Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 60


__ADS_3

"Gue gak peduli kalau lo mau abisin gue! Tapi disini gue cuma mau bilang kalau istri lo ini pembohong besar! Dia bukan Tiyas yang kita kenal sebagai orang dewasa yang kerjanya guru honorer! Dia itu Tiyas, anak konglomerat keluarga Adhitama!" 


Setelah membujuk dan sedikit memaksa Jovan. Akhirnya Stefanny mengetahui semua fakta tersembunyi dari Tiyas. Inilah senjata terakhirnya. 


Bagas menatap tajam Stefanny dengan rahangnya yang mengeras. Wajahnya memerah karena menahan amarah. 


"Lo pikir gue bakal percaya? Setelah apa yang lo lakuin sama istri gue?!" 


Tidak ada lagi sikap sopan santun Bagas. Pria tampan itu sudah kepalang muak, sekarang tidak ada kata-kata lembut yang tertuju pada Stefanny. Padahal sejak kecil, Bagas diajarkan untuk tetap berkata lembut meski amarahnya akan meledak, terutama pada perempuan. Tapi tidak untuk kali ini. 


Stefanny berdecih sinis, ia tersenyum miring pada Tiyas yang masih setia berada dipelukan Bagas. 


"Tentunya lo harus percaya sama gue. Karena bukan gue aja yang tau ini semua, tapi juga Jovan." 


Jovan yang namanya ikut terseret masih terdiam. Matanya bersitatap dengan Tiyas yang nampaknya terlihat begitu sedih dan pasrah. Matanya sesaat tertutup rapat, sedikit banyak menyesali telah menerima tawaran Stefanny. Pria itu tidak bisa melihat kesedihan yang menghampiri wanita tercintanya itu. 


Bagas melirik Jovan yang masih terdiam disana menatap sang istri. Pria itu tidak akan terlena untuk kesekian kalinya dan menyebabkan keretakan dalam rumah tangganya. Bagas meyakini bahwa fitnah yang dilayangkan Stefanny pada istrinya adalah upaya untuk memisahkan mereka. 


"Jo, bawa dia pergi. Kalau gue yang turun tangan, gak menjamin gue gak main tangan sama dia," titah Bagas dengan penekanan dalam setiap perkataannya. 


Sedangkan di sisi lain, Tiyas hanya bisa terdiam lemas didalam pelukan suaminya. Entah darimana Stefanny bisa mengetahui kebohongannya atau ini semua karena Jovan yang memang menginginkan kebahagiaan lenyap dalam hidupnya. 


"Mas, aku pusing," keluh Tiyas dengan pelan. Wanita itu bukan menghindar, meski kenyataannya di dalam hatinya penuh dengan ketakutan. Tapi Tiyas tidak berbohong saat mengatakan bahwa kepalanya kini terasa pening. 


Bagas menghela napasnya, merasa kasihan pada istrinya. Bisa-bisanya Stefanny kembali merusak mood yang sudah Bagas bangun untuk Tiyas. 


"Ayo kita masuk." 


"Gak!" 

__ADS_1


Stefanny langsung menghalangi jalan mereka dengan merentangkan kedua tangannya.


"Lo harus denger penjelasan gue dulu!" 


Jonathan yang sudah merasakan amarah Bagas langsung menarik Stefanny untuk mundur. Berbahaya jika Stefanny masih ditempat, mungkin Bagas tidak segan-segan untuk menyiksa sang model cantik itu. 


"Lo kenapa sih?! Gak usah ganggu mereka deh, Stef!" bentak Jonathan yang juga ikut kesal dengan sikap Stefanny. "Gue pikir lo udah kubur semua cinta lo buat Bagas!" 


Stefanny terkekeh sinis, ia kemudian menghempaskan tangannya hingga cengkeraman Jonathan terlepas. 


"Gue gak akan pernah bisa hilangin semua cinta gue buat Bagas! Gue akan terus berusaha buat dapetin dia. Lo kayaknya terlalu percaya diri ya? Lo pasti pikir gue suka kan sama lo? No, gak sama sekali." 


Padahal selama ini Jonathan tidak pernah berpikir bahwa Stefanny menyukainya. Pria itu hanya merasa kasihan mengingat fakta Stefanny selalu curhat dan menginap dirumahnya. 


Bagas yang melihat bahwa perseteruan ini tidak akan selesai. Langsung membawa Tiyas untuk masuk kedalam mobil kembali. 


"Lo bisu?! Ngomong sekarang! Sebelum lo menyesal karena gak bisa dapetin Tiyas!" 


Jovan terdiam, membiarkan Stefanny mengguncang tubuhnya. Sedangkan matanya kini menatap punggung Tiyas yang sudah akan masuk ke dalam mobil mereka. 


"Apa yang dibilang Stefanny itu benar semua," celetuk Jovan dengan nada yang sedikit keras. Membuat Tiyas menghentikan langkahnya, begitu juga Bagas. "Gue adalah  artis yang berada dibawah naungan TD Agency. Dimana perusahaan itu sepenuhnya milik Tiyas. Tetapi Beby yang menjalankannya." 


