
"Lo serius gak mau keluar?" tanya Beby untuk kesekian kalinya. Dan gelengan sebagai tanda penolakan sudah wanita itu terima sejak tadi. "Gak bosen apa? Kita ke mall kek, atau mending kita pantau artis lo yang lagi syuting hari ini. Biasanya lo paling semangat kan?"
Tiyas menghela napasnya pelan. Ia melirik sahabatnya yang masih saja memberikan tatapan bak anak kecil.
"Males," balasnya singkat. "Kalau lo bosen mending pergi aja ajak bang Arya, gue gak ikut."
Beby berdecak. Semula posisinya yang terduduk di tepi ranjang, kini ia baringkan tanpa peduli dengan si empunya.
"Lo ngejek apa gimana? Udah tau kan kalau my love itu sukanya sama lo, bukan gue. Gue gak mau sakit hati ya setelah nawarin dia jalan bareng."
"Terserah deh," tanggap Tiyas seakan masa bodo. "Gue lagi gak pengen kemana-mana. Mau santai sambil nonton drama Korea."
Wanita itu menghela napasnya, sungguh sulit untuk membujuk Tiyas meninggalkan ranjang tercintanya.
"Yaudah deh kalau gitu, gue juga ikut tidur bareng lo."
Tiyas menggelengkan kepalanya pelan. Merasa maklum dengan sikap plin-plan sahabatnya. Tak lama ponselnya yang berada di atas nakas bergetar, wanita itu langsung mengambilnya.
Tak langsung diangkat, jarinya yang sudah di atas layar langsung berhenti. Terdapat nama Bagas di sana, namun Tiyas tampaknya tak ingin mengangkat panggilan tersebut. Kejadian itu telah berlangsung tiga kali.
"Siapa?" tanya Beby yang semula tengah fokus memilih tontonan mereka, kini tampak penasaran. "Calon suami lo?" tanyanya kembali seakan memastikan.
Tiyas berdecak kesal.
"Mantan," jawabnya dengan cuek. Dengan gerakan jarinya yang cepat, wanita itu sudah memblokir kontak Bagas. "Mau nonton yang mana?"
"Action aja kali ya? Gak usah yang melodrama, ntar nangis lo," ejek Beby sembari menjulurkan lidahnya. Senang rasanya bisa mengolok-olok Tiyas.
"Gak usah ngejek, kalau lo nasibnya juga gak beda jauh dari gue," sahut Tiyas dengan senyum miringnya. Kemudian mulai fokus dengan televisi besar di kamarnya.
Bibir Beby mengerucut, merajuk ceritanya. Namun sepertinya Tiyas tidak ambil pusing, membuat wanita itu merasa diabaikan.
Ketika drama Korea yang mereka tengah tonton sedang seru-serunya. Dimana para counter tengah menangkap roh jahat level tiga, suara ketukan di kamar menginterupsi mereka.
"Masuk," kata Tiyas yang pandangannya masih tidak teralihkan dari televisi, begitu juga dengan Beby. Ketika suara pintu terbuka, mata Tiyas melirik pada pak Agus yang kini sedang berdiri dengan kepala yang menunduk. "Kenapa Pak Agus?"
Pak Agus terdiam, matanya melirik ke kiri dan kanan. Jari-jarinya saling bertaut dengan gerakan gelisah.
"Begini Nona," jawabnya yang kemudian menjeda kalimatnya. Pria paruh baya yang memiliki dua istri itu menggaruk kepalanya. "Itu. Duh gimana saya ngomongnya ya?"
Kening Tiyas mengerut. Ia melirik Beby yang abai dengan kehadiran Pak Agus, kemudian wanita itu memilih turun dari ranjang dan menghampiri supir pribadi keluarganya.
__ADS_1
"Kenapa, Pak? Ada masalah? Mau cuti?"
