
"Ken, kita baru aja sampai. Kenapa kamu gak istirahat aja?" bujuk Tiyas yang tidak menjawab pertanyaan anaknya. "Sudah berulang kali Mami bilang buat gak tanya-tanya perihal Papimu, orang itu gak ada bahkan saat kamu di perut Mami!"
Bocah kecil itu berjengit ketakutan saat nada Tuyas mulai meninggi. Ken dengan cepat bersembunyi dibalik tubuh sang Nenek.
Nirmala menghela napasnya pelan. Ia menggeleng kepada Tiyas yang tampak tersulut emosi.
"Kamu nakutin Ken," tegurnya yang kemudian membawa sang cucu ke dalam gendongannya. "Ken biar sama Mami aja. Kamu mending istirahat atau lakukan apa aja."
Sepeninggalan sepasang Nenek dan cucu tersebut, Tiyas langsung terduduk lemas di tepi ranjang. Wajahnya ia tangkup dengan kedua tangannya, kemudian menghembuskan napas panjang.
Sepertinya Tiyas salah sudah kembali ke tanah kelahirannya. Seharusnya wanita itu terus bersembunyi di negeri orang.
Di ruang keluarga, Nirmala akhirnya tahu apa yang membuat sang anak lepas kendali dari informasi Beby. Wanita paruh baya itu kini menatap sang cucu dengan sendu, Ken tertidur pulas setelah bermain dengan Arya.
"Tapi tenang aja, Tante. Saya sebisa mungkin melindungi Ken dari keluarga Wiguna," ucap Beby dengan raut wajahnya yang serius.
Nirmala tak menanggapi, wanita yang masih cantik di umurnya sekarang itu hanya bisa diam dengan sekelumit pikiran dikepalanya.
***
Bagas tidak kembali kerumah, pikirannya kacau. Satu-satunya tempat untuk bisa melepaskan kegundahannya adalah kediaman Jonathan. Namun sayangnya, keluh kesahnya tidak disampaikan dengan benar karena Stefanny sudah berada disana lebih dulu.
"Ngapain lo disini?" tanya Stefanny dengan sinis. Wanita itu kini tengah duduk santai sembari sibuk mengunyah dengan tatapan matanya tak lepas dari layar televisi.
Jonathan yang kini tengah membuat secangkir kopi untuk sahabatnya hanya bisa terkekeh pelan. Hubungan Bagas dengan Stefanny semakin tidak baik.
"Tumben lo kesini, katanya mau rayain anniversary," ledek Jonathan yang membawa secangkir kopi itu ke hadapan temannya.
Stefanny hanya diam meski lirikan matanya juga menatap Bagas. Penasaran dengan kehadiran pria itu dengan wajah yang kacau.
Disisi lain, Bagas menghela napasnya panjang. Mungkin inilah waktunya, tak peduli jika Stefanny mendengar.
"Gue ketemu Tiyas."
__ADS_1
Jonathan dan Stefanny yang awalnya tak curiga tentang hal apapun, kini keduanya sontak hampir melompat dari posisinya. Kedua mata mereka melebar.
"Apa?!" ucapnya berbarengan.
"Gas," panggil Jonathan dengan hati-hati.
Bagas tersenyum tipis sekaligus getir. Bibir pria itu bergetar sebelum akhirnya ia tangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Betapa ia sangat merindukan Tiyas dan fakta tentang kehadiran Ken semakin mengusik pikirannya.
Jonathan menghembuskan napasnya panjang. Ia kemudian mendekat ke arah sang sahabat dan memberikan tepukan pada bahu Bagas, sebagai tanda penyemangat.
"Supir gue gak sengaja nabrak anak kecil. Ken namanya, dia anak Tiyas," ungkap Bagas yang kini mulai sedikit agak tenang. Matanya melirik Jonathan dan Stefanny bergantian, bagaimana ekspresi keduanya yang sama-sama terperangah karena terkejut.
"Tiyas udah nikah?" tanya Jonathan dengan ragu. Tetapi pria itu penasaran, karena ini menyangkut perasaan sahabatnya.
Bagas menggeleng pelan.
"Gue gak percaya kata-kata dia, tapi katanya Ken bukan anak kami. Yang bisa disimpulkan kalau dia udah nikah."
Jonathan menghela napasnya panjang. Ia menatap Bagas dengan prihatin, setelah sekian lama pria itu menanti kekasih hatinya. Tetapi ternyata harapan tidak sesuai kenyataan.
Bagas berdecak pelan, frustasi ia rasakan.
"Gue gak mau nyerah gitu aja, Jo. Sebelum gue buktikan kalau Tiyas emang udah nikah."
