
"Gimana, Ma?" tanya Tiyas sekali lagi dengan nada menantang walau tampangnya nampak polos.
Karena Indah merasa direndahkan, wanita paruh baya itu mengangguk setuju.
"Oke, kita panggil semua yang ada di tempat kejadian. Kalau kamu terbukti bersalah, saya gak akan segan-segan tendang kamu dari rumah ini."
"Ma!"
"Indah!"
Teriak Bagas dan Chandra bersama-sama. Keduanya tidak setuju dengan perkataan Tiyas.
"Ma, bisa-bisanya bilang begitu!" protes Bagas dengan keningnya yang berkerut. Pria itu padahal sudah dengan sukarela mendapatkan hukuman demi hubungannya dan Tiyas kembali baik.
"Kamu pikir ini rumah siapa yang kamu sebut tadi?!" timpal Chandra yang ikut geram dengan menantunya.
Restu menghela napas lelah. Ia segera menarik istrinya untuk berada disisinya.
"Kamu kalau marah jangan sampai buat Papa emosi," titahnya kepada sang istri. "Memangnya kamu mau kalau kita yang bakal ditendang dari rumah ini? Dan jadi miskin?!"
Inda hanya bisa mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. Meski ia adalah menantu keluarga Wiguna. Ternyata kehadirannya tidak lebih penting dari Tiyas. Entah kenapa kini dendamnya pada Chandra semakin membesar. Wanita paruh baya itu semakin tidak suka dengan mertuanya.
Bagas melirik sang istri yang kini terdiam memandang lurus ibunya.
"Tiyas, gak usah diambil hati omongan Mama. Mending sekarang lanjut aja hukuman saya."
Tiyas menggeleng dengan tegas. Jika wanita itu kembali mengalah, ia akan semakin diinjak-injak. Sudah cukup perlakuan Indah selama ini terhadap dirinya, tidak lupa dengan peran Stefanny yang membuat luka di hatinya melalui sang suami.
"Saya harus dengar dulu penjelasan dari para ART," ucap Tiyas yang kemudian menatap Bella yang masih berdiri diam di belakang tubuh orang tuanya. "Adik ipar, bisa tolong kumpulkan mereka? Saya gak punya tenaga, tangan ini kalau digerakkan terus jadi sangat nyeri."
Mata Bella membelalak, tidak percaya bagaimana dengan manisnya Tiyas memerintahnya.
__ADS_1
"Gue?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri. Kepalanya hampir saja menggeleng dan menolak dengan keras, tetapi melihat tatapan sang Kakek membuatnya harus patuh. "Oke."
Tidak lama kemudian, kini mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Dimana kini Chandra duduk paling ujung pada sofa single. Sedangkan Bagas dan Tiyas duduk bersisian. Diseberang keduanya, ada orang tua Bagas dan Bella. Sedangkan para pegawai berdiri berjajar jauh didepan mereka, termasuk Maria.
"Jadi kalian semua ada didapur saat kejadian?" tanya Chandra mulai membuka suara di tengah tegangnya suasana.
Seorang pegawai yang sempat menyuruh Tiyas mencuci piring mengangguk.
"Iya, Tuan. Saya dan yang lainnya kami berada disana."
Chandra mengangguk paham. Kedua tangannya saling bertaut sembari menatap satu per satu wajah yang sekilas tidak familiar di matanya. Wajar karena pegawai di mansion utama ini cukup banyak.
"Oke, kalau begitu. Apa yang kalian lihat disana saat kejadian?" tanya Chandra kembali sembari memasang wajah yang serius.
Pegawai itu sempat melirik Indah dan Bella yang meliriknya dengan tajam. Juga melirik Tiyas yang nampak terdiam dengan menunduk.
"Awalnya saya lagi sibuk dalam mengurus makanan. Tiba-tiba Nona Tiyas dan Nona Stefanny bertengkar hebat. Setelah itu Nina Tiyas mendorong Nona Stefanny hingga menabrak teman saya yang sedang membawa piring kotor. Nona Stefanny terjatuh dan telapak tangannya menancap pada serpihan beling disana."
"Kan udah saya bilang. Stefanny gak mungkin bohong, memang kamu yang manipulatif!"
Kedua telapak tangan Tiyas terkepal erat, wanita itu hanya menatap datar sang ibu mertua. Sedangkan Bagas kini hanya bisa melirik sang istri dengan pandangan sendu.
