
Semua mata tertuju pada Maria. Wanita paruh baya yang sudah mengabdikan separuh usianya untuk melayani keluarga Wiguna.
Sejak awal Maria memang tidak menyukai kehadiran Stefanny di keluarga Wiguna. Wanita itu licik, suka semena-mena sendiri. Sudah banyak para pegawai yang dipecat gara-gara aduan Stefanny kepada Indah. Stefanny tidak segan untuk menghardik, mengumpat, memerintah kepada para pegawai disini dengan dagu yang terangkat angkuh.
Untungnya Bagas juga tidak menaruh hati pada Stefanny. Dan kedatangan Tiyas di mansion ini setidaknya membuat Maria cukup tenang.
"Saya disini bukan karena membenci Nona Stefanny dan bukan pula karena begitu menghormati Nona Tiyas," ungkap Maria berusaha untuk bersikap netral meski kenyataannya memang demikian. "Tapi saya disini hanya ingin membela kebenaran."
Chandra mengangguk paham. Jelas Maria adalah orang terpercayanya. Wanita itu sudah bertahun-tahun bekerja padanya dan Chandra puas dengan kinerja Maria selama ini.
"Kita dengar dulu penjelasan Maria. Kalian bisa duduk kembali," titah Chandra sembari melirik sang menantu disana.
Bagas langsung menarik Tiyas untuk kembali duduk. Memberikan usapan lembut guna menenangkan istrinya. Begitu juga Indah yang kini hanya bisa menahan amarah dan menyimpan ketakutannya yang besar.
"Silahkan bicara, Maria," titah Chandra kembali sembari mempersilahkan wanita itu untuk membeberkan semuanya.
"Awalnya semua terjadi karena Nona Tiyas bekerja di dapur. Beliau mencuci tumpukan piring kotor yang seharusnya itu bukan pekerjaan dia," ungkap Maria yang memulai semuanya dari awal.
Kening Chandra berkerut dalam. Merasa ada yang tidak beres saat tidak ada kehadiran dirinya.
"Kenapa Tiyas berada di dapur?" tanyanya tatapannya yang mengedar ke seluruh orang disana. Kemudian ia menangkap ada gelagat aneh pada Indah. "Kamu yang suruh Tiyas buat bantu-bantu di dapur, Indah?"
Tatapan Bagas yang awalnya tertuju pada Maria kini dengan cepat beralih pada sang Ibu dengan mata yang melebar.
"Ma, bener?" tanyanya juga berusaha mendesak sang Ibu yang sejak tadi hanya diam.
Indah yang merasa terpojok hanya bisa menautkan tangannya satu sama lain dengan erat.
"Saya gak suruh! Tiyas sendiri yang inisiatif, itu karena dia merasa gak percaya diri berada di sekeliling keluarga Wiguna."
__ADS_1
Tiyas yang merasa dirinya dibawa-bawa dan kembali disalahkan hanya bisa terdiam. Indah tentunya tidak akan sudi untuk menyerah dengan cepat.
Maria yang memang tidak tahu menahu apa yang menyebabkan Tiyas membantu para pegawai di dapur hanya bisa diam. Tidak bisa membantu perempuan malang itu.
"Benar apa yang dibilang sama Mama?" kini Bagas yang bertanya. Pria itu menatap sang istri dengan khawatir. "Tiyas?"
Wanita yang dipanggil namanya menoleh pada sang suami. Dengan senyuman kecil dan lemahnya, Tiyas mengangguk.
"Disana gak ada yang saya kenal, Mas. Di semua aspek saya berada jauh dibawah mereka, makanya saya coba buat bantu-bantu di dapur aja."
"Tuh, dengar!" sahut Indah dengan decakan kesal. Berusaha sekuat tenaga untuk menutupi rasa ketakutannya. Setidaknya Tiyas tidak mengatakan yang sebenarnya.
Jika Bagas kini merasa bersalah karena sudah meninggalkan sang istri begitu saja dan asyik bercengkrama, tanpa mengetahui kesulitan yang dialami istrinya.
Maka berbeda dengan Chandra. Pria tua itu ragu dengan ketidakpercayaan diri dari Tiyas. Mendapatkan pendidikan saat masih kecil hingga sekarang, mustahil rasanya Tiyas tidak punya kepercayaan diri. Bahkan jika disandingkan, jelas Tiyas lebih unggul dibanding yang lain.
"Kamu gak bohong kan, Tiyas? Gak usah takut. Jika memang Indah mengancam kamu, biar saya yang hukum dia," timpal Chandra dengan guratan wajahnya yang serius.
