
Tiyas tidak bisa tidur nyenyak semalam. Rasa sakit yang tertinggal di telapak tangannya menimbulkan kesan tak nyaman dan juga beberapa kali terasa nyeri. Wanita itu kepalang malas untuk mengobati tangannya dan membiarkannya seperti itu.
Mengingat pertengkarannya dengan Bagas. Butuh waktu semalaman untuk Tiyas memutuskan pulang sementara waktu ke rumah orang tuanya. Setidaknya dengan melihat wajah kedua orang tuanya, sesak di dadanya mungkin bisa mereda.
Pagi-pagi sekali Tiyas sudah membersihkan dirinya dan bersiap dengan satu tas punggung yang didalamnya berisi beberapa pakaian miliknya dan sejumlah barang penting lainnya. Sisa baju kediaman Adhitama miliknya masih banyak, jadi Tiyas tidak perlu mengemas pakaian dengan koper.
Karena merasa Bagas juga tidak mencarinya hingga pagi, Tiyas bertekad untuk berjalan keluar dan mungkin berpamitan dengan Chandra. Entah keuntungan atau malah kesialan, saat Tiyas membuka pintu kini Bagas sudah berdiri disana.
"Mau kemana kamu?" tanya Bagas yang sudah melihat istrinya bersiap.
Dengan tatapan matanya yang kecewa dan juga masih memendam kesedihan yang mendalam. Tiyas berusaha untuk tidak gentar.
"Saya mau pulang kerumah orang tua saya untuk beberapa hari, Mas. Jangan cegah saya, ini untuk kebaikan kita bersama," ungkapnya dengan nada yang sedikit bergetar.
Tentunya Bagas terkejut mendengar hal itu.
"Tiyas, kamu gak harus pulang kerumah orang tuamu. Apa yang akan mereka katakan? Ini masalah rumah tangga kita, jangan melibatkan orang tua."
Wajah Tiyas berpaling cepat. Mungkin perkataan Bagas memang benar, tetapi wanita itu terlanjur sakit hati.
"Kalau begitu, biarkan saya satu hari menginap disana. Saya akan kembali kesini esok hari, Mas."
"Gak," tolak Bagas dengan menggeleng tegas. "Dengan kondisimu yang seperti ini saya gak mau orang tua kamu berpikir bahwa kita bertengkar dan saya menyakiti kamu."
Tiyas menghembuskan napas kasar.
"Saya gak bakal bilang begitu, Mas. Saya cuma mau menenangkan diri, apa susah? Saya juga niatnya mau minta izin sama Mas. Bukannya kabur."
Tanpa menjawab, Bagas segera memeluk tubuh yang lebih kecil darinya. Erat namun tidak menyakitkan.
__ADS_1
Memang tidak menyakitkan pelukan tersebut, namun Tiyas merasa sesak dibuatnya. Wanita itu tidak balas memeluk sang suami. Membiarkan Bagas bertindak semaunya, tetapi sesuatu membasahi bahunya.
"Mas, kamu nangis?" tanya Tiyas dengan berbisik. Kening wanita itu berkerut dalam. Selama hidupnya tidak pernah ia melihat para pria yang dekat dengannya menangis, bahkan ayahnya sendiri.
Bagas menguraikan pelukannya tetapi tidak melepaskan sang istri begitu saja. Menatap wajah Tiyas dengan sendu dan perasaan menyesal.
"Maaf, harusnya semalam saya gak ragu sama kamu. Saya percaya kalau kamu gak mungkin melakukan itu. Saya sudah merenung semalaman, Tiyas. Rasanya hampa gak ada kamu disisi saya."
Entah harus tanggapan seperti apa yang Tiyas berikan. Wanita itu masih terdiam menatap kedua mata sang suami yang memerah.
"Saya gak tau harus menanggapinya gimana, Mas," sahut Tiyas yang berusaha untuk jujur. "Sakit hati ini bikin saya jadi ragu sama kamu."
Bagas terdiam, kepalanya menunduk. Membiarkan Tiyas pulang kerumah orang tuanya bukan hal yang baik untuk sekarang. Pria itu takut sang istri tidak akan mau kembali kerumah ini.
"Kalau begitu, saya ikut menemui mami. Saya akan melakukan pengakuan dosa. Saya akan menerima semua hukuman yang mami berikan, bahkan kakek juga boleh menghukum saya!" seru Bagas dengan sorot matanya yang serius.
