
Bagas keluar dari rumah tanpa rasa penyesalan sedikitpun di wajahnya. Pria itu seakan telah melepaskan beban pundak yang sejak lama dipikulnya, melangkah dengan ringan dengan raut wajah lebih bahagia. Ia sudah nemutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan memilih mengejar cinta Tiyas.
"Tuan Muda, anda mau kemana?" tanya Ari yang menghampiri Bagas dengan tergopoh. Sedikit banyak pria muda itu mendengar pertengkaran keluarga tersebut.
"Saya mau kerumah keluarga Adhitama," jawab Bagas yang terus saja berjalan. Tak peduli Ari yang ikut berjalan cepat di belakangnya.
Memang tujuan Bagas saat ini adalah menghampiri Tiyas. Tidak peduli jika wanita itu sudah memiliki suami seperti perkataannya, Bagas hanya ingin melegakan sedikit hatinya. Bahwa apa yang dikatakan Tiyas memang benar adanya.
Meski harus menelan kekecewaan nantinya, Bagas akan menerimanya dengan lapang dada. Walau sudah dengan sukarela melepas semua kekayaan dan jabatan yang selama ini selalu berdampingan dengannya.
"Biar saya antar, Tuan Muda. Kenapa harus jalan?" tanya Ari yang merasa keheranan. Lelah juga mengikuti langkah panjang dan cepat sang majikan.
Bagas menghela napasnya panjang. Ia menghentikan langkahnya, berbalik pada Ari sembari menjulurkan tangannya didepan dada. Tahu bahwa Ari akan menabrak dirinya.
Dan memang tebakan Bagas tidak salah. Pria muda itu tidak menyangka bahwa Bagas akan menghentikan langkahnya dan tidak bisa menghentikan kakinya. Alhasil ia menabrak Bagas, namun terpental kemudian.
"Duh, saya minta maaf Tuan Muda!" seru Ari dengan nada panik. Kemudian membungkuk berkali-kali.
Bagas berdecak kesal, menatap supir barunya itu dengan malas.
"Berdiri!" titahnya yang langsung dipatuhi oleh Ari. Sang Tuan Muda itu menatap tajam kepada Ari. "Saya bukan lagi bagian dari keluarga Wiguna, saya diusir. Jadi kamu gak perlu nganter atau jemput saya lagi."
Ari sontak melebarkan matanya. Ia berusaha untuk berbicara, tetapi kehadiran Chandra dibelakang Bagas membuatnya terdiam.
"Kata siapa kamu bukan lagi bagian dari keluarga Wiguna?" tanya Chandra dengan suara beratnya.
Bagas yang tidak menyadari kehadiran sang Kakek jelas terkejut. Pria itu segera berbalik dan entah kenapa dadanya terasa lega melihat Chandra dihadapannya.
"Saya mau memperjuangkan Tiyas, Kek," ungkap Bagas tanpa basa-basi.
__ADS_1
Chandra menghela napasnya pelan, ujung garisnya tertarik membentuk senyum hangat. Ia kemudian menepuk kedua bahu sang cucu sembari memberikan remasan pelan.
"Itu yang Kakek tunggu dari lima tahun lalu. Kenapa kamu gak kejar dia? Kenapa kamu cuma diam ditempat dan jadi boneka kedua orang tuamu, Gas?"
Mendengar perkataan sang Kakek membuat Bagas tersadar. Bahwa selama ini Bagas hanya bertindak pasif, menuruti semua perkataan orang tuanya demi memenuhi syarat perjanjian. Dan menganggap bahwa Chandra sudah tidak peduli dengannya, yang ternyata semua adalah salah.
Pria tampan itu yang awalnya terdiam kemudian perlahan menyunggingkan senyumnya. Menghambur ke pelukan sang Kakek yang sudah semakin renta.
"Makasih, Kek."
Chandra terkekeh pelan. Ia balas memeluk sang cucu sembari memberikan tepukan pelan di punggung. Pelukan tersebut merenggang, pria tua itu menatap Bagas dengan kedua matanya yang membara.
"Kamu gak perlu takut kehilangan harta atau jabatan kamu, semuanya adalah hasil kerja keras kamu selama ini, Gas," ucap Chandra dengan anggukan pelannya. "Kalaupun mereka mau ambil semua hak kamu, maka Kakek akan berada di depan untuk menghalangi mereka."
Bagas tersenyum lemah. Ia kemudian balas mengangguk.
"Kakek gak perlu khawatir, uang saya lebih dari cukup untuk membangun perusahaan kecil. Saya sadar bahwa PT. W Group dari awal memang bukan punya saya, Kek."