"Kalau boleh jujur, saya memang diminta Mama untuk tidak bergabung sama mereka. Saya ini cuma orang rendahan yang gak ngerti arah pembicaraan mereka. Sebagai gantinya Stefanny yang dipilih untuk temani suami saya, sedangkan saya disuruh ke dapur."
Semua yang ada disana lantas terkejut mendengar pengakuan Tiyas. Dengan sesaat, kini tatapan mata mereka tertuju pada Indah yang menggeram kesal dengan wajahnya yang memerah malu.
"Jangan bohong kamu!" teriak Indah sembari menunjuk sang menantu.
Bagas yang memang sejak awal tahu bahwa sang Ibu tidak menyukai Tiyas tidak menyangka bahwa sang istri diperlakukan layaknya pembantu di rumah ini. Padahal yang tengah berulang tahun adalah sang suami.
"Ma, jangan lagi membela diri. Kenapa Mama masih ngotot aja sih? Apa salahnya mengaku salah?!" pekik tertahan Bagas sembari menatap tidak percaya Ibunya.
"Duduk kamu, Indah. Kalau kamu memang masih mau tinggal dirumah ini, sebaiknya kamu turuti apa kata saya," titah Chandra dengan tegas. Kemudian pria tua itu kembali menatap Maria. "Oke, kamu lanjutkan lagi ceritamu."
__ADS_1
Maria mengangguk patuh.
"Singkat cerita, Nona Stefanny menghampiri Nona Tiyas. Dari pendengaran saya yang memang cukup jauh dari tempat mereka berdiri, terjadi penghinaan disana. Setelah itu anak buah saya mengantarkan kembali piring kotor tersebut, namun disana Nona Stefanny mengambilnya dan dengan sengaja menjatuhkannya."
Semua orang disana mengangguk mengerti. Mendengar pengakuan Maria, semuanya tampak lebih jelas. Alasan Tiyas berada di dapur tersebut, serta asal mula yang terjadi piring tersebut pecah ke lantai.
"Terus?" tanya Bagas dengan tidak sabaran. Pria itu merasa bodoh karena sudah meragukan ucapan Tiyas dan memilih berempati dengan Stefanny yang terluka.
Wanita paruh baya itu menarik napasnya kemudian ia hembuskan cukup panjang.
"Terus Nona Tiyas langsung cepat-cepat memunguti serpihan beling itu. Karena dengar suara Tuan Bagas, Nona Stefanny juga ikut bersihkan. Tapi pas Tuan Bagas sampai, Nona Stefanny dengan sengaja mendorong Nona Tiyas untuk menyingkir dan melukai tangannya sendiri."
Pengakuan Maria tentu saja sama dengan apa yang terjadi pada saat itu. Sayangnya Tiyas tidak ingin membeberkannya secara jelas.
Yang menentang pengakuan Maria pertama kali sudah pasti Indah. Wanita paruh baya itu menolak dengan keras.
"Gak mungkin Stefanny melakukan hal bodoh seperti itu. Seluruh anggota tubuhnya adalah aset, dia itu model."
Bella yang sudah tahu bagaimana watak sahabatnya hanya bisa diam seribu bahasa. Sebagai cucu, wanita itu tidak bisa memberikan hak suaranya disini. Bella tidak ada sangkut pautnya. Ia masih ingin menikmati fasilitas yang sudah sang Kakek berikan. Jadi wanita itu lebih memilih bermain aman saja.
Chandra mendengus kesal, tatapan tajamnya juga tak lepas dari sang menantu.
"Bisa aja. Yang namanya sudah cinta, bisa melakukan hal gila. Kayak kamu, karena udah kepalang suka sama Stefanny. Jadi kamu udah hilang kewarasan dengan terus menentang dan tidak menuruti perintah saya."
Indah seketika langsung terdiam. Sindiran dari mertuanya membuatnya mati kutu, ini semua ia lakukan untuk bisa menyingkirkan Tiyas. Tetapi rencananya dan Stefanny tidak ada satupun yang berjalan dengan lancar.
Disisi lain, Bagas semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Tiyas. Lagi-lagi perasaan bersalahnya tidak bisa lepas, perkataan istrinya semuanya jujur. Tidak ada kebohongan disana, bahkan Tiyas melindungi Stefanny tanpa menjelaskan secara rinci. Padahal jelas-jelas Stefanny yang sudah membuatnya terluka.
Ketika suasana ruangan itu hening, tiba-tiba terdengar suara ketukan sepatu. Ternyata Stefanny yang berjalan dengan cepat disana dan langsung menghampiri Tiyas. Menarik tangan wanita itu kemudian langsung menamparnya.
__ADS_1
"Sialan, harusnya udah gue habisin lo dari awal!"