Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 30


__ADS_3

"Aduh!" 


Tiyas terbangun dari tidurnya karena merasa kepalanya terasa begitu basah sampai air menetes ke belakang telinganya. 


"Mas!" panggilnya yang kemudian melirik Bagas tengah mondar-mandir. "Mas Bagas, apa yang ada di kepalaku? Kok basah banget?!"


Bagas berhenti dari kegiatannya, pria itu berbalik dan menatap istrinya yang telah terbangun. 


"Itu, aku lagi kompres kamu pake air hangat. Kepanasan ya?" 


"Gak panas," balas Tiyas sembari menghela napasnya, kemudian wanita itu menunjuk air yang mengalir hingga ke lehernya. "Cuma kalau mau dikompres harusnya di peras dulu, Mas."


"Oh, gitu?" tanya Bagas dengan mengangkat alisnya. Pria itu dengan cekatan mengambil kembali sapu tangannya di kening sang istri, kemudian mengelap wajah istrinya yang basah kuyup. "Sorry, saya gak tahu." 


Wanita itu menarik napasnya panjang sembari tersenyum masam. 


"Kan tadi sudah saya bilang, Mas. Beliin obat aja, saya selalu begitu kalau lagi sakit." 


Bagas menggaruk keningnya dengan ringisan sesal. 


"Kalau gitu kamu minum teh anget dulu ya." 


Tiyas melirik segelas teh ditangan Bagas dengan pandangan curiga. Berkali-kali ia melirik bergantian antara suami dan teh tersebut. 


"Gak beracun. Kalau untuk teh saya juga suka minumnya, jadi tenang aja. Rasanya pas," tutur Bagas dengan delikan sinisnya. 


Tiyas hanya bisa terkekeh canggung. Kemudian menerima teh tersebut dan meminumnya pelan. Beberapa saat ia merasakannya sebelum akhirnya mengangguk senang. 


"Enak," pujinya dengan senyum lembutnya. 


Wajah Bagas langsung sumringah. Pria itu mengangguk-angguk senang. 


"Kalau masalah makanan saya punya selera yang tinggi." 


Tiyas berdecih mendengar tingkat percaya diri Bagas yang tinggi. Sesaat kemudian perutnya berbunyi nyaring hingga sang suami ikut mendengarnya. 


"Laper, Mas." 


Pria itu melirik jam pada ponselnya dan berdecak kesal karena ini sudah 30 menit sejak dirinya menelepon Jonathan. 


"Kayaknya dia benar-benar mau dipecat," bisiknya diam-diam. 


"Restoran hotel sudah tutup ya?" tanya Tiyas yang sepertinya tidak bisa menahan laparnya. 

__ADS_1


Bagas mengangguk pelan dengan wajah bersalahnya. 


"Tapi saya sudah suruh Jonathan buat belikan kamu bubur ayam. Suka gak makanan itu?"


Sejujurnya kalau dibilang suka, ya tidak. Tiyas paling anti harus memakai nasi dengan tampilang lembek seperti itu. Tapi kalau dibilang tidak suka, wanita itu masih bisa memakannya meski sedikit. Mendengar bahwa Jonathan yang sudah pulang harus jauh-jauh datang kesini dengan seporsi bubur ayam tentu membuat Tiyas merasa iba. 


"Suka, Mas," bohongnya dengan senyum palsu. Karena Tiyas tahu jika ia mengatakan tidak, mungkin Jonathan akan mengalami kesulitan mengikuti perintah atasannya. 


"Baguslah," ucap Bagas dengan perasaan lega. Ia kemudian berusaha untuk menghubungi Jonathan, namun suara bel pintu mereka berbunyi kemudian. 


Dengan langkah yang cepat, pria itu segera membuka pintu dan menemukan ada asistennya disana dengan wajah kusutnya. 


"Oh, gue kira lo emang mau resign," celetuk Bagas dengan senyum miringnya. Tanpa aba-aba, pria itu segera mengambil bungkusan di tangan sahabatnya. "Thanks ya." 


Jonathan mendelik kesal. Ia segera menahan pintu tersebut yang akan tertutup. 


"Apalagi?" tanya Bagas dengan tatapan malasnya. "Duit gantinya ntar gue transfer. " 


"Seriously?!" pekik Jonathan dengan kesal. "Bro, gue baru sampai dari rumah yang jaraknya gak dekat. Padahal gue baru aja mau tidur, tapi harus nurut apa kata lo. Dan sekarang setelah lo dapet tuh bubur ayam yang gue cari susah banget, udah gitu doang? Gue cuma berdiri di depan pintu dan pergi?" 


Bagas menghembuskan napasnya kesal, namun juga merasa bersalah. 


"Sorry ya, gue bakal kasih bonus buat lo bulan ini." 


