Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 23


__ADS_3

Sinar matahari kini masuk dengan malu-malu melalui celah jendela, membuat gorden yang masih tertutup bergerak mengikuti angin pagi yang sejuk. 


Tiyas yang sedang tertidur nyenyak kini alam bawah sadarnya seakan bangkit, menyadari bahwa suasana pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Matanya yang berat dipaksa terbuka dan mendapati hanya ada dirinya disana. 


Wanita itu diam-diam menghela napas lega. Entah apa yang akan dia lakukan jika saja saat terbangun dari tidur ada Bagas di sisinya. Untungnya pria itu kini tidak ada di kamar. 


Dan baru saja Tiyas berpikir bahwa Bagas tidak ada. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah pria yang sedang ada di pikiran Tiyas. Berjalan dengan pakaian formal disana. 


"Oh, sudah bangun? Baru saya mau bangunkan kamu. Selamat pagi," sapa Bagas sembari tersenyum kecil. 


"Pagi," sahut Tiyas dengan suara yang pelan. Matanya mengikuti pergerakan Bagas kesana dan kemari. "Cari apa, Mas?" 


Bagas melirik istrinya yang terlihat masih mengantuk. Sepertinya Tiyas tidak bisa tidur semalam. 


"Cari dasi, kayaknya saya simpan disini. Biasanya ada pak Herman yang siapkan, tapi kayaknya mulai sekarang saya harus menyiapkan semuanya sendiri." 


Entah itu sindiran atau memang Bagas mengatakannya dengan tidak sadar, tetapi Tiyas merasakan dadanya seperti ditusuk panah. 


Benar, seharusnya sebagai istri tugas Tiyas adalah melayani sang suami dari segi apapun. Maka wanita itu segera turun dari ranjang dan menghampiri suaminya. 


"Mending Mas siap-siap yang lain aja dulu, biar saya yang cari dasi," saran Tiyas yang kini ikut mencari benda tersebut. "Saya izin untuk buka lemari ya, Mas." 


Bagas sejenak terdiam, memperhatikan Tiyas yang kini sibuk memeriksa isi dalam lemari besarnya. Pria tampan itu tersenyum kecil, padahal Bagas juga tidak memaksa Tiyas untuk melayaninya. 


"Saya sudah siap, kok. Memang tinggal cari dasi hitam kesukaan saya, kalau gak ada juga gak masalah," sahut Bagas yang kini terduduk di tepi ranjang sembari memperhatikan punggung Tiyas. 


"Yang ini?" tanya Tiyas saat menemukan dasi berwarna hitam. Mengangkat benda itu dengan sedikit goyangan. 


Bagas melipat bibirnya ke dalam kemudian menggeleng. 


"Bukan," jawabnya dengan merasa sedikit bersalah. Mungkin dasi kesukaannya tidak ada di kamar, bisa jadi ketinggalan di kantor. 


Tiyas menggigit bibir bawahnya. Melirik jam dinding di kamar tersebut. 

__ADS_1


"Jam berapa berangkat?" 


"Jam 8," jawab sang pria yang kini ikut gusar. Pasalnya ada pertemuan penting di kantor pagi ini, walau seharusnya Bagas bisa saja libur dengan alasan cuti nikah. Tapi tentunya pernikahan ini masih menjadi rahasia karena permintaan orang tuanya. 


"Harus banget yang itu ya?" tanya Tiyas dengan nada sedikit frustasi, karena tak kunjung mendapatkan dasi yang suaminya inginkan. 


Bagas menghela napasnya. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan kemudian berdiri dibelakang sang istri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. 


"Kalau gak ada, gak apa-apa kok. Saya bisa pake yang lain, tapi rasanya dasi itu kayak hoki aja buat saya. Terlebih ada rapat penting pagi ini," terang Bagas dalam sekali tarikan napas. 


"Kayaknya gak ada deh, Mas. Kalau pake warna merah ini gimana? Bagus juga kok, masih kelihatan ganteng," ucap Tiyas tanpa sadar sembari mencocokkan dasi yang ia pegang ke leher Bagas dengan sedikit berjinjit. 


Bagas tersenyum malu-malu karena habis dipuji sang istri. Ia kemudian berbalik berdiri di hadapan kaca full body. Begitu juga dengan Tiyas yang berdiri di belakangnya. 


"Cocok aja kayaknya," gumam Tiyas yang masih sibuk memperhatikan dasi merah tersebut. 


"Iya, cocok. Coba dipasang, dong," pinta Bahas dengan alisnya yang naik turun beserta dengan senyum jahilnya. 


Mata wanita itu mengerjap cepat, memberikan dasi merah tersebut dengan sedikit terlempar. Untung saja Bagas memiliki reflek yang bagus, pria itu dengan cepat menyambut lemparan dari istrinya. 


