
Bagas masih asyik mengobrol saat suara pecahan piring terdengar cukup keras. Pria tampan itu menatap ke arah dapur dengan sekilas karena jauh dari pandangannya dan tertutup oleh tubuh orang-orang.
Sulung Wiguna itu melihat sekeliling dan tidak mendapati sang istri di sudut manapun. Bagas juga melirik Jonathan yang tiba-tiba saja berdiri dengan dengan tergesa, terlebih karena terdengar jeritan dari sana.
Pikiran Bagas mulai tak tenang. Pria itu segera berlari ke arah dapur dan menerobos orang-orang yang berkerumun disana. Matanya melebar saat melihat betapa kacaunya ruangan dapur itu.
"Ada apa ini?" tanyanya yang masih memproses kejadian tersebut.
"Bagas!"
Stefanny langsung berdiri dengan susah payah sembari menunjukkan telapak tangannya yang berdarah karena tertusuk beling.
"Liat, tangan aku berdarah! Ini semua karena Tiyas, masa aku mau bantu gak dibolehin. Dia malah kesal terus banting piring dan dorong aku sampai jadi kayak gini."
Kedua alis Bagas menyatu, keningnya berkerut tajam sembari menatap telapak tangan Stefanny yang terus mengeluarkan darah.
"Gak usah bohong deh lo!" celetuk Jonathan yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Bagas. "Gak ngerti gue sama pikiran lo!"
Jonathan menggeleng prihatin pada Stefanny yang bertindak nekat hanya untuk menarik simpati Bagas. Pria itu langsung saja berjalan tanpa peduli pecahan beling menembus sepatunya, kemudian berjongkok di depan Tiyas yang terdiam dengan kepala menunduk.
"Lo gak apa-apa?" tanya Jonathan yang tidak mendapatkan jawaban.
Karena Stefanny yang sejak kedatangannya sudah berada di depannya, Bagas tidak mengetahui bahwa ada sang istri disana.
"Tiyas!" panggilnya dengan nada panik. Pria itu segera menyingkirkan Stefanny dan matanya melebar saat melihat kondisi sang istri yang terduduk bersama pecahan beling. "Kenapa kamu ada disini?!"
Jonathan berdecak kesal. Pria itu tidak bilang apa-apa dan langsung kembali berdiri. Menatap Stefanny yang cemburu buta kepada sang sahabat, dengan tanpa perasaan Jonathan menarik tangan sang model yang terluka dan membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
Disisi lain, Tiyas hanya bisa menahan malu, kesal dan sedih. Entahlah semua campur aduk menjadi satu. Dadanya sesak, bibirnya bergetar, tetapi wanita itu enggan untuk menumpahkan kesedihannya.
"Sayang," panggil Bagas yang kini lebih lembut. Menarik dagu Tiyas dengan pelan, memperhatikan bagaimana wajah cantik itu terlihat kacau. "Maaf."
Tiyas membiarkan tubuhnya dipeluk oleh sang suami dengan erat. Tak ada perasaan bahagia disana. Semakin Bagas memberinya kalimat penenang serta permintaan maaf, dada Tiyas semakin berdenyut nyeri, sesaknya semakin bertambah, bibirnya sekuat mungkin ia gigit. Wanita itu tidak bisa menahan kesedihannya.
Sembari memeluk tubuh sang istri, Bagas juga memberikan kecupan hangat di pelipis Tiyas.
"Saya minta maaf," ucapnya entah yang sudah keberapa kali dengan rasa sesal mendalam.
Indah dan Bella yang juga terkejut dengan kejadian ini hanya bisa terdiam sembari melirik satu sama lain.
"Kita ke kamar ya, saya gendong," bisik Bagas yang langsung menyelipkan satu tangannya di bawah tekukan lutut dan satunya lagi di ketiak. Menggendongnya ala bridal style dengan sekali angkat.
Tiyas masih saja membisu dengan wajahnya yang tertunduk dalam. Menyembunyikannya di balik leher jenjang suaminya. Meski begitu ia bisa merasakan jika orang-orang yang menjadikannya tontonan kini mulai bergerak memberikannya jalan.
Ketika sampai di kamar tidur mereka. Bagas langsung mendudukkan Tiyas ditepi ranjang dengan perlahan. Berjongkok ia sembari mengangkat kepala sang istri yang terus saja menunduk.
