
Jonathan menatap sahabatnya dengan tatapan tak percaya. Rahangnya jatuh ke bawah dan matanya pun lambat berkedip. Bagas yang merasa diperhatikan mengerutkan keningnya, menatap balik Jonathan setelah meletakkan ponselnya.
"Kenapa? Kayak ngeliat hantu aja lo!" kata Bagas dengan tatapan anehnya.
"Hantunya lo!" seru Jonathan dengan mata yang memicing. Bahkan telunjuknya juga mengacung ke arah hidung Bagas. "Ini gue gak salah dengar dan lihat kan? Lo ajak tuh cewek buat jalan?"
Bagas mengangguk dengan kerutan di kening.
"Emang salah? Kan yang gue lakukan ini karena perintah lo tadi."
Jonathan menepuk jidatnya, kepalanya menggeleng pelan.
"Heran deh sama lo. Giliran bahas kerjaan otak lo nyambungnya cepat amat. Pas bahas cewek otak lo langsung lemot parah!"
"Memangnya kenapa sih?" tanya Bagas yang masih tidak tahu letak kesalahannya dimana.
"Tolol banget heran!" gumam sang asisten dengan menghela napas kasar. "Tadi gue cuma bercanda, Gas. Gue gak beneran suruh lo ajak jalan Tiyas cuma karena buat nanya nama lengkap doang!"
Mendengar hal itu Bagas berdecak kesal. Kenapa hasil dari bercerita pada sahabatnya malah jadi serumit ini?
"Lo tuh bisa gak sih kalo kita lagi serius jangan dikit-dikit bercanda!" pekiknya tertahan. Dengan cepat tangannya merampas ponsel yang tergeletak di meja.
"Mau apa lo?" tanya Jonathan waspada.
"Mau batalin janji gue lah!" balas Bagas yang sudah akan mendial nomor Tiyas. Namun dengan cepat Jonathan mengambil ponsel tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.
"Jangan gila lo!" sentak Jonathan dengan perasaan kesalnya. "Gue udah capek-capek minta nomor Tiyas ke Kakek Chandra, lo malah seenaknya begini! Mending sekarang lo cepat jemput tuh cewek ke rumahnya."
Jonathan pikir sahabatnya ingin meminta nomor Tiyas agar bisa leluasa untuk saling bertukar kabar. Mengingat sebentar lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri. Pasti ada satu dan lain hal yang akan mereka pertimbangkan bersama. Tetapi ternyata perkiraan Jonathan salah, sikap Bagas benar-benar diluar akal sehatnya.
Bagas mengerutkan keningnya. Bergeming ia, masih tidak mau menuruti perintah Jonathan.
"Sekarang? Bukannya tadi kata lo cuma bercanda?"
__ADS_1
Karena kepalang kesal dengan otak lemot bosnya. Jonathan bahkan dengan kurang ajar menoyor dahi Bagas dengan kuat.
"Tahun depan! Jangan pikir gue serius kali ini ya, ini cuma bercanda," terangnya agar Bagas tak salah tangkap ucapannya lagi. Ia kemudian melanjutkan. "Dan kalau lo batalin janji, malah keliatan gak sopan. Udah deh, hitung-hitung pendekatan sebelum nikah."
"Terus mau gue ajak jalan kemana dia?"
"Ke kuburan!"
***
"Astaga! Lo bisa pelan sedikit gak?! Bisa mati muda gue begini!" pekik Tiyas yang mencengkeram erat tali seatbelt yang mengurung tubuhnya. Sesekali memejamkan matanya karena cara berkendara Beby yang mengerikan.
"Diem aja, gak usah bacot!" sahut Beby yang masih fokus dengan kecepatan dan kelihaiannya dalam menyalip. Sepanjang jalan bunyi klakson dari mobilnya tidak berhenti. "Ini karena permintaan lo sendiri buat kita cepat-cepat. Dipikir jarak kantor ke tempat pak Agus dekat kali ya. Gila tuh cowok, ngajak jalan kok dadakan gini. Dia gak mikir apa kalau cewek dandan tuh lama."
"Gue gak perlu dandan," balas Tiyas dengan entengnya sembari mengedikkan bahu. "Yang penting sopan."
Beby berdecih. Ia melirik Tiyas dengan penampilannya dengan tatapan meremehkan. Sahabatnya itu menggunakan hoodie oversize warna hitam dengan celana training. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan topi disana.
"Gaya lo udah kayak mau jogging tau gak? Padahal sekarang udah mau jam makan siang," ejek Beby dengan helaan napas pasrah. "Di belakang banyak dress gue tuh. Baru beli, belum gue pakai sama sekali. Ambil satu deh buat lo."
"Udah nyaman begini."
Dan Beby tidak bisa lagi berkata-kata. Ia memberikan kebebasan kepada Tiyas. Lelah juga rasanya jika harus terus berdebat sepanjang hari.
"Gang kecil yang ini? Mana bisa masuk mobil gue," keluh Beby dengan cemas. "Kalau dipaksa mobil gue lecet, sayang."
"Ya gak usah masuk dong sayang," jawab Tiyas gemas sembari mencubit pipi sahabatnya. Setelah menepuk bahu Beby dua kali, wanita itu segera turun dari mobil. "Dari sini gue tinggal jalan lurus aja buat sampai ke rumah pak Agus. Gak jauh kok."
Tatapan Beby masih terlihat khawatir. Apalagi melihat bagaimana kondisi gang yang cukup sepi di siang hari begini, seperti tidak ada aktivitas di dalam perkampungan tersebut.
"Serius nih? Gue bisa parkir sebentar kok disini, biar gue antar lo sampai rumah pak Agus," tawar Beby serius.
Tiyas menggeleng pelan.
__ADS_1
"Lo lupa gue sabuk hitam taekwondo? Kalo ada apa-apa gue bisa membela diri kok!"
"Tapi gue takut, Yas!"
"Harusnya gue yang takut!" Tiyas berdecak kesal pada sang sahabat yang malah mengulur waktu. "Takut perusahaan gue bangkrut karena lo gak balik ke kantor sekarang!"
Raut wajah Beby berubah hanya dalam hitungan detik. Ia berdecih, menatap malas dan siap-siap memaki.
"Oke, good luck! Gue balik dulu biar gak dipecat sama ibu bos!"
Tiyas tertawa geli, ia melambaikan tangannya saat mobil Beby mulai perlahan berjalan meninggalkannya. Helaan napas lega keluar begitu saja. Sedikit menggerutu karena Bagas dengan seenaknya bertemu dadakan seperti ini.
"Gue nunggu apa masuk dulu ya?" Tiyas menimbang-nimbang cukup lama. Melihat suasana gang yang sejak tadi tak ada kendaraan yang keluar dari sana. Sepi, persis seperti yang Beby katakan. "Masuk kali ya. Kesannya gue kayak mau banget dijemput tuh cowok!"
Berusaha untuk cuek dengan keadaan sekitar. Tiyas memberanikan diri untuk menyusuri gang sempit untuk sampai ke rumah istri kedua pak Agus. Sekalian untuk bertamu, menyampaikan rasa terima kasihnya atas suguhan semalam.
Istri kedua pak Agus menyambut mereka dengan baik semalam sembari menunggu sopir menjemput mereka di sana. Walau hanya dengan suguhan sederhana, tapi terasa begitu hangat dan nyaman. Baik Tiyas dan Nirmala, mereka tidak memperlakukan orang yang bekerja dengan keluarga mereka seperti pembantu atau bawahan. Keluarga Adhitama memperlakukan pekerja mereka layaknya seperti keluarga sendiri. Tidak ada kesenjangan yang berarti antara atasan dan bawahan.
"Mau kemana nih, Neng?"
Tiba-tiba saja sekelompok pria muda kisaran 4-5 orang datang dari arah dalam gang. Tiyas bahkan tak menyadari jika ia melewati sekelompok pria itu.
Wanita itu berusaha untuk tidak menghiraukan pertanyaan dari salah satu pria tersebut. Dengan wajah datarnya, Tiyas tetap berjalan cepat sambil menurunkan topinya hingga wajahnya tertutup setengah.
"Kok gak dijawab sih? Sombong banget."
"Iya atuh, pelan-pelan aja jalannya. Gak gigit kok, paling pegang-pegang dikit aja," sahutan kembali terdengar diikuti dengan gelak tawa dari mereka.
Walau Tiyas memang bisa membela diri. Tapi jika harus menghadapi pria-pria itu seorang diri, namanya cari mati. Dengan gerakan cepat dan gesit. Tiyas segera berlari melawan arah. Yang seharusnya ia jalan masuk ke dalam perkampungan, kini wanita itu berlari keluar gang.
Dengan kecepatan lari yang ia miliki, setidaknya para pria itu sedikit kewalahan mengejarnya. Namun hari sial memang tidak ada di kalender. Kakinya tersandung batu yang cukup besar, hingga membuat tubuhnya jatuh terjerembab.
Ditengah kesakitannya, tubuh Tiyas kini diangkat dengan paksa. Wanita itu menggoyangkan tubuh dan kakinya, berusaha untuk menendang, menyikut hanya agar lepas dari cengkeraman pria-pria itu.
__ADS_1
"Brengsek! Jangan ganggu istriku!"