
"Dimana Tiyas?"
Beby menatap Arya yang kini berdiri didepan pintu apartemennya. Keningnya mengkerut kemudian menghembuskan napas lelah.
"Geser. Aku mau masuk," usir Beby seraya mendorong tubuh Arya disana. Wanita itu sudah akan membuka pintu, namun terhenti karena tarikan pada tangannya. "Kenapa Bang?"
Arya berdecak kesal.
"Kamu gak dengar saya tadi bilang apa? Tiyas dimana?"
"Kenapa emangnya? Dia udah punya suami, harusnya tanya sama suaminya bukan sama aku," balas Beby sewot. Ia sudah lelah dengan segala agenda kerjanya ditambah lagi setelah memeriksa keadaan Jovan. Artisnya itu tidak akan bisa bekerja dalam beberapa waktu.
"Tuan Besar menghubungi Tiyas sejak siang tapi gak ada jawaban. Sudah hubungi keluarga Wiguna, katanya gak ada disana," terang Arya dengan sekali tarikan napas. "Jadi satu-satunya orang yang saya pikirkan ya kamu."
Suasana hati Beby memang sejak pulang sudah tidak baik. Ditambah Arya yang sekonyong-konyong datang hanya untuk menanyakan keberadaan Tiyas tentu membuatnya dongkol.
"Telepon aja anaknya," jawab Beby yang berusaha untuk menarik tangannya dan masuk ke dalam apartemennya.
Namun Arya tidak tinggal diam, pria yang selalu berpenampilan rapi itu segera menahan pintu tersebut.
"Kalau bisa dihubungi, saya gak capek-capek cari kamu."
Beby menghela napasnya kasar. Wanita itu benar-benar lelah.
"Bang, bilang sama om Rudi. Tiyas lagi sama suaminya sekarang bulan madu di Ancol, jadi kalau bisa gak usah diganggu dulu. Ntar aku suruh tuh anak buat hubungi orang tuanya. Puas?"
Arya terdiam mendengar informasi dari Beby. Tidak, bukannya pria itu sakit hati. Tetapi ada yang masih mengganjal pada hatinya. Dan bukan tentang Tiyas.
"Kamu, kenapa gak kirim pesan ke saya kemarin dan hari ini?" tanya Arya dengan sedikit berbisik. Cukup malu karena harus menanyakan hal tersebut.
Mata Beby mengerjap cepat. Wanita itu seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Memang biasanya Beby akan mengirim pesan selamat pagi, siang bahkan malam. Sekali mengirim pesan juga bukan hanya sekali, tapi sampai berkali-kali. Berusaha agar Arya membalasnya walau hanya satu kata.
Tetapi memang sejak kemarin pekerjaan yang terbengkalai di meja kerjanya tidak bisa lagi Beby abaikan. Bahkan untuk sekedar makan pun sempat terlewat beberapa kali.
Inginnya Beby membeberkan alasannya secara jujur. Namun wanita itu akhirnya malah berkata sebaliknya.
"Sibuk," jawab Beby dengan cepat. "Lagian capek juga kalau harus kejar-kejar Abang terus, mending sama yang pasti gak sih?"
Kening Arya kini berkerut. Merasa tidak terima dengan jawaban Beby, namun pria itu tidak bisa tidak setuju karena memang bukan haknya. Dari dulu Arya memang tidak menaruh hati pada Beby, meski wanita itu gencar mendekatinya.
Tetapi karena telah terbiasa dengan gangguan dari Beby, tidak mendapatkan pesan wanita itu dua hari saja sudah membuat Arya sedikit panik. Beruntung atasannya memang meminta untuk memeriksa keadaan putrinya, maka sedayung dua tiga pulau terlampaui pikir Arya.
"Kamu punya pacar?" tanya Arya yang kini nada suaranya sedikit menurun, tidak setinggi tadi.
Beby hanya mengedikkan bahunya.
