Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 13


__ADS_3

"Tiyas!" 


"Nona, maaf saya gak sengaja! Saya minta maaf, saya gak sengaja. Saya minta maaf." 


Tiyas menghela napas panjang. Ia menatap pegawai pria yang tengah berlutut di hadapannya. Matanya melirik sepasang sepatu pantofel tak jauh dari posisi sang pegawai, pandangannya terus menuju ke atas.


"Bang!" panggilnya bersamaan dengan perasaan lega luar biasa. Degupan jantungnya yang terasa begitu cepat, kini perlahan mulai berangsur tenang. 


"Masih bisa ketawa dengan keadaan kamu yang begini?" tanya seorang pria yang jauh lebih tua dari Tiyas. Sosok yang tak kalah tampan dari Bagas itu kini menjadi pusat perhatian. 


Tiyas terkekeh hambar, kepalanya menegak sembari membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada rambutnya. 


"Kenapa Bang Arya ada disini?" 


"Bos sedang rapat, otomatis saya juga ada disini," jawab Arya dengan suara beratnya. Tangannya ikut bergerak untuk membersihkan sisa makanan di rambut Tiyas. "Calon suamimu juga ada disini. Tapi saya sudah suruh papimu buat gak kesini untuk menghindari kecurigaan."


Tiyas dibantu bangun oleh Arya. Wanita itu berdecak pelan karena sadar bahwa kondisinya benar-benar berantakan sekarang. Dan wanita itu tidak melihat keberadaan Beby disana. 


"Malu?" tanya Arya dengan sedikit ledekan. Pria itu kemudian melepas jasnya dan memasangkannya dari atas kepala Tiyas. "Udah, jangan dilepas." sambungnya ketika mendapat penolakan dari anak bosnya. 


Tiyas merengut, bibirnya ia tarik ke bawah.


"Jadi bau dan kotor kan jas Bang Arya." 


"Gampang. Kayaknya saya dapat kompensasi dari papimu karena sudah menjadi pahlawanmu malam ini," gurau Arya dengan senyum tipisnya.


Tiyas mendelik sinis namun setelahnya tergelak geli karena perkataan asisten pribadi ayahnya. 


"Nona, saya minta maaf." 


Permintaan maaf kembali terdengar dari sang pegawai. Dengan cepat Tiyas membantu pegawai itu bangun, tak ingin dipandang macam-macam oleh pengunjung restoran. 

__ADS_1


"Sudah saya maafkan. Mending kamu segera bersihkan kekacauan ini," bisik Tiyas yang kemudian diangguki oleh pegawai tersebut. 


Sepeninggalan sang pegawai, Arya berniat akan membawa Tiyas untuk pulang. Tetapi niat baiknya harus tertunda karena kini Bagas telah berada di depan mereka. 


"Kamu lagi apa disini?" tanya Bagas tanpa basa-basi. Tatapannya terkesan tajam melihat bagaimana pria yang sejak setengah jam lalu memperkenalkan dirinya sebagai asisten pribadi Adhitama itu mendekap erat tubuh calon istrinya. "Bukannya tadi kamu izin untuk makan-makan bareng temanmu?" 


Tiyas mengintip dari balik jas milik Arya. Wanita itu seperti tertangkap basah tengah berselingkuh, tentunya pemandangan ini menjadi pusat perhatian seluruh orang disini. 


"Kita bicarakan nanti saja, Mas. Saya mau pulang dulu," ucap Tiyas dengan menolak halus, karena sungguh ia malu menjadi pusat perhatian dengan tampilannya yang begitu kacau. 


Alis Bagas terangkat ketika Tiyas berjalan melewatinya bersama dengan pria itu. Raut wajahnya semakin terlihat dingin dan tak enak dipandang. Dengan cepat tangan Tiyas ia cengkeram kuat, menariknya hingga kini wanita tersebut menghadap dirinya. 


"Saya gak suka penolakan. Kamu pulang bareng saya," tegas Bagas yang sepertinya keinginannya mutlak, tak bisa dibantah. 


Arya selalu orang yang sudah sejak lama mengenal Tiyas mengerutkan keningnya tajam. Tidak suka dengan perlakuan Bagas yang terkesan kasar dan tak punya hati. 


"Kenapa kamu harus pake paksaan? Tiyas gak suka dipaksa kayak begitu. Lagipula urusan kamu sama bos saya belum selesai. Tiyas biar saya yang antar pulang," sahut Arya yang sepertinya tak ingin kalah. 


Dengan isyarat mata yang digerakkan sedemikian rupa, meminta bantuan pada sang ayah. Rudi, pria paruh baya itu mengerti dengan apa yang dimaksud putrinya. Melangkah tegas ia mendekati para muda-mudi itu, kemudian berdehem untuk menarik atensi mereka. 