"Nggak, bukan begitu!" seru Pak Agus dengan panik, kedua tangannya melambai dengan keras. "Saya dapat kabar dari istri kedua saya, kalau pak Bagas ada dirumah."
"Dirumah pak Agus?" tanya Tiyas dengan sedikit memekik tertahan. Setelah mendapat jawaban berupa anggukan, kepanikan Tiyas berubah menjadi dua kali lipat. "Terus apa yang istri Pak Agus lakukan? Sudah diusir, kan?"
Dengan polosnya Pak Agus menggeleng pelan.
"Istri saya orangnya gak enakan, Nona. Jadi sekarang pak Bagas sedang duduk diruang tamu rumah saya. Tapi istri saya gak bilang kok kalau itu bukan rumah Nona, sesuai kesepakatan awal kita."
Memang sejak mengaku pada Bagas tentang alamat rumah palsu mereka, Tiyas dan Nirmala sudah sepakat dengan Pak Agus untuk meminjam identitas sementara, juga memberikan sedikit tanda ucapan terima kasih. Tapi tidak disangka kalau Bagas bisa menemukan rumah pak Agus. Padahal baik Tiyas maupun Nirmala tidak pernah menunjukan secara spesifik dimana dan bagaimana rupa rumah dalam gang tersebut.
"Tapi bagaimana bisa dia tahu rumah Bapak? Bukannya gak ada satu orangpun yang kasih tahu dia?" Tiyas bertanya-tanya sembari menggigiti kuku ibu jarinya.
Pak Agus meringis kecil. Wajahnya terlihat gugup, tangannya ikut bergetar.
"Sebenarnya pak Bagas lagi cari rumah dan tanya-tanya sama orang dimana alamat cewek yang namanya Tiyas. Kebetulan istri saya baru pulang dari belanja warung, terus dengan polosnya dia bilang kalau kenal sama Nona."
"Terus?" tanya Tiyas dengan tidak sabaran.
"Ya akhirnya karena udah keceplosan, istri saya mau gak mau ngaku kalo dia sepupu jauhnya Nyonya Nirmala. Dia dari kampung mau cari kerja, sementara sekarang tinggal dirumah itu."
Tiyas menepuk jidatnya dengan kesal. Rasanya wanita itu ingin marah dan meneriaki berbagai macam umpatan. Tapi karena melihat air wajah pak Agus, membuat Tiyas mengurungkan niat buruknya.
"Maaf, Nona," sesal Pak Agus dengan wajah sendunya. Merasa bersalah karena sudah menimbulkan masalah bagi majikannya.
Tiyas mengangguk seadanya.
"Mending siapin mobil. Pak Agus antar saya, cukup di depan gang aja. Saya mau siap-siap dulu."
Pak Agus mengangguk dengan cepat. Pria paruh baya itu bergegas turun untuk memanaskan mobil dan siap mengantar majikannya.
Kemudian Tiyas segera masuk ke dalam kamarnya, berjalan mendekati lemari pakaian dan mengambil asal. Wanita itu bergerak dengan cepat tanpa menyadari kini tengah ditatap penasaran oleh Beby.
"Katanya lo lagi males keluar? Jadi kita jalan?" tanya Beby yang kini ikut turun dari ranjang. Membiarkan serial drama Korea yang mereka tonton menampilkan adegan-adegan tanpa dijeda atau dimatikan.
"Gue mau ke rumah pak Agus," jawab Tiyas dengan cepat kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa pakaian di tangannya.
"Hah?" Beby tidak menangkap maksud dari perkataan Tiyas. "Ngapain lo ke rumah pak Agus? Oh, mau ketemuan sama si Bagas itu ya? Kata lo udah gak ada hubungan apa-apa."
"Kalau diajak ketemu gue juga ogah! Masalahnya sekarang tuh orang ada dirumah pak Agus!" teriak Tiyas dari dalam kamar mandinya yang terdengar begitu frustasi.