"Gak tau, masih jalan bareng aja," jawabnya dengan asal. Kemudian segera menepis tangan Arya yang menahan pintu apartemennya. "Udah Bang, pulang sana. Aku mau istirahat, bye."
__ADS_1
Tidak lagi memberi kesempatan pada Arya untuk membalas perkataannya. Beby dengan cepat menutup pintunya dan bersandar di sana dengan senyum gelinya.
"Siapa suruh sok jual mahal?!" serunya dengan kekehan geli. Orang seperti Arya itu sesekali harus diberi pelajaran.
***
Beralih pada sepasang suami istri yang akhirnya benar-benar menginap di salah satu hotel paling bagus di sana dengan pemandangan terbaik.
Hari telah berganti menjadi malam dan Bagas memutuskan untuk mengajak istrinya mencoba berbagai macam wisata disini keesokan harinya.
Sekarang, Bagas tengah bersandar pada kepala ranjang sembari fokus pada layar ponselnya. Ia berniat akan memesan online saja untuk makan berdua bersama sang istri. Pria itu menimbang-nimbang makanan seperti apa yang Tiyas inginkan.
Tepat setelah pintu toilet terbuka, Bagas langsung menyerbu istrinya dengan pertanyaan.
"Tiyas, kamu pengen makan apa malam ini? Yang pedas atau yang manis? Kalau minuman mau es atau yang hangat saja?"
"Lagi gak pengen apa-apa, Mas," sahut Tiyas dengan pelan.
Kening Bagas mengkerut, ia kemudian melirik sang istri yang kini langsung berbaring membelakanginya setelah membersihkan diri.
"Kenapa? Gak betah disini? Mau pulang aja?" tanya Bagas yang perlahan mendekati wanita itu.
Tiyas menggeleng pelan. Ia merubah posisinya yang tadinya miring ke kanan, sekarang ke kiri. Menghadap tepat ke arah suaminya.
"Aku kayaknya masuk angin deh, Mas. Mandi tadi menggigil, gak sempat keramas."
Bagas ikut memperhatikan rambut Tiyas yang masih kering disana. Pria itu menghela napasnya kesal.
Tiyas berdecak kesal. Ia mendelik pada sang suami dengan bibirnya yang mencebik.
"Mas, saya lagi sakit! Jangan marah-marah dong, kepala saya pusing! Namanya juga ke pantai masa pakai jaket!"
"Katanya sakit tapi malah ngomel-ngomel!" sindir Bagas dengan mulutnya yang berkomat-kamit seolah tengah mengejek istrinya.
"Terserah deh!" balas Tiyas seraya membuang muka. Kepalanya sudah berdenyut sangat kuat, tidak ada tenaga untuk meladeni sang suami.
Bagas yang melihat istrinya merajuk mau tak mau berhenti untuk bersikap jahil.
"Sorry," katanya sembari tersenyum tipis. Keberaniannya untuk menyentuh Tiyas masih sebesar biji jagung. "Jadi apa yang bisa saya lakukan biar demam kamu cepat turun?"
"Beliin obat aja deh, Mas," saran Tiyas dengan suaranya yang mulai parau. Sepertinya angin pantai tidak cocok untuknya. "Kalau sudah minum obat dan dibawa tidur biasanya langsung enakan."
Tiyas memang tidak suka mempersulit hidupnya. Apalagi hanya masuk angin biasa, wanita itu lebih memilih minum obat dan tidur. Padahal seisi rumah akan panik dan menyarankannya pergi ke rumah sakit. Yang lebih parahnya bisa-bisa menelepon dokter untuk datang.
"Tolong hubungi dokter Ardi, istri gue lagi sakit."
Tiyas mendelik saat menyadari Bagas tengah berteleponan di sampingnya. Dengan cepat wanita itu segera merebut ponsel dari tangan Bagas.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bagas dengan keningnya yang berkerut kesal.