"Maaf sebelumnya jika saya mengganggu. Tapi Pak Bagas sepertinya pembicaraan kita belum sampai final," ucap Rudi dengan senyum penuh wibawa. Memberikan sedetik kedipan mata kepada sang putri yang melotot marah ke arahnya. 


Bagas terdiam. Tangannya masih belum merenggang, masih kuat mencengkam lengan calon istrinya. 


"Maaf sekali lagi Pak Rudi. Sepertinya rapat kita harus diulang lagi pekan depan, untuk sekarang saya mohon pamit lebih dulu. Ada hal penting yang harus saya bicarakan bersama calon istri saya." 


Setelah memberikan tundukan hormat, Bagas segera menyingkirkan tangan Arya dan menarik pinggang Tiyas kearahnya. Membawa wanita itu dengan langkahnya yang panjang hingga membuat Tiyas kewalahan. 


Arya berniat untuk mengejar sepasang calon suami istri tersebut. Namun tarikan pada bahunya membuat ia menoleh. 


"Sudah, biarkan saja mereka. Lebih baik kita gak usah ikut campur," kata pria paruh baya itu yang kemudian melangkah menuju pintu keluar.

__ADS_1


Meninggalkan Arya sendirian dengan kedua tangannya terkepal erat. 


Di tempat yang berbeda. Tepatnya di dalam mobil, Tiyas masih terdiam di samping bangku kemudi. Sikap Bagas yang temperamental itu kini jelas terasa sekarang. Wanita itu hanya bisa merenung dengan mengelus bekas cengkeraman Bagas yang memerah pada pergelangan tangannya. 


"Ngapain kamu di sana?" Bagas akhirnya mulai membuka suara setelah beberapa menit hening. 


"Makan sama temen," jawab Tiyas sedikit ketus. Matanya mulai sedikit berair, ingin menangis rasanya. Kesal karena sikap Bagas yang kasar padanya. Padahal sejak kecil hingga sebesar ini, tidak ada yang melakukan kekerasan padanya. 


Bukan karena Tiyas anak yang manja, bukan juga cengeng dan mencari perhatian. Tetapi karena Tiyas tidak pernah bertingkah macam-macam, ia selalu menuruti perintah orang tuanya, rasa simpati dan empatinya terhadap sesama juga membuat orang-orang suka padanya. Walaupun Tiyas merupakan anggota taekwondo, hati wanita itu tidak keras. 


Tumbuh dilingkungan yang baik. Juga pada keluarga yang hangat, Tiyas hampir tidak pernah mendengar orang-orang disekitarnya memarahinya dengan nada tinggi. Dan Tiyas juga bukan orang yang pendendam. 


Bersama dengan Beby pun, Tiyas bukanlah orang yang pemarah dalam arti sebenarnya. Baik Beby dan Tiyas memang melakukan candaan seperti sahabat pada umumnya. Berbeda dengan perlakuan Bagas yang tentunya membuat Tiyas begitu malu karena menjadi tontonan. 


"Mana temanmu? Saya gak lihat! Lagipula orang seperti kamu memangnya mampu untuk makan di restoran mewah begitu?!" sentak Bagas yang kembali menaikkan suaranya. Pria itu menghela napas kasar. "Atau kamu simpanan pria tadi? Arya, pria itu yang mau kamu temui malam ini kan dan bukan temanmu." 


Tiyas menggeram kesal. Ia menatap tajam Bagas dengan perasaan marah. 


"Jangan suka mengambil kesimpulan sendiri, Mas. Saya gak serendah yang kamu pikirkan!" 


"Terus apa?!" Bagas kembali berteriak. Entah kenapa emosinya semakin tidak stabil, pria itu tidak mengerti dengan perasaan marah yang ia rasakan saat ini. Mendapat penolakan Tiyas tadi membuatnya seakan terbakar. "Kalau bukan menjadi simpanan orang, lalu jadi apa?! Oh, apa dia adalah pacarmu? Makanya kamu diam saja saat di rangkul kamu tadi?!" 


Bagas terkekeh hambar, berdecak kesal ia. 


"Ternyata hobimu itu menjadi pacar orang kaya ya. Setelah dia, kamu juga mengincar saya. Wajar saja kamu bisa makan di tempat mewah kayak begini, memangnya berapa dia bayar kamu? Saya juga mau bayar dua kali lipat biar kamu malam ini sama saya." 


Kedua tangan Tiyas terkepal kuat, genangan air matanya tidak bisa ia tahan. Harga dirinya seakan di injak-injak, hatinya tercabik-cabik karena penghinaan tanpa dasar seperti ini. 


Tangannya terangkat dan kemudian mendarat pada pipi kiri Bagas, hingga bunyinya begitu nyari terdengar. 


"Lancang mulutmu!" teriak Tiyas dengan bibirnya yang bergetar, tangannya yang juga habis menampar Bagas ikut bergetar. "Kayaknya saya sudah melakukan hal yang salah. Saya akan membatalkan perjodohan ini!" 

__ADS_1


__ADS_2