__ADS_1
Mata Beby membelalak kaget. Kedua tangannya bergerak untuk menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya.
"Gila! Nekat banget, anjir! Bisa-bisanya dia tau rumah pak Agus!"
Pintu kamar mandi terbuka, Tiyas keluar dengan pakaian rumahan, hanya kaos putih polos kebesaran dan celana pendek diatas lutut. Wajah wanita itu terkesan datar namun detik lain nampak panik.
"Yang lebih gila lagi, istrinya pak Agus yang menerima tuh orang masuk ke dalam rumah!" pekik Tiyas dengan penuh kekesalan.
Wanita itu lantas segera mengambil tas selempang ukuran kecil, kemudian segera memakai sandal jepit dengan rambutnya yang dicepol.
Pemandangan di depannya membuat Beby tidak habis pikir.
"Lo mau ketemu Bagas dengan tampilan biasa banget begini?"
"Gak usah protes! Lo pikir gue harus dandan terus pake baju dengan brand mewah begitu?!" Mata Tiyas mendelik tajam, seakan-akan hampir keluar. "Udah deh, lo gak usah peduli gimana penampilan gue. Gak ada waktu debat, gue pergi dulu!"
"Eh?!" Beby menatap kepergian Tiyas dengan muka bingung setengah paniknya. "Kok gue ditinggal sih? Tiyas, ikut!"
Karena tidak ingin menambah drama juga membuat Bagas menggali informasi dari istri kedua pak Agus yang polos. Tiyas tak banyak protes kala Beby menerobos masuk ke dalam mobilnya.
"Cepetan, Pak!" suruh Tiyas dengan setengah memekik.
Mendapati kecemasan yang berlebih karena ulah istrinya. Mau tak mau pria paruh baya itu menekan dalam gas mobil tersebut. Yang biasanya ia mementingkan keselamatan majikannya, kini Agus juga sama paniknya dengan sang majikan.
Tak perlu butuh waktu lama, karena kelihaian Agus yang pintar dalam menyalip kendaraan. Kini mobil keluarga Adhitama berhenti tepat di belakang mobil mewah milik Bagas yang terparkir sembarangan di tepi jalan raya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Tiyas segera keluar dan berlari masuk ke dalam gang dan diikuti oleh Beby. Sedangkan Agus sadar diri bahwa mereka tidak boleh ketahuan, jadi sebisa mungkin ia memarkirkan mobilnya jauh dari jangkauan mata Bagas.
Karena panik, Tiyas bahkan tak sadar bahwa ia berlari melewati para preman yang kemarin sempat beradu mulut dengannya. Untungnya preman itu hanya diam bahkan ketika Beby melewati mereka.
Dengan napas terengah-engah, Tiyas membungkuk di depan pintu rumah pak Agus yang terbuka. Matanya melirik pada Bagas yang tengah menyeruput teh dengan tenang. Juga mendapati istri pak Agus yang menyambutnya dengan sumringah.
"Kamu dari mana aja? Saya telpon gak diangkat, kata Bibi Inah katanya kamu lagi keluar," kata Bagas yang memulai pembicaraan.
Tiyas menghela napasnya. Tubuhnya ia tegakkan, menatap tajam pada Bagas yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Berdecih ia karena bukannya permintaan maaf yang keluar dari mulut pria itu, melainkan sebuah omong kosong.
"Tiyas!"
Tunggal Adhitama itu menarik ujung bibirnya kesal saat mendengar teriakan dari sahabatnya. Bibirnya berkedut-kedut seakan ingin menumpahkan segala rasa kesalnya.
"Beb, lo diem!" bentak Tiyas seraya menunjuk Beby yang baru saja sampai dengan napas terengah.
__ADS_1
Bagas menatap bergantian antara Tiyas dan satu wanita dibelakangnya. Keningnya sedikit mengerut mendengar panggilan Tiyas pada wanita itu.
"Beb?"