Mendengar nama sahabatnya dibawa-bawa membuat Tiyas mau tidak mau berbalik, kemudian menatap Jovan penuh peringatan. Wanita itu kini mulai merasakan marah juga ketakutan yang semakin menjadi. Jovan tidak punya hak untuk membeberkan semua identitasnya. 


Jovan yang sadar dengan tatapan Tiyas, mencoba untuk bersikap tegas dengan dirinya sendiri. Meyakini bahwa keputusannya sudah benar, tanpa menyadari resiko yang akan diterima nantinya. 


"Tiyas adalah anak tunggal pemilik perusahaan pertambangan Adhitama Group, sekaligus pendiri TD Agency. Dimana sekarang jadi perusahaan tempat gue bernaung," sambung Jovan yang kini nadanya mulai terasa santai, namun tegang. "Selama ini dia memang gak pernah mau muncul di publik, selalu merahasiakan identitasnya sebagai anak konglomerat. Dan melamar menjadi guru honorer untuk mengisi waktu. Gue adalah satu-satunya artis yang tau kebenaran ini." 


Bagas yang tadinya getol sekali membela sang istri, kini ikut terdiam. Menatap Jovan dan Stefanny secara bergantian. Penjelasan yang Jovan berikan sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan Bagas. Pria itu melirik sang istri yang juga sama terdiamnya. 

__ADS_1


"See?" Stefanny kini mulai angkat suara. "Gue gak tau apa yang membuat Tiyas harus berbohong sama keluarga suaminya. Gue gak yakin kalau ini tentang harta, secara keluarga lo lebih kaya dari Wiguna. Jadi apa alasan lo buat berbohong Nona Muda?" 


Tiyas menatap benci pada senyum miring Stefanny, seolah-olah wanita itu kini menunggu kehancurannya. Menghina ketidakberdayaannya. Ia juga menatap tajam pada Jovan yang tidak berani untuk balik menatapnya. 


"Tiyas," panggil Bagas pada akhirnya. Sekali lagi, pria itu kini semakin penasaran. Jika ditelaah lebih dalam bersamaan dengan kisah mereka sebelum memutuskan untuk menikah. Jonathan waktu itu juga kesulitan untuk mengakses data Tiyas. Dan hingga saat ini, Bagas juga tidak tahu nama belakang sang istri. "Kayaknya saya juga merasakan hal yang janggal sama kamu." 


Tiyas kini menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca. Kenapa harus sekarang? Ketika hubungan mereka sedang terjalin begitu baik? Kenapa ketika Tiyas sudah mulai nyaman dan mencintai suaminya? Dan yang semakin membuat amarahnya meledak, kenapa dari mulut orang lain kebenaran ini terungkap?


"Semua yang Stefanny dan Jovan katakan benar, Mas. Dari awal saya sudah mulai kebohongan ini. Saya adalah anak dari koleganya, Mas Bagas. Papi saya, Rudi Adhitama," ungkap Tiyas dengan nada yang bergetar. 


Mata Bagas sontak melebar. Pelukannya pada tubuh sang istri dilepasnya begitu saja, bahkan langkahnya ia tarik mundur. Ia tidak percaya dengan perkataan sang istri. 


Jonathan yang juga tidak mengetahui kebenaran dari Tiyas juga ikut terkejut. Bagaimana bisa Tiyas menyembunyikan kebohongan sebesar ini tanpa ada orang yang tahu. 


"Kenapa kamu melakukan ini semua kepada saya? Kamu anggap saya orang bodoh yang bisa kamu permainkan?" tanya Bagas dengan tatapannya yang kecewa. 


Sejenak Tiyas menutup matanya, tidak sanggup harus mendapatkan tatapan kecewa dari sang suami. Bibirnya yang bergetar ia gigit kencang, bukan saatnya untuk menangis dan mengasihani diri sendiri. 


Wanita itu tahu bahwa sebab yang ia buat akan menimbulkan akibat. Hanya saja Tiyas tidak tahu bahwa terungkap identitasnya dengan cara seperti ini. 


"Semua yang saya lakukan ada alasannya, Mas. Dan saya gak pernah mempermainkan, Mas. Ini bukan tentang kamu, Mas," jelas Tiyas dengan napasnya yang tersendat karena berusaha menahan tangis. 


Bagas memalingkan wajahnya. Tak sanggup jika harus kembali melihat kesedihan pada wajah sang istri, tetapi rasa kecewanya kini lebih besar. 


"Siapa lagi yang tau kebohonganmu? Kakek? Karena cuma dia yang selalu ada dibelakang kamu." 


Tiyas tidak menjawab, wanita itu memilih bungkam. Dan Bagas sudah bisa menebak apa jawaban dari keterdiaman sang istri. 


"Saya kecewa sama kamu, Tiyas," sambung Bagas dengan tatapannya yang menyendu. Pria itu langsung berbalik masuk kedalam mobil seorang diri. "Untuk sekarang saya gak mau mendengar penjelasanmu. Simpan saja untuk kamu sendiri. Dan untuk saat ini, saya minta sama kamu untuk kita jalan masing-masing." 

__ADS_1


__ADS_2