"Gak perlu panggil dokter, Mas. Orang cuma sakit biasa," tolak Tiyas seraya mengembalikan ponsel Bagas setelah panggilan itu diputus secara sepihak.
Bagas menghembuskan napas panjang. Emosinya benar-benar harus dilatih jika berhadapan dengan sang istri.
"Obat saja gak bikin kamu sembuh kan? Pilihan terbaik buat saat ini ya dokter, Tiyas."
"Sembuh kok, Mas!" seru Tiyas yang masih saja menentang dengan keras.
"Mustahil! Obat mana yang bikin demam langsung turun begitu tanpa resep dokter?" tanya Bagas dengan alisnya yang terangkat seolah menantang. "Kamu mending diem aja, biar dokter pribadi saya yang datang dan periksa keadaan kamu."
Tiyas menghela napasnya pasrah, percuma jika harus menentang Bagas. Pria itu akan tetap pada pendiriannya. Yang bisa wanita itu lakukan adalah memejamkan matanya, berharap pening di kepalanya berangsur menghilang.
Ditengah ketenangan yang Tiyas cari. Berbeda dengan Bagas.
Pria itu kini tengah sibuk untuk menelepon asistennya kembali.
"Apa lagi?" tanya Jonathan dengan kesal. Pria itu baru saja akan menikmati jam tidurnya jika saja Bagas tidak meneleponnya berkali-kali.
Bagas cukup lama terdiam, sebelum akhirnya teriakan Jonathan diseberang sana membuatnya terperanjat dan sadar. Ia melirik Tiyas yang tertidur, kemudian dengan hati-hati beranjak dari kasur dan berdiri di depan jendela hotel.
"Gimana cara ngerawat orang sakit? Istri gue demam gara-gara angin sore tadi," ungkap Bagas dengan keningnya yang berkerut semakin dalam.
Di seberang Jonathan hanya bisa diam sembari mengumpat lirih.
"Lo telepon gue cuma buat nanya itu?! Kan gue tadi udah nelepon dokter Ardi karena perintah lo."
"Iya emang!" seru Bagas sembari membasahi bibirnya. "Tapi ini kali pertama gue ngerawat orang sakit, masa iya gue diem aja sampe dokter dateng. Lo tau sendiri tuh dokter rumahnya dimana."
"Lo kompres aja dulu. Sama bikinin air hangat atau teh manis hangat," usul Jonathan sembari menguap lebar. Ia menghidupkan mode loudspeaker, kemudian berbaring nyaman di ranjangnya.
"Gitu doang?" tanya Bagas yang sepertinya tidak yakin dengan saran asistennya.
Jonathan memutar bola matanya malas.
"Iya! Peluk kalau bisa, lo gak usah pake baju. Bini lo juga sama!"
"Gila lo!" hardik Bagas sembari berdehem keras. Matanya melirik Tiyas yang bergeming, sepertinya wanita itu kini tertidur pulas. Membayangkan mereka saling berpelukan tanpa atasan membuat pria itu malu.
"Ntar lama-lama lo juga gak bakal tahan. Di unboxing juga bini lo!" seru Jonathan dengan senyum jahilnya.
Bagas berdecak kesal.
"Oke, gue coba buat kompres dia. Sekalian gue minta tolong lo buat kesini, beliin makanan buat orang sakit. Bubur ayam kali ya cocoknya."
"Udah gila!" bentak Jonathan dengan matanya yang melotot. Tiba-tiba saja kantuknya hilang setelah mendengar perintah atasannya. "Dimana gue harus cari bubur ayam malam begini?"
__ADS_1
"Mana gue tahu, makanya gue suruh lo cari," sahut Bagas dengan entengnya. "Kalau lo pengen resign, lo gak perlu kesini. Ntar gue cari bubur ayamnya sendiri aja."
"Sialan!" umpat Jonathan yang langsung menutup sambungan teleponnya sembari mengeluarkan semua umpatannya. "Untung aja lo masih keluarga gue ya, Gas!"