Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 54


__ADS_3

Jonathan baru saja berniat untuk tidur setelah lembur sampai matahari terbenam karena Bagas yang tak kunjung datang. Pria itu paham bahwa permasalahan kemarin akan menjadi besar dan Jonathan sengaja tidak menghubungi sang bos. Biarlah Bagas menyelesaikan urusannya sendiri. 


Setelah bersiap dengan segelas air putih dan ponsel di tangannya yang lain. Bel rumahnya berbunyi beberapa kali. Memang ada dua jalur untuk masuk ke rumahnya yang pertama lewat lift khusus seperti kemarin saat bersama dengan Stefanny. Dan yang kedua tentunya untuk tamu yang datang seperti ini lewat lift biasa dan masih harus menunggu didepan pintu. 


Tak butuh waktu lama, Jonathan membuka pintu walau awalnya ragu. Menatap keluarga Bagas yang menatapnya dengan memelas, terutama Bella. 


"Kak Jo!" seru wanita muda itu yang langsung memeluk Jonathan. "Bawa gue masuk dong!" 


Kening Jonathan berkerut, ia kemudian menatap Restu dengan alisnya yang terangkat. 


"Kenapa om dan semuanya bisa ke tempat saya? Terus kenapa bawa banyak koper?" 


"Om tanya sama rekan-rekan Bagas yang tahu alamat kamu dan ternyata kamu beli penthouse mahal ini," ungkap Restu seraya berdecak kagum. "Oh iya, kenapa kamu gak suruh kami masuk dulu? Udah malem." 


Dengan rasa penasaran yang masih belum terjawab. Jonathan kemudian mempersilahkan ketiganya untuk masuk, bahkan pria itu ikut membantu membawa koper-koper besar itu kedalam rumahnya. 


"Hebat ya kamu, kerjaanmu cuma asisten Bagas. Tapi kekayaan kamu hampir setara sama kami," celetuk Indah sembari mengedarkannya keseluruh sudut penthouse tersebut. 


Jonathan memilih untuk mengabaikannya, sifat dengki Indah masih saja sama sejak awal dan tidak ada yang berubah. 


"Jadi apa tujuan Om, Tante kesini? tanyanya sembari melirik Bella yang terbaring pada sofa panjangnya dengan masih menggunakan alas kaki. "Gue baru beli tuh Sofa, Bel. Minimal lepas alas kaki kalau gak tau cara permisi." 


Bella yang mendengar omelan Jonathan mendengus kesal. Wanita itu segera melepaskan sepatunya dan kembali terbaring di sana. 


Restu yang melihat tingkah istri dan anaknya dibuat pusing. Umurnya yang tidak lagi muda ini, harus dihadapkan dengan perlakuan istri dan anak perempuannya bak anak kecil. 


"Kami mau numpang menginap, Jo. Bisakan? Untuk satu malam aja. Om udah berusaha cari hunian sana-sini, tapi kebanyakan harganya tinggi," sahut Restu dengan memasang muka setebal mungkin. 


Alis Jonathan kini terangkat satu. Ia segera mengorek telinganya sebentar dengan tatapan tak percaya. 


"Mau pindah? Ngapain?" 


"Kita diusir!" sahut Bella sembari berteriak. "Semua gara-gara Mama yang udah fitnah dan hina Tiyas. Kakek jadi murka dan disinilah kami sekarang!" 


Jonathan terdiam. Sepertinya ia bisa menebak jalan ceritanya sampai keluar ini bisa terdampar di rumahnya malam ini. 


"Satu malam aja kan? Saya gak nyaman kalau ada orang asing di rumah." 


Indah yang merasa tersindir berdecak kesal. Wanita itu menatap sinis pada Jonathan. 

__ADS_1


"Sombong banget. Kita ini masih satu keluarga, Jo. Kami ini Tante dan Om kamu, Bagas sama Bella juga sepupu kamu. Bukan orang asing kayak yang kamu bilang." 


Bukan tanpa alasan Jonathan mengatakan seperti itu. Pria tersebut sudah kepalang mati rasa dengan perlakuan semua garis keturunan Wiguna terhadap Jonathan dan kedua orang tuanya. Hanya karena ibunya dari kalangan biasa menikah dengan ayahnya, semua orang membencinya. Persis seperti yang Tiyas alami. 


Tetapi Tiyas masih beruntung karena sang kakek tidak mengusirnya dari rumah dan cenderung menyayanginya. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang diusir, diasingkan tanpa boleh membawa harta benda. Meski Chandra masih berbelas kasih membawanya dan mengakui bahwa ia adalah cucu kandungnya. Tetapi tentu masih saja terasa tidak adil bagi Jonathan. 


"Tapi kalian sendiri yang memperlakukan saya kayak orang asing, Tante," sahut Jonathan dengan raut wajah tidak suka. Pria itu menghela napasnya dan beranjak dari duduknya. "Karena saya masih menghormati Om Restu, jadi saya izinkan kalian untuk menginap satu malam disini." 


Pria itu segera melangkah berjalan pergi untuk naik ke lantai atas telat dimana letak kamar tidurnya berada. Dan bertepatan dengan itu Stefanny entah muncul dari mana, kemudian berjalan mendekat. 