"Terserah lo! Tapi gue mau istirahat sebentar doang, lo pikir nyetir dari rumah kesini gak capek padahal gue baru sampai, hah?! Mana harus muter-muter nyari tuh bubur ayam." 


"Gak bisa!" teriak Bagas dengan delikan sinisnya. "Ada istri gue di dalam." 


"Sebentar doang, sekalian gue mau jenguk. Siapa tahu lihat wajah gue jadi sembuh tuh bini lo!" ejek Jonathan yang berusaha untuk menerobos masuk. 


"Lo benar-benar mau gue pecat ya!" sentak Bagas seraya mendorong tubuh sahabatnya dengan kuat. "Jangan berharap lo bisa nikung gue!" 


Jonathan mengerjapkan matanya cepat. Rahangnya jatuh kebawah, menatap sahabatnya dengan pandangan tidak percaya. 


"Wah, udah sinting nih anak." 


Bagas mendelik sembari mendengus kesal. 


"Udah ya, bye!" 


Pintu tersebut tertutup begitu saja, meninggalkan Jonathan yang terdiam sebelum akhirnya mengumpat keras. Pria itu tidak mengerti jalan pikiran Bagas. Akhirnya Jonathan pulang ke rumahnya dengan bersungut-sungut tiada henti. 


Di dalam kamar hotel, kini Bagas tengah sibuk meracik bubur ayam dan berniat untuk menyuapi sang istri. 

__ADS_1


"Bangun dulu yuk!" ajaknya seraya membantu Tiyas untuk bersandar di kepala ranjang. "Bisa makan sendiri? Eh, saya suapi aja deh." 


"Jangan diaduk, Mas," pinta Tiyas dengan matanya yang menyipit. Merasa mual melihat tampilan bubur ayam di depannya. 


Bagas menuruti permintaan sang istri tanpa banyak kata. Ia segera menyodorkan satu sendok penuh ke arah mulut Tiyas. Sedangkan wanita itu menerimanya dengan kernyitan di dahinya, berusaha sekuat tenaga untuk menelannya dengan cepat. 


"Kenapa? Gak enak ya? Keasinan? Duh, saya kayaknya harus suruh Jonathan bikin sendiri kali ya," ungkap Bagas panik. Ia ingat bahwa asistennya itu pintar dalam hal memasak. 


"Gak usah, Mas," tolak Tiyas sembari menarik tangan suaminya yang berniat untuk menghubungi sang asisten. "Saya memang kurang suka bubur ayam." 


Alis Bagas terangkat. Tak jadi untuk menyuapi makanan itu untuk kedua kalinya. 


"Loh, kok kamu gak bilang? Tahu begitu saya pesankan yang lain." 


Tiyas menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. 


"Gak enak. Kasihan mas Jonathan." 


"Gak usah panggil Mas!" sentak Bagas tidak setuju. Pria itu ingat bagaimana perkataan Jonathan beberapa saat yang lalu. "Yang boleh kamu panggil Mas cuma saya." 


Wanita itu menghela napasnya pelan. Merasa aneh dengan sikap Bagas. 


"Oh iya, ngomong-ngomong masalah Jonathan. Kenapa gak disuruh masuk? Kasihan pasti capek dari rumah kesini." 


Bagas mendelik sinis pada istrinya. Ia kemudian meletakkan bubur ayam itu di atas nakas dan berjalan pergi meninggalkan istrinya yang kebingungan. Hatinya panas mendengar rasa iba istrinya kepada sang asisten. Padahal pria itu tidak berperan penting. 


"Mau kemana, Mas?" tanya Tiyas yang tidak dijawab si empunya. Melihat Bagas yang masuk ke dalam toilet, membuat wanita itu mengira bahwa sang suami sedang kebelet. 


Tetapi perkiraan Tiyas salah. Yang terjadi adalah Bagas kini tengah sibuk menghubungi Jonathan. Padahal asistennya itu masih dalam perjalanan pulang dengan mata yang menahan kantuk. 


"Kenapa?" tanya Jonathan diseberang dengan pelan. Gerutunya ditahan untuk sementara. 


"Gue gak jadi kasih bonus lo bulan ini!" teriak Bagas tertahan kemudian segera mematikan sambungan teleponnya. 


Kini tersisa Jonathan yang mendadak menghentikan mobilnya sembari tercengang dengan tidak elitnya. 


"Benar-benar udah gila!" sindirnya. 


Disisi lain, Bagas sudah mencuci wajahnya berkali-kali guna menghilangkan rasa kesal di dadanya. 


"Gue gak akan biarin Jonathan deketin Tiyas!" pekiknya dengan tatapan tajamnya. Begitu kekanakan, tetapi itulah yang dirasakannya. 


Lagipula kalau dipikir ulang, siapa juga yang mau merebut Tiyas dari sisi Bagas? Ada sih, tapi tentunya bukan Jonathan. 

__ADS_1


__ADS_2