
Setelah mendapatkan nasehat dan menjadi ada sedikit harapan sepulangnya dari rumah Jonathan. Kini Bagas sudah sampai di depan gerbang rumahnya, pria itu baru saja turun dari mobil dengan keningnya yang berkerut dalam. Mata tajamnya memperhatikan sekitar dan ada satu mobil yang tampak asing di pandangannya.
"Ada tamu?" tanya Bagas pada Ari yang mengekori dibelakangnya.
Pria muda itu menggeleng pelan.
"Saya gak tau, Tuan Muda," katanya sembari mengamati mobil yang memang cukup asing di matanya. Bukan mobil kerabat Wiguna seperti yang biasanya selalu berkunjung.
Karena penasaran, Bagas kemudian melangkah dengan cepat dan lebar. Pria itu berjalan tegap dengan dagunya yang terangkat serta tatapannya tajam.
Kedatangan Bagas disambut gembira oleh Indah yang langsung menarik sang anak ke ruang tengah, tepat dimana ada ketiga orang asing disana. Satunya Bagas kenal sekilas, pria paruh baya pemilik perusahaan yang cukup besar.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan alis yang terangkat.
Indah hanya membalasnya dengan senyum lebar. Kemudian menarik anaknya untuk lebih dekat dan mendorong punggung sang putra.
"Yang sopan, sapa dulu," bisiknya sembari menepuk punggung Bagas. "Ini Bagas, anak pertama saya. Ganteng kan? Dia ini aset keluarga Wiguna, cocok sama Luna. Cantik dan ganteng."
Kedua orang tamu yang merupakan sepasang suami istri itu tertawa kecil, sedangkan anak gadis mereka tersenyum malu dengan semburat merah di pipinya.
"Saya senang, akhirnya bisa bertemu sama Nak Bagas. Pimpinan PT. W Group yang terkenal apik dalam pekerjaannya," puji sang pria paruh baya tersebut. "Perkenalkan saya Agung Atmaja, sebentar lagi kita akan bekerja sama."
Sialan, tanpa Bagas harus mengkonfirmasinya dengan sang ibu. Jelas pria itu tahu tujuan mereka datang kemari, bisa dilihat dari ekspresi wanita itu. Ini benar2 mengesalkan.
"Saya gak berminat sama putri anda, Pak," celetuk Bagas dengan lantang yang membuat Indah serta tiga orang lainnya terkejut.
__ADS_1
"Bagas!" teriak Indah tertahan. Wanita itu menatap tajam sang anak guna memberikan peringatan.
Tapi tidak lagi, Bagas tidak akan diam lagi. Rindunya kepada Tiyas sudah benar-benar tidak bisa dibendung. Jika Bagas tetap diam seperti kejadian lima tahun lalu, kemungkinan kehilangan Tiyas kedua kalinya akan lebih besar.
"Kenapa, Ma? Aku gak mau jadi boneka di keluarga ini lagi. Aku mau memperjuangkan cintaku kepada Tiyas!" seru Bagas dengan tegas. Ia tak lagi memperdulikan tamu di hadapannya yang hanya bisa terdiam karena terkejut.
Indah benar-benar murka. Muak rasanya mendengar nama itu lagi.
"Mama gak jadikan kamu boneka, Bagas! Mama cuma mau carikan kamu istri, biar kamu gak terus-terusan terbelenggu sama kenangan kalian! Kamu gak inget perlakuan Tiyas sama keluarga kita? Dan sekarang mana dia? Sudah lima tahun, dia gak sedikitpun nampakin wajahnya sama kamu!"
"Apa Mama gak inget gimana perlakuan kalian semua sama Tiyas?" tanya Bagas yang kini seakan menjadi boomerang untuk sang Ibu. Mata pria itu tiba-tiba menyendu. "Gimana Mama sebegitu inginnya misahin aku sama Tiyas? Dan paksa aku untuk tunangan sama Stefanny? Mama mau perlakuan kasar aku ke Stefanny, terulang lagi ke dia?!" teriaknya sembari menunjuk Luna.
Indah menatap panik keluarga Atmaja itu sembari menepis tangan Bagas yang terjulur menunjuk ketiganya. Selama ini tidak ada yang tahu tentang batalnya pertunangan Bagas dan Stefanny, kecuali keluarga mereka sendiri. Baik Restu maupun Indah, keduanya sama-sama menutupi dan membuat citra Bagas selalu baik.
Sedangkan Agung, sebagai kepala keluarga dan tamu merasa tidak enak. Karena kedatangan mereka Ibu dan anak itu saling bertengkar. Meski keinginan terbesarnya adalah menjadi mitra PT. W Group, tapi jika kondisinya begini mungkin tidak akan bisa. Terlebih pernyataan Bagas yang membuatnya mulai paham dan tidak ingin putri bungsunya menjadi korban selanjutnya.
