
Pagi beranjak siang, Beby harus terbangun karena suara bel apartemennya yang terus saja berbunyi tanpa henti. Awalnya wanita itu memutuskan untuk abai, karena merasa tak meminta siapapun untuk datang ke tempatnya. Tetapi kesabarannya habis karena kantuknya kini benar-benar menghilang.
Wanita itu berdecak dengan langkah gontainya. Dengan rambut yang masih acak-acakan dan matanya yang memerah, Beby membuka pintu begitu saja.
"Siapa sih?!" pekiknya seraya membuka pintu.
"Hai," sapa seseorang dengan suara berat yang sudah Beby hafal diluar kepala.
Mendengar suara itu, Beby membuka matanya lebar-lebar dan terkejut karena di hadapannya kini ada Arya. Pria tampan dengan tampilan firmalnya kini berada di depan pintu apartemennya.
Tanpa aba-aba, wanita itu dengan cepat kembali menutup pintu. Tanpa memperhatikan Arya yang sudah akan berbicara. Dengan gerakan panik, Beby merapikan penampilannya.
"Gawat," desisnya dengan kesal. "Bisa-bisanya gue memperlihatkan keburikan ini di depan kekasih hati," sambungnya sembari menggerutu.
Suara bel kembali berbunyi. Sepertinya Arya bukanlah orang yang sabar menunggu. Sekali lagi, Beby memperhatikan penampilannya yang terlihat cukup baik dibandingkan sebelumnya.
Dengan berdehem sembari menelan liurnya beberapa kali, Beby akhirnya membuka pintu tersebut setelah bel berbunyi sebanyak lima kali.
"Duh, sabar dong!" protesnya sembari memasang wajah galak. "Kenapa, sayang?"
Arya berdehem, sudah terlalu hafal dengan pola tingkah Beby. Pria itu kemudian melirik gugup ke arah Beby.
"Sudah hubungi Tiyas? Sejak tadi pagi belum ada kabar."
Mampus. Karena terlalu lelah Beby lupa dengan janjinya kepada Arya untuk menghubungi Tiyas semalam.
"Oh, itu," ucap Beby pelan sedikit terbata. Wanita itu memejamkan matanya sebentar sembari melipat bibirnya ke dalam. "Gini, Bang. Semalam aku tuh capek banget."
Alis Arya terangkat tinggi. Pria tampan itu menghela napasnya sembari melipat tangannya di dada.
"Jadi kamu lupa ngabarin?"
Beby hanya bisa membalasnya dengan kekehan canggung. Ia kemudian membuka pintunya lebar-lebar.
"Masuk dulu, Bang. Aku coba hubungi Tiyas ya."
Arya hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik kencang oleh Beby dan terduduk lemas di sofa empuk disana.
"Mau minum apa? Kopi, teh, jus atau apa? Udah sarapan? Aku pesan online aja ya, Bang," celetuk Beby tanpa jeda dan satu kali tarikan napas.
__ADS_1
Sepertinya wanita itu lupa harus pura-pura bersikap mahal di depan Arya semalam.
"Gak usah," tolak Arya sembari mengerutkan keningnya, tidak nyaman sebenarnya ada di satu ruangan hanya berdua dengan wanita saja. "Beb, mending langsung ke intinya aja."
Beby membelalakkan matanya kaget. Kakinya melangkah dengan cepat dan duduk persis di samping Arya sedikit condong.
"Bang, kamu terima cintaku ya? Panggil Beb segala, kan aku jadi malu," sahutnya sembari menutup wajahnya dengan kekehan kecil.
Arya yang mendapatkan pergerakan tiba-tiba Beby tenyu langsung menarik tubuhnya ke belakang dengan tatapan ngeri. Sepanjang umurnya, ia hanya dekat dengan dua wanita. Tiyas dan juga Beby. Dan sifat keduanya saling bertolak belakang.
Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, Arya segera meletakkan telunjuknya di kening Beby dan mendorongnya menjauh.
"Jangan dekat-dekat," titah Arya memberi peringatan. Pria itu menggeleng sembari menghela napasnya. "Saya panggil begitu karena memang nama kamu Beby, jangan geer dulu."
Beby berdecih kesal, ia segera duduk menjauh dari Arya. Tanpa banyak kata, wanita itu segera menghubungi sahabatnya. Hingga dering terakhir tidak ada tanda-tanda wanita itu akan mengangkatnya.
"Kayaknya ponselnya mati, Bang," ungkap Beby yang masih berusaha untuk menghubungi Tiyas. Kemudian ia melirik Arya yang masih setia menatapnya. Sepertinya pria itu dilanda gelisah. "Hubungi asisten Bagas aja, Bang. Mustahil kalau gak ada kontaknya. Wiguna dan Adhitama pasti sudah kerja sama kan?"
Arya mengangguk pelan sembari bergumam. Pria itu kemudian mengotak-atik ponselnya serajak beranjak dari duduknya.
"Langsung pergi nih?" tanya Beby dengan bibirnya yang mengerucut.