"Jangan gila lo!" teriak Jonathan dengan matanya yang membelalak. Pria itu tahu seberapa nekat Bagas jika berhubungan dengan Tiyas. "Gak usah ganggu hidup dia lagi. Kalau dia aja bisa bahagia tanpa lo. Maka lo juga sama!"
"Kalau dia bisa bahagia tanpa gue, maka gue bakal mati, Jo," balas Bagas dengan lirih. Sepasang mata tajam itu kini berkaca-kaca. "Gue gak sanggup liat Tiyas sama cowok lain. Mungkin gue bakal mengakhiri hidup gue saat itu juga."
Jonathan berdecak kesal. Ia semakin tidak mengerti dengan pikiran gila Bagas. Bahkan kini Jonathan dengan berani mencengkram kerah kemeja Bagas, bahkan sampai menampar pipi sang atasan.
"Sadar, sialan!" teriak Jonathan yang sudah kepalang kesal. "Kalau lo mati apa Tiyas juga bakal mati? Gak, dia masih bisa hidup bahagia dengan suaminya!"
"Jo!" teriak Stefanny dengan panik. Ia merasa kasihan dengan perasaan Bagas yang porak poranda, tentu menanganinya dengan kekerasan bukanlah hal baik. Ia kemudian menarik tangan Jonathan dengan kuat. "Udah, Jo. Yang ada lo bikin Bagas tambah sakit!"
__ADS_1
Perkataan Stefanny membuatnya sadar, Jonathan langsung melepas cengkeramannya dengan sedikit dorongan. Pria itu langsung duduk sembari ditenangkan oleh Stefanny.
Sedangkan Bagas kini terdiam dengan pandangannya yang kosong. Pertemuannya dengan Tiyas jelas membuat perasaannya tak karuan.
"Ken mirip banget sama gue, Jo," ucap Bagas dengan lirih. "Apa iya Ken bukan anak gue?"
"Ya cari taulah, bego!" teriak Jonathan yang sudah tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran sepupunya. "Lo kalau mau tau kebenarannya gerak cepet! Jangan cuma diam ditempat aja! Lo datengin tuh rumah Adhitama, minta semua kejelasannya disana!"
"Kalau Tiyas makin benci sama gue gimana?" tanya Bagas dengan tatapannya yang ragu.
Jonathan menghembuskan napasnya kasar. Kini ia beranjak dari duduknya, berdiri dengan berkacak pinggang.
"Kalau kenyataannya Tiyas emang udah bersuami, lo harus tinggalin dia! Jangan rusak kebahagiaan Ken!"
Kepala Bagas terangkat. Ia menatap Jonathan dan akan menyerukan protesnya.
Tetapi Jonathan lebih dulu melanjutkan perkataannya.
"Tapi kalau emang Ken anak lo. Maka lo harus perjuangin Tiyas. Gak peduli dia bakal benci sama lo."
Bagas kini terdiam. Ia mulai mencerna baik-baik perkataan Jonathan. Otaknya yang kacau kini bak benang kusut yang mulai rapi kembali.
"Gue bisa bantu lo buat jelasin semuanya sama Tiyas," celetuk Stefanny yang kini merasa iba dengan kondisi mantan tunangannya itu. "Tapi lo harus pastikan bahwa om Restu emang benar-benar bolehkan lo buat kejar Tiyas lagi."
"Papa udah janji sebelumnya, gak mungkin dia ingkar begitu aja," sahut Bagas dengan tatapan tajamnya.
Stefanny menghela napasnya pelan. Ia kemudian mengusap wajahnya sebentar sebelum kembali menatap Bagas.
"Gue beberapa kali ditawari lagi sama tante Indah untuk jadi istri lo, tapi gue tolak. Dan dua hari yang lalu, mama lo minta gue carikan cewek buat seenggaknya jalani kencan buta."
Jonathan yang mendengar itu kantas mendengus geli.
"Liat kan? Keluarga lo itu gak berubah! Mereka manfaatin kesedihan lo buat keuntungan mereka sendiri. Setelah lo berjuang mati-matian dua tahun agar perusahaan kembali berjaya. Apa yang mereka lakukan sama lo?!"
__ADS_1
Mendengar semua perkataan Stefanny dan Jonathan. Akhirnya Bagas tersadar bagaimana watak sesungguhnya dari kedua orang tuanya. Wajar jika Bastian tidak ingin kembali bertemu orang tuanya. Dan satu-satunya harapan mereka adalah Bagas yang bisa dijadikan boneka keluarga Wiguna.
"Lo sekarang pilih, keluarga atau Tiyas?"