"Oh, Pak Agung! Kenapa cepat-cepat pulang? Saya bela-belain ngebut loh buat sambut kalian," sahut Restu yang berjalan cepat dengan senyum penuh wibawanya.
Bagas yang melihat kedatangan sang Ayah langsung mendengus malas. Pria itu berencana akan membereskan barang-barang di kamarnya dan memutuskan untuk tinggal di apartemen mewahnya mulai sekarang.
Agung menerima jabatan tangan dari rekan lamanya dengan senyum canggung.
"Saya mau langsung saja, Pak Restu. Ada urusan juga, masalah ini kita bahas lain kali aja."
Situasinya sudah tidak sehat, Agung tidak ingin masuk ke dalam pertikaian keluarga ini.
__ADS_1
"Saya minta maaf sebelumnya, Pak Agung. Anak saya, Bagas memang belum bisa melupakan mantan istrinya, dia susah menerima orang baru. Jadi tingkahnya agak kasar, tapi dia penyayang," ungkap Restu dengan suaranya yang pelan. "Luna dan Bagas mungkin lebih baik saling mengenal dulu. Kalau klik, boleh kita bahas ini kembali."
Bagas yang mendengar perkataan sang Ayah lantas langsung bergerak maju. Pria itu menatap Restu dengan tajam.
"Pah!" serunya protes. "Apa-apaan sih? Kan Papa janji sama aku buat balik sama Tiyas!"
Restu menghela napasnya kasar, ia menatap sang anak dengan alis terangkat serta senyum miringnya. Seakan-akan menatap remeh sang anak.
"Terlalu lama, sudah lima tahun. Kamu bahkan gak tau dimana Tiyas berada kan? Kita butuh penerus, Gas! Usia kamu udah 35 tahun! Nunggu wanita itu terlalu lama, mungkin dia udah nikah sama yang lain!"
"Mending kamu saling kenal aja dulu sama Luna," timpal Indah juga yang bergerak maju. "Kamu dan Tiyas dulu juga begitu ujung-ujungnya suka. Dan Luna lebih cantik, pintar, sopan daripada mantan istrimu. Harusnya gak butuh waktu lama buat kamu mencintai kepribadiannya."
Sepertinya kedua orang tuanya sudah tidak lagi memikirkan perasaan Bagas. Benat kata Jonathan. Dan Bagas sudah yakin untuk tidak memilih keluarganya, pria itu siap jika harus kehilangan semuanya. Tabungannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
"Aku udah ketemu sama Tiyas, kalau kalian ingin tau," sahut Bagas yang menatap tajam kedua orang tuanya bergantian. "Cintaku selama lima tahun ini gak sedikitpun berkurang buat Tiyas, jelas aku gak bisa nerima wanita manapun. Mau dia lebih dari Tiyas 10 kali lipat."
"Jangan jadi anak durhaka. Beberapa tahun terakhir ini kamu sudah jadi Bagas yang kami kenal, sekarang kamu mulai durhaka lagi dan membantah lagi!" bentak Indah yang tak tahan dengan kelakuan sang anak.
Dan Bagas juga sebaliknya. Pria itu sudah tidak tahan dengan kelakuan buruk kedua orang tuanya. Bahkan sang kakek sudah tidak ingin ikut campur dan memilih menghabiskan masa tuanya di luar bersama sisa rekannya yang ada.
"Terserah Mama mau bilang aku anak durhaka atau sebagainya. Tapi mulai sekarang aku mau memperjuangkan cintaku kepada Tiyas, gak peduli kalau kalian gak setuju," putus Bagas dengan lantang. Pria itu sudah siap dengan konsekuensinya dan memilih untuk angkat kaki dari sana.
"Selangkah kamu keluar dari rumah ini dan memilih mengejar mantan istrimu. Maka saya gak akan menerima kamu di rumah ini lagi!" seru Restu dengan suaranya yang berat dan dalam. Pria itu menatap punggung anaknya dengan rahang yang mengeras dan juga tangan terkepal kuat. "Dan silahkan kamu lepas semua jabatanmu di perusahaan."
Sekali ini, untuk yang terakhir kalinya. Bagas tidak akan goyah, ia tidak akan terperdaya lagi. Pria itu memilih berjalan cepat meninggalkan rumah yang sudah menaunginya selama 35 tahun. Dan juga meninggalkan perusahaan yang sudah dipulihkan dengan hasil keringatnya sendiri tanpa bantuan siapapun.
__ADS_1
Karena Bagas sudah bertekad.
"Tiyas harus kembali ke pelukan saya."