"Saya mau mandi dulu, Mas. Mending pake dasinya sendiri aja," dalih Tiyas yang langsung saja masuk ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru hingga tanpa sadar membanting pintu kamar mandi. 


Bagas menggeleng dengan tertawa geli. Lucu saja melihat tingkah istrinya yang salah tingkah. Dengan cepat ia segera memasang dasi tersebut di lehernya dan siap untuk pergi ke kantor. Terbukti dari beberapa kali panggilan masuk Jonathan di ponselnya. 


"Tiyas?" panggil Bagas yang hanya dijawab dengan gumaman. "Saya pergi dulu. Kalau sudah mandi, turun aja kebawah. Sarapan ya. Kalau gak nyaman dirumah, kamu bisa telpon saya." 


Dibalik pintu kamar mandi Tiyas hanya menjawab dengan deheman saja. Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah debuman pintu yang tertutup.


Tunggal Adhitama itu menghembuskan napas lega. Tangannya sibuk mengipasi wajahnya yang terasa panas karena malu. Padahal sejak awal bertemu dan jalan berdua, Tiyas lebih merasa dominan kesal dan marah pada Bagas. Tetapi karena kini mereka sudah satu kamar serta satu ranjang, membuat wanita itu salah tingkah tidak karuan. 


"Harus banget gitu salah tingkah? Jangan aneh-aneh deh lo jantung, gimana bisa gak sinkron sama otak sih?!" gerutu Tiyas sembari memukul dadanya yang masih berdebar kencang. 


Tidak dibutuhkan waktu lama untuk mandi. Kini penampilan Tiyas sudah lebih segar dari sebelumnya, karena wanita itu tidak sempat untuk sekedar mencuci wajah sebab sudah terlalu mengantuk. 

__ADS_1


Dengan dress motif bunga berwarna hijau sage sebatas betis. Juga rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Kini Tiyas segers melangkah keluar kamar menuju lantai bawah, dimana sesuai perintah Bagas untuk sarapan. 


Tetapi sepertinya keberuntungannya lenyap pagi ini. Sesaat setelah sampai di lantai bawah. Tiyas hanya menemukan meja makan yang kosong tanpa orang dan tanpa makanan sedikitpun. Bahkan tidak segelas air juga. 


"Nyari apa?" 


Tiyas menoleh kebelakang, dimana kini ada Indah yang baru turun dari lantai. 


"Mau sarapan, Ma. Tadi mas Bagas suruh saya sarapan," jawab Tiyas dengan kepalanya yang menunduk sopan. Memberikan sapaan pagi kepada ibu mertuanya. 


Indah terkekeh geli. Ia kemudian menggeleng sembari berdecak kesal. 


"Udah gak ada, habis. Siapa suruh perempuan kok bangunnya siang? Kamu gak lupa kan kalau sudah punya suami? Harusnya bangun pagi-pagi, bikin suami sarapan. Ini suami udah pergi kerja, kamu baru turun buat sarapan!"


Tiyas meringis, padahal dalam hati sudah mengeluarkan umpatan yang tertuju pada ibu mertuanya. 


"Saya pikir semuanya sudah disiapkan sama ART, Ma." 


"Kamu pikir kerjaan ART cuma buat bikin sarapan kalian doang apa? Kamu jangan mentang-mentang udah tinggal dirumah besar bisa berleha-leha. Kerjain dong apa yang dulu kamu lakukan di gubuk sempitmu itu!" cemooh Indah dengan senyum liciknya. 


Sabar. Tiyas hanya bisa menarik dan menghembuskan napasnya untuk mengontrol amarahnya. 


"Terus Mama tadi pagi juga bikinin Papa sarapan?" 


Indah tergagap. Mati kutu dirinya, bahkan dia juga tak ada bedanya dengan Tiyas. Hanya saja Indah tentu ijut sarapan bersama keluarga, namun untuk urusan rumah tangga wanita itu nol besar. 


"Kalau sekarang gak, karena saya juga harus urus butik saya. Kalau kamu kan baru jadi istri, harus gesit kalau sewaktu-waktu suamimu mau masakan hasil tanganmu sendiri," kilah Indah dengan matanya yang mendelik sinis. 


"Jadi saya makan apa, Ma?" 


"Makan angin!" seru Indah dengan pelototan kesalnya. "Ya bukan urusan saya lah! Mau kamu masak kek, mau kamu makan sisa ART juga hak kamu kok!" 


"Yang pasti saya kasih tau kamu ya!" Indah kemudian menunjuk Tiyas dengan tatapan sinisnya. "Selama kamu ada disini, jangan cuma tiduran doang di kamar. Bersih-bersih dan masak juga. Berguna sedikit, jangan menambah beban doang!" 

__ADS_1


__ADS_2