Beby hanya diam sembari memandangi punggung Arya yang melewati pintu kamar apartemennya. Baru saja wanita itu ingin melangkah untuk menutup pintu tersebut, namun tiba-tiba Arya menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
"Maaf sebelumnya karena kayaknya saya mengganggu waktu tidur kamu," celetuk Arya sembari berdehem. Ia melirik Beby lewat ekor matanya. "Tapi saya kasih saran, kalau ada tamu diusahakan pakai baju yang sopan. Biar anggota tubuh atasmu gak dilihat laki-laki lain."
Beby menatap Arya yang pergi dengan langkah cepat. Tubuhnya mematung dengan mata mengerjap cepat. Dengan gerakan pelan, wanita itu melihat ulang penampilannya dna terkejut bahwa dua kancing atas piyama satinnya terbuka lebar. Hingga membuat dadanya hampir terlihat.
Dan yang lebih bodohnya, Beby sempat mendekat dan condong ke arah Arya. Dengan cepat mencerna, wanita itu sontak langsung berteriak sembari menutup dadanya dengn kedua tangannya.
***
"Wah, apa itu namanya?!" tanya Tiyas dengan antusias. Mata wanita itu berbinar terang dengan senyum indahnya.
Bagas bahkan beberapa kali tertangkap basah tengah melamun karena terpesona akan wajah cantik istrinya. Karena intensitas mereka yang kurang, juga Tiyas yang jarang sekali menatapnya. Sebagai suami, Bagas baru memperhatikan bahwa sang istri benar-benar memukau.
Sekarang mereka berada di kawasan Under Water Tunnel. Dimana mereka bisa berjalan di dalam laut dengan terowongan dan eskalator di bawahnya.
"Itu namanya Gurita Pasifik Raksasa, besar banget ya?" tanya Bagas sembari tersenyum kecil mendapati istrinya melompat-lompat kecil.
__ADS_1
Tiyas mengangguk dengan semangat. Wanita itu kemudian fokus pada ikan-ikan kecil yang datang dan pergi ke arahnya. Tak segan untuk mengambil ponselnya dan berniat untuk mengambil gambar.
"Yah, lupa," bisiknya dengan pelan dan menunduk sedih.
Kening Bagas berkerut. Ia sedikit menunduk untuk bisa melihat raut wajah istrinya.
"Kenapa?"
Tiyas mengangkat ponselnya dan menyodorkannya tepat didepan wajah sang suami.
"Mati. Padahal mau foto-foto."
Suara Tiyas yang mengadu bak anak kecil benar-benar memberikan efek yang luar biasa pada Bagas. Entah sudah berapa kali wanita itu menunjukkan sisi manja dan manisnya kepada Bagas. Dan tingkah lakunya membuat pria itu gemas.
"Pakai punya saya aja, sepuasnya," sahut Bagas sembari tersenyum tipis. Menggoyang-goyangkan ponselnya tatkala melihat gerakan ragu dari sang istri. "Gak mau nih?" tanyanya sembari menaik-turunkan alisnya.
Tiyas berdecak kesal, dengan gerakan cepat ponsel Bagas kini berada ditangannya.
"Kalau gak ikhlas, mending gak usah nawarin."
Bagas menggelengkan kepalanya. Entah kenapa sikap Tiyas yang memang sama seperti wanita pada umumnya, tidak sedikitpun membuatnya jengkel.
"Yaudah, kembalikan."
"Gak mau!" tolak Tiyas sembari menjulurkan lidahnya, mengejek sang suami dengan senyum jahilnya. "Udah di tanganku, gak boleh diambil lagi."
Pria itu hanya bisa berdecak pelan, kemudian mengangguk. Membiarkan sang istri menikmati perjalanannya yang menyenangkan. Mengingat sang istri bukan dari keluarga berada, pasti untuk sekedar menghibur diri ke tempat wisata pasti tidak bisa.
"Jangan mundur-mundur, banyak orang!" seru Bagas seraya memperingati sang istri yang tampaknya tidak melihat situasi.
Walau wahana ini baru saja dibuka, tetapi pengunjung dari berbagai kota sepertinya banyak berdatangan. Semakin siang, semakin padat.
Bagas menatap waspada terhadap beberapa anak yang berlarian kesana dan kemari.
"Mas, coba liat deh. Lucu banget!" seru Tiyas dengan wajah cerianya.
Pria itu hanya membalas dengan tersenyum di tengah kekhawatirannya. Dan benar saja, baru dua langkah Tiyas berjalan, seorang anak menabraknya dan membuatnya terdorong. Alhasil, kakinya tidak berada pada tumpuan yang benar.
Melihat itu, Bagas dengan sigap mengambil langkah lebar dan berhasil menangkap sang istri ke dalam pelukannya. Dimana kini mereka saling menatap satu sama lain. Dengan tangan Bagas berada di pinggang sang istri. Begitu juga dengan tangan Tiyas yang memegang erat kemeja depan Bagas.
__ADS_1
Tidak ada pergerakan dari keduanya. Sepasang suami istri itu masih menikmati binar dimata satu sama lain.