"Saya minta maaf, seharusnya gak ninggalin kamu sendirian," ucap Bagas kembali membuka suara. Frustasi karena Tiyas tak kunjung berbicara, persis seperti orang bisu. "Rasanya seperti pecundang. Padahal saya sudah janji dengan mami untuk menjaga dan melindungi kamu."
Tiyas menghela napasnya panjang, hampir tidak terdengar. Wanita itu tidak ingin bersuara karena tahu pasti yang dikeluarkannya hanya tangisan.
"Tolong bicara. Saya cemas sama keadaan kamu," pinta Bagas dengan bola matanya yang bergerak panik. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah isakan kecil yang keluar dari bibir istrinya. "Oh Tuhan."
Hati Bagas seperti disayat-sayat. Sejak perkenalan mereka, pria itu tidak pernah mendengar Tiyas menangis seperti ini. Bahkan wanita itu masih berusaha untuk menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis.
"Jangan digigit, keluarkan saja," pinta Bagas dengan suaranya yang berat namun begitu lembut. Ia mengambil satu tangan Tiyas dan menciumi telapak tangan istrinya. "Saya lebih lega melihat kamu menangis daripada membisu kayak tadi. Saya disini, Tiyas. Menangislah."
__ADS_1
Suara Bagas yang berat dan rendah namun lembut itu membuat pertahanan Tiyas runtuh sepenuhnya. Wanita itu menangis dengan sejadi-jadinya. Begitu pilu sampai rasanya Bagas tak ingin mendengarnya.
Mengalami penghinaan, direndahkan, dikucilkan, tidak diterima dan hal yang tidak menyenangkan lainnya membuat sebuah luka besar di dalam hati Tiyas. Berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan semua itu, tetapi untuk kali ini ia tak ingin berusaha tegar. Dadanya terlalu sesak untuk menyimpan kesedihannya seorang diri.
Mendengar tangisan sang istri yang menyayat hati membuat Bagas sekuat mungkin menahan air matanya. Sedih karena orang yang dicintainya menangis sesedih ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah menciumi telapak tangan Tiyas beberapa kali.
"Saya gak melakukan apa yang dibilang dia," celetuk Tiyas dengan sesegukan. Wanita itu menarik tangannya yang dicium oleh sang suami. "Saya gak mungkin melakukan hal jahat seperti itu, Mas."
Kepala Bagas mendongak, pria itu kemudian menghela napasnya. Posisinya kini berubah menjadi duduk disisi sang istri. Menarik kedua tangan Tiyas untuk digenggamnya, namun entah kenapa terasa basah.
Mata Bagas melebar saat menarik tangannya yang sudah berlumur cairan berwarna merah. Dengan cepat pria itu mengambil satu tangan Tiyas yang memang sejak tadi tidak terlalu diperhatikannya.
"Tiyas, kenapa kamu diam saja?!" pekik Bagas tanpa sadar. Panik pria itu melihat bagaimana darah begitu banyak keluar dari telapak tangan sang istri dan juga mengotori bawahannya. "Ini sudah keluar banyak!"
Tiyas hanya bisa diam, menikmati bagaimana kepanikan yang terjadi pada suaminya. Sebenarnya Tiyas juga tidak sadar bahwa begitu banyak beling yang menancap di tangannya. Dorongan kuat pada Stefanny sepertinya membuat tangan Tiyas tanpa sadar mendarat ke lantai yang penuh serpihan beling.
Bagas menatap nanar pada telapak tangan istrinya yang mungkin lebih banyak dari pada Stefanny.
"Saya ambil kotak P3K dulu. Jangan kamu lepas sendiri. Bahaya, bisa infeksi."
"Mas," panggil Tiyas dengan suara seraknya yang masih sesegukan kecil. "Kamu gak menanggapi pernyataan saya."
Pria itu terdiam dengan raut wajah kebingungannya.
"Pernyataan apa? Nanti saja. Darah di tanganmu keluar terus menerus. Lukamu harus cepat diobati."
Tiyas menggeleng tegas. Air matanya masih menetes di pipi tanpa henti, namun setidaknya mendengar tanggapan Bagas bisa membuat hatinya lega.
__ADS_1
"Saya bersumpah gak melakukan apa yang dituduhkan Stefanny," sahut Tiyas dengan bibirnya yang bergetar. Ia melirik ekspresi sang suami yang masih terdiam disana. "Saya gak dorong dia, juga gak marah dan kesal sama dia. Semua yang dituduhkan Stefanny ke saya itu bohong, Mas. Kamu percaya sama saya kan?"