yang sama-sama kacau seperti ini.
Tiyas terkekeh getir. Ia menatap mantan suaminya dengan bola mata yang bergetar.
"Waktu itu, apa Mas kasih kesempatan saya buat jelasin? Gak kan Mas. Lagipula gak ada gunanya penjelasan Mas sekarang, saya udah bahagia sama hidup saya."
"Itu salah saya, maka dari itu saya minta maaf," balas Bagas yang masih begitu keras mempertahankan Tiyas.
"Kalau saya maafkan, apa Mas bisa buat gak muncul dihadapan saya? Muak saya, Mas!" bentak Tiyas dengan seluruh tubuhnya yang bergetar.
Semakin lama berdebat dengan Bagas, semakin banyak rindu yang menyeruak masuk dari dadanya. Tiyas tidak ingin jatuh kelubang yang sama untuk kedua atau ketiga kalinya. Hidup bersama dengan Ken hingga tua adalah hal yang paling membahagiakan untuknya.
Karena tak mendapatkan jawaban dari Bagas. Wanita itu langsung berbalik lagi dan masuk ke dalam mobil. Tapi lagi-lagi, Bagas menahan pintu mobil itu dengan perasaan kacau.
"Kalau kamu memang gak mau lagi bertemu dengan saya. Apa kamu bisa menjawab pertanyaan saya dengan jujur?" tanya Bagas dengan tatapannya yang begitu serius.b
Kini Tiyas mulai ketakutan. Cengkeramannya pada kursi mobil menguat, bola matanya sedikit melebar. Menanti pertanyaan dari Bagas, meski Tiyas berharap bukanlah sesuatu yang mengganggu kehidupan nyamannya.
"Ken, dia anak saya kan Tiyas? Saat kamu keluar dari rumah, kamu sedang mengandung anak kita kan, Tiyas? Jawab saya!"
__ADS_1