"Jadi lo beneran masih keluarga Wiguna?" 


***


Tiyas baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Mereka cukup lama berada dibawah hujan yang tak kunjung berhenti. Dan bukannya lekas mandi, Bagas malah mengajak Tiyas untuk bertanam bunga-bunga disana. 


"Kenapa?" tanya Tiyas saat melihat Bagas terus memegangi pelipisnya. "Pusing?" sambungnya sembari mendekat ke arah sang suami. 


Bagas yang sejak tadi berada di tepi ranjang langsung memeluk istrinya tanpa ragu. Hubungan keduanya kini sudah bisa dibilang saling nyaman dan tidak canggung lagi dalam sentuhan fisik. 


"Pusing," keluh Bagas sembari melesakkan wajahnya di perut sang istri. "Kayaknya kelamaan di luar deh." 


"Bukan kayaknya, memang faktanya begitu," jawab Tiyas dengan memutar bola matanya malas. Tetapi kedua tangannya kini bergerak untuk memberikan pijatan lembut di kepala sang suami. 


"Iya, itu yang sakit. Lagi-lagi, enak banget." 


Tiyas menghela napasnya sembari menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya terus memijat kedua sisi kepala sang suami. 


"Lain kali kalau emang gak tahan, bilang aja. Jangan sok kuat." 


"Kan aku gak mau kelihatan lemah. Udah lama gak mandi hujan, berkebun sama kamu juga asyik kok!" seru Bagas sembari mencium perut sang istri dan menggeseknya dengan hidungnya. 


Awalnya Tiyas tidak merasakan apa-apa. Namun semakin lama semakin geli, wanita itu tidak sanggup untuk menahan tawanya. 


"Aduh, Mas. Geli, udah!" serunya sembari memukul bahu sang suami. 


"Kamu ya enteng banget tangannya pukul-pukul suami. Seharusnya suami itu disayang-sayang. Di kecup-kecup," nasehat Bagas dengan bibirnya yang mencebik persis seperti anak kecil. 


Tiyas mendengus geli sekaligus jijik karena ekspresi Bagas yang dibuat-buat. 

__ADS_1


"Jelek kamu begitu, Mas. Masih lebih ganteng member EXO!" 


"Siapa EXO?!" tanya Bagas dengan tatapan tajamnya. "Orangnya tinggal dimana?" 


"Jauh," jawab Tiyas dengan asal. "Gak bisa kamu saingan sama dia, Mas." 


Bagas mengerutkan hidungnya. Meski ia tahu bahwa yang dimaksud Tiyas adalah seorang artis dari negeri seberang, dimana Bagas tidak tahu sama sekali. Tetapi pria itu masih ingin menjahili sang istri dengan menggelitiknya.  


Kemudian pria itu dengan mudah mengangkat sang istri di ranjang dan membantingnya disana. Dengan cepat Bagas membalikkan keadaan, dimana kini dia berada diatas tubuh istrinya. 


Tiyas yang belum sadar masih tertawa kecil, terlebih masih tersisa rasa geli di pinggangnya. 


"Wajah cantik ini gak ada siapapun yang boleh melihatnya kecuali saya," bisik Bagas dengan senyum miringnya. Ia kemudian menghujani kecupan singkat di kedua pipi istrinya. "Meski si EXO itu merebut hati istri saya. Gak akan saya biarkan!" 


Tiyas tersenyum geli dan memberikan sentilan pelan pada kening suaminya. 


"Lagian member EXO juga gak mungkin suka sama saya, Mas! Orang saya gak cantik!" 


"Loh?!" Bagas protes dengan matanya yang melebar. "Kata siapa kamu gak cantik? Jadi kamu ragu sama pilihan saya? Gak mungkin saya cari pasangan yang jelek!" 


"Gombal," sahut Tiyas dengan terkekeh geli. 


Tetapi Bagas malah balas dengan anggukan semangat. 


"Iya, sayang. Aku juga cinta kamu." 


Tiyas berdecak kesal dan melayangkan pukulan pada lengan berotot suaminya. 


"Gak jelas." 


"Gak apa-apa. Yang penting, aku cinta kamu," balas Bagas dengan senyum lima jarinya. Kemudian ia menatap sang istri sebentar sebelum mulai mencium bibir lembut istrinya. "Udah dua bulan nih!" 


Tiyas terdiam, jelas ia tahu apa maksud Bagas. Tulang pipinya tak bisa ia tahan, wajah dan telinganya sudah memerah malu. 


"Saya udah gak tahan, Tiyas. Kamu bersedia kan?" tanya Bagas sembari harap-harap cemas. 


Dan keinginan Bagas terkabul. Beberapa saat kemudian Tiyas mengangguk malu. 


"Ini sudah kewajiban saya untuk melayani kamu, Mas." 

__ADS_1


Dan Bagas tanpa pikir panjang kembali membawa Tiyas pada ciuman panjang. Sangat panjang untuk menghabiskan malam ini dengan sangat panas. 


Sepanas apa? Hm, bayangkan saja sendiri.


__ADS_2