Chandra yang awalnya terdiam karena merasa tak percaya bahwa Tiyas bisa melakukan hal jahat seperti itu kini membuka suaranya.
"Lalu bagaimana Tiyas bisa mendapatkan luka yang sama seperti Stefanny?" tanyanya kembali dengan alisnya yang terangkat.
Pegawai itu terdiam dengan bola matanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Berusaha untuk menghindari tatapan tajam Chandra. Dengan terbata, ia kemudian menjawab.
"I-itu karena Nona Tiyas yang melukai tangannya sendiri!"
Kepala Tiyas yang menunduk spontan saja terangkat. Wanita itu langsung berdiri dengan wajah tidak terima.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu mengaku dengan omong kosong seperti itu! Saya tahu sejak awal kamu gak suka kehadiran saya disini, tapi bukan berarti kamu jatuhin saya dengan cara begini!"
"Alah, udahlah!" sahut Indah yang sudah menahan emosinya dari tadi. "Kamu itu udah tau salah malah gak terima! Udah jelas-jelas kamu yang buat Stefanny celaka, masih aja mengelak! Segitunya kamu benci sama Stefanny, padahal kamu udah dapetin Bagas!"
Bagas yang lagi-lagi melihat Indah dan Tiyas beradu mulut hanya bisa mengurut pelan pangkal hidungnya.
"Ayo sekarang kamu keluar dari sini! Kemasi barang-barang kamu dan jangan lagi kembali kesini!" kata Indah sembari menarik-narik tangan Tiyas yang masih diam ditempat.
"Ma, apa-apaan sih! Tiyas masih istriku, jangan begini!" pekik Bagas sembari mengerang kesal. Pria itu langsung menarik sang istri masuk ke dalam dekapannya.
Mata Indah melotot dengan tidak santainya. Ia bahkan mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya kepada sang anak.
"Bagas, bisa-bisanya kamu bela istrimu?! Tuli kamu? Gak dengar tadi ART itu bilang apa? Tiyas udah bikin Stefanny celaka, padahal selama ini Stefanny gak pernah berbuat jahat sama istri kamu!"
"Ma, aku berusaha untuk percaya kata-kata istriku," ucap Bagas yang masih berpikir positif bahwa pengakuan sang istri memang benar adanya. "Apa Mama juga gak dengar yang Tiyas bilang? ART itu dari awal gak suka sama Tiyas. Bisa aja dia mengarang cerita agar Tiyas angkat kaki dari rumah ini!"
Pegawai wanita itu kini mulai ketakutan. Gerakan matanya tidak lagi fokus, keringat sebesar jagung turun dari pelipisnya. Kedua tangannya saling bertaut dengan panik.
Indah tahu apa yang terjadi, tapi otaknya menolak kebenaran tersebut. Karena hatinya sudah dipenuhi kebencian terhadap Tiyas.
"Oh, jadi kamu sekarang durhaka sama orang tua? Kamu lebih pilih orang asing yang jadi istrimu selama dua bulan dibandingkan Mama yang udah mengandung, melahirkan dan membesarkan kamu sampai sekarang?!"
Bagas sesaat memejamkan matanya. Otaknya sudah bercabbang dan tidak bisa fokus pada satu topik. Emosinya sudah bergumul dalam dadanya, tapi pria itu sekuat tenaga berusaha mengontrol amarahnya.
"Kenapa kita gak tanya sama yang lain aja? Bukan cuma dia kan yang ada disana? Coba tanya sama yang bawa piring kotor, apa benar ceritanya memang seperti itu?" tanya Bagas berusaha untuk memberikan jalan keluar. Siapa tahu ada setitik cahaya untuk menyelamatkan istrinya.
Sedangkan Tiyas didalam pelukan Bagas kini sudah pasrah. Dari awal keberadaannya di rumah ini memang sudah tidak disambut baik. Tetapi Tiyas tidak menyangka bahwa perkiraan jika umur pernikahan ini tidak panjang hanya sebatas dua bulan saja.
Ditengah Bagas dan Indah yang masih bersitegang. Sosok Maria muncul dari balik tubuh para pegawai tersebut.
"Mohon maaf untuk semuanya. Disini saya akan menceritakan tentang kejadian kemarin dari sudut pandang yang saya lihat. Saya saksi mata di sana dan kejadian itu tidak seperti Nyonya Indah ataupun anak buah saya katakan. Saya berani mempertaruhkan pekerjaan saya untuk membela kebenaran."
__ADS_1