Pria itu mengangguk dengan semangat. Sekali lagi, Bagas memeluk sang Kakek sebelum akhirnya pamit untuk pergi mengejar cinta Tiyas. Dan dengan paksaan sekaligus kasihan, akhirnya harta satu-satunya yang ia bawa dari keluarga Wiguna adalah mobil mewah beserta sang supir.
Dan disinilah Bagas, berada di depan gerbang tinggi dan besar keluarga Adhitama. Mata pria itu tidak hentinya bergerak mencari seseorang yang ingin sekali ia temui.
"Gak ada orang, Tuan Muda. Apa kita balik besok lagi aja?" tanya Ari yang merasa kasihan dengan Bagas. Pria itu tidak lelah untuk terus berdiri sembari sesekali berteriak memanggil nama mantan istrinya.
Bagas menghela napas kesal, mendelik tajam pada Ari.
"Berisik! Kalau capek, pergi aja kamu! Beresin apartemen saya, yang di paling atas ya!"
"Loh?" Ari berjengit terkejut. Ia kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Ini saya sendiri yang disuruh pulang? Tuan Muda gimana? Bentar lagi mau hujan ini!"
__ADS_1
Ari tidak berbohong, angin malam ini nampak berbeda. Sangat menusuk hingga ke tulang dan sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.
Dan yang membuat keduanya keheranan adalah tidak adanya satpam di pos jaga yang tidak jauh dari gerbang. Keadaan rumah itu nampak sepi, tapi hanya tempat inilah yang Bagas tahu tentang kediaman Adhitama.
"Coba deh kamu manjat terus buka gemboknya, pake apa kek!" titah Bagas yang sudah tidak sabaran.
"Tuan Muda, jangan gila deh!" celetuk Ari yang dihadiahi delikan tajam dari Bagas. Pria muda itu sontak terkekeh canggung. Matanya kemudian mulai menatap gerbang tinggi yang bisa diperkirakan lebih dari lima meter. "Saya takut ketinggian, Tuan Muda."
Bagas menatap Ari dengan tidak percaya. Pria tampan itu mengangkat alisnya menatap Ari dengan tatapan meremehkan juga pasrah. Kemudian Bagas menghela napasnya panjang.
"Terserah!" ucapnya seakan merajuk dan kemudian duduk secara sembarang.
Melihat tingkah sang majikan lantas Ari langsung kepanikan. Pria muda itu menganggap bahwa Bagas marah dan akan segera memecat dirinya. Apalagi Bagas baru saja diusir dari rumah, jelas keluarga Wiguna yang lain tidak akan menerimanya.
"T-tuan M-muda, saya coba naik ya!" seru Ari dengan suaranya yang gemetar sembari meneguk ludahnya kasar melihat bagaimana mengerikan gerbang rumah ini. Padahal menurutnya kediaman Wiguna gerbangnya tidak sebesar ini.
Bagas menatap sang supir dengan tatapan malas. Melambaikan tangannya asal, terserah Ari ingin melakukan apa. Bagas sekarang hanya berharap bahwa gerbang ini segera terbuka, jika tidak maka ia bertekad menginap disini.
Ditengah nelangsanya Bagas yang merasakan keresahan hatinya. Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari Ari yang membuyarkan lamunannya
"Tuan! Tuan Muda! Lihat saya! Bentar lagi sampai, saya bakal buka gerbang ini!" teriak pria muda itu dengan senyum sumringah yang bercampur takut. Dengan gemetar pria itu berusaha untuk menaikkan kembali kakinya.
"Ri! Seriously?!" bentak Bagas sembari menatap pria yang umurnya jauh dibawahnya. Sulung Wiguna itu menepuk dahinya sembari menghela napasnya panjang. "Lo baru naik satu meter, bro! Masih kurang 4 meter lagi! Nyampe dari Hongkong!"
Ari yang sudah gemetar seluruh tubuhnya menatap ke bawah dimana memang jaraknya dengan Bagas tidak sejauh perkiraannya.
"Tuan Muda, tolong jangan pecat saya. Cuma sampai sini yang saya bisa!" teriak Ari dengan nafas tercekat karena berusaha menahan phobianya.
Bagas menghela napasnya kesal. Ia kemudian dengan sengaja bersandar dan menabrakan punggungnya pada gerbang besar itu. Membuat gerbang tersebut sedikit sekali bergerak namun sudah membuat Ari berteriak kepanikan.
__ADS_1
"Terus teriak terus," gumam Bagas yang sudah merasa lelah dengan tingkah unik supirnya. "Biar tuh orang didalam rumah kedengaran! Terus Ri!"
Sepertinya Bagas akan menginap semalaman disini ditemani teriakan menggelegar dari Ari.