Meragukan perkataan sang istri bukanlah yang benar. Sejak awal banyak kesalahpahaman yang Bagas tuduhkan kepada Tiyas, tapi semuanya tidak ada yang terbukti benar. Semua perkataan Tiyas sejak awal memang begitulah adanya.
Bagi Tiyas yang memang memiliki jiwa pemimpin dan mandiri sejak kecil. Mendengar perkataan Bagas membuatnya untuk melakukan hal gila. Jika memang pria itu takut kehilangannya, pasti Bagas akan melakukan apapun untuknya.
"Mas selalu mengatakan bahwa gak pernah mengingkari janji," celetuk Tiyas sembari menatap sang suami tanpa bisa dideskripsikan. "Kalau begitu, silahkan. Mas harus mempertanggungjawabkan perkataan tadi."
Bagas awalnya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Pria itu pikir, Tiyas tak sampai hati harus melihatnya dihukum oleh Chandra. Tetapi karena Bagas memang bertekad untuk mengembalikan kepercayaan istrinya, ia sanggup untuk menerima hukuman.
Dan disinilah Bagas, berdiri di taman belakang mansion utama. Tepatnya di depan balkon kamar mereka. Dimana di depannya kini ada Chandra, Restu, Indah, Bella dan juga Tiyas.
Awalnya anggota keluarga Wiguna awalnya terkejut, ketika tiba-tiba Bagas mengatakan bahwa ingin mendapatkan hukuman. Bahkan Indah sempat berkata-kata kasar karena tentunya hukuman dari Chandra tidak mungkin ringan. Tapi alasan Bagas ingin dihukum membuat mereka semua terdiam.
Chandra kini menatap cucu laki-lakinya yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan hukuman darinya. Bagas adalah anak yang penurut, tidak suka berbuat onar. Dan kini ia harus menghukum Bagas karena meragukan perkataan istrinya.
__ADS_1
Pria tua itu menghela napas pelan.
"Kamu udah siap, Gas?"
Bagas mengangguk mantap. Tatapannya kini tidak lepas dari sang istri. Dengan matanya ia mengatakan bahwa rela mati untuk Tiyas.
"Siap, Kek. Saya akan melaksanakan semua hukuman yang Kakek beri."
"Menurut peraturan keluarga Wiguna generasi pertama. Perselingkuhan dihukum 100 cambukan kuat, KDRT dihukum 100 cambukan sedang, dan pengkhianatan dalam bentuk apapun akan dihukum 100 cambukan ringan," terang Chandra dengan suara lantangnya. "Lima cambukan awal akan dilakukan oleh keluarga dan sisanya akan diberikan oleh seseorang yang Kakek perintahkan."
"Jadi kamu mau pilih yang mana, Gas?" tanya Chandra sembari memberi keringanan untuk sang cucu dengan pilihan.
"Gak ada yang harus kamu pilih, Bagas!" teriak Indah dengan murka. "Pah, Bagas gak salah apa-apa. Gak usah hukum dia dengan cambukan, kejam," sambungnya sembari menatap sang anak dengan panik.
Chandra berdecak kesal melihat kelakuan Indah yang semakin hari semakin tidak bisa dikontrol.
"Kamu gak dengar apa yang diceritakan Bagas tadi? Anakmu itu gak percaya kalau Tiyas gak mendorong Stefanny hingga terluka."
"Bisa jadi memang benar dia pelakunya, Pah!" tunjuk Indah dengan tangannya yang gemetar. "Stefanny gak mungkin berbohong! Untuk apa juga dia harus melukai tangannya sendiri?"
Alis Tiyas terangkat satu, senyumnya miring karena merasa bahwa Indah mudah sekali terpancing. Dengan wajah polosnya Tiyas menanggapi mertuanya santai.
"Saya gak bilang kalau Stefanny melukai tangannya sendiri, Mah."
Indah yang merasa terpojokkan kini tubuhnya gemetar. Apalagi melihat tatapan Tiyas yang tak gentar.
"Tapi kamu bilang kalau kamu gak melukai dia kan? Terus memangnya Stefanny bisa terluka sendiri? Lagian pernyataan kamu itu memang secara tidak langsung menuduh Stefanny."
"Saya memang mengatakan itu untuk membela diri saya sendiri karena saya merasa tidak bersalah disini, Ma," tanggap Tiyas sembari menunjukkan telapak tangannya yang belum dibersihkan dan malah membengkak. "Saya juga terluka cukup parah. Mungkin lebih dari Stefanny. Mama pikir gimana saya bisa kena serpihan beling ini?"
__ADS_1
"Atau kita tanya aja sama pegawai yang berada di dapur saat kejadian kemarin, gimana?"