Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 36


__ADS_3

"Jangan ngusik Tiyas, Jo. Ini pilihan hidup dia. Harusnya kamu sadar dari mana kamu berasal, pantas gak buat bersanding sama Tiyas?" tanya Beby dengan alis yang terangkat. 


Perkataannya memang kejam. Tapi itulah kenyataannya. Bahkan dibandingkan Wiguna, Adhitama jelas jauh diatas. Menjadi anak semata wayang yang akan mewarisi semua harta kekayaan Adhitama, jelas orang tua Tiyas tidak akan sudi menerima menantu jauh di bawah mereka. 


Alasan Adhitama menerima perjodohan dari keluarga Wiguna tidak lain karena perjanjian kakek buyut mereka. Yang dimana pada saat itu baik Adhitama dan Wiguna sama-sama merintis dari bawah. Sayangnya pertumbuhan perusahaan Adhitama lebih dulu melesat jauh meninggalkan Wiguna. 


"Jangan merendahkan saya begitu, Kak," tuntut Jovan dengan tatapan tajamnya. "Saya ini sudah punya penghasilan cukup dan nama saya terpampang dimana-mana. Jangan menganggap saya orang rendahan." 


"Kamu dulu orang rendahan!" serang Beby yang berusaha untuk membuat Jovan membuka mata. "Meski kamu sudah mapan, bukan berarti kekayaan keluargamu setara dengan Adhitama! Sadar diri!" 


Jovan terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa menampik perkataan Beby yang memang begitulah adanya. Dulu dirinya bukanlah apa-apa, hanya seorang pengangguran setelah lulus sekolah. Luntang lantung mencari pekerjaan yang sulit didapatkan. Beby adalah orang pertama yang menemukannya dan memasukkannya ke sekolah model hingga namanya besar sampai sekarang. 


Beby menghela napasnya kesal. Ia kemudian beranjak dari duduknya seraya masih menatap tajam sang artis guna memberikan peringatan. 


"Jangan buat saya kecewa, Jo. Cinta bertepuk sebelah tangan kamu itu bakal menghancurkan karir yang sudah dibangun dengan jerih payah dan keringatmu." 


Setelah memberikan peringatan dan sebuah fakta yang menyakitkan. Beby segera pergi dari ruang rawat inap tersebut, meninggalkan sang artis yang termenung. Berharap perkataannya menjadi cambukan agara Jovan sadar diri dan tidak membuat kehidupan sahabatnya menjadi penuh masalah. 


Jovan terkekeh getir, ia dibuat mati kutu oleh Beby. Jika dipikir-pikir memang benar. Untuk apa dirinya berbuat sejauh itu jika Tiyas saja tidak membalas cintanya. Bahkan bukan saat ini, tetapi dari pertama kali mereka bertemu. Wanita itu tidak sedikitpun meliriknya. 


"Gak perlu dipikirkan. Cinta bisa bersambut kalau lo memperjuangkannya." 


Jovan menolehkan kepalanya pada sumber suara. Dimana kini ada sosok lain yang masuk ke dalam ruang rawat inapnya. Wajahnya yang sudah sendu semakin keruh, melihat siapa yang datang untuk membesuk. 


"Ngapain disini, Steff?" tanya Jovan dengan tidak bersahabat. Melihat wajah angkuh wanita itu sedikit banyak membuat Jivan menjadi dongkol. 


Jika dipikir-pikir, karena Stefanny yang mengajak Bagas datang ke lokasi pemotretan membuat Jovan jadi gagal untuk dekat dengan Tiyas dan malah mendapatkan lebam di wajahnya. 


"Sewot banget si lo, biasanya juga ramah!" protes Stefanny dengan terkekeh kecil. Wanita itu duduk di sofa tepat ditempat Beby sembelunya duduk. "Gue cuma mau kasih motivasi aja buat lo." 


Jovan berdecak kesal. Ia tak menyahut perkataan Stefanny dan memilih untuk fokus pada berita dirinya dan Bagas yang masih saja ditayangkan. 

__ADS_1


Stefanny yang ikut melihat arah pandang Jovan hanya bisa menahan senyum liciknya. 


"Lo kayaknya lemah banget ya. Masa gak bisa bales pukulan Bagas?" tanyanya tak habis pikir.


"Gue cuma gak mau dipandang jelek sama Tiyas. Itu lebih dari cukup buat dia gak benci sama gue," sahut Jovan yang ikut terpancing. Pria itu tidak bisa membayangkan kalau Tiyas membencinya suatu saat nanti. 


Wanita itu menyemburkan tawanya yang sudah berusaha ditahan. Kedua tangannya bertepuk riang, seolah perkataan Jovan adalah lelucon yang pantas ditertawakan. 


"Inilah yang namanya budak cinta. Lo bener-bener dibikin bodoh cuma karena cinta yang bertepuk sebelah tangan." 


Sudah dua orang yang berkata seperti itu. Tetapi Jovan memilih diam, tidak ada gunanya berdebat dengan wanita. 


"Lo pikir gimana nasib Bagas setelah dipojokkan oleh wartawan dan fans gila lo? Gue sih yakin gak berpengaruh sama dia, toh keluarganya terpandang. Buat meredam media bukan hak besar bagi mereka," sambung Stefanny dengan senyum miringnya. "Tiyas? Duh, cewek miskin begitu gak bakal bisa lepas dari Bagas. Yang dia butuhkan sekarang cuma duit." 


Jovan mendengus kesal sekaligus geli. Sepertinya Stefanny juga tidak tahu tentang status Tiyas sebenarnya, hingga menghina tunggal Adhitama itu. 


"Lo sebenarnya mau apa dari gue?" tanyanya yang penasaran dengan kedatangan partnernya. 


"Gue mau Bagas, Jo," jawab Stefanny langsung pada intinya. "Gue bakal singkirkan siapapun yang merebut Bagas dari gue, termasuk Tiyas." 


Stefanny mengedikkan bahunya. Merasa bahwa omongan Jovan adalah angin lalu. 


"Gue heran, apa sih yang disukai dari gadis jelek, miskin, dan rendahan kayak gitu? Buka mata lo, Jo. Banyak cewek cantik dan seksi disekitar lo." 


Jovan hanya terdiam dengan rahangnya yang mengeras. Tidak terima jika Tiyas dihina sebegitu rendahnya oleh Stefanny. 


"Urus aja urusan lo sendiri!" 


"Oke," balas Stefanny sembari mengangkat kedua tangannya. "Tapi gue cuma mau kasih peringatan aja, kalau gue gak akan berlemah lembut sama Tiyas. Jadi kalo lo takut tuh cewek ada apa-apa, mending gerak cepat." 


Jovan berdecak kesal. Ia memalingkan wajahnya, tak sudi untuk melihat Stefanny lebih lama lagi. 

__ADS_1


"Kalau lo berubah pikiran buat kerja sama bareng gue, pintu terbuka lebar, Jo." 


***


Bagas dan Tiyas pulang setelah supir keluarga Wiguna menjemput mereka di hotel. Sesampainya di mansion utama matahari sudah mulai bergerak turun. Karena terjebak macet, perjalanan mereka hari ini sedikit lebih lama. Namun, keduanya juga tidak ada yang membuka obrolan hingga sampai ke mansion. 


"Kita gak bisa masuk," ucap Tiyas sembari bersembunyi di balik rambut panjangnya. Wanita itu jelas sejak dulu anti dengan kamera wartawan, terlebih dengan situasi kacau seperti ini. 


Bagas berdecak kesal melihat para awak media yang mengerumuni mobilnya bahkan sampai menempelkan kamera besar mereka pada kaca mobil. 


"Kita lewat pintu belakang aja." 


"Kita gak bisa bergerak, Bos," balas sang supir yang umurnya tidak berbeda jauh dengan sang atasan. 


"Sialan," bisiknya mengumpat. Pria itu melirik sang istri yang semakin rapat kepadanya. Dengan sigap Bagas melindungi sang istri, membawa kepala Tiyas pada dadanya. Serta menutup wajah Tiyas dengan jas miliknya. 


Wanita itu pasti shock berat. Hidupnya yang terkesan biasa-biasa saja kini harus tersorot media dengan brutal. 


Dan alasan utamanya karena memang Tiyas paling tidak suka pada kamera, serta wajahnya yang akan mereka ambil. Rencananya akan terbongkar jika harus seperti ini terus. 


"Terobos saja. Tabrak yang menghalangi jalan, saya harus memastikan Tiyas aman sampai ke dalam," titah Bagas dengan tegas dan disanggupi oleh bawahannya. "Tenang aja, saya ada disini, Tiyas," sambungnya setelah merasakan tubuh sang istri gemetar hebat. 


Cukup memakan waktu tidak sebentar saat mobil berusaha untuk menerobos kerumunan. Dengan klakson yang tak henti-hentinya berbunyi mengisyaratkan agar para awak media menyingkir. 


Bagas masih terus memeluk tubuh istrinya. Memberikan elusan pada punggung Tiyas sembari membisikkan kalimat penenang. 


"Sudah sampai, Bos," ucap sang supir setelah mobil mereka masuk ke halaman mansion. 


Sulung Wiguna itu menoleh kebelakang, dimana para awak media tidak bisa masuk karena pagar rumahnya telah tertutup rapat dan dijaga oleh para satpam. 


"Ayo," ajaknya pada sang istri untuk turun dari mobil dan tetap menutupi wajah Tiyas seiring keduanya masuk ke kediaman Wiguna. 

__ADS_1


"Kamu baik-baik aja?" tanya Bagas yang nampak khawatir dengan sang istri. Dilihatnya Tiyas yang nampak panik disana. Belum selesai dirinya mengkhawatirkan sang istri, tiba-tiba seseorang memanggil namanya. 


"Bagas!" sosok itu berteriak dengan penuh emosi dan melayangkan tamparan keras pada pipi Bagas. "Dasar, anak kurang ajar!" 


__ADS_2