Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 14


__ADS_3

Bagas memukul setir kemudinya berkali-kali hingga membuat buku tangannya memerah. Pria itu menatap bangku kosong di sampingnya yang sudah ditinggalkan oleh Tiyas beberapa menit yang lalu. 


"Sialan!" umpatnya dengan keras. 


Bingung, tidak mengerti apa yang tengah terjadi dengan dirinya. Penolakan Tiyas, informasi tentang kekasih calon istrinya hingga tiba-tiba wanita itu memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini. Semuanya yang terjadi setelah beberapa jam ia habiskan dengan Tiyas membuat emosinya semakin tidak terkontrol. 


Pria itu menutup matanya. Menyandarkan dahinya pada kemudi, berusaha untuk lebih tenang. Namun emosinya kembali meluap saat bayangan Arya yang tengah merangkul mesra Tiyas kembali muncul dalam benaknya. 


Decakan keras terdengar dari mulutnya. Emosinya sudah lama tidak lagi terasa, setelah kepergian Stefannya satu bulan ini. Dan amarahnya muncul karena Tiyas yang tiba-tiba saja datang dan memporak-porandakan dirinya. 


Ditengah emosinya yang masih naik turun, ponsel di sakunya bergetar. Dengan malas Bagas mengambil ponselnya, di layar tersebut ada panggilan dari sang kakek disana. 


"Halo," sapa Bagas setelah memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. 


"Kamu dimana? Cepat pulang. Kakek mau bicara sama kamu sekarang juga!" teriak sang kakek dari seberang. Belum sempat Bagas menjawab, panggilan tersebut diputuskan secara sepihak. 


Bagas sesaat termenung. Sepertinya Tiyas benar-benar ingin membatalkan perjodohan ini. Wanita itu pasti sudah memberitahukan hal ini pada sang kakek. 


Maka dengan setengah hati, Bagas menghidupkan mobilnya dan meninggalkan parkiran mobil restoran Adhitama itu. 


***


"Loh, Dek! Kok kamu bisa kayak gini?!" 


Nirmala yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga terkejut melihat anaknya pulang ke rumah dalam kondisi yang mengenaskan. 


Wanita paruh baya itu segera menghampiri sang anak yang terdiam dengan kepala menunduk. 


"Dek," panggilnya lagi dengan nada yang lebih pelan. Tidak lama suara tangisan terdengar di telinganya. Nirmala langsung saja mengangkat dagu sang anak, betapa terkejutnya ia saat melihat wajah anaknya sudah sembab dan penuh bekas air mata. 


Rambut yang keras, kaku dan bau serta masih ada sisa-sisa makanan di sana membuat Nirmala sebagai seorang ibu merasa miris. Seumur hidupnya membesarkan Tiyas, baru kali ini wanita paruh baya itu melihat anak semata wayangnya pulang seperti habis dirundung orang. 


"Masuk kamarmu ya, bersihkan diri kamu dulu. Kalau sudah siap cerita, panggil Mami oke? Mami tau kamu bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri." 


Semenjak divonis tak bisa menambah momongan lagi. Nirmala akhirnya mencurahkan segala kasih sayang dan perhatiannya pada Tiyas tanpa batas. Namun tidak membuat sang anak akhirnya bergantung padanya. Tiyas tumbuh menjadi wanita yang mandiri, cerdas dan berani untuk mengambil resiko. 

__ADS_1


Sejak kecil Nirmala mengajarkan Tiyas untuk bisa menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya sendiri sesuai porsinya. Jika anaknya itu sudah tak bisa menyelesaikannya, maka baik Nirmala ataupun Rudi yang akan turun tangan. 


Tiyas menghela napasnya pelan, tubuhnya terasa lelah dan sudah tidak ada semangat yang tersisa. 


"Mih, kayaknya aku gak bisa lanjutin perjodohan ini. Maaf ya udah bikin kalian kecewa." 


Nirmala tentu tak bisa untuk tidak terkejut. Tentunya perjodohan ini sulit untuk dibatalkan apapun alasannya, tetapi ia tak ingin menghakimi. Wanita paruh baya itu hanya menanggapinya dengan seulas senyum lembut yang menenangkan. 


"Semua keputusan ada di kamu, Dek. Tugas Mami hanya mendukung semua keputusan kamu," ucap Nirmala dengan lembut. "Udah deh, mending kamu mandi sana. Bau tau! Udah kayak gelandangan aja!" 


Tiyas berdecih, ia mendelik pada Ibunya. Namun sedetik kemudian senyumnya tak bisa ia tahan. Dengan manjanya ia peluk tubuh Ibunya, ada sebuah kelegaan dalam dasanya. 


"Makasih ya, Mih." 


Nirmala mengangguk. Ia menepuk pinggang sang anak sebelum akhirnya ia dorong menjauh.


"Udah peluk-pelukannya. Mami udah mandi, nanti kalau papimu pulang terus badannya jadi bau, gimana?" 


"Dasar udah tua aja masih bucin!" 


Nirmala menjulurkan lidahnya, meledek sang anak. 


Tiyas tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua, di tengah perjalanannya ada seorang ART yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. 


"Bi Inah, tolong siapin buat mandi saya ya. Saya mau berendam pake air anget," pinta Tiyas kepada ART paruh baya itu. 


Inah, wanita paruh baya yang sudah menghabiskan separuh umurnya sebagai Asisten Rumah Tangga keluarga Adhitama itu mengangguk patuh.


"Baik Nona. Mohon ditunggu sebentar." 


Wanita muda itu mengangguk, membiarkan Inah melakukan pekerjaannya. Sedangkan ia kini terdiam duduk di belakang meja kerjanya yang menjadi satu dengan ruang tidurnya. 


Di tengah lamunannya, ponsel Tiyas berdering. Ada panggilan masuk dari Beby, tapi wanita itu tidak menjawabnya. Tidak ada tenaga Tiyas untuk berbicara kepada sahabatnya yang telah tega meninggalkannya begitu saja. 


Dalam perjalanan pulang, Tiyas sudah mengabarkan lewat pesan kepada Chandra bahwa ia membatalkan perjodohan tersebut karena merasa tidak cocok. Wanita itu tidak peduli bagaimana tanggapan dari generasi ketiga Wiguna itu, karena ini menyangkut harkat dan martabatnya. 

__ADS_1


***


Di mansion utama Wiguna, suasana nampak begitu tegang. Tak hanya Bagas yang ada di sana, tetapi juga Indah dan Restu sebagai orang tua sang anak. 


"Tiyas tadi mengirim pesan katanya dia mau membatalkan perjodohan kalian karena merasa tidak cocok. Kalian sudah saling ketemu atau bagaimana?" tanya Chandra dengan tatapannya yang tajam dan mengintimidasi. 


Bagas melirik sang Kakek kemudian menghembuskan napas panjang. 


"Aku ajak jalan Tiyas dari pagi sampai menjelang malam." 


Alis Chandra terangkat, perkataan Bagas sedikit banyak menarik perhatiannya. 


"Terus?" 


"Barusan kami sedang selisih paham. Aku gak bisa mengontrol emosiku, Kek. Jadi aku membentaknya dan sedikit menghina dirinya. Tapi aku gak ada maksud seperti itu!" sanggah Bagas bermaksud untuk membela diri. 


Bagaimanapun juga, ini semua berawal karena Tiyas. Jika saya tidak ada Arya yang muncul di sana, mungkin keadaannya tidak seperti ini. 


"Terus apa?" tanya Chandra dengan tidak sabar. "Kakek mengenal Tiyas dengan baik. Dia itu wanita yang gak neko-neko, apa adanya. Dia juga bukan wanita yang suka koleksi barang-barang mewah atau hal semacamnya, cocok kan sama apa yang kamu idamkan?" 


"Ya, aku tau," sahut Bagas cepat. Pria itu menarik napasnya panjang. Kedua matanya tersirat sendu namun juga terdapat percikan amarah disana. "Tapi dia udah nipu kita semua, Kek. Tiyas ternyata udah punya pacar." 


"Gila kamu?!" bentak Chandra dengan keras. Pria itu melotot marah bahkan punggungnya sudah tertegak. 


Indah dan Restu yang sejak tadi diam dan menonton perseteruan ini akhirnya mulai penasaran. Dalam hati mereka bertanya-tanya sekaligus tidak menyangka dengan perbuatan tidak terpuji calon menantu mereka. 


Chandra mengusap wajahnya kasar, kemudian menghembuskan napasnya panjang.


"Sebelum Kakek mengumumkan perjodohan kalian. Semua yang Tiyas lakukan, berinteraksi dengan siapa saja dan siapa temannya Kakek tau semua. Sejak kecil Kakek sudah mengawasinya dan sampai sekarang gak ada laki-laki yang menjadi pacarnya." 


Bagas terdiam. Matanya bergerak kesana kemari. Tentu apa yang sang Kakeknya ucapkan bukanlah sebuah kebohongan. Masuk akal jika pria tua itu mengawasi calon istrinya sejak kecil. 


"Tapi aku liat dengan mata kepalaku sendiri, Kek! Namanya Arya dan dia rangkul-rangkul Tiyas!" sahut Bagas berupaya untuk membuat Kakeknya percaya. "Aku tersulut emosi, makanya aku jadi membentaknya karena dia membela pria itu." 


Chandra menatap cucunya cukup lama.

__ADS_1


"Kamu cuma liat dan gak ada konfirmasi valid dari Tiyas. Kamu cuma mengasumsikan apa yang kamu tangkap aja, Gas. Mungkin karena kamu terbawa cemburu."


"Cemburu? Aku?" Bagas menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bingung. Pria itu terkekeh geli. "Gak mungkin. Aku gak suka sama